Sebuah mobil berwarna merah terlihat berhenti di pelataran rumah minimalis milik Alea. Seorang laki-laki yang tak lain ialah Daven terlihat turun dari mobil tersebut. Punggung jemari Daven mendaratkan beberapa ketukan di pintu bercat putih mendominasi yang tertutup rapat itu, saat langkahnya yang cukup panjang baru saja berhenti di depan sana. Ia menghentikan ketukannya saat suara Alea terdengar menyahut dari dalam.
“Daven ….” Senyuman Alea mengembang ketika pintu baru saja ia buka. Ia mengedarkan pandangannya ke halaman rumah. Namun, tidak ada siapapun kecuali Daven.
“Kau sendiri?” tanya Alea sesaat senyuman yang melukis di raut wajahnya perlahan memudar.
“Iya, aku sendiri.”
“Ke mana Jasson?”
“Dia masih mengantarkan Kimmy bekerja, makanya aku yang menjemputmu. Kita akan menunggunya di café biasanya, Jasson akan menyusul setelah dia mengambil beberapa berkas di kantor.”
“Oh… sebentar aku akan mengambil tasku. Ayo maskulah dulu.”
**
Daven dan Alea melakukan perjalanan menuju cafe yang dimaksud. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Yang ada hanya keheningan dan ... kecanggungan. Ya, berbeda sekali jika bersama Jasson. Alea lebih nyaman jika berdua dengan laki-laki itu dibanding dengan Daven.
Tak lama setelahnya, Daven dan Alea tiba di tempat tujuan. Meja paling ujung yang terdapat di café itu menjadi tempat pilihan mereka untuk diduduki.
“Kau pesan apa?” tanya Daven sesaat setelah seorang pelayan menghampiri meja mereka dan menyodorkan dua buku menu berbeda.
“Kopi Turkey saja.”
“Baiklah … aku juga sama denganmu.”
Alea mengitarkan pandangannya ke sekitar. Raut wajahnya mendadak sedih. "Aku dulu hampir setiap hari sepulang dari kantor mengunjungi cafe ini bersama Jasson. Tapi sekarang ..." Alea tersenyum getir. "Semenjak Jasson menikah, jarak semakin menjauhkan kita berdua."
"Andai saja Nona Kimmy tidak hadir dan menghancurkan harapanku." Alea memejamkan singkat kedua matanya, hatinya merasa terluka. Ia sungguh merindukan hari-hari di mana saat dirinya bersama Jasson.
Tak lama kemudian, pelayan kembali datang dengan membawakan pesanan yang telah dipesan oleh Daven dan juga Alea. Mereka sejenak menyesap kopi masing-masing yang masih menampakan uap panas dari minuman berwarna hitam itu.
"Apa Harry dan Jasson akan lama?"
"Entahlah, aku tidak tau. Mereka belum memberiku kabar." Daven meletakan cangkir kopi miliknya.
"Oh ...." Alea mengangguk-anggukan kepalanya. Dirinya bingung harus berbicara apa lagi. Meskipun ia sudah cukup lama mengenal Daven, tetapi tak bisa dipungkiri ia masih canggung dengan laki-laki itu.
"Apa kau tadi sudah bilang kepada Nona Chelia?" Pertanyaan Alea membelah keheningan di antara mereka yang terjeda cukup lama.
"Bilang apa?"
"Bilang kalau kita berkumpul di sini."
"Tidak."
“Kenapa kau tidak mengajak Nona Chelia sekalian saja tadi?”
“Ini masalah pekerjaan, untuk apa mengajaknya. Lagipula dia bukan siapa-siapaku.” Seulas senyuman tersemat di bibir Daven, disusul dengan menyesap kopi yang baru beberapa menit ia diamkan.
Hening ....
“Apa kau tidak berniat untuk menjadikan Nona Chelia kekasihmu? atau bahkan lebih dari sekedar kekasih?” Pertanyaan Alea mencoba memancing Daven. Ia ingin sekali mendekatkan Daven dengan Chelia, mengingat dirinya memiliki hutang budi yang banyak kepada keluarganya.
