Bab 6: Tragedi di Sekolah

Satu bulan berlalu, Hawa yang masih tinggal di mansion Harrison.

Hari yang pasti akan di ingat oleh Hawa saat di rumah sakit terasa panjang dan penuh tantangan bagi Hawa. Namun, semuanya berubah dalam sekejap ketika ia menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal.

"Ini aku Kak, Emma. Sekolah disekap oleh sekelompok pria bersenjata. Mereka mencari Emma Red Serpent. Aku bersembunyi di salah satu kelas, Kak."

Hawa merasa seluruh tubuhnya menegang. Napasnya tercekat, tapi pikirannya bergerak cepat. Dengan tangan gemetar, ia membalas pesan itu:

"Tunggu, Kakak akan datang. Jangan lakukan apapun, tetap di tempat yang aman."

Hawa segera menghubungi Harrison. Suaranya terdengar gemetar saat menceritakan situasi di sekolah Emma.

"Tuan Harrison, aku mendapat kabar buruk. Sekolah Emma sedang disekap oleh beberapa orang yang bersenjata. Mereka mencari Emma," kata Hawa panik.

Hening sejenak di ujung telepon sebelum suara Harrison terdengar penuh kemarahan. "Apa?! Bagaimana bisa?! Sekolah itu seharusnya memiliki pengamanan ketat!"

"Aku tidak tahu, Tuan, tapi yang jelas Emma dalam bahaya. Aku akan ke sana sekarang," kata Hawa, sudah bersiap bergegas keluar rumah sakit.

"Hawa, jangan bertindak gegabah. Aku akan segera ke sana. Tunggu aku," perintah Harrison dengan nada tegas.

Namun, Hawa tidak bisa menunggu. Kecemasan untuk Emma menguasai dirinya. Ia segera mengemudi menuju sekolah.

***

Di luar sekolah, suasana mencekam. Beberapa orang tua murid yang mendengar kabar ini berkumpul di sekitar gerbang, namun tidak ada yang berani mendekat. Hawa melihat sebuah mobil mewah berhenti, dan dari sana keluarlah Harrison bersama asistennya, Ares, serta beberapa pria berbadan kekar.

Harrison langsung menghampiri Hawa. "Kau benar-benar nekat, Hawa. Seharusnya kau menunggu!" suaranya penuh amarah, tapi ada kekhawatiran yang tersirat.

"Aku tidak bisa diam saja, Tuan. Emma membutuhkanku," jawab Hawa tegas.

Harrison terdiam, melihat keberanian yang terpancar dari mata Hawa. Ia menghela napas, lalu berkata, "Baiklah. Tapi tetap di belakang. Jangan membuatku menyesal membiarkanmu di sini."

Harrison memimpin timnya masuk dengan hati-hati. Setiap sudut diperiksa, setiap langkah dipertimbangkan. Hawa tetap mengikuti mereka, meskipun tubuhnya gemetar.

Di dalam, suasana semakin mencekam. Anak-anak dan guru-guru dikumpulkan di satu ruangan, diawasi oleh beberapa pria bersenjata. Namun, Emma tidak terlihat di sana, yang membuat Hawa sedikit lega sekaligus cemas.

"Ares, periksa ke sisi kiri gedung. Hawa, tetap di sini," perintah Harrison.

"Tidak, saku harus mencari Emma," jawab Hawa dengan tegas.

Harrison menatapnya tajam. "Hawa, ini bukan main-main. Kau bisa terluka."

"Jangan melarangku, Tuan. Aku tahu Emma dimana," balas Hawa, suaranya penuh tekad.

Melihat keteguhan Hawa, Harrison akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi tetap hati-hati."

Hawa bergerak cepat, mencari ke setiap ruangan. Ketika ia menemukan ruang kelas yang gelap di lantai dua, ia mendengar suara tangisan kecil. Dengan hati-hati, ia masuk dan menemukan Emma yang bersembunyi di bawah meja.

"Emma..." Hawa memanggil pelan.

Emma menoleh dan langsung berlari ke arahnya, memeluknya erat. "Kak Hawa... Aku takut sekali..."

