Tangan Alert perlahan membuka kain berwarna coklat yang membalut benda itu. Kedua mata Kimmy dibuat membulat penuh saat ia melihat sebilah pisau yang berukuran besar mengkilat-kilat karena menunjukan ketajamannya.
“Pa-paman, pisau itu untuk apa?” Kimmy semakin dibuat ketakutan.
“Ini?” Alert sedikit menjulurkan pisau itu kepada Kimmy. “Ini untuk menghilangkan beban kesedihan Nona.” Senyuman penuh kegilaan menyeringai wajah Alert.
“Paman, jauhkan pisau itu dari Kimmy!”
“Ini tidak akan menyakiti, Nona. Ini justru akan membantu Nona lepas dari masalah dan kesedihan Nona.”
“Ayo kemarilah, Nona ... ayo kemarilah.” Alert tertawa seperti orang yang sudah kehilangan akal.
“Paman, jauhkan pisau itu.” Ketakutan Kimmy semakin menjadi-jadi. Tangannya kini berusaha membuka pintu mobil, saat Alert nyaris menarik tubuhnya untuk masuk mendekati Kimmy.
“Suamimu berselingkuh, dia mengkhianatimu, bukan?” ucapnya seraya mengasah ujung pisau itu dengan ibu jarinya. Alert kembali menarik pandangannya kepada Kimmy. Tatapannya setajam pisau yang ia pegang.
“Lebih baik, Nona menemani Wynie.”
“A-apa ma-maksud, Paman? Wynie sudah meninggal.”
“Yaaaa! Wynie sudah meninggal dan kau penyebabnya!” Suaranya yang mulanya lembut kini mengguncang telinga Kimmy yang menangis ketakutan.
“Ki-Kimmy tidak mengerti, tolong biarkan Kimmy pergi.” Kimmy masih berusaha membuka pintu mobil. Namun, tangannya seakan lumpuh akibat ketakutannya terhadap Alert.
“Jangan takut, Paman tidak berbuat jahat. Paman hanya ingin melepaskan bebanmu saja, Nona.” Alert mengangsur tubuhnya mendekati Kimmy. Pisau itu semakin memperjelas di kedua manik mata perak Kimmy.
“Putri bungsuku yang malang meninggal.” Alert mengasah kembali ujung pisau itu. Tatapannya penuh kesedihan. Namun, mematikan saat beralih melihat ke arah Kimmy. “Dan ini semua gara-gara kau!” teriaknya seraya menjulurkan pisau itu di hadapan Kimmy.
“Jasson ....” Kimmy memejamkan kedua matanya, ia berteriak ketakutan. Air matanya kembali berhamburan menggenangi wajah pucatnya yang nyaris tak teraliri darah.
Alert tertawa. “Suamimu sedang bersama wanita lain, mungkin dia sekarang sedang ....”
“Paman, tolong jangan berbuat hal buruk kepada Kimmy.” Kimmy mengatupkan kedua tangannya. Memohon dengan bibir gemetar, dan air mata yang mengalir melewati dagu runcingnya.
“Nona Kimmy sayang, kenapa menangis? Apa Paman semenakutkan itu?” Kimmy menepis tangan Alert yang berusaha mengusap kepalanya.
“Coba saja, kau mendengarkan perkataan Paman untuk menjauhi Mark, mungkin Wynie masih hidup sekarang, dan Paman tidak akan seperti ini. Tapi semuanya sudah terlambat. Kau! Kau penyebab putriku meninggal!”
“Papa ....” Kimmy berteriak saat pisau yang dipegang oleh Alert nyaris menyentuh tubuhnya. Ketakutan Kimmy semakin menjadi-jadi.
“Paman, Kimmy tidak mengerti. Kimmy tidak tau penyebab Wynie meninggal.”
“Penyebabnya, kau! Aku sudah mengirimkan surat dan pesan singkat berkali-kali kepadamu, tetapi kau tidak pernah mau mendengarkanku!” teriak Alert. Matanya yang merah kini melotot tajam ke arah Kimmy. Rahangnya mengeras tersulut emosi dan dendam.
“Pa-Paman yang mengirimkan surat kaleng selama ini kepada Kimmy?”