Daven menarik kembali kedua sudut bibirnya. Ia meletakan cangkir yang masih ia pegang kembali ke tempatnya semula. “Aku hanya menganggap Chelia sebagai temanku, tidak lebih.”
“Kenapa? Kalian sudah lama dekat.”
“Aku hanya ingin menjadikannya teman saja, tidak lebih dari itu,” tegas Daven.
Sepertinya benar, Daven menyukai Nona Kimmy. Alea mengambil cangkir miliknya dan menyesap sedikit minuman hitam itu untuk meredamkan rasa keingintahuannya.
“Apa kau sudah memiliki wanita idaman?” Alea mencoba memancing pertanyaan kembali setelah ia mengembalikan cangkir kopi miliknya di atas meja.
“Wanita idaman?” Daven tersenyum, namun kali ini gigi putih rapinya sedikit nampak, merasa konyol akan pertanyaan Alea. “Tidak ada.”
“Benarkah?” Kedua mata Alea menyipit penuh selidik.
“Ehem.” Daven menganggukan kepalanya. Dagu rancingnya bertumpu pada dua telapak tangannya yang sengaja ia satukan di atas meja.
“Bagaimana dengan Nona Kimmy?” Pertanyaan itu seakan mengejutkan Daven. Ia membubarkan tangannya. Menarik sedikit posisi tubuhnya ke belakang supaya duduk lebih tegap.
“Kimmy?”
“Iya, Nona Kimmy,” ucap Alea. Mata cantiknya yang dirias dengan maskara dan eyeliner tipis itu kini menemukan jawaban saat membaca raut wajah laki-laki yang duduk di hadapannya saat ini. “Aku tau kau menyukai Nona Kimmy.”
“Hanya sekedar kagum,” jawab Daven, setelah beberapa saat dirinya bungkam untuk menyusun jawaban.
“Kau tidak bisa membohongiku. Aku tau kau menyukai Nona Kimmy.” Perkataan Alea semakin mendesak Daven untuk berbicara yang sebenarnya. Jelas saja, laki-laki itu terdiam cukup lama. Ia lebih memilih meneguk kopinya terlebih dulu dibanding menjawab pertanyaan Alea.
"Lalu apa salahnya jika menyukainya?" sekak Daven seraya meletakan kembali cangkir yang masih ia pegang.
"Apa istimewanya Nona Kimmy?" batin Alea.
"Memangnya apa yang kau sukai dari Nona Kimmy, Daven?"
"Entahlah, mungkin karena dia keibuan, dan ... lucu. Aku suka kalau dia tertawa, seperti menular. Daven tersenyum. Sekelebat ingatan tentang Kimmy saat awal-awal dirinya bertemu dengan wanita itu melintas di pikirannya. "Dia juga dewasa dan pintar."
"Keibuan?" Alea merasa geli mendengarnya. "Menurutku dia terlalu manja, untuk memasak saja dia tidak bisa."
"Memasak bukan hal yang sulit. Semua orang bisa mempelajarinya."
Alea menyesap kembali kopi miliknya. "Lalu, kenapa kau tidak berjuang untuk mendapatkan Nona Kimmy?"
Daven menarik kedua sudut bibirnya. "Kita boleh menyukai siapapun, tetapi jangan terlalu terobsesi untuk memilikinya. Itu tidak akan baik." Daven berucap dengan penuh penegasan. Alea serasa tersindir akan perkataan itu.
"Jika kita terlalu terobsesi, kita yang akan merasakan luka itu sendiri."
Mereka yang sedari tadi menuang percakapan, tak menyadari, bahwa ada sepasang mata di ujung sana tengah memperhatikan mereka.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan Like di setiap episode terimakasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Rafalia Azain
Daven keren ,,,tuh belajar dari Daven Ale ale,,,jngn terobsesi dengan cinta
2025-02-06
0
Mimilngemil
betul...
2023-11-23
0
Katherina Ajawaila
keren Daven, boleh suka tapi jgn SMP ingin memiliki apa lg punya org itu nmnya rampok
2023-06-29
1