Jasson terlihat disibukan mengambil beberapa berkas penting dari dalam laci meja kantor setelah dirinya tiba di sana. Ia dengan tergesa-gesa meninggalkan ruangannya, saat dirasa berkas-berkas yang ia bawa sudah cukup memenuhi.
"Tuan Jasson ...." Suara seorang laki-laki menghentikan langkah kaki Jasson yang hendak memasuki lift saat pintu besi itu terbuka. Ia menoleh ke asal suara. Seorang penjaga yang ia beri tugas kemarin terlihat naik dari tangga darurat dan kini berjalan ke arahnya.
"Ada apa?"
"Tuan, saya mau memberikan rekaman cctv hari jumat kepada Anda." Penjaga itu menyodorkan sebuah flasdisk yang seukuran jari telunjuk miliknya.
"Letakan di meja yang ada di ruangan saya saja."
"Baiklah." Jasson yang terlihat tergesa-gesa menekan kembali tombol lift yang pintunya sempat tertutup. Namun, ia tiba-tiba memanggil kembali penjaga itu.
"Ada apa, Tuan?" Penjaga itu berbalik dan berjalan kembali ke arahnya.
"Kemarikan, flashdisk itu biar saya saja yang menyimpannya." Jasson segera mengambil alat penyimpanan data yang berukuran kecil itu dari tangan penjaga. Ia melanjutkan niatnya untuk melangkah masuk ke dalam lift saat pintu itu baru saja terbuka.
"Aku tidak akan mengampuni siapapun jika memang ada yang sengaja mengunci istriku di dalam kamar mandi. Sekalipun basement tidak ada cctv. Tapi cctv yang ada di jalan akses lift dan koridor menuju ke basement masih aktif. Dan aku akan mencaritahu siapa saja saat hari jumat yang mendatangi basement, selain Kimmy." Jasson menggenggam flasdisk itu dengan kekuatan penuh, seakan emosinya ikut tersalurkan di sana. Lalu, ia meletakan flasdisk tersebut ke dalam saku celana panjangnya.
***
Seusai menangani pasien. Kimmy kembali ke ruangannya. Ponselnya berdering saat tubuhnya mendarat duduk di kursi besi yang ada belakang meja. Di layar ponsel itu tertera satu panggilan masuk dari Jasson. Ia dengan segera menerima dan meletakan benda pipih itu mendekat ke daun telinga.
"Iya, Jasson?" sahutnya dengan suara yang penuh semangat.
"Ehm, Kimmy. Aku sepertinya akan pulang terlambat. Bisakah kau pulang bersama Papa terlebih dulu? Nanti aku akan menjemputmu di rumah Papa."
"Iya tentu saja bisa. Baiklah kalau begitu."
"Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Jasson.
"Iya tidak apa-apa. Nanti biar aku pulang bersama Papa. Kau jangan terlambat makan siang," tutur Kimmy.
"Iya, aku baru saja selesai makan siang. Baiklah kalau begitu. Sampai bertemu nanti." Percakapan singkat di antara mereka melalui ponsel pun berakhir. Kimmy mengembalikan ponsel miliknya ke dalam tas. Ia melemaskan tubuhnya bersandar di kursi. Sesuatu serasa mengoyak hati dan pikirannya hingga tiba-tiba membuat dirinya tidak tenang.
"Kenapa aku jadi tidak tenang?" Kimmy menghela napas. "Seharusnya aku senang Jasson sudah tidak akan lagi sering-sering bertemu dengan Nona Alea."
"Oh, iya. Memangnya semalam aku berbicara apa kepada Jasson?" Kimmy kembali tersadarkan akan pertanyaan Jasson pagi tadi.
"Apa aku berbicara hal yang memalukan?" Kimmy berusaha keras mengingat kembali percakapan terakhirnya dengan Jasson semalam. Namun, ia benar-benar lupa. Daripada pusing memikirkan apa yang dibicarakan olehnya kepada Jasson. Lebih baik ia pergi menemui papanya dan pulang bersama.
***
Kimmy terlihat duduk di tepi tempat tidur dengan kedua telapak tangannya yang menumpu sebuah buku cukup tebal. Namun, buku itu sedari tadi terabaikan. Karena, kedua mata Kimmy lebih fokus dan tak berhenti mengamati jam dinding yang ada di dalam kamarnya secara berkala. Ini sudah pukul 19.36 tapi Jasson belum juga kembali dari kerjanya. Pesan singkat atau kabar pun sama sekali tak ia terima.
"Ke mana Jasson sampai selarut ini belum pulang?" Kimmy sibuk dengan asumsinya sendiri. Hingga tak menyadari beberapa kali ketukan pintu terdengar dari luar kamar.
"Kimmy ...." Suara ketukan pintu dan seseorang yang memanggil-manggil namanya kini semakin diperjelas hingga membuyarkan lamunannya. Kimmy menutup buku yang ia pegang. Meletakannya ke sembarang tempat.