“Ya ... benar sekali, anak pintar.” Tawa Alert memecah kesunyian malam di tempat asing itu. Suaranya terdengar menakutkan. Demi Tuhan, Kimmy bingung harus berbuat apa. Berteriak meminta tolong pun percuma, karena tidak ada siapapun di sana.
“Paman, apa mau Paman? Apa salah Kimmy hingga Paman menerror Kimmy seperti ini?”
“Salahmu karena kau hidup!” teriaknya tanpa meredupkan matanya yang masih melotot. “Kau merampas kebahagiaan Wynie!” Alert menggertakan giginya. Emosinya masih meluap-luap.
“Kimmy tidak mengerti ....” Kimmy menggeleng kepalanya, matanya tak lepas memandangi pisau yang dipegang oleh Alert dengan waspada.
“Dulu, saat Tuan Louis dan Nyonya Kelly belum dikaruniai anak. Dia berjanji akan mengadopsi Wynie saat dia lahir, saat itu aku senang karena putriku akan diadopsi oleh orang yang berkecukupan. Dia akan memiliki pendidikan yang tinggi hidup serba ada, dan bisa memiliki segalanya” tuturnya seraya tersenyum mengingat hal itu. “Tapi semuanya hancur karena kau lahir! Kau merebut kebahagiam putriku!” teriak Alert seraya menjulurkan kembali pisau itu.
“Paman!” Teriakan itu kembali Kimmy loloskan. Tubuhnya kini semakin gemetar ketakutan.
“Dan sekarang kau merebut kebahagiaan putriku lagi. Kau merebut Mark, laki-laki yang putriku cintai!”
“Aku tidak merebut Mark. Aku dan Mark hanya berteman, Paman.” Kimmy membantah.
“Aku tidak buta! Aku selalu mengawasimu setiap kali di rumah sakit!” teriak Alert. “Kau selalu tertawa bersama laki-laki itu, ke mana-mana selalu pergi berdua, dan kau masih menyangkalnya, wanita jalangg!”
“Dan putriku sekarang sudah meninggal.” Alert tiba-tiba menangis. “Dan ini semua gara-gara kau! Kau penyebab Wynie meninggal, dan kau harus ikut menemaninya!” Alert berteriak dan mengayunkan pisau itu ke arah Kimmy, dan berusaha menjangkau tubuh anak majikannya itu. Kimmy menghindar, namun wanita itu berteriak saat pisau itu ternyata berhasil mengenai lengan tangannya. Pisau itu berhasil menembus mantel tebal yang ia kenakan. Alert menarik kembali pisau itu, lalu tertawa cekikikan seperti orang yang benar-benar kehilangan akal. Kimmy tidak tau apa lengan tangannya saat ini terluka atau tidak, ia hanya merasakan sakit yang teramat.
“Paman, tolong jangan seperti ini ....” Kimmy menangis sesenggukan, wanita itu semakin ketakutan melihat Alert.
“Ahhh ....” Tubuh Kimmy tiba-tiba terhempas jatuh ke tanah, saat pintu mobil itu terbuka dengan dorongan kuat tubuhnya. Kimmy memiliki kesempatan untuk melepaskan diri, ia pun bangkit dan berlari meninggalkan tempat tersebut seraya memegangi lengan tangannya yang ia rasa memang terluka akibat pisau tadi.
“Kau mau lari ke mana, Nona?” teriak Alert. Ia tak membiarkan Kimmy lepasa begitu saja. Laki-laki itu turun dari mobil dan mengejar Kimmy yang berlari dengan tubuh sedikit sempoyongan. Alert tertawa cekikikan melihat Kimmy yang kesulitan berlari di jalanan yang penuh dengan bebatuan. Ia berteriak meminta tolong. Namun, percuma tidak ada siapapun di sana.
“Siapa yang akan menolongmu? Tidak ada.” Alert ikut mempercepat gerakan kakinya untuk mengejar Kimmy. Ia semakin mencapai wanita itu. Tangannya kembali mengayunkan pisau yang ia pegang dan nyaris mengenai punggung Kimmy. Namun, tubuh Kimmy tiba-tiba tersungkur karena tersandung bebatuan.