Hawa membalas pelukan itu, mengusap lembut rambut Emma. "Kakak di sini sekarang. Kamu aman."

Namun, langkah kaki terdengar mendekat. Hawa segera menempatkan Emma di balik punggungnya, melindungi gadis kecil itu dengan tubuhnya sendiri.

Pintu terbuka, dan seorang pria bersenjata masuk. Wajahnya terlihat marah. "Siapa kau?!" bentaknya.

Hawa tidak menjawab, hanya berdiri tegak, meskipun tubuhnya gemetar. Pria itu melangkah mendekat, tetapi sebelum ia sempat melakukan apa-apa, Harrison muncul dari balik pintu, bersama Ares dan beberapa anak buahnya.

Tanpa banyak bicara, Ares melumpuhkan pria itu dengan pukulan cepat. Harrison segera menghampiri Emma, yang keluar dari balik punggung Hawa dan memeluk papanya erat.

"Papa..." suara Emma terdengar penuh tangis.

Harrison memeluk putrinya dengan erat, wajahnya penuh kelegaan. "Kamu aman sekarang," bisiknya.

Emma memandang Hawa dan berkata, "Papa... Kak Hawa yang melindungiku..."

Harrison menatap Hawa dengan mata yang penuh emosi. Dalam hatinya, ia merasa tersentuh. Dia mempertaruhkan nyawanya untuk Emma. Begitu tulus dan berani...

***

Setelah kejadian penyelamatan yang mendebarkan di sekolah Emma, rombongan Harrison dan Hawa tiba kembali di mansion. Hawa masih memeluk Emma erat, berusaha menenangkan gadis kecil itu yang terus gemetar. Namun, di balik ketenangan yang berusaha ditampilkan, hati Hawa masih dipenuhi kegelisahan.

Di depan mansion, Harrison berdiri tegak, tatapannya tajam seperti singa yang terluka. Ia memandang ke arah Ares, asistennya yang setia, lalu berkata dengan suara rendah namun penuh ancaman, "Ares, cari tahu siapa dalang dari semua ini. Aku ingin jawabannya sebelum fajar."

Ares mengangguk tegas. "Aku sudah menduga, Tuan. Dari ciri-ciri mereka, ini kerjaannya Kris Shadow. Dia tidak pernah berhenti bermain api."

"Kris Shadow," gumam Harrison sambil mengepalkan tinjunya. "Beraninya dia mendekati putriku."

Setelah memastikan Emma tertidur dengan tenang di kamar, Hawa kembali ke ruang tamu, di mana Harrison dan Ares sedang berbicara serius. Ketika Hawa masuk, pembicaraan mereka terhenti sejenak.

"Aku ingin berterima kasih sekali lagi," kata Harrison sambil memandang Hawa. "Kau tidak hanya melindungi Emma, kau mempertaruhkan nyawamu untuknya. Aku berhutang besar padamu."

"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya, Tuan. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padanya," jawab Hawa, suaranya tegas namun lembut.

Ares, yang sejak awal diam, kini angkat bicara. "Aku tidak pernah melihat seseorang yang begitu peduli pada Emma selain keluarga ini, Nona Hawa. Sikap Anda benar-benar tulus, dan itu membuat aku yakin bahwa Emma berada di tangan yang tepat."

Hawa tersenyum kecil, namun ia menunduk, merasa tak nyaman dengan pujian itu. "Aku hanya melakukan apa yang hatiku benar."

Harrison terdiam, menatap Hawa dengan pandangan yang sulit diartikan. Dalam hatinya, ia merenung. Tulus sekali. Dia tidak mencari keuntungan, hanya memikirkan Emma. Orang seperti dia jarang ada.

Malam semakin larut, namun Harrison tidak bisa beristirahat. Di ruang kerjanya, ia duduk sambil memandangi segelas bourbon di tangannya. Kris Shadow kembali menghantui keluarganya, dan ini tidak bisa dibiarkan.

"Ares," katanya tiba-tiba, memecah keheningan.

"Ya, Tuan?" Ares yang berdiri di dekat pintu langsung merapat.

