Bab 19: Hawa Tersipu

Pagi hari mentari Dubai bersinar cerah, memancarkan sinarnya ke setiap sudut balkon hotel yang dihuni Hawa, Harrison, dan Emma. Suara burung-burung yang jarang terdengar di kota metropolitan ini terdengar samar, mengiringi pagi yang tak biasa bagi Hawa.

Hawa berdiri di depan cermin, mengenakan gaun sederhana berwarna krem yang jatuh lembut hingga lututnya. Rambutnya dibiarkan terurai, memberikan kesan natural namun anggun. Wajahnya memerah saat mengingat kejadian semalam, ketika Harrison dengan penuh keyakinan menyatakan cintanya dan memberikan perhiasan berlian yang kini melingkar manis di pergelangan tangannya.

Hawa menatap gelang itu sesaat, tersenyum sendiri. "Apa benar ini semua terjadi?" gumamnya, masih merasa seperti bermimpi.

Pintu kamar terbuka perlahan, menampilkan Harrison yang sudah rapi dengan kemeja biru muda dan celana panjang hitam. Senyum tipis menghiasi wajahnya yang biasanya tampak dingin. Namun kali ini, tatapannya begitu lembut, seperti sinar mentari yang menghangatkan hati.

"Hawa, Emma sudah menunggumu di ruang makan. Dia sangat semangat untuk sarapan bersama," ujar Harrison sambil menyandarkan diri di pintu.

Hawa mengangguk pelan. "Aku akan segera ke sana. Maaf membuat kalian menunggu."

Harrison melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di hadapannya. "Tidak perlu minta maaf. Lagipula, menunggumu bukanlah sesuatu yang buruk," katanya dengan nada rendah namun penuh makna.

Hawa menunduk, wajahnya kembali memerah. "Mas Harrison... kau terlalu berlebihan."

Harrison tertawa kecil. "Kalau begitu, ayo. Jangan biarkan Emma terlalu lama menunggu. Dia pasti sudah menyiapkan sesuatu untuk mengerjaimu."

Saat Hawa dan Harrison tiba di ruang makan hotel, Emma sudah duduk di meja, menyambut mereka dengan senyum lebar. Gadis kecil itu tampak begitu ceria, mengenakan gaun biru muda yang serasi dengan warna kemeja Harrison.

"Kak Hawa! Akhirnya datang juga. Aku pikir Kak Hawa lupa kalau ini pagi terakhir kita di sini," ujar Emma dengan nada jahil.

Hawa tertawa kecil. "Maaf, Emma. Aku hanya butuh waktu sedikit lebih lama untuk bersiap."

Emma menyipitkan mata, menatap Hawa dengan tatapan menggoda. "Hmm, Kak Hawa kelihatan beda pagi ini. Apa karena gelang itu?"

Hawa terkejut, lalu refleks menyembunyikan tangannya di balik meja. "Emma, jangan bercanda..."

Namun, Emma tidak menyerah begitu saja. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Hawa, lalu berkata dengan suara berbisik yang cukup keras untuk didengar Harrison, "Apa Kak Hawa sekarang pacar Papa?"

Hawa tertegun, sementara Harrison hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Wajah Hawa memerah seketika, dan ia tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan itu.

Melihat reaksi Hawa, Emma tertawa kecil, lalu berseru, "Aku tahu jawabannya! Kak Hawa dan Papa sudah pacaran, kan? Aku suka sekali! Sekarang aku punya keluarga lengkap!"

Hawa menatap Harrison, meminta bantuan, namun pria itu hanya mengangkat bahu sambil tersenyum jahil. "Emma, jangan membuat Kak Hawa malu," ujar Harrison akhirnya, meski nada bicaranya menunjukkan bahwa ia menikmati situasi ini.

"Kak Hawa cantik kalau malu," tambah Emma sambil tertawa, membuat Hawa menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Harrison yang melihat itu hanya tersenyum lebar. "Emma, cukup. Biarkan Kak Hawa menikmati sarapannya dengan tenang," ujarnya sambil mengusap kepala putrinya.

Meskipun malu, Hawa merasa hangat di tengah kejahilan Emma dan perhatian Harrison. Sarapan pagi itu terasa begitu harmonis, penuh canda dan tawa yang membuat mereka bertiga semakin dekat.

Setelah selesai berkemas, mereka bertiga berangkat ke bandara. Ares sudah menunggu di lobi hotel, memastikan semua keperluan mereka terpenuhi. Namun, yang menarik perhatian Ares adalah perubahan sikap Harrison. Pria yang biasanya dingin dan tegas itu kini tampak lebih santai, bahkan tersenyum lebar saat berbicara dengan Hawa dan Emma.

