Air mata Kimmy masih tak menyurut, sedaritadi ia menangis di dalam mobil. Rasa sakit dan kekecewaaannya terhadap Jasson begitu menggelapkan hatinya. Napasnya berat, kian menyesak. Kimmy tak memedulikan ke mana Paman Alert membawanya pergi. Ia selalu merasa aman dan tidak pernah berpikiran buruk kepada orang lain, maupun siapapun itu, terlebih lagi laki-laki parubaya yang tengah mengemudikan mobil yang ia tumpangi saat ini; laki-laki yang sudah sejak lama mengabdi kepada keluarganya. Kimmy sama sekali tidak memiliki pikiran buruk.
“Jangan menangis lagi, Nona,” tutur Alert. Kimmy yang merasa malu karena baru menyadari sedaritadi dirinya diperhatikan oleh Paman Alert dari balik kaca spion yang menggantung di atas segera mengusap air matanya. Menyembunyikan kesedihan saat seulas senyuman samar melesat di kedua sudut bibirnya. Ia berusaha menunjukan bahwa dirinya baik-baik saja.
“Tuan Jasson memang bukan laki-laki baik, Nona.”
Kimmy mengisak. Keningnya berkerut. “Maksud, Paman?” tanyanya seraya mengusap air mata yang masih menggulir dengan jarang di kedua sudut matanya.
Alert mempertajam pandangannya melihat Kimmy dari pantulan kaca spion. “Saya rasa, Tuan Jasson berselingkuh dengan Nona Alea.” Perkataan Alert semakin menambah rasa sakit hati Kimmy.
“Selingkuh?” ucapnya dengan bibir gemetar.
Alert menganggukan kepala. “Iya, Nona. Bahkan, saya sering sekali melihat Tuan Jasson berdua dengan Nona Alea di luar.”
“Itu karena mereka terlibat pekerjaan, Paman. Nona Alea, kan, sekretaris pribadi suami saya.” Kimmy menjawab sesaat setelah dirinya bungkam. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri dan juga orang lain, bahwa Jasson tidak seburuk itu, meskipun Kimmy sendiri tidak tau kebenaran yang sesungguhnya.
“Pekerjaan?” Kening Alert berkerut. “Tetapi, kedekatan Tuan Jasson dan Nona Alea sangat tidak wajar, Nona. Bukan seperti atasan dan bawahan,” tutur Alert. Perkataan lelaki itu memang sengaja ingin membakar hati Kimmy. “Melainkan ....”
“Teman. Mereka teman dekat,” tukas Kimmy. Alert seketika diam. Laki-laki itu menyadari bahwa Kimmy tidak mau ada orang lain berkata hal buruk tentang suaminya.
Dada Kimmy kian sesak, kali ini bukan hanya Paman Alert yang berasumsi bahwa Jasson dan Alea memiliki hubungan lebih dari sekedar teman maupun atasan dan bawahan, tetapi Mario dan Mark juga berkata hal yang sama. Kimmy tidak mau semakin membebankan hatinya. Ia ingin menyudahi rasa sakit hati dan kecemburuannya yang ia rasa berlebihan untuk menenangkan diri sementara waktu, jauh dari siapapun—termasuk Jasson. Kimmy dengan segera menepis air matanya yang kembali berhamburan saat keheningan melingkupi sisa perjalanannya.
“Paman, antar Kimmy pulang ke rumah Mama dan Papa, saja, ya,” pinta Kimmy, suaranya semakin parau, nyaris tak terdengar saat napas wanita itu terputus-putus.
“Baiklah, Nona.”
**
Kimmy menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil. Membuang pandangannya ke sembarang arah. Ia menahan air mata yang sedaritadi berusaha mencari celah untuk keluar dari tempatnya.
“Kau tidak boleh menangis, Kimmy. Seharusnya kau tidak terlalu berharap lebih. Dari awal Jasson memang tidak menginginkanmu. Kau yang terlalu mencintainya. Kau yang terlalu mengharapkannya. Hanya karena dirimu, semua impiannya terhambat. Ya, kau sendiri yang membuat Jasson membohongimu. Dia lebih mempercayai Nona Alea dibanding dirimu.” Kimmy mengerjap, tak jarang air matanya masih lolos menggenangi kedua sudut matanya yang semakin layu. Cintanya yang berlebihan kepada Jasson justru menyakiti dirinya sendiri.
Guncangan-guncangan kecil dirasakan oleh tubuh Kimmy saat mobil yang ia tumpangi melewati jalanan yang bergeronjal. Kimmy menarik tubuhnya untuk duduk lebih tegap. Merasa aneh dengan jalanan yang dilintasi oleh Paman Alert.