"Kita tidak bisa hanya bertahan. Kris Shadow sudah mencari Emma. Aku ingin dia dilumpuhkan. Pastikan dia tidak pernah berani mendekati keluargaku lagi."

"Dimengerti, Tuan," jawab Ares dengan nada dingin. "Aku sudah menyiapkan beberapa orang untuk melacak persembunyian mereka. Kita hanya tinggal menunggu waktu."

Harrison mengangguk. Namun, pikirannya tidak sepenuhnya tenang. Ia teringat wajah Hawa saat memeluk Emma di tengah bahaya. Begitu tulus, begitu melindungi, seolah Emma adalah bagian dari keluarganya sendiri.

"Dia berbeda, Ares," kata Harrison tiba-tiba.

"Maaf, Tuan?"

"Hawa," jawab Harrison. "Aku belum pernah melihat seseorang seperti dia. Dia mempertaruhkan segalanya untuk Emma, bahkan tanpa berpikir dua kali."

Ares tersenyum kecil. "Aku juga memperhatikannya, Tuan. Dia tidak hanya berani, tapi juga memiliki hati yang besar. Dia tulus, dan itu yang membuatnya istimewa."

Harrison menghela napas. "Aku tidak bisa membiarkan Kris Shadow menghancurkan apa yang sudah kulindungi. Emma adalah segalanya bagiku... dan sekarang, aku merasa Hawa juga bagian dari ini."

***

Di sudut lain kota, Kris Shadow sedang duduk di ruangan gelap yang penuh dengan layar pengawas. Senyumnya sinis saat ia memandangi rekaman dari sekolah Emma.

"Harrison benar-benar tidak berubah," gumamnya. "Dia selalu melindungi keluarganya seperti singa, tapi kali ini aku akan membuatnya jatuh."

Namun, Kris tidak menyadari bahwa Ares dan timnya sedang bergerak cepat menuju markasnya. Malam itu, perang diam-diam antara Harrison dan Kris Shadow dimulai, dengan Hawa yang tanpa sadar menjadi bagian penting dalam perlindungan keluarga Harrison.

***

Di mansion, Hawa duduk di tepi tempat tidur Emma, memperhatikan gadis kecil itu yang tidur dengan damai. Hatinya merasa lega, meskipun bayangan peristiwa tadi masih menghantuinya.

Ketika ia bangkit untuk pergi, Emma tiba-tiba membuka matanya. "Kak Hawa... jangan pergi," pintanya pelan.

Hawa tersenyum lembut dan mengusap kepala Emma. "Kakak tidak akan kemana-mana, Emma. Tidurlah. Kamu aman sekarang."

Emma memejamkan matanya lagi, dan Hawa merasa hatinya dipenuhi kehangatan.

Dari jauh, Harrison berdiri di pintu kamar, memperhatikan interaksi itu. Ia tersenyum kecil, sebuah senyuman yang jarang terlihat. Dalam hatinya, ia berbisik, Hawa... kau lebih dari sekadar pelindung untuk Emma. Kau adalah seseorang yang membawa ketenangan di tengah badai.

Bersambung.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Jangan lupa buat like dan komentarnya ya, terima kasih.

Terpopuler

Comments

Astuti Setiorini

Astuti Setiorini

coba hawa bisa bela diri pasti bisa melindungi diri sendr dan emma dr musuh papanya emma

