“Kimmy, darah apa ini?” Jasson menarik paksa tubuh Kimmy, meskipun wanita itu berusaha menolaknya. Jasson membuka mantel yang dikenakan oleh istrinya itu. Kedua matanya membola saat melihat lengan tangan Kimmy bercucuran darah, ia melihat luka tusukan yang menganga di sana dengan sangat jelas.
“Kimmy, kau terluka.” Jasson begitu terkesiap. Namun, Kimmy terlihat seolah dirinya baik-baik saja—seperti luka itu sama sekali tidak menyakiti dirinya. Padahal, itu jelas sangat menyakitkan. Jasson merobek bagian bawah kaus yang ia kenakan. Robekan kain itu hendak diikatkan ke lengan tangan Kimmy bermaksud supaya darah wanita itu berhenti mengucur. Namun, Kimmy menolaknya.
“Tidak usah!” Kimmy menepis tangan Jasson.
“Kimmy, darahnya keluar semakin banyak, biarkan aku membalutnya, setelah itu kita pergi ke rumah sakit.”
“Aku tidak mau! Pergilah!” Tangan kiri Kimmy memegangi lengan tangan kanannya yang terluka, sementara tangan lainnya berusaha mengusap air matanya yang tidak berhenti mengalir menggenanangi wajah.
Kimmy menangis bukan karena luka tusukan yang diakibatkan oleh Alert. Melainkan karena mengingat rasa sakit dan kekecewaannya terhadap Jasson; rasa sakit yang tidak bisa ia terjemahkan selain menunjukannya dengan menumpahkan setiap buliran air mata.
“Kimmy tolong jangan seperti ini. Ayo kita obati lukamu. Tolong jangan seperti ini.” Jasson begitu kebingungan berusaha membujuk Kimmy yang terus menolak untuk disentuhnya. Ia benar-benar mencemaskan wanita itu. Merasa takut jika hal buruk terjadi kepada istrinya.
“Aku tidak mau. Pergilah ….” Kimmy berusaha bangkit berdiri meninggalkan posisinya saat ini. Ia masih menghindar saat Jasson berulang kali mencoba merengkuh tubuhnya.
“Kimmy ….” Jasson berusaha mengikuti Kimmy yang berjalan menjauhinya. Tak melepaskan untuk memegang lengan tangannya yang terluka. Wanita itu berjalan dengan langkah gontai. Desisan karena menahan rasa sakit terdengar jelas dari bibirnya.
“Kimmy, ayo aku akan membantumu berjalan. Tolong biarkan aku membalut lukamu supaya darahnya tidak keluar terlalu banyak seperti ini.”
“Aku tidak mau! Jangan memaksaku!”
“Kimmy!” bentak Jasson, Ia merasa gusar dengan istrinya yang begitu keras kepala. “Aku sangat mencemaskanmu, kenapa kau tidak bisa mengertikanku sedikit saja?!” Suara Jasson mengguncang telinga Kimmy.
“Tolong jangan seperti ini, aku tidak mau kau kenapa-kenapa.” Suara Jasson melunak. Mata perak itu berkilat-kilat dilapisi cairan bening yang nyaris lolos dari tempatnya, namun sebisa mungkin ia tahan. Jasson begitu ngilu, matanya serasa tersayat-sayat saat melihat darah yang masih tak berhenti mengalir dari tangan istrinya.
“Sejak kapan kau memedulikanku?” Air mata Kimmy kembali berhamburan. Dadanya sesak menatap laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. “Pergilah, aku tidak butuh dirimu!”
Seumur hidup Kimmy, dirinya tidak tidak pernah merasa dibohongi oleh siapapun, itu sebabnya dia sangat terluka dan kecewa saat mengetahui Jasson membohonginya.
Kimmy melanjutkan Kembali langkahnya. Ia berjalan meninggalkan Jasson. Namun, pandangannya tiba-tiba memudar, pun kepalanya terasa berputar. Hanya lampu-lampu jalanan yang memendarkan cahayanya dari kejauhan yang hanya ada di pandangan Kimmy saat ini.
Kimmy mencoba menggerakan kakinya untuk melangkah lebih jauh lagi. Namun, ia tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya hingga akhirnya, tubuh wanita itu tumbang dan tidak sadarkan diri. Untung saja Jasson yang berdiri tiga langkah di belakangnya, dengan cepat menopang tubuh Kimmy, hingga tubuh wanita itu tidak sampai terjatuh.
“Kimmy ….” Jasson berteriak. Telapak tangannya menepuk-nepuk pipi Kimmy yang pucat dan membeku, pun bibirnya yang biasa memancarkan warna merah jambu, kini terlihat memudar dari warna sebenarnya.