"Ares," panggil Harrison sebelum masuk ke mobil. "Pastikan jadwal kita tidak terganggu. Aku ingin Hawa dan Emma merasa nyaman sepanjang perjalanan."

Ares mengangguk, namun dalam hatinya ia tersenyum kecil. "Sepertinya Tuan Harrison benar-benar telah menemukan seseorang yang mampu mengubahnya," pikirnya.

Di pesawat, Harrison memilih duduk di sebelah Hawa, sementara Emma duduk di kursi lain yang tidak jauh dari mereka. Gadis kecil itu tertidur pulas setelah lelah bermain di bandara.

Harrison memperhatikan Hawa yang tampak menikmati pemandangan dari jendela pesawat. "Hawa," panggilnya pelan.

Hawa menoleh, wajahnya terlihat tenang namun sedikit penasaran. "Ya, Mas?"

Harrison menggenggam tangan Hawa, membuat wanita itu terkejut. "Aku ingin kau tahu, aku sangat bersyukur kau ada di sini. Kau membawa kebahagiaan yang sudah lama hilang dari hidupku."

Hawa menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Mas Harrison... aku juga bersyukur bisa mengenalmu dan Emma."

Melihat Hawa yang malu-malu, Harrison tersenyum kecil, lalu tanpa ragu ia mencium kepala Hawa. Tindakan itu membuat Hawa terdiam, hatinya berdebar hebat.

"Mas!" bisiknya, mencoba protes, namun suaranya terdengar begitu lemah.

Harrison hanya tertawa kecil. "Maaf, aku tidak bisa menahan diri."

Saat pesawat mulai memasuki perjalanan malam, Harrison bahkan berani memeluk Hawa. Tangannya yang kuat namun lembut melingkari tubuh wanita itu, memberikan rasa aman yang belum pernah Hawa rasakan sebelumnya.

Hawa hanya bisa tersenyum kecil, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan pelukan Harrison. Ia tahu, momen ini akan menjadi salah satu kenangan terindah dalam hidupnya.

Ketika pesawat melanjutkan perjalanan panjang menuju tanah air, suasana di dalam kabin terasa hening, hanya terdengar suara mesin pesawat yang konstan. Emma masih terlelap di kursinya, sesekali menggeliat manja dalam tidurnya. Harrison dan Hawa tetap terjaga, menikmati momen kebersamaan yang begitu tenang namun penuh makna.

Harrison memandang Hawa yang duduk di sebelahnya. Tatapannya lembut, berbeda jauh dari kesan dingin yang selalu ia tunjukkan kepada dunia. Hawa menyadari tatapan itu dan memalingkan wajah, merasa gugup. Namun Harrison tidak berhenti. Ia menggenggam tangan Hawa yang berada di pangkuannya, membuat wanita itu menoleh kembali.

"Hawa," ucap Harrison pelan, namun tegas. "Aku tahu ini semua terjadi begitu cepat. Tapi aku tidak ingin ada keraguan di antara kita."

Hawa menatapnya, bingung namun tersentuh. "Keraguan apa, Mas Harrison?"

Harrison tersenyum kecil, lalu menatap Hawa dengan lebih serius. "Keraguan bahwa aku sungguh-sungguh ingin kau ada di hidupku. Bukan hanya untukku, tapi juga untuk Emma. Aku sudah yakin dengan perasaanku, dan aku ingin kau tahu itu."

Hawa terdiam, merasakan dadanya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Kata-kata Harrison begitu tulus, seperti angin sejuk yang menyapu hatinya yang perlahan mulai percaya pada cinta lagi.

"Mas Harrison," jawab Hawa pelan, suaranya nyaris seperti bisikan. "Aku... aku juga merasa bahwa hidupku berubah sejak aku bertemu denganmu dan Emma. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi aku... aku bahagia di sini, bersama kalian."

Harrison tersenyum, wajahnya terlihat lega mendengar jawaban Hawa. Ia kemudian mendekatkan wajahnya sedikit, hingga jarak di antara mereka hanya beberapa inci.

"Kalau begitu, tetaplah di sini, Hawa. Bersama kami. Jangan pergi," bisiknya dengan nada yang begitu dalam, seolah meminta janji yang tidak terucap.

Hawa hanya bisa mengangguk, tidak mampu berkata apa-apa. Air matanya menetes perlahan, bukan karena sedih, melainkan karena bahagia yang tak mampu ia gambarkan dengan kata-kata.

