Kimmy merebahkan tubuhnya dengan posisi miring. Kedua tangannya ia katupkan di atas bantal untuk menumpu pipinya yang cukup berisi. Jasson menarik selembar selimut berbulu lembut dan tebal terbuat dari bulu-bulu angsa putih yang terlipat rapi di tepi tempat tidur. Ia balutkan selimut tersebut di sebagian tubuh Kimmy, supaya memberi kehangatan tubuh wanita itu.
“Tidurlah!" perintah Jasson. Kedua mata Kimmy terpejam singkat saat satu ciuman mendarat di keningnya. Namun, Kimmy tidak langsung tertidur. Wanita itu memperhatikan Jasson yang masih terjaga. Ia menahan matanya yang nyaris meredup agar tetap terbuka, meskipun dirinya sangat Lelah sekali dan mengantuk.
“Kau tidak tidur?” tanya Kimmy. Cairan bening membasahi kedua sudut matanya saat wanita itu mennguap dan sudah tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya.
“Aku akan tidur setelah kau tidur.”
"Lebih mendekatlah." Kimmy menuntun salah satu tangan Jasson supaya melingkar di tubuhnya.
“Bagaimana pekerjaanmu? Kau tidak bertengkar dengan Jesslyn, kan, di kantor?”
Pertanyaan Kimmy membuat bibir Jasson terkatup rapat. Raut wajahnya datar. Tidak ada senyuman maupun ekspresi yang diberikan. Kebungkaman sejenak menyergap wajah laki-laki itu. Sebelum kemudian, ia menjawab, “Tidak. Aku sama sekali tidak bertengkar dengan Jesslyn.”
“Baguslah. Awas saja kau sampai berani bertengkar dengan Jesslyn!"
“Kenapa memangnya jika aku bertengkar?” Ekor mata Jasson menatap tajam. Namun Kimmy tau suaminya itu sedang menggoda.
“Ehm … kau akan berhadapan denganku!” sahutnya penuh dengan keseriusan dan tantangan. Salah satu alisnya terangkat membuat Jasson gemas saat melihat ekspresi istrinya saat ini.
Jasson berkelakar. “Memangnya kau berani denganku?”
“Kau pikir aku tidak berani?” Kimmy tertawa ringan. “Tentu saja ….”
Jasson mencondongkan wajahnya semakin mendekat. Hidungnya nyaris bersentuhan dengan ujung hidung Kimmy yang tak kalah panjang dengan kepunyaannya. Dan kini, tangannya menelusuri pinggang Kimmy. “Tentu Saja apa?” Matanya dipertajam membuat tawa Kimmy menyurut takut.
“Tentu saja … aku tidak berani.” Kimmy terkekeh. Menjauhkan sedikit tubuhnya dengan waspada saat mata Jasson kini memusat kepada bibir miliknya yang selalu membuat laki-laki itu menjadi candu.
“Tenang saja. Malam ini aku akan memberikanmu kebebasan. Aku tau kau sangat Lelah. Jadi aku tidak akan memakanmu malam ini.” Jasson mengacak-ngacak rambut Kimmy dengan gemas. Senyuman khasnya yang layaknya bongkahan es tak lupa ia selipkan.
Kimmy merasa lega, setidaknya ia bisa beristirahat malam ini. Suaminya ini benar-benar pengertian sekali, batinnya. Tangan Kimmy yang mulanya menjauh, kini nyaris memeluk dan mengucapkan terimakasih kepada Jasson. Namun, niat itu turungkan tatkala Jasson tiba-tiba mendekatkan bibirnya di daun telinga Kimmy.
“Hanya untuk malam ini," bisiknya membuat bulu kuduk Kimmy meremang. Senyuman di salah satu sudut bibirnya itu layaknya seorang penagih hutang yang memberi jangka waktu untuk pelunasan.
“Malam ini?” Kedua mata Kimmy membeliak. Sungguh sialan sekali.
“Iya, aku memberi kebebasan kepadamu hanya malam ini saja.” Jasson menarik kembali tubuhnya dan berbicara dengan suara angkuh seakan tubuh Kimmy hanya miliknya seorang.
“Menyebalkan!”
“Tapi kalau besok aku masih lelah dan ingin beristirahat bagaimana?”
“Itu urusanmu!” seru Jasson.
“Kalau besok dan besoknya lagi aku masih Lelah bagaimana?”
"Urusanmu!"
"Kalau besok, besok, dan besoknya lagi ...."
Perkataan Kimmy terhenti saat Jasson membungkam singkat mulutnya dengan telapak tangan.
"Kenapa kau cerewet sekali!"
“Aku tidak cerewet. Aku hanya bertanya saja!” bantah Kimmy. Merasa senang telah membuat suaminya yang menyebalkan itu menjadi kesal.
“Sudah jangan banyak bicara dan bertanya! Cepat tidurlah sebelum aku berubah pikiran.” Kimmy mencebik saat tangan Jasson mengusap kedua matanya supaya segera terpejam. Tak butuh waktu lama. Wanita itu terlelap akan tidurnya.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 00.13 Jasson masih terjaga. Kedua matanya yang berwarna kelabu terang, kini tampak muram. Sejak dari tadi, manik mata milik lelaki itu tak berpindah memperhatikan lampu yang menyoroti langit-langit kamar yang memang sengaja diatur dengan sedikit redup. Pikirannya berlarian ke mana-mana. Begitu pun dengan hatinya yang tampak tak tenang. Apalagi yang dipikirkkan olehnya jika bukan tentang … Kimmy.
“Siapa yang menerror Kimmy?” Guratan di dahinya menunjukan bahwa laki-laki itu tengah berpikir keras.
“Aku yakin, pasti orang itu bekerja di rumah sakit yang sama dengan Kimmy.”
Hening ….
“Rekaman cctv ….” Jasson tiba-tiba teringat akan rekaman cctv yang telah diberikan oleh penjaganya tadi pagi.
“Flasdisknya aku letakan di laci mobil. Aku hampir melupakannnya.” Jasson nyaris bangkit dari tidurnya, namun terurungkan. Ia menoleh ke arah Kimmy saat tangan wanita yang bertumpu pada dadanya itu bergerak dan memeluknya semakin erat seakan tidak ingin membiarkannya pergi dari sana.
“Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sampai tadi tidak sempat melihat rekaman itu.”
“Apa yang mengunci Kimmy di kamar mandi dan juga pengirim surat kaleng itu adalah orang yang sama?" Jasson tiba-tiba memiliki pikiran seperti itu.
"Tidak mungkin," bantahnya kemudian. "Orang yang menerror Kimmy adalah orang yang menyukai Mark. Jadi tidak mungkin ada di lingkunganku."
Hening ....
"Alea?" Sekelebat nama yang tak asing itu lolos dari bibirnya. Nyaris tak bersuara.
Jasson sebenarnya mencurigai Alea ketika di rumah Alana saat malam itu. Namun, pikirannya selalu menampik akan asumsinya yang ia rasa tidak mungkin. Ya, tidak mungkin wanita sebaik Alea yang sangat ia kenal betul melakukan hal seperti itu. Terlebih lagi kepada istri dari teman sekaligus atasannya sendiri. Pikiran Jasson selalu membantahnya.
"Tidak! Alea tidak mengenal Mark. Jadi tidak mungkin dirinya yang menerror Kimmy." Kepala Jasson serasa ingin meledak memikirkan kerumitan ini. Kekhawatiran semakin menjadi-jadi. Dirinya pun semakin merasa tidak tenang.
"Sebaiknya aku mencarikan seorang pengawal untuk Kimmy. Aku benar-benar tidak tenang jika seperti ini." Jasson menatap dalam wajah Kimmy yang tertidur dengan begitu pulasnya.
Seulas senyuman menyelip di kedua sudut bibir Jasson saat tangan Kimmy memeluknya semakin erat. Namun, senyuman itu semakin lama semakin menyurut. Manik matanya memancarkan sesuatu yang tengah ia sembunyikan. “Maafkan aku," bisiknya seraya mengusap wajah Kimmy. Sebuah ciuman tak lupa Jasson tinggalkan di puncak kepala wanita itu. Sebelum kemudian, ia ikut terlelap tidur bersama permasalahan yang belum bisa ia pecahkan.
.
.
.
.
Hai men-temen semuanya. Terimakasih banyak, ya, kalian udah mau ngikutin Nona dan mau baca cerita kelanjutan Oh My Jasson di sini. Sebenarnya berat buat Nona untuk pindah buku. Tetapi, karena adanya regulasi baru yang kurang menyejahterahkan para author, Nona terpaksa pecah ceritannya jadi dua bagian. Kenapa Nona masih bertahan nulis di sini? Karena Nona punya kalian yang selalu dukung Nona. Jadi Nona ucapkan terimakasih banyak kepada kalian semua. Semoga kalian pada ngga bosan sama cerita yang Nona tulis. Dan kalau tulisan Nona masih berantakan dan kurang memuaskan mohon dimaklumi, ya.
Untuk bab ini mohon maaf ya Nona cuma update sedikit. Karena Nona ngga bisa maksain buat nulis kalau lagi buntu. Dan Nona bisanya cuman dapat segini. Seenggaknya ini bisa mengurangi rindu kalian sama Jasson dan Kimmy.
Yang sering tanya,
Nona Kapan ini?
Nona kapan itu?
Kalian sabar, tunggu aja. Entar semuanya bakal terkuak dan meledak secara bersamaan wkwkk. apaan sih 🤣🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Hera Puspita
tetap semangat berkarya kak nona 🥰🥰
2024-06-18
0
Mimilngemil
😂😂😂😅😴
2023-11-23
0
Nurlaela Nurlaela
aku cinta dgn ceritamu"oh my Joseon, dan kebawa penasaran dgn" oh my kimmy⭐⭐
2023-04-03
0