“Jasson membohongiku.” Bibir Kimmy yang sedaritadi pucat berucap dengan gemetar, suaranya nyaris tak terdengar saat air matanya yang semula ia tahan, kini berhamburan menggenangi wajahnya. Wanita itu menarik kembali perkataannya yang akan mengertikan Jasson untuk menerima apapun alasan suaminya tentang Alea. Rasa sakit dan cemburu kini menggelapkan hatinya, dan Kimmy tidak akan pernah menerima alasan apapun dari suaminya tersebut.
“Jasson membohongiku. Dia membohongiku ....” Tangisan Kimmy semakin meledak di jalanan sepi yang disoroti lampu-lampu redup, hanya ada dirinya sendiri saja di sana. Kedua tangannya mengepal untuk meluapkan rasa sakitnya, meskipun itu tidak membantu.
Kimmy masih tak berpindah akan posisinyan saat ini. Setelah beberapa saat melampiaskan rasa sakit melalui air matanya yang membuat kedua bola mata wanita itu nyaris tak terlihat, akhirnya Kimmy memilih untuk pergi dari sana tanpa melihat secara langsung apa yang sedang dilakukan suaminya di rumah Alea. Namun, saat Kimmy berbalik dan hendak kembali ke mobil, seseorang yang tak asing tiba-tiba mengejutkan dirinya dari belakang.
“Nona Kimmy ....” Seulas senyuman yang menampakan sederet gigi putih yang nyaris rapuh, tersemat menyambut dirinya.
“Paman Alert?” Kimmy begitu terkesiap saat melihat laki-laki paru baya yang biasa menjadi sopirnya itu tiba-tiba berada di tempat yang sama dengannya. Entah sejak kapan beliau ada di sana.
Alert menyipitkan kedua matanya, memperhatikan mata Kimmy yang bengkak dengan air mata yang masih merembas dengan cukup deras. “Nona kenapa menangis?"
“Ti-tidak, Paman.” Kimmy dengan cepat mengeringkan wajahnya yang dipenuhi air mata dengan menggunakan lengan mantel yang ia kenakan. Keningnya berkerut. Wanita itu masih heran akan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. Karena, tempat ini terbilang sangat jauh dari rumah Alert yang ada di pinggiran kota.
“Paman kenapa ada di sini?” tanyanya penuh keheranan. Kimmy mengedarkan pandangan, saat ini di jalanan itu hanya ada dirinya dan juga Alert saja. Bukannya sopirnya ini masih berkabung akan kepergian putrinya?
“Saya kemari untuk menjemput Nona Kimmy.” Alert mengulum kembali senyumannya.
“Menjemput saya? Tetapi ada Paman Effendy yang menunggu saya di ujung jalan sana, Paman.”
“Sopir baru Nona sudah pulang. Itu sebabnya saya yang menggantikannya,” tutur Alert. Kimmy semakin dibuat bingung dan merasa aneh. Ia mengusap air mata yang sesekali nyaris merembas kembali membasahi pipinya.
“Bagaimana mungkin Paman Effendy pulang? Saya baru sebentar meninggalkannya. Sebentar Paman, Kimmy akan memastikannya sendiri.”
“Sopir baru Nona sudah pulang.” Alert menghentikan paksa langkah kaki Kimmy. “Lebih baik, sekarang Nona pulang bersama saya saja.”
“Bukannya Paman masih mengambil cuti? Lalu kenapa Paman bekerja?”
“Saya rindu bekerja, Nona. Kalau saya tidak melakukan kegiatan lain ... yang ada saya hanya akan merindukan putri saya.” Kesedihan kembali menyurutkan senyuman yang semula tersemat di wajah Alert. Kimmy merasa ibah.
“Paman yang sabar, ya.” Kimmy mengusap salah satu bahu Paman Alert. Wanita itu ber-empati. Masih ada orang lain yang terluka dibanding dirinya saat ini. Kimmy pun terpaksa menerima ajakan Alert untuk ikut pulang bersama dengannya dan masuk ke dalam mobil yang terlihat tak jauh dari jangkauannya saat ini.
***
Jasson masih berada di rumah Alea. Peringatan demi peringatan masih ia layangkan kepada wanita itu supaya mulai saat ini menjauhi dirinya dan juga Kimmy.
“Aku tidak akan membesar-besarkan masalah ini. Karena aku mengingat kebaikanmu!” seru Jasson. “Tapi, sekali lagi kau berani berbuat hal menjijikan seperti ini kepada istriku. Kupastikan tanganku sendiri yang akan menyakitimu!” Tatapan menyeramkan masih tak menyurut dari manik mata perak Jasson yang nyaris gelap. Emosi dan amarah masih terkumpul penuh dari dalam dirinya.
“Jasson, aku janji tidak akan berbuat hal semacam ini lagi. Aku akan menjauhi dirimu dan juga Nona Kimmy. Tapi tolong, maafkan aku, setidaknya beri aku pekerjaan.” Alea mengatupkan kedua tangannya di depan Jasson. Sungguh tidak tahu malu sekali wanita ini. “Aku masih membutuhkan pekerjaan untuk membiayai adikku. Tolong.” Tangan Alea berpindah dan nyaris menyentuh lengan tangan Jasson. Namun, dengan cepat laki-laki itu menghindar dan menjauhinya.
“Pekerjaan apa yang pantas untuk orang jahat sepertimu?” tanya Jasson dengan tatapan dan suara yang sarkastik.