"Iya, Ma?" Seulas senyuman menyambut Mama Kelly yang entah sejak kapan berdiri dan mengetuk pintu kamarnya yang baru saja ia buka.
"Mama memanggilmu sejak daritadi. Kenapa lama sekali membuka pintunya, Sayang?"
"Maaf, Ma. Kimmy baru saja dari kamar mandi." Tidak mungkin Kimmy bilang kepada mamanya kalau ia sedang melamun memikirkan Jasson yang tak kunjung pulang menjemputnya. Setidaknya pergi ke kamar mandi cukup tepat untuk dijadikan sebuah alasan.
"Oh, ya sudah ayo cepat makan malamlah dulu. Mama dan Papa sudah selesai makan malam."
"Nanti saja, Ma. Kimmy mau menunggu Jasson pulang."
"Tapi, Nak. Jasson sampai sekarang belum juga kemari. Mungkin dia sangat sibuk jadi tidak bisa menjemputmu kemari."
"Tapi Jasson tadi bilang akan menjemput Kimmy, Ma."
Senyuman Kimmy tiba-tiba mengembang saat suara klakson terdengar di halaman rumah.
"Itu Jasson sudah pulang, Ma." Kimmy menerobos tubuh Kelly yang menghalangi jalannya. Dengan langkah panjang. Ia keluar menemui Jasson di halaman rumah. Kimmy berhambur memeluk lelaki itu. Benar-benar merindukannya.
"Kenapa kau lama sekali?" cebik Kimmy. Masih tak melepaskan Jasson dari dekapannya. Kelly yang berdiri di ambang pintu hanya menggeleng kepala sambil tersenyum saat melihat tingkah putri semata wayangnya tersebut.
"Maaf, aku banyak sekali pekerjaan yang perlu kuselesaikan."
"Tidak masalah, ayo kita masuk." Kimmy menarik tangan Jasson, mengajak suaminya itu untuk masuk ke dalam rumah dan mengajaknya untuk makan malam bersama.
***
"Apa tidak sebaiknya kalian bermalam di sini? Ini sudah larut malam. Perjalanan melewati tol sangat berbahaya," tutur Louis saat menghampiri putri dan menantunya di dalam kamar dan tengah bersiap untuk pulang setelah makan malam.
"Ehm, Kimmy terserah Jasson saja, Pa."
Meskipun Kimmy ingin sekali bermalam di rumah orang tuanya. Tetapi, Kimmy tidak bisa mengambil keputusan sendiri sebelum bertanya kepada Jasson.
Jasson menatap kedua bola mata Kimmy yang menatapnya dengan penuh harap. "Apa kau mau bermalam di sini?" Pertanyaan itu membuat Kimmy dengan cepat menganggukan kepalanya.
"Baiklah, kalau begitu kita akan bermalam di sini saja."
Kimmy merangkak naik ke atas tempat tidur dan kembali melanjutkan membaca buku miliknya yang sempat tertunda. Setelah sesaat, Louis dan Kelly berpamitan meninggalkan menantu dan putrinya itu untuk kembali ke kamar mereka.
"Kimmy, ponselku low batt, apa kau membawa charger ponsel?"
"Aku membawanya. Chargernya ada di dalam tasku. Ambilah snediri." Kimmy tak mengalihkan pandangannya dari buku yang tumpu. Jasson berjalan mendekati meja yang menampakan tas milik Kimmy di atas sana. Diraihnya tas itu untuk mengambil charger yang ada di dalamnya. Namun, saat Jasson hendak mengambil charger. Ia menemukan potongan kertas kecil yang sudah lusuh terselip di sana. Rasa penasaran mendorong keingintahuan laki-laki itu untuk membuka kertas kecil tersebut.
"Jauhi Mark atau kau akan tau akibatnya!"
"Jauhi Mark? apa maksdunya?" kening Jasson berkerut dalam. Diikuti dengan kedua alisnya. Ia gagal mencerna maksud dari tulisan yang tintanya nyaris memudar.
"Kimmy, apa maksud tulisan ini?" Jasson menyodorkan kertas itu kepada Kimmy. Suaranya yang terdengar gusar membuat tubuh Kimmy terentak. Tidak sabar menunggu penjelasan dari istrinya.
Kimmy begitu terkesiap saat melihat kertas itu ditemukan oleh Jasson. "Astaga, aku lupa membuang surat kaleng ini."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Anonymous
bgsss
2025-02-10
0
Kastari Ikentunk
oh niloil
2023-02-27
1
Sulaiman Efendy
CURIGA CHELIA YG KASI SURAT KALENG KE KIMMY, DN CURIGA JG SAMA PAMAN ALERT, KMGKINAN PUTRI PMAN ALERT ADA HUBUNGAN DGN MARK
2022-12-15
0