Melihat air mata itu, Harrison menghapusnya dengan ibu jarinya. "Jangan menangis. Aku tidak ingin kau merasa terbebani. Ini adalah pilihanku, dan aku akan memastikan kau tidak pernah menyesalinya."

Hawa tersenyum melalui air matanya, merasa seolah berada di tempat yang benar untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Saat malam semakin larut, pesawat memasuki zona yang lebih tenang. Lampu kabin diredupkan, menciptakan suasana yang lebih intim di antara penumpang. Harrison masih menggenggam tangan Hawa, dan kali ini, ia menarik wanita itu lebih dekat ke sisinya.

Hawa terkejut, namun tidak menolak. Ia membiarkan dirinya bersandar pada bahu Harrison, merasakan kehangatan dan rasa aman yang begitu kuat dari pria itu.

Harrison menyentuh rambut Hawa dengan lembut, bermain-main dengan ujungnya yang halus. "Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku merasa seperti ini," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Hawa menoleh sedikit, menatap Harrison dengan rasa ingin tahu. "Seperti apa, Mas?"

"Seperti aku benar-benar bisa percaya pada seseorang," jawabnya sambil menatap Hawa dengan tatapan penuh arti. "Setelah semua yang terjadi dengan pernikahanku yang lalu, aku pikir aku tidak akan pernah bisa merasakan ini lagi. Tapi kau... kau berbeda."

Hawa merasakan matanya kembali memanas, namun kali ini ia menahan air matanya. Ia tahu, ini adalah momen yang tidak bisa diulang.

"Terima kasih, Mas Harrison," ucapnya dengan suara bergetar. "Terima kasih sudah percaya padaku."

Harrison tidak berkata apa-apa lagi. Sebagai gantinya, ia memeluk Hawa dengan lembut, membiarkan wanita itu bersandar sepenuhnya padanya. Bagi Hawa, pelukan itu adalah bentuk kepercayaan yang lebih dari cukup untuk membuatnya yakin bahwa ia berada di tempat yang benar.

Saat pesawat mulai mendekati tanah air, Hawa akhirnya tertidur di bahu Harrison. Wajahnya terlihat begitu tenang, seolah semua beban hidupnya lenyap seketika. Harrison memandangi wajah wanita itu dengan penuh kasih, lalu tanpa ragu, ia mengecup keningnya sekali lagi.

"Aku akan menjagamu, Hawa. Kau dan Emma. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kalian," bisiknya, meski ia tahu Hawa tidak mendengarnya.

Ares yang duduk di beberapa kursi di belakang mereka memperhatikan pemandangan itu dengan senyum kecil. Dalam hati, ia merasa lega. Harrison, pria yang selama ini ia hormati sebagai atasan, akhirnya menemukan seseorang yang mampu menyembuhkan lukanya.

Ketika pesawat akhirnya mendarat, Harrison membangunkan Hawa dengan lembut. Wanita itu membuka matanya perlahan, merasa sedikit bingung namun segera tersenyum ketika melihat Harrison.

"Kita sudah sampai?" tanyanya dengan suara serak karena baru bangun.

Harrison mengangguk sambil membantu Hawa duduk tegak. "Ya. Tapi jangan terburu-buru. Aku akan memastikan semuanya siap sebelum kita turun."

Emma yang juga baru bangun langsung meraih tangan Hawa. "Kak Hawa, aku senang sekali liburan ini! Terima kasih sudah membuat semuanya menyenangkan."

Hawa tersenyum lebar, lalu memeluk Emma dengan erat. "Aku juga senang, Emma. Kamu anak yang luar biasa."

Harrison melihat momen itu dengan senyum yang tidak bisa ia tahan. Dalam hati, ia merasa bahwa inilah awal baru bagi hidupnya. Dan kali ini, ia yakin tidak akan ada yang bisa menghancurkannya lagi.

Mereka bertiga berjalan keluar pesawat bersama, dengan tangan Harrison yang sesekali menyentuh punggung Hawa, memberikan rasa aman yang tidak tergantikan. Ini bukan hanya akhir dari perjalanan mereka di Dubai, tetapi juga awal dari kisah yang jauh lebih indah di masa depan.

Bersambung.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hi semuanya, jangan lupa like dan komentarnya ya.

Terima kasih.

