Kawanan burung mulai nampak berterbangan ke sana kemari, kicaunya saling bersahutan satu sama lain menyambut sang surya yang sinarnya mulai berpendar saat menggapai tempat peraduannya. Pagi hari mungkin telah dinanti-nanti oleh kawanan burung. Namun, tidak bagi beberapa manusia yang harus mengakhiri istirahatnya untuk kembali melakukan rutinitas.
Seperti yang dirasakan oleh Kimmy saat ini. Semalaman penuh dirinya tertidur nyenyak. Namun, rasa lelah yang sejak kemarin menyemat di tubuhnya tak kunjung memudar. Rasanya pagi itu ia ingin sekali kembali melanjutkan tidurnya, tetapi tidak bisa. Karena kini tujuannya untuk bekerja di rumah sakit telah sampai. Ya, seperti biasa, Jasson terlebih dulu mengantarkannya sebelum dirinya berangkat ke kantor.
"Jangan dekat-dekat Mark! Jauhi dia, dan bicara seperlunya saja," tutur Jasson. Sorot matanya penuh perintah. "Beritau aku jika orang itu masih mengirimkan surat kaleng kepadamu."
"Ehem." Kimmy menganggukan kepalanya dengan malas saat rasa kantuk masih mengendalikan dirinya.
"Aku akan mencarikan pengawal untukmu." Perkataan Jasson membuat Kimmy membeliak. Rasa kantuk dan malasnya seketika sirna.
"Pengawal? Untuk apa?"
"Untuk mengawalmu. Memangnya untuk apa lagi?"
"Jasson, aku tidak membutuhkan pengawal. Aku bukan seorang putri yang hidup di istana yang setiap inchi tubuhnya tercipta dari berlian yang perlu dijaga. Aku hanya seorang dokter. Jadi jangan berlebihan."
"Ya, aku memang merasa ini berlebihan."
"Kalau sudah tau berlebihan kenapa kau mau mencarikan pengawal untukku?" sembur Kimmy.
"Karena aku merasa tidak tenang, kau mengerti!" seru Jasson. "Kau sedang tidak aman. Ada orang yang menerrormu, dan kita tidak tau monster seperti apa dia."
Kimmy berkelakar. "Pengirim surat kaleng itu hanyalah orang iseng. Bukan monster." Hidung Jasson menjadi sasaran tangan Kimmy untuk dicubitnya hingga memudarkan warna kulit aslinya.
"Aku tidak bercanda!" Jasson mengusap hidungya yang terlihat merah karena tangan Kimmy. Ia mencondongkan tubuhnya lebih mendekat ke arah istrinya tersebut. "Lebih baik kita diterror oleh hantu daripada diterrorr oleh manusia, yang bisa saja berubah menjadi monster," ujarnya dengan suara dan tatapan penuh keseriusan. Tawa Kimmy perlahan sirna ketika berhasil mencerna perkataan suaminya..
Jasson menjauhkan tubuhnya. Namun, raut wajahnya yang penuh keseriusan masih belum menyurut dari pandangan Kimmy. "Monster yang kumaksud bukanlah sosok monster yang ada di halusinasimu yang biasa kaulihat di film-film!"
"Jangan menganggap remeh. Siapapun bisa melukaimu!" Perkataan Jasson membuat bulu kuduk Kimmy serasa meremang. Ketakutan tiba-tiba menyelinap di dalam dirinya. Namun, sebisa mungkin Kimmy tak memperlihatkanya kepada Jasson.
"Aku akan baik-baik saja. Kau jangan khawatir," sahut Kimmy setelah dirinya bungkam beberapa saat. "Aku bisa menjaga diriku jadi aku tidak membutuhkan pengawal."
Jasson menangkup kedua bahu Kimmy. Mencengkramnya dengan emosi yang sedikit meluap. "Kau bisa bilang bahwa kau baik-baik saja, tetapi tidak denganku. Aku yang mencemaskanmu! Kenapa kau sulit sekali mengerti!"
"Kau tidak tau senekat apa manusia jika mereka ingin mendapatkan sesuatu!" Tubuh Kimmy sedikit terguncang saat Jasson menghempas kedua bahunya. Mata peraknya bisa melihat kecemasan yang ada di kedua manik mata suaminya tersebut.
"Kau pagi-pagi sudah membuatku emosi. Cepat turunlah!" perintah Jasson seraya menarik pandangannya ke sisi luar jendela mobil berharap rasa kesalnya terhadap Kimmy memudar.
"Maafkan aku," ujar Kimmy. "Aku berangkat. Kau hati-hati." Sebuah ciuman yang didaratkan oleh Kimmy mengakhiri perdebatan di antara keduanya. Jasson menarik pandangannya kembali untuk memperhatikan Kimmy yang baru saja turun dari mobil.
"Kenapa sulit sekali memberitaunya!" Jasson mendengus. Ia tak melepaskan Kimmy sedikit pun dari pandangannya, sebelum dirinya benar-benar memastikan bahwa istrinya itu benar-benar masuk ke dalam rumah sakit.
***
Saat dirasa bayangan Kimmy telah lenyap dari pandangannya, Jasson memutuskan untuk meninggalkan tempat istrinya bekerja tersebut. Namun, niatnya terurungkan saat pedal gas mobil nyaris ia injak. Keningnya tiba-tiba berkerut dalam, diikuti juga dengan kedua alisnya yang tebal menaut secara bersamaan tatkala dirinya melihat mobil yang diyakini milik Mark melintas di depan mobilnya yang hendak melaju.
Secarik kertas yang Jasson temukan di dalam tas Kimmy semalam yang berisi sebuah peringatan, kini mengingatkan dirinya kembali. Emosi laki-laki itu seketika membuncah karena mengetahui bahwa Mark-lah menjadi penyebab istrinya diterror oleh seseorang yang belum ia ketahui. Ia memutuskan untuk turun dari mobil dan berjalan menghampiri Mark yang saat itu terlihat turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya di parkiran yang ada di halaman rumah sakit. Laki-laki itu terlihat menebar senyuman dan sapa kepada setiap perawat wanita yang berdatangan untuk memulai rutinitas.
Kemeja panjang dengan motif garis-garis lurus berwarna hitam yang dikenakan oleh Mark. Kini jadi sasaran tangan Jasson untuk ditariknya hingga menghentikan langkah laki-laki itu yang nyaris meninggalkan parkiran.
Tatapan Mark penuh kekesalan saat ia berbalik badan dan mengetahui bahwa yang menghalangi jalannya ternyata ialah laki-laki yang ia kenal.
“Kau ….” Tatapan keduanya beradu dengan sengit. Mark mengedikan bahunya supaya tangan Jasson terlepas dari kemeja yang semakin dicengkramnya kuat.
“Ada apa?” Suara Mark terdengar angkuh. Ia mengibas bekas tangan Jasson yang telah memeganag kemejanya seolah tangan laki-laki itu penuh dengan noda.
“Jauhi istriku!” Kedua manik mata Jasson yang berwarna kelabu terang itu tersirat penuh dengan peringatan.
Mark menarik salah satu sudut bibirnya. “Apa hakmu?”
“Kau masih bertanya apa hakku? Aku suaminya!" Suara Jasson serasa meledak di tenggorokannya dengan penuh emosi. "Jadi jauhi istriku!" Rahangnya mengeras sembari menggertakan giginya.
"Kau sudah mengakuinya sebagai istri?" tanyanya penuh dengan sindiran. Mark menghindar saat tangan Jasson nyaris merampas kerah kemejanya.
"Jangan mempermalukan dirimu sendiri di sini, Tuan Jasson!" Mark mengguncang salah satu bahu Jasson. Namun, tak membuat tubuh laki-laki itu berpindah dari posisinya.
“Kimmy dan aku sudah lama berteman dan tidak ada yang bisa menghalangi pertemanan kami, terutama kau!” ucap Mark seraya menegaskan jari telunjuknya. “Lagipula, aku dan Kimmy selalu menjaga jarak. Bukan seperti kau dan sekretarismu.” Manik mata Mark yang berwarna coklat terang bak kacang kenari itu menatapnya dengan sarkastik.
“Ini bukan masalah kau berteman baik dengan istriku atau tidak. Aku menyuruhmu menjauihi istriku, karena salah satu wanitamu berulang kali mengancamnya!”
Kening Mark berkerut dalam. Ia gagal mencerna perkataan Jasson. "Apa maksudmu?"
"Aku tidak akan mengulang lagi perkataanku. Aku hanya meminta kau jauhi istriku. Jangan membuatnya berada di dalam masalah." Jasson bergantian mengguncang kedua bahu Mark hingga tubuh tegap laki-laki itu goyah dari posisinya.
"Jika hal buruk sampai terjadi kepada Kimmy. Kau orang pertama yang akan kucari!" Jasson memperingati Mark dengan suara penuh tekanan dan ancaman. Sebelum kemudian, ia berlalu pergi meninggalkan Mark yang masih mematung di sana.
"Apa maksud perkataan Jasson?" gumam Mark. Ia benar-benar dibingungkan akan perkataan laki-laki yang telah menjadi suami temannya tersebut.
"Mengancam? Siapa yang mengancam Kimmy?"
"Aku harus bertanya kepada Kimmy."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
guest1052940504
mantaff
2021-12-12
0
Novita M Nur
kayak y kimmy hamil deh
2021-04-14
2
Gina Savitri
mark makanya jadi laki² jangan nebar benih di mana² jadi bingung kan siapa yg ngancem kimmy 😂😂😂
2021-04-12
1