“Paman, jangan! Tolong biarkan Kimmy pergi.” Kimmy mengangsur tubuhnya, menjauh dari Alert saat laki-laki itu berusaha berjalan mendekatinya. Ia tidak memiliki kesempatan lagi untuk menghindar atau berlari dari cengkraman laki-laki itu.
Alert mencondongkan tubuhnya mendekati Kimmy. “Kau tenang saja, sayang. Paman akan membiarkanmu pergi,” tuturnya pelan. Senyuman menyeringai wajahnya yang semakin tua. Namun, senyuman itu perlahan menyurut dan berubah menjadi kebengisan. “Pergi bersama Wynie!” Alert hendak mengayunkan kembali pisaunya, namun tubuh laki-laki itu tiba-tiba tersungkur saat seseorang menghantam tubuhnya dari belakang.
“Jasson ....” Ya, laki-laki itu terlihat membawa sebuah batu yang cukup besar di tangannya. Ia membuang batu itu, dan kini beralih menatap Alert dengan tatapan penuh emosi.
“Kau sungguh tidak tau diri, Alert! Berani-beraninya kau mau menyakiti istriku.” Jasson memberi pukulan saat tubuh Alert kembali bergerak. Ia menghajar tubuh laki-laki yang tulangnya nyaris rapuh itu tanpa ampun. Bukannya takut, Alert malah tertawa cekikikan.
“Aku hanya kasihan kepada Nona Kimmy. Aku hanya ingin menghilangkan beban kesedihannya saja. Kesedihan yang kau ciptakan, Tuan.” Tawa itu kembali memecah meskipun tubuhnya sudah berdarah-darah akibat setiap pukulan yang ia terima dari Jasson. Tak banyak bicara, Jasson kembali mengayunkan pukulan kepada Alert, hingga laki-laki itu benar-benar tidak sadarkan diri. Napas Jasson tersengal-sengal. Ia tidak pernah berkelahi atau memukul orang hingga seperti ini, sebelumnya.
“Kimmy ....” Ia menarik pandangannya ke arah Kimmy yang tengah bersembunyi ketakutan.
“Kimmy ....” Jasson berjongkok mendekati Kimmy dan segera mendekap erat tubuh wanita ke dalam pelukannya. Ia menghujani begitu banyak ciuman. Jelas sekali kekhawatiran tersemat di wajahnya. Nmun, Kimmy tiba-tiba mendorong tubuh Jasson.
“Pergi!”
“Kimmy, ini aku Jasson. Jangan takut, Sayang.” Jasson berusaha merengkuh kembali tubuh Kimmy, namun Kimmy menepis tangannya.
“Kimmy, ayo kita pulang.”
Kimmy menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mau pulang bersamamu, kau membohongiku!” Rasa sakit saat mengingat Jasson dengan Alea, lebih menyakitkan ketimbang luka tusukan yang saat ini ia rasakan.
“Kimmy, aku tidak bermaksud membohongimu.” Jasson menyentuh lengan tangan Kimmy, tetapi Kimmy kembali menepisnya. Jasson begitu terkesiap saat melihat darah menodai telapak tangannya.
“Kimmy, darah apa ini?” Jasson menarik paksa tubuh Kimmy, meskipun wanita itu berusaha menolaknya. Jasson membuka mantel yang dikenakan oleh istrinya itu. Kedua matanya membola saat melihat lengan tangan Kimmy bercucuran darah, ia melihat luka tusukan yang menganga di sana dengan sangat jelas.
.
.
.
Jika kalian menyukai Oh My Kimmy, jangan lupa untuk meninggalkan like dan memberi dukungan melalui vote poin atau koin, ya. Nona tidak memaksa. Kalian sudah mau membaca cerita Nona saja, Nona sudah seneng dan sangat berterimakasih. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan. Sampai ketemu di next chapter.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Zainab Ddi
keren to jasson dr mana ya kok tahu tempatnya 🤔🤔🤔
2022-05-30
3
Fitri Sinaga
semangat thor 💪
2022-03-27
0
guest1052940504
o aladalaaaaaaa
2021-12-12
0