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Diihh si Bocil kepo..😂😂😂

2025-02-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Pertemuan Terburuk
2 Bab 2: Pusingnya Hawa
3 Bab 3: Permintaan Emma
4 Bab 4: Izin yang Alot
5 Bab 5: Lengketnya Emma
6 Bab 6: Tragedi di Sekolah
7 Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8 Bab 8: Hawa Dicegat
9 Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10 Bab 10: Aksi Harrison
11 Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12 Bab 12: Gosip yang Menyebar
13 Bab 13: Sidak Dylan
14 Bab 14 – Kejutan Liburan
15 Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16 Bab 16: Tidak Terduga
17 Bab 17: Cerita Emma
18 Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19 Bab 19: Hawa Tersipu
20 Bab 20: Keberanian Harrison
21 Bab 21 - Bicara Berdua
22 Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23 Bab 23: Jemput Emma
24 Bab 24: Rindu Mendalam
25 Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26 Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27 Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28 Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29 Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30 Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31 Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32 Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33 Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34 Bab 34: Malam Syahdu
35 Bab 35: Keseruan Sarapan
36 Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37 Bab 37: Welcome to Maldives
38 Bab 38 : Hawa kelelahan.
39 Bab 39 Borong Oleh oleh
40 Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41 Bab 41: Kembali Pulang
42 Bab 42: Rindunya Emma
43 Bab 43 : Ella menculik Emma.
44 Bab 44 – Emma Menangis Terus
45 Bab 45 – Penyelamatan Emma
46 Bab 46 : Kehamilan Hawa
47 Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48 Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49 Bab 49 – Kematian Victoria
50 Bab 50 – Sialnya Ella
51 Bab 51 – Ancaman Harrison
52 Bab 52 – Aksi Harrison
53 Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54 Bab 54 – Kawan vs Lawan
55 Bab 55 – Sayangnya Hawa
56 Bab 56 – Rencana Liam
57 Bab 57 – Rencana Harrison
58 Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59 Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60 Bab 60: Hawa Bahagia
61 Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62 Bab 62 - Liliana Merajuk
63 Bab 63 - Liliana Curhat
64 Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65 Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66 Bab 66 - Harrison Menang
67 Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68 Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69 Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70 Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71 Bab 71: Serangan Lanjutan
72 Bab 72: Keberhasilan Harrison
73 Bab 73: Liam dan Liliana
74 Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75 Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76 Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77 Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78 Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79 Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80 promo karya terbaru
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1: Pertemuan Terburuk
2
Bab 2: Pusingnya Hawa
3
Bab 3: Permintaan Emma
4
Bab 4: Izin yang Alot
5
Bab 5: Lengketnya Emma
6
Bab 6: Tragedi di Sekolah
7
Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8
Bab 8: Hawa Dicegat
9
Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10
Bab 10: Aksi Harrison
11
Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12
Bab 12: Gosip yang Menyebar
13
Bab 13: Sidak Dylan
14
Bab 14 – Kejutan Liburan
15
Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16
Bab 16: Tidak Terduga
17
Bab 17: Cerita Emma
18
Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19
Bab 19: Hawa Tersipu
20
Bab 20: Keberanian Harrison
21
Bab 21 - Bicara Berdua
22
Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23
Bab 23: Jemput Emma
24
Bab 24: Rindu Mendalam
25
Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26
Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27
Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28
Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29
Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30
Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31
Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32
Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33
Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34
Bab 34: Malam Syahdu
35
Bab 35: Keseruan Sarapan
36
Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37
Bab 37: Welcome to Maldives
38
Bab 38 : Hawa kelelahan.
39
Bab 39 Borong Oleh oleh
40
Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41
Bab 41: Kembali Pulang
42
Bab 42: Rindunya Emma
43
Bab 43 : Ella menculik Emma.
44
Bab 44 – Emma Menangis Terus
45
Bab 45 – Penyelamatan Emma
46
Bab 46 : Kehamilan Hawa
47
Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48
Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49
Bab 49 – Kematian Victoria
50
Bab 50 – Sialnya Ella
51
Bab 51 – Ancaman Harrison
52
Bab 52 – Aksi Harrison
53
Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54
Bab 54 – Kawan vs Lawan
55
Bab 55 – Sayangnya Hawa
56
Bab 56 – Rencana Liam
57
Bab 57 – Rencana Harrison
58
Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59
Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60
Bab 60: Hawa Bahagia
61
Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62
Bab 62 - Liliana Merajuk
63
Bab 63 - Liliana Curhat
64
Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65
Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66
Bab 66 - Harrison Menang
67
Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68
Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69
Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70
Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71
Bab 71: Serangan Lanjutan
72
Bab 72: Keberhasilan Harrison
73
Bab 73: Liam dan Liliana
74
Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75
Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76
Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77
Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78
Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79
Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!