2024-12-13

1

HARTINMARLIN

HARTINMARLIN

akankah Horison akan jatuh cinta sama Hawa

2024-12-13

2

ziear

ziear

terima kasih sarannya kak

2024-12-13

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Pertemuan Terburuk
2 Bab 2: Pusingnya Hawa
3 Bab 3: Permintaan Emma
4 Bab 4: Izin yang Alot
5 Bab 5: Lengketnya Emma
6 Bab 6: Tragedi di Sekolah
7 Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8 Bab 8: Hawa Dicegat
9 Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10 Bab 10: Aksi Harrison
11 Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12 Bab 12: Gosip yang Menyebar
13 Bab 13: Sidak Dylan
14 Bab 14 – Kejutan Liburan
15 Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16 Bab 16: Tidak Terduga
17 Bab 17: Cerita Emma
18 Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19 Bab 19: Hawa Tersipu
20 Bab 20: Keberanian Harrison
21 Bab 21 - Bicara Berdua
22 Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23 Bab 23: Jemput Emma
24 Bab 24: Rindu Mendalam
25 Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26 Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27 Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28 Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29 Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30 Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31 Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32 Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33 Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34 Bab 34: Malam Syahdu
35 Bab 35: Keseruan Sarapan
36 Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37 Bab 37: Welcome to Maldives
38 Bab 38 : Hawa kelelahan.
39 Bab 39 Borong Oleh oleh
40 Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41 Bab 41: Kembali Pulang
42 Bab 42: Rindunya Emma
43 Bab 43 : Ella menculik Emma.
44 Bab 44 – Emma Menangis Terus
45 Bab 45 – Penyelamatan Emma
46 Bab 46 : Kehamilan Hawa
47 Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48 Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49 Bab 49 – Kematian Victoria
50 Bab 50 – Sialnya Ella
51 Bab 51 – Ancaman Harrison
52 Bab 52 – Aksi Harrison
53 Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54 Bab 54 – Kawan vs Lawan
55 Bab 55 – Sayangnya Hawa
56 Bab 56 – Rencana Liam
57 Bab 57 – Rencana Harrison
58 Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59 Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60 Bab 60: Hawa Bahagia
61 Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62 Bab 62 - Liliana Merajuk
63 Bab 63 - Liliana Curhat
64 Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65 Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66 Bab 66 - Harrison Menang
67 Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68 Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69 Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70 Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71 Bab 71: Serangan Lanjutan
72 Bab 72: Keberhasilan Harrison
73 Bab 73: Liam dan Liliana
74 Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75 Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76 Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77 Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78 Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79 Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80 promo karya terbaru
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1: Pertemuan Terburuk
2
Bab 2: Pusingnya Hawa
3
Bab 3: Permintaan Emma
4
Bab 4: Izin yang Alot
5
Bab 5: Lengketnya Emma
6
Bab 6: Tragedi di Sekolah
7
Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8
Bab 8: Hawa Dicegat
9
Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10
Bab 10: Aksi Harrison
11
Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12
Bab 12: Gosip yang Menyebar
13
Bab 13: Sidak Dylan
14
Bab 14 – Kejutan Liburan
15
Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16
Bab 16: Tidak Terduga
17
Bab 17: Cerita Emma
18
Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19
Bab 19: Hawa Tersipu
20
Bab 20: Keberanian Harrison
21
Bab 21 - Bicara Berdua
22
Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23
Bab 23: Jemput Emma
24
Bab 24: Rindu Mendalam
25
Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26
Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27
Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28
Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29
Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30
Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31
Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32
Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33
Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34
Bab 34: Malam Syahdu
35
Bab 35: Keseruan Sarapan
36
Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37
Bab 37: Welcome to Maldives
38
Bab 38 : Hawa kelelahan.
39
Bab 39 Borong Oleh oleh
40
Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41
Bab 41: Kembali Pulang
42
Bab 42: Rindunya Emma
43
Bab 43 : Ella menculik Emma.
44
Bab 44 – Emma Menangis Terus
45
Bab 45 – Penyelamatan Emma
46
Bab 46 : Kehamilan Hawa
47
Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48
Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49
Bab 49 – Kematian Victoria
50
Bab 50 – Sialnya Ella
51
Bab 51 – Ancaman Harrison
52
Bab 52 – Aksi Harrison
53
Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54
Bab 54 – Kawan vs Lawan
55
Bab 55 – Sayangnya Hawa
56
Bab 56 – Rencana Liam
57
Bab 57 – Rencana Harrison
58
Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59
Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60
Bab 60: Hawa Bahagia
61
Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62
Bab 62 - Liliana Merajuk
63
Bab 63 - Liliana Curhat
64
Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65
Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66
Bab 66 - Harrison Menang
67
Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68
Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69
Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70
Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71
Bab 71: Serangan Lanjutan
72
Bab 72: Keberhasilan Harrison
73
Bab 73: Liam dan Liliana
74
Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75
Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76
Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77
Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78
Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79
Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!