“Paman, kenapa kita lewat jalanan ini? Ini bukan jalanan menuju ke rumah Papa,” protes Kimmy, namun masih dengan suaranya yang sopan.
“Iya, memang, Nona.”
“Lalu kenapa kita lewat jalanan ini, Paman?” Pertanyaan Kimmy tak membuat Alert menggubrisnya. Laki-laki parubaya itu masih fokus mengemudikan mobil tersebut.
Tak lama setelahnya, mobil tiba-tiba berhenti saat Alert dengan mendadak menginjak pegas rem. Kimmy semakin dibuat bingung.
“Paman kenapa berhenti?” Alert masih saja bungkam. Laki-laki itu sibuk melepas pengait sabuk pengaman yang melilit di tubuhnya.
“Sebentar, Nona.” Suara Alert mendadak penuh misterius. Ia membuka pintu mobil dan turun dari sana.
“Paman, kenapa Paman menghentikan mobilnya di tempat menyeramkan seperti ini?” Kimmy mengedarkan pandangannya ke sekitar, saat kaca mobil baru saja ia buka. Tidak ada rumah, atau bangunan-bangunan yang menjulang di sana. Hanya ada mobil-mobil tua yang sudah rusak dan usang dan ditumbuhi alang-alang. Lampu jalanan yang redup—nyaris tak menampakan cahaya. Kimmy menyadari, tidak ada orang lain lagi di sana kecuali dirinya dan Alert. Bulu kuduk Kimmy meremang, merasa takut.
“Ayo turun, Nona.” Alert membuka salah satu pintu mobil dengan menyematkan senyuman di salah satu sudut bibirnya. Layaknya seorang pemburu yang berhasil menangkap seekor kijang yang selama ini dinantikannya berhari-hari.
Kimmy menatap waspada. Ada keanehan yang tersirat di raut wajah sopir pribadinya itu. Kimmy seakan tidak mengenali Alert.
“Untuk apa kita turun di sini, Paman?” tanyanya dengan polos. Kimmy masih tidak memiliki pikiran buruk terhadap laki-laki yang kini ada di hadapannya.
“Paman akan membantu Nona menghilangnkan kesedihan Nona,” jawabnya dengan suara yang terdengar tajam nan mematikan.
Kimmy mengerutkan keningnya. Semakin tidak mengerti. “Ma-maksud, Paman?”
“Turunlah, Nona Kimmy.” Alert mengulurkan telapak tangannya, diiringi dengan senyuman khas seorang penjahat yang sering Kimmy lihat di film action kesukaannya.
Kimmy menggeleng tegas kepalanya. Penuh penolakan. “Tidak mau, Kimmy di sini saja.” Kimmy mangangsur tubuhnya menyudut ke pintu mobil.
“Ayo, Nona.”
“Tidak, Paman. Kimmy takut jika harus turun. Kimmy di sini saja.”
“Baiklah.” Alert menarik kembali tangannya. Senyumannya masih tak memudar, ia semakin senang saat melihat Kimmy ketakutan.
“Nona jangan takut.”
“Paman, ayo kita pulang.”
“Sebelum Paman mengantarkan Nona pulang. Paman ingin memberikan sesuatu kepada Nona,” tuturnya dengan suara lembut, tetapi ... mematikan.
“A-apa, Paman?” Kimmy semakin menjauhkan tubuhnya saat Alert berusaha mendekatinya.
Kimmy tak melepaskan Alert dari pandangannya. Laki-laki itu kini terlihat melingkis celana panjangnya. Sebuah benda yang dibalut kain coklat, yang terselip di antara sebatu boots yang laki-laki itu kenakan, kini ia ambil.
Senyuman menyeringai wajah lelaki itu. Menatap ke arah Kimmy. “Ini,” katanya sembari menjulurkan benda yang belum diketahui itu kepada Kimmy.
“A-apa, i-itu, Paman?”
Tangan Alert perlahan membuka kain berwarna coklat yang membalut benda itu. Kedua mata Kimmy dibuat membulat penuh saat ia melihat sebilah pisau yang berukuran besar mengkilat-kilat karena menunjukan ketajamannya.
.
.
.
Siapa yang udah suudzon sama Chelia? Wkwk.
Loh kok jadi gini sih, Nona, alurnya? Ya, emang dari awal Nona udah tentuin alur sama konfilknya kayak gini. Konflik penerorr udah selesai sih. Tinggal Jasson yang perjuangin Kimmy wkwk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Hera Puspita
deg degan baca nya 🤭🤭
2024-06-18
1
Suwarni Mama
keren nona emng bkin alur nya
sdh baca kesekian kalinya novel kimmy & jasson
asli suka bngettt
dr novel pertama mama merry & papa gio😁
smngaaat nona💪💪
2024-01-23
3
Mimilngemil
😅👍
2023-11-23
0