Kimmy masih berada di dalam mobil diantarkan oleh Paman Effendy menuju ke kantor Jasson. Pintu kaca mobil yang dibuka sebagian, membuat dinginnya angin malam menerpa pipinya. Wanita itu masih menyembunyikan rasa kecurigannya. Pikirannya sedaritadi membantah akan keberadaan suaminya di rumah Alea seperti apa kata Chelia yang memberitahunya melalui pesan singkat.
“Jasson pasti ada di kantor. Nona Chelia hanya mengada-ngada.” Kimmy meyakinkan pikiran dan hatinya, berusaha tidak mempercayai perkataan orang lain. Ia lebih mempercayai suaminya sendiri, meskipun hatinya berkata lain.
Tak lama setelah itu, mobil yang dikemudikan oleh Paman Effendy tiba di tempat tujuan. Kimmy pun menyiapkan diri untuk turun dari mobil yang baru saja berhenti di seberang kantor itu.
“Paman, tunggulah di sini sebentar. Kimmy akan masuk ke dalam.”
“Saya akan temani Nona Kimmy.”
“Tidak perlu, Paman. Kimmy bisa sendiri.” Kaki Kimmy menjejak jalanan aspal saat pintu mobil baru saja ia buka. Dengan langkah yang ragu dan jantung bergemuruh. Kimmy segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor yang pintu gerbangnya terlihat di tutup sebagian.
Saat mengetahui Kimmy berjalan menuju ke pintu gerbang. Salah seorang penjaga yang kala itu berada di pos, segera beranjak berdiri dan menghampirinya.
“Selamat malam, Nona Kimmy.” Penjaga itu membungkukan sedikit tubuhnya memberikan salam kepada menantu dari pemilik perusahaan tempat dirinya bekerja.
“Iya, malam, Pak.” Kimmy mengedarkan pandangannya. Matanya berusaha menjelajah ke dalam kantor yang tertutup oleh sebagian gerbang yang nampak sepi itu.
“Ada yang bisa kami bantu, Nona Kimmy? Kenapa malam-malam kemari?”
“Ehm, iya ... apa Tuan Jasson masih ada di kantor?” tanya Kimmy,ragu, pandangannya masih berusaha menjangkau ke dalam kantor yang lampu-lampunya sengaja di redupkan.
“Tuan Jasson sudah kembali sejak ...” Penjaga itu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, “dua puluh menit yang lalu.”
“Dua puluh menit yang lalu?”
“Iya, Nona. Tadi juga ada wanita yang kemari.”
“Wanita?”
“Iya, temannya Nona Alea. Biasanya wanita itu sering kemari menemui Nona Alea.”
Itu pasti Chelia, pasti.
“Ehm ... apa boleh saya bertanya, Pak?” Suara Kimmy lolos dengan ragu-ragu. Bibirnya memucat. Wanita itu memeluk tubuhnya sendiri, melawan hawa dingin yang berusaha menjangkau tubuhnya dari balutan mantel yang ia kenakan.
“Tentu saja boleh, Nona. Silakan.” Kepala yang menunduk dan seulas senyuman yang tersemat di bibir penjaga itu menyambut pertanyaan Kimmy dengan sangat baik.
“A-apa Nona Alea masih sering datang kemari?”
“Tentu saja, Nona. Kan Nona Alea sekretaris Tuan Jasson. Tadi Nona Alea sempat kemari mengobrol bersama Tuan.”
Jantung Kimmy kembali mencelus mendengar perkataan penjaga itu. Suaranya terdengar lantang dan tidak terlihat sedang menyembunyikan sesuatu, seolah tak mengerti apa yang tengah terjadi terhadap Kimmy saat ini.
“Nona Alea masih bekerja di sini?” Kedua bola mata berwarna perak itu nyaris memerah. Berusaha menyembunyikan air matanya yang siap diledakan.
“Iya, Nona Kimmy. Nona Alea masih bekerja di sini, bahkan selama beberapa hari ini Nona Alea dan Tuan Jasson sedang disibukan dengan proyek besar, itu sebabnya mereka jarang sekali di kantor. Mungkin datang di kantor saat pagi dan sore hari saat semua karyawan sudah pulang.”
Suara Kimmy serasa tertahan di tenggorokannya. Dadanya kian menyesak seakan tidak ada udara yang melingkupi paru-parunya hingga dirinya kesulitan untuk berkata.
“Kenapa memangnya, Nona?”
“Ti-tidak,” jawab Kimmy setelah beberapa saat membisu.
“Te-terimakasih, Pak. Kalau begitu saya permisi.” Kimmy berpamitan kepada penjaga itu dan berjalan cepat kembali masuk ke dalam mobil.