Jasson semakin panik saat melihat Kimmy tidak sadarkan diri. Tapi dirinya memiliki kesempatan untuk membawa istrinya itu ke rumah sakit. Namun, sebelum itu, ia terlebih dulu membalutkan robekan kain yang sempat ia sobek dari bagian kaus yang ia kenakan ke lengan tangan Kimmy yang terluka dan masih mengucurkan darah. Setidaknya ini sedikit membantu agar darah Kimmy tidak keluar semakin banyak.
Jasson menggendong Kimmy keluar dari kuburan mobil. Tempat ini memang dinamakan kuburan mobil, karena banyak sekali orang-orang yang membuang mobil rusak mereka di sana.
Jasson berjalan menuju ke mobilnya yang ia parkirkan jauh di ujung jalan. Ya, Jasson memang sengaja memarkirkan mobilnya dari kejauhan supaya Alert tidak mengetahui kedatangannya.
Entah tubuh Kimmy memang berat atau karena Jasson tidak pernah menggendongnya. Ia merasa kesulitan saat menggendong Kimmy. Terlebih lagi, jalanan bebatuan itu menghambat langkahnya untuk berjalan lebih cepat. Jasson begitu panik. Ia berulangkali membenahkan posisi tubuh Kimmy supaya tidak merosot dari tangannya.
Saat Jasson berhasil mengajak Kimmy keluar dari tempat itu. Sebuah mobil tiba-tiba berhenti mendadak di depannya. Mobil yang tak asing.
“Jasson ….” Harry terlihat turun dari mobil tersebut dan berjalan tergesa-gesa menghampiri sahabatnya.
“Akhirnya aku menemukanmu. Kimmy kenapa?” tanyanya yang tak kalah panik dari Jasson. Terlebih lagi saat dirinya melihat darah yang berhasil merembas di seutas kain yang terbalut di lengan tangan Kimmy.
“Dia tidak sadarkan diri. Tangannya terluka gara-gara Alert. Aku mau membawanya ke klinik yang ada di dekat rumahmu. Tolong urus Alert, aku sudah melumpuhkan kesadarannya.”
“Baiklah … baiklah … cepat bawa Kimmy ke klinik. Nanti aku akan segera menyusul. Aku akan menghubungi polisi sekarang.” Jasson menganggukan kepalanya sebagai bentuk jawaban. Ia dengan cepat membawa Kimmy masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya berlalu pergi dari sana.
***
Tak lama setelahnya, Jasson tiba membawa Kimmy di sebuah klinik terdekat. Dua orang perawat yang melihat mereka pun berdatangan untuk menghampiri. Kimmy pun dibawa masuk ke salah satu ruangan untuk segera ditangani. Sementara, Jasson sendiri disuruh oleh salah seorang perawat untuk menunggu di luar ruangan.
“Ya Tuhan, jangan biarkan hal buruk terjadi kepada istriku.” Kepanikan Jasson semakin menjadi-jadi. Ia berulangkali mengusap gusar wajahnya, rasanya tidak sabar ingin menerobos masuk pintu ruangan yang terlihat ditutup rapat yang sedaritadi tidak lepas dari pandangannya. Ia ingin sekali memastikan sendiri bahwa Kimmy baik-baik saja di dalam.
“Kenapa lama sekali?!” Jasson rasanya ingin sekali menggedor pintu itu dengan kekuatan penuh.
“Jasson ….” Harry terlihat datang. Ia berjalan menghampiri Jasson. Suara Langkah kakinya yang tergesa-gesa menggema di lorong klinik itu.
“Di mana Kimmy?” tanyanya dengan napas yang ngos-ngosan saat langkahnya baru saja ia hentikan.
“Sedang ditangani di dalam. Tapi aku tidak tau kenapa lama sekali. Apa mereka becus menangani Kimmy?” Jasson mengusap gusar kepalanya. Rasanya ia ingin mengumpat perawat dan juga dokter yang tengah menangani istrinya di dalam sana.
“Bersabarlah, mungkin dokter masih menangani Kimmy.” Harry mencoba menenangkan Jasson. Namun, Jasson malah membentaknya dan menyuruhnya untuk diam. Harry tau sahabatnya itu sedang dilanda kepanikan, itu sebabnya ia bisa mengertikan Jasson dan tidak memasukan setiap perkataan dan bentakan sahabatnya itu ke dalam hatinya.
“Bagaimana Alert? Apa kau sudah menanganinya?”
“Sudah, beberapa polisi tadi sudah meringkusnya.”
“Aku masih belum memberikan pelajaran untuk laki-laki tua yang tidak tau diri itu! Jika bisa, aku akan meremukan seluruh tulangnya.” Jasson mengegrtakan giginya. Amarahnya kembali meledak hingga membuat Harry bergidik ngilu. Ya, selama lebih dari dua puluh lima tahun Harry bersahabat dengan Jasson, baru kali ini dirinya melihat Jasson sebegitu marah, hingga kepanikan yang berlebihan tak menyurut dari wajah laki-laki yang dari dulu selalu ia kenal masa bodoh dengan orang maupun wanita yang ada di sekitarnya. Tapi kali ini, Kimmy berhasil membangunkan emosi Jasson yang meledak layaknya gunung berapi, hingga membuat siapapun merasakan panas karena laharnya.