Hati Alea rasanya sakit setiap kali Jasson melayangkan tuduhan seperti itu. Laki-laki yang selalu memujinya dengan segala kepintaran yang ia miliki, kini menganggapnya sebagai seorang penjahat. Namun, Alea tak bisa berbuat lebih kecuali ... menangis. Membantah, atau membela diri untuk saat ini pun percuma. Jasson lebih mempercayai Chelia dibanding dirinya. Alea pun mengakui bahwa dirinya memang salah. Jika tahu kejadiannya akan berakhir seperti ini, waktu itu dirinya akan benar-benar menolak perintah dari Chelia yang mengatas namakan balas budi. Namun, penyesalan memang datangnya di akhir. Kalau di awal namanya pendaftaran wkwkwk.
“Kau benar-benar lebih mempercayai Nona Chelia?” Tatapan mata sendu itu nyaris menggoyahkan hati Jasson. Ia merasa ibah kepada wanita yang sudah cukup ia kenal baik selama empat tahun ini, tetapi saat mengingat Kimmy ... rasa ibah itu melebur dengan sendirinya dan berubah menjadi kebencian.
“Sekalipun Chelia yang menyuruhmu, tetapi kau tetap bersalah!” Jasson menegaskan jari telunjuknya di depan wajah Alea. Amarahnya kembali memuncak. Jika saja wanita yang ada di hadapannya saat ini ialah laki-laki, mungkin amarahnya tidak akan ia tahan seperti ini.
“Jika memang kau terpaksa melakukannya karena perintah Chelia, seharusnya kau memberitahuku atau orang lain setelah kau mengunci Kimmy! Kenapa kau tidak memberitahuku dan malah mengajakku untuk pulang sore itu?” seru Jasson. Alea seakan sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Kali ini ia benar-benar menyalahkan kebodohannya sendiri. “Sementara kau tau, istriku bisa saja mati di dalam sana dan waktu itu kau malah berpura-pura seolah tidak tau!” Jasson mengepalkan telapak tangannya, saat rahangnya semakin mengeras.
Alea tidak berani menjawab perkataan Jasson. Ia takut emosi lelaki itu semakin tidak bisa dikendalikan.
Suara dering ponsel tiba-tiba memecah suasana mencekam yang ada di dalam rumah Alea. Jasson mengenali suara ponsel miliknya. Dengan segera, laki-laki itu mengambil ponsel yang terselip di dalam saku celana. Terlihat satu panggilan masuk dari Jesslyn yang tertera di layar ponsel tersebut.
“Ada apa?” tanya Jasson dengan gusar karena emosinya belum menyurut sepenuhnya saat ia meletakan benda pipih itu mendekat ke daun telinga.
“Jasson, kau sekarang ada di mana?”
“Kenapa?”
“Kimmy hilang.” Suara Jesslyn terdengar panik.
“Hilang bagaimana?”
“Tadi aku meninggalkannya di dapur membantu Bibi Katty memasak. Saat aku mau memanggil Kimmy. Dia tiba-tiba tidak ada,” ucapnya terbata.
“Kau sudah mencari ke seluruh rumah?”
“Sudah, tetapi tidak ada. Aku mencoba menghubungi nomer ponselnya, tetapi juga tidak aktif.”
“Apa Paman Effendy ada di rumah?”
“Paman Effendy? Sebentar.”
“... Paman Effendy dan mobilnya pun juga tidak ada.”
“Mungkin Kimmy pergi ke supermarket diantarkan oleh Paman Effendy. Kau ini mengagetkanku saja!” bentak Jasson.
“Kimmy tidak mungkin pergi ke supermarket.” Jesslyn membentak balik, merasa kesal. “Karena daritadi dia menanyakan dirimu dan juga Alea. Dia curiga kalau Alea masih bekerja denganmu!” Kedua mata Jasson membulat penuh saat mendengar pernyataan dari saudara kembarnya tersebut.
“Apa kau memberitahunya?” seru Jasson.
“Tidak, aku sama sekali tidak memberitahunya. Dia dari tadi bertanya kepadaku. Tapi aku selalu menghindar. Kau sekarang ada di mana?”
“Aku sekarang di rumah Alea. Tunggu, aku akan pulang sekarang.”
“Kau di rumah Alea?” Suara Jesslyn di seberang sana mendadak meledak di tenggorokannya.
“Sial.” Jasson mengumpat karena dirinya kelepasan berbicara.
“Kau benar-benar keterlaluan—”
Karena tidak ingin memperpanjang perdebatan dengan saudaranya yang hanya akan semakin menimbulkan kesalahpahaman, Jasson lebih memilih mengakhiri panggilannya. Ponsel yang masih ia genggam, ia kembalikan ke dalam saku celana.
“Jasson, Nona Kimmy kenapa?”
“Bukan urusanmu! Jangan berpura-pura baik di depanku!” Jasson menepis kasar tangan Alea yang berusaha meraih lengan tangannya. Laki-laki itu berlalu pergi meninggalkan rumah Alea.
Saat kaki Jasson baru saja mencapai halaman rumah Alea dan nyaris masuk ke dalam mobil yang terparkir di sana, suara seseorang yang tak asing dari kejauhan tiba-tiba meneriaki dirinya. Jasson pun menoleh ke asal suara tersebut. Ia memicingkan matanya dan berusaha mengamati seseorang yang ada di seberang sana.
“Paman Effendy?” Jasson begitu terkesiap saat melihat laki-laki parubaya itu berjalan tertatih-tatih dengan pakaian yang terlihat tergores noda darah. Beberapa bagian tubuhnya pun dipenuhi luka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Hera Puspita
pasti paman alert mau balas dendam sama kimmy, 🤔🤔
2024-06-18
1
Mimilngemil
😱😧
serem, apakah Kimmy terluka?
2023-11-23
0
Mimilngemil
😂😂😂
betul Thor....
2023-11-23
0