“Apa Tuan Jasson ada, Nona?” tanya Paman Effendy saat Kimmy baru saja menarik tubuhnya untuk masuk ke dalam mobil. Kimmy hanya menggelengkan kepalanya tanpa bersuara. Ia masih berusaha untuk tidak membuat air matanya berhamburan.
“Apa kita pulang ke rumah, Nona?”
“Kita pergi ke komplek perumahan yang dekat dengan rumah Harry, ya, Paman.” Suara Kimmy yang parau nyaris tak terdengar. Namun, karena senyapnya malam masih bisa membuat Paman Effendy mendengarnya.
“Ke rumah siapa, Nona?”
“Ke rumah Nona Alea.”
“Oh, Nona Alea?” Kimmy mengangkat pandangannya yang semula ia tundukan ke bawah.
“Paman mengenal Nona Alea?” tanya Kimmy. Kelopak mata wanita itu terlihat layu. Pun bola matanya yang semakin memudarkan warna sebenarnya.
“Tentu saja, Nona ... Tuan Jasson dan Nona Alea sering sekali bermain ke rumah Tuan Harry.” Seulas senyuman dari wajah laki-laki parubaya itu tak mengerti bahwa dirinya telah menambah rasa sakit yang sedari tadi terkumpul di hati Kimmy.
“Oh ....”
“Bisakah Paman mengantarkan saya ke sana?”
“Tentu saja.”
***
“Jasson tidak akan membohongiku.” Kedua telapak tangan Kimmy yang nyaris membeku, saling meremmas satu sama lain. Air matanya yang ia tahan dengan susah payah, kini merembas perlahan menggenangi kedua sudut matanya. Ia tak mempercayai perkataan penjaga. Wanita itu berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Jasson tidak akan membohonginya tentang Alea. Mungkin penjaga itu salah memberikan informasi atau tidak tau tentang kepindahan Alea. Dan kali ini Kimmy berharap Jasson tidak ada di rumah Alea. Ya, dirinya sangat berharap seperti itu sedari tadi saat melakukan perjalanan menuju ke rumah wanita itu.
“Paman, berhenti di sini saja.” Kimmy cepat-cepat mengeringkan air matanya saat tujuannya dirasa telah tiba.
“Tapi, rumah Nona Alea masih berada di ujung jalan ini, Nona.”
“Tidak apa-apa, biar Kimmy jalan kaki saja, Paman. Tunggu di sini sebentar, ya, Paman.”
“Iya, Nona, baiklah.”
Kimmy turun dari mobil. Ia membiarkan tas yang tadi sempat ia pangku tertinggal di dalam sana. Dengan langkah kaki yang panjang, wanita itu berjalan menuju ke rumah Alea yang sudah pernah ia kunjungi sebelumnya saat bersama Jasson waktu itu.
Kimmy memeluk erat tubuhnya, mengajaknya untuk menyusuri jalan dan menahan hawa dingin yang berhasil menyelinap ke dalam mantel yang ia kenakan. Ia menguatkan dirinya sendiri. Menerima kenyataan jika nanti memang benar, jika suaminya masih dekat dengan Alea. Apapun yang terjadi dia akan mengertikannya. Pasti Jasson memiliki alasan lain.
Setelah menempuh jalan kaki sekitar 150 meter, langkah kaki Kimmy mendadak berhenti tatkala dari kejauhan ia melihat mobil berwarna putih terparkir di pelataran rumah Alea. Ya, mobil berwarna putih itu milik suaminya, milik Jasson. Rasa kekecewaan menyesak dan memenuhi dada Kimmy, lagi-lagi udara gagal melingkupi paru-parunya, hingga membuat wanita itu seakan lupa caranya bernapas.
“Jasson membohongiku.” Bibir Kimmy yang tampak pucat sedaritadi berucap dengan gemetar, suaranya nyaris tak terdengar saat air matanya yang semula ia tahan, kini berhamburan menggenangi wajahnya. Wanita itu menarik kembali perkataannya yang akan mengertikan Jasson untuk menerima apapun alasan suaminya tentang Alea. Rasa sakit dan cemburu kini menggelapkan hatinya, dan Kimmy tidak akan pernah menerima alasan apapun dari suaminya tersebut.
.
.
.
Jika kalian menyukai cerita Jasson dan Kimmy, jangan lupa untuk selalu tekan like dan vote,ya. Nona sangat-sangat berterimakaih karena kalian selalu mendukung Nona ^_^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Rafalia Azain
siap siap jasson GK dpt jatah
2025-02-06
0
◉‿◉♡-Ƥυтrу Ƴαѕмιη-♡◉‿◉
Susah untuk jujur, kalo sudah begini si jasson juga yg rugi.
kadang filing seorang istri tuh selalu tepat walapun kdng meleset karena salah paham 😃
2022-11-11
4
Zainab Ddi
salah paham lg deh
2022-05-30
1