Bab 14 – Kejutan Liburan

Malam hari, Hawa kembali ke mansion Harrison setelah dua malam menghabiskan waktu bersama keluarganya. Saat pintu terbuka, suara langkah kaki kecil terdengar mendekat dengan cepat.

“Kak Hawa!” seru Emma sambil melompat memeluk Hawa erat-erat.

Hawa terkekeh, balas memeluk Emma dengan lembut. “Emma, Kak Hawa cuma dua hari nggak di sini. Kenapa rasanya seperti aku pergi setahun?”

Emma melepaskan pelukannya, menatap Hawa dengan pipi menggembung. “Dua hari itu lama banget! Aku nggak suka Kak Hawa pergi.”

Hawa tersenyum lembut. “Emma, Kak Hawa nggak ke mana-mana. Tapi kamu juga harus ngerti kalau Kak Hawa kadang butuh waktu buat keluarga Kak Hawa.”

Emma mengangguk cepat. “Tapi janji, kalau pergi lagi, kasih tahu aku dulu! Aku mau ikut!”

Harrison yang berdiri tidak jauh dari situ hanya tersenyum kecil mendengar percakapan mereka. Ada kehangatan yang memenuhi ruangan setiap kali Hawa dan Emma bersama.

Beberapa hari berlalu seperti biasa sampai dimana, Emma memasuki ruang kerja Harrison dengan langkah mantap. Ia memandang ayahnya yang sedang fokus pada dokumen di tangannya.

“Papa,” panggilnya manja.

Harrison mendongak. “Ada apa, sayang?”

Emma duduk di sofa dengan senyum misterius. “Papa, dua hari lagi kan Kak Hawa libur. Aku mau liburan.”

Harrison meletakkan dokumennya, menatap putrinya dengan alis terangkat. “Liburan? Memangnya Emma mau ke mana?”

Emma tersenyum lebar. “Ke Dubai! Liburan seperti keluarga bahagia.”

Harrison mengernyitkan dahi, tampak berpikir sejenak. “Emma, itu perjalanan besar. Kamu yakin Kak Hawa mau?”

Emma mengangguk tegas. “Papa nggak perlu khawatir. Kak Hawa pasti mau! Lagian ini kejutan, jangan kasih tahu dia dulu. Emma jamin Kak Hawa nggak bakal marah.”

Harrison menghela napas, tahu dirinya tidak bisa menolak permintaan putrinya. “Baiklah. Tapi Emma harus janji tidak menyusahkan Kak Hawa selama perjalanan.”

“Emma janji! Terima kasih, Papa!” seru Emma sambil melompat memeluk Harrison.

***

Hari keberangkatan tiba. Pagi itu, Emma dengan semangat mengajak Hawa keluar.

“Kak Hawa, temani aku hari ini, ya,” pintanya dengan mata berbinar-binar.

Hawa tersenyum. “Mau ke mana kita, Emma?”

“Rahasia! Kak Hawa ikut aja,” jawab Emma penuh misteri.

Begitu keluar, Hawa terkejut melihat Harrison sudah menunggu di mobil. “Tuan Harrison? Anda ikut juga?”

Harrison menatapnya sambil tersenyum tipis. “Ikut saja, Hawa. Emma yang mengatur semuanya.”

Hawa merasa ada yang aneh, tapi ia menurut. Perjalanan ke bandara terasa penuh tanda tanya, dan saat melihat pesawat pribadi Harrison, Hawa semakin bingung.

“Emma, ini kejutan macam apa?” tanyanya sambil melirik Emma.

Emma hanya tertawa kecil. “Kak Hawa sabar dong, nanti juga tahu.”

Setibanya di Dubai, Emma sangat antusias berbelanja. Ia menggandeng tