Kebingungan menyergap di raut wajah Kimmy. Wanita itu berusaha menyusun jawaban yang sekiranya tepat untuk ia berikan kepada Jasson yang kini tengah menunggu jawaban darinya.
"Kimmy!" Suara Jasson membelah kekacauan yang ada di dalam pikirannya.
"I-itu ..." Kimmy gelagapan. Apa ia harus terus terang tentang teror surat kaleng yang sering ia terima selama ini kepada Jasson?
Jasson melihat raut wajah Kimmy memucat seakan tidak teraliri darah sama sekali di sana. Jasson mendaratkan tubuhnya duduk di samping Kimmy. Berusaha meredam suara penasarannya yang penuh desakan. Berharap istrinya itu tenang dan mulai mau menceritakan terhadapnya tentang apa yang terjadi sebenarnya.
"Katakan, apa maksud dari tulisan yang ada di kertas ini?" tanyanya kembali. Namun kali ini Jasson mengurangi volume suaranya.
"Ehm ...." Kimmy meremas kedua telapak tangannya yang cukup basah. Masih tidak berani untuk berbicara. Karena, Kimmy ialah tipikal orang yang suka memendam segala sesuatunya sendirian. Daridulu, ia tidak mau melibatkan siapapun setiap kali dirinya menerima masalah.
"Tidak mungkin jika kau sendiri yang menulis ini." Jasson merasa gusar saat tak mendapatkan jawaban dari Kimmy. Manik mata yang berwarna kelabu terang milik laki-laki itu masih tak melepaskannya dari pandangan. Menghujam. Bahkan menerkamnya dalam-dalam. Membuat Kimmy tak bisa berbohong, dan rasanya ia memang tidak bisa menyimpannya sendirian.
"Kimmy!" Suara Jasson menyentak telinga Kimmy.
"Aku tidak tau." Kimmy menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Apa maksudmu tidak tau? Jelas-jelas kertas ini kutemukan di dalam tasmu." Kening Jasson berkerut dibuat bingung akan jawaban Kimmy.
"Seseorang yang mengirimkannya kepadaku!"
"Seseorang?" Jasson menaikan salah satu alisnya. "Siapa yang kaumaksud?"
"Aku sendiri tidak tau, Jasson." Kimmy menggelengkan singkat kepalanya. "Orang yang sama berulang kali mengirimiku surat kaleng itu dan juga pesan singkat."
"Dia juga mengirimimu pesan singkat?" Kimmy menganggukan kepalanya untuk membenarkan pertanyaan Jasson.
"Apa kau masih menyimpan pesan itu?"
"Iya, aku masih menyimpannya."
"Berikan ponselmu, tunjukan pesan singkat itu kepadaku."
Kimmy dengan ragu-ragu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Lalu memberikan ponsel itu kepada Jasson yang sudah tidak sabar untuk memeriksanya.
Dengan air mukanya yang cukup serius. Jasson membaca dua pesan singkat yang dimaksud oleh Kimmy dari dua nomer yang berbeda. Rahang Jasson mengeras. Merasa tidak terima. Ia meletakan ponsel itu mendekat di daun telinganya, mencoba menghubungi kedua nomer berbeda itu secara bergantian.
"Percuma, nomer itu sudah dinonaktifkan," tutur Kimmy. Ya, Jasson juga merasa seperti itu. Dirinya sama sekali tidak bisa menghubungi kedua nomer yang meneror Kimmy. Ia menjauhkan ponsel itu dari daun telinganya dan meletakkan benda pipih itu ke sembarang tempat.
Jasson menangkup kedua bahu Kimmy, menatapnya dengan tatapan yang sama. Emosi yang ada di dalam dirinya tak meredup. Bahkan kini semakin meriak.
"Kenapa kau tidak menceritakan hal ini kepadaku?" Sedikit guncangan membuat tubuh Kimmy goyah dari posisinya. "Kau tidak menganggapku sebagai suamimu?"
"Bukan seperti itu, Jasson. Ini bukan hal yang penting. Jadi aku rasa aku tidak perlu memberitahumu." Tatapan mata sendu Kimmy begitu polos seakan meyakini bahwa diirinya bisa mengatasi masalah ini sendiri.
"Bukan hal penting? Kimmy ... orang ini sedang mengancammu!" Jasson mencengkram bahu Kimmy semakin diperkuat, namun tak menyakiti wanita itu. "Aku akan mencaritahu siapa orang yang menerormu seperti ini!"
"Itu tidak perlu, Jasson. Ini hanya gertakan orang iseng saja. Mungkin dia menyukai Mark, itu sebabnya dia mengirimkan surat kaleng itu kepadaku."
Jasson berdecak merasa kesal karena sudah berulang kali memperingati istrinya yang ia rasa keras kepala. "Aku kan sudah bilang, jauhi Mark. Dia bukan laki-laki baik. Kenapa kau tidak pernah mendengarkanku?" serunya dengan suara yang tegas.
"Dia selalu bergonta-ganti wanita!" imbuhnya berusaha meyakinkan Kimmy.
Kimmy tak langsung menjawab. Wanita itu sesaat diam. Kenapa Jasson selalu yakin bahwa Mark bukanlah laki-laki baik? Ia tidak mempercayainya begitu saja karena selama dirinya mengenal Mark. Mark adalah laki-laki baik.
"Jasson, aku sudah berusaha menjauhi Mark. Tapi dia ...." Kimmy tak melanjutkan kembali perkataannya yang sudah membuat Jasson mengerti. "Mark sudah cukup lama menjadi temanku."
"Kalau begitu, kau pindah bekerja saja dari rumah sakit itu!" kata Jasson penuh perintah. "Atau jika bisa kau tidak usah bekerja lagi!"
Kimmy merasa kesal dengan perkataan Jasson. Ia menjauhkan tangan laki-laki itu dari kedua bahunya. "Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku!" semburnya diikuti dengan kening yang berkerut dalam.
"Kimmy, aku masih bisa menghidupimu sekalipun kau tidak bekerja! Aku bisa memberikan apapun yang kau mau!" Jasson meraih telapak tangan Kimmy yang berusaha menghindar darinya.
"Papa bersusah payah memberikanku pendidikan terbaik bukan hanya untuk menjadi ibu rumah tangga, Jasson. Ini bukan masalah kau bisa menghidupiku atau tidak, tetapi pekerjaanku bukan pekerjaan biasa yang bisa ditinggal begitu saja. Jika semua orang berpikiran seperti dirimu, lalu bagaimana nasib orang-orang sakit yang membutuhkan bantuan?"
"Jasson, seumur hiduku aku menghabiskan waktuku hanya untuk belajar. Aku tidak mau membuat usahaku sampai di titik ini menjadi sia-sia. Dan aku tidak mau mengecewakan Papa yang daridulu menginginkanku untuk mengikuti jejaknya."
Bibir Jasson terkatup rapat. Laki-laki itu seketika bungkam saat mendengar jawaban dari Kimmy. Ia tidak bisa berbicara ataupun membantah. Wanita yang ada di hadapannya saat ini bukanlah wanita yang ia kenal beberapa tahun yang lalu. Wanita yang ia kenal sangat manja dan kekanakan; bisa dibilang menyebalkan.
Jasson menarik napasnya dan mengembuskannya secara perlahan. Emosinya ternetralisir. Ia menarik tubuh Kimmy dan membenamkan ke dalam pelukannya. Mendekapnya sangat erat. Entah kenapa, ia merasa bahwa istrinya saat ini sedang tidak aman. Ada rasa ketakutan dan kekhawatiran yang menyelinap di dalam dirinya.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu saja. Aku benar-benar mengkhawatirkanmu."
"Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Jasson. Aku bisa menjaga diriku."
Jasson meregangkan pelukannya. Ia menyelipkan beberapa sulur anak rambut yang membingkai wajah polos istrinya ke belakang telinga.
"Jika ada sesuatu tolong beritahu aku. Jangan menyimpannya sendirian. Aku tetap akan mencaritahu siapa yang mengirim surat kaleng ini kepadamu." Ibu Jari Jasson mengusap lembut pipi Kimmy. Kekhawatiran lelaki itu masih belum menyurut. Kimmy menganggukan kepalanya dan menyelipkan senyuman di kedua sudut bibirnya.
Jangan lupa dukungan like dan votenya, ya. Terimakasih ^_^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Aisyah dewi
haduhhh aq heran knpa Kimi jd begini ,,aq jd. sebel kimi
2025-01-15
0
Ahsin
dokter tp bego hadehhh bkin kesel
2024-02-22
2
Triandrian
anjayyy. kpn yakkk laki w bilang bgtu
2023-12-21
0