Suara sepatu heels yang dikenakan oleh Kimmy terdengar mengema saat menapaki lantai koridor. Wanita itu terlihat berjalan dengan tergesa-gesa meningalkan rumah sakit karena ia berusaha menghindari Mark. Karena, sejak daritadi pagi, laki-laki itu berusaha untuk menemuinya, tetapi usahanya gagal karena Kimmy selalu saja menghindar dengan berbagai alasan.
“Lebih baik aku naik taxi saja untuk pulang. Daripada aku harus berlama-lama di sini menunggu Jasson menjemputku. Yang ada nanti Mark akan menemuiku.”
Saat langkah kaki Kimmy nyaris meninggalkan rumah sakit. Seorang laki-laki parubaya bertubuh besar dan tegap tiba-tiba menghalanginya. Sebagaian kumis laki-laki itu yang sudah beruban terlihat menjuntai hingga mengenai dagu runcing yang dipenuhi guratan tipis. Laki-laki itu berusia sekitar 47 tahun. Kimmy sedikit bergerak memundurkan langkahnya karena merasa takut akan tatapan mata laki-laki itu yang tak melepaskannya.
“Nona Kimmy?” Suaranya mengguncang di tenggorokan.
“Iya, maaf, Anda siapa?” tanya Kimmy dengan penuh selidik.
Selas senyuman menyamarkan raut wajah garang laki-laki itu. “Saya, Effendy, Nona. Saya disuruh oleh Tuan Harry untuk menjemput Anda”
“Harry?” kening Kimmy berkerut.
“Maksud saya Tuan Jasson. Untuk sementara waktu, Tuan Harry menyuruh saya bekerja dengan Tuan Jasson menggantikan sopir Anda, Nona.”
“Kenapa Jasson tidak memberitahuku?” gumam Kimmy.
“Sebentar, saya akan bertanya kepada suami saya dulu.” Kimmy merogoh tas jinjingnya yang terbuat dari lapisan kulit buaya. Ia mengambil ponsel miliknya di dalam sana. Sebuah pesan dari Jasson ia terima sejak satu jam lalu. Namun, ia baru mengetahuinya.
Kimmy, Nanti kau akan dijemput oleh Paman Effendy. Paman Effendy adalah sopir pribadi Bibi Carrol, dan untuk sementara waktu, Paman Effendy yang akan menggantikan Paman Alert. ~ Jasson.
Kimmy mengembalikan benda pipih tersebut ke dalam tas miliknya. “Baiklah, Paman Effendy. Ternyata Jasson sudah memberitau saya sejak tadi.”
“Kimmy ....” Seseorang memanggilnya, Kimmy segera menoleh ke asal suara tersebut.
“Mark.” Kimmy berdecak kesal saat melihat laki-laki itu tengah berjalan cepat menghampirinya.
“Kimmy, aku mau berbicara denganmu sebentar.”
“Maaf, Mark. Aku tidak punya banyak waktu. Aku terburu-buru, permisi.” Kimmy menghindar saat tangan Mark nyaris memegang pergelangan tangannya.
“Paman Effendy, mari.”
“Kimmy ....” Suara Mark rasanya terbuang sia-sia. Kimmy pun tak mengindahkannya. Padahal, ia masih dibuat penasaran akan perkataan Jasson tadi pagi.
**
Petang sudah menyambut. Jasson terlihat sedang berada di sebuah ballroom hotel memperhatikan orang-orang berjas berhamburan keluar dari sana satu persatu. Ia baru saja mengakhiri pertemuannya dengan orang-orang penting yang tak lain ialah pemilik perusahaan raksasa yang ternama di negaranya. Senyuman bangga terselip samar-samar di kedua sudut bibir laki-laki itu; nyaris tak terlihat. Namun, senyuman itu perlahan memudar saat sekelebat bayangan Kimmy melintas pikirannya. Di satu sisi dirinya tidak tenang karena sudah membohongi Kimmy, tetapi di sisi lainnya, ia tidak bisa berterus terang karena takut jika Kimmy tidak bisa menerima keputusannya yang masih mempekerjakan Alea sementara waktu untuk menemani dirinya menangani proyek besar ini.
Jasson benar-benar tidak tenang, tetapi tangisan Kimmy malam itu ... rasanya ia tidak sanggup untuk melihatnya lagi. Namun, Jasson juga tidak bisa menangani proyek ini tanpa bantuan Alea. Jesslyn? Saudara kembarnya itu tidak bisa ia andalkan untuk masalah seperti ini. Dia belum cukup berpengalaman seperti Alea. Bukannya membantu, yang ada dirinya hanya akan berdebat sepanjang waktu.
“Aku bisa membangun perusahaan untuk mengembangkan teknologi terbaru jika aku bisa memenangkan proyek ini. Maafkan aku Kimmy. Ini hanya untuk beberapa hari sampai aku benar-benar mendapatkan kontrak kerja sama itu. Setelah itu aku akan benar-benar memindahkan Alea.”
“Setelah kau menikah, tidak ada teman wanita selain istrimu.” Kata-kata Ken menggema kembali di telinga Jasson.
“Tidak ada teman wanita kecuali dirimu. Bahkan tidak ada tempat untuk siapapun itu," batin Jasson.
“Jasson, kau kenapa melamun?” Pertanyaan Alea membelah pikiran Jasson yang berlarian ke mana-mana.
“Tidak apa-apa,” jawabnya sembari memunguti berkas-berkas yang bercecer memenuhi meja dan memasukan ke dalam tas kerja yang baru saja ia buka.
“Kau pasti memikirkan Nona Kimmy.”
“Jasson, seorang istri yang baik akan selalu mendukungmu.”
Jasson menghentikan aktivitasnya, melihat ke arah Alea dengan tatapan tidak suka. “Maksudmu Kimmy bukan istri yang baik?”
“Bukan seperti itu,” bantah Alea.
“Kimmy adalah wanita yang baik. Aku mengenalnya dari kecil. Bahkan setelah dia menjadi istriku, dia selalu menjadi istri yang baik. Dia selalu belajar dan berusaha untuk melayaniku dengan baik. Jika kau tidak tau lebih baik diamlah!” serunya dengan suara yang gusar.
“Jasson, maksudku bukan seperti itu ... tapi di sini aku hanya mengingatkanmu akan impianmu saja. Kau sendiri yang selalu bilang kepadaku, kepada dunia dan kepada orang-orang sekitarmu. Kalau tidak akan ada wanita yang bisa mengendalikanmu atau menghalangimu untuk mencapai keinginanmu, bukan?” ujar Alea, “lalu kenapa hanya karena istrimu kau jadi kehilangan prinsipmu seperti ini? Jasson, ini kesempatan yang langkah. Jangan hanya karena istrimu, kau jadi kehilangannya. Dengan bisa memenangkan proyek ini, kau tidak hanya bisa menggapai impianmu untuk memiliki perusahaan sendiri, tetapi kau bisa membanggakan Tuan Gio dan Tuan Ken.”
Jasson hanya diam, ia memang membenarkan perkataan Alea, meskipun tidak semuanya. Ia memilih tetap bungkam, tak membalas perkataan wanita itu setelah kesenyapan di antara mereka terjeda cukup lama.
“Ini sudah malam, lebih baik kita pulang.”
Alea dan Jasson berjalan bersamaan keluar dari lobby hotel. Jasson tiba-tiba menghentikan langkahnya saat setelah melewati pintu kaca yang dibukakan oleh doorman.
“Alea, kau sudah lebih dari tiga tahun di kota ini. Kau sudah mengenal betul jalanan-jalanan yang ada di sini. Jadi pulanglah naik taxi,” ucap Jasson. Alea membeliak. Kebungkaman sejenak menyergap mulutnya. Setelah dirinya bekerja dengan Jasson bertahun-tahun menemui klien dan menghadiri rapat penting seperti ini, baru pertama kali ini Jasson menyuruhnya pulang sendiri dengan menggunakan taxi.
“Kau tidak keberatan, kan?” tanya Jasson memastikan. “Aku tidak mau hanya karena dirimu, aku melukai hati Kimmy. Tolong mengertilah.”
“Iya, aku tidak keberatan.” Alea menarik kedua sudut bibirnya, menyembunyikan kesedihan yang tersemat di dalam hatinya.
“Baguslah, aku pulang dulu. Besok kau langsung ke kantor Daven supaya kakakku tidak curiga.” Perkataan Jasson membuat Alea hanya mengganggukan kepalanya tanpa bersuara. Jasson melanjutkan kembali langkah kakinya menuju mobil yang terparkir di halaman hotel tersebut.
Alea masih mematung di tempat yang sama dengan kedua mata yang berkaca-kaca memperhatikan mobil yang baru saja dikemudikan oleh Jasson lenyap dari pandangannya.
“Kenapa menyakitkan seperti ini?” Alea memejamkan singkat kedua matinya hingga cairan bening nyaris membasahi pipi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Ririn Nursisminingsih
ayolah thor jg bikin kimy bofoh dan lemah...dari awal a sebenernya gregeten sama sikap.kimmy yg mngalah...
2024-08-28
0
Triandrian
avahhh iyahh?
2023-12-22
0
Mimilngemil
cakep....
2023-11-23
0