“Sudahlah, Jasson, lupakan saja, yang penting Kimmy selamat.”
“Bagaimana aku bisa melupakannya, sementara dia melukai istriku!” Di situasi seperti ini, Harry sadar diri bahwa mendebat Jasson pun tidak ada gunanya, ia pun memilih diam.
“Apa kau sudah memberitahu orang tuamu dan orang tua Kimmy?” tanya Harry.
“Belum.” Jasson menggeleng ragu kepalanya.
“Kenapa kau tidak menghubunginya?”
“Ponselku jatuh di dalam mobil. Aku malas mencarinya. Tolong bantu aku menghubungi Papaku dan Papa Louis.”
“Baiklah ….” Harry pun berpamitan meninggalkan Jasson pergi ke luar klinik untuk menghubungi Gio, Louis dan juga Jesslyn. Sesudah itu, ia kembali menemui Jasson yang sedaritadi tak memindah posisinya dengan wajah panik di depan pintu ruangan yang masih menampakan kerapatannya.
“Bagaimana dengan Paman Effendy?” tanya Jasson tanpa menoleh ke arah Harry yang baru saja menghentikan langkah kakinya.
“Dia baik-baik saja, Alea sudah membawanya ke tetangganya yang kebetulan seorang dokter.”
“Bagaimana tadi kau bisa menemukan Kimmy?” tanya Harry seraya menaikan salah satu alisnya.
“Kau sendiri bagaimana bisa tau aku berada di kuburan mobil?” Harry begitu pusing saat Jasson justru malah bertanya balik kepadanya.
“Aku tadi tidak sengaja menemukanmu dan Kimmy. Karena semua gerbang jalan ditutup dan akses ke jalan raya juga sedang dalam perbaikan, itu sebabnya aku terpaksa melintasi kuburan mobil untuk mencapai jalan utama. Tapi ternyata aku menemukanmu dan Kimmy di sana.”
“Aku juga sama. Tadi aku lewat jalan belakang rumah Alea, tetapi semua gerbang jalanan ditutup. Dan akses ke jalan raya pun dalam perbaikan, Jadi aku berasumsi bahwa Alert tidak bisa keluar dari komplek jalanan ini kecuali lewat jalan utama. Itu sebabnya aku bisa menemukan dia. Meskipun … terlambat.” Jasson menghela napasnya. Ia menyesali dan merasa bersalah karena dirinya datang setelah Alert berhasil melukai Kimmy.
Suara pintu yang terbuka, mengalihkan perhatian Jasson untuk menghentikan percakapannya Bersama Harry. Seorang dokter terlihat keluar dari ruangan tersebut.
“Bagaimana istri saya, Dok?” Jasson menghampiri dokter yang tak diketahui namanya itu dan bertanya dengan tergesa-gesa.
“Istri Anda baik-baik saja, Tuan. Kami hanya menjahit lukanya karena cukup dalam.”
“Apa saya bisa menemui istri saya?”
“Tentu saja, tetapi istri Anda sedang dalam pengaruh obat bius. Jadi tolong biarkan dia beristirahat untuk sementara waktu.”
Jasson menganggukan kepalanya, tanda bahwa dirinya mengerti. Ia dengan segera masuk ke dalam ruangan. Berjalan menghampiri ranjang dorong yang menampakan Kimmy tengah berbaring di atas sana.
Tangannya kini mendekap tubuh Kimmy dengan sangat erat seakan tidak ingin melepaskannya lagi. Bibirnya menghujani begitu banyak ciuman di puncak kepala maupun di wajah pucat wanita itu. Cairan bening tak terasa menggenangi kedua sudut matanya. Jasson benar-benar merasa takut. Perasaan dan pikirannya dipenuhi kecemasan yang berlebihan.
Kedua mata perak itu dengan sendu menatap lekat-lekat wajah pucat Kimmy. Bagaimana jika tadi ia benar-benar terlambat menyelamatkan Kimmy? Apa dia tidak akan pernah bisa melihat istrinya lagi untuk selamanya?
“Jangan ….” Jasson mengerjap. Kilas bayangan yang cukup mengerikan. Ia kembali mendekap erat tubuh Kimmy, dan meninggalkan ciuman cukup lama di puncak kepalanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Zainab Ddi
semoga Kimmy bisa memaafkan jasson kalo Uda dijelaskan
2022-05-30
0
guest1052940504
😭😭😭😭😭😭😭
2021-12-12
0
💜💜 Mrs. Azalia Kim 💜💜
gemesss aku
2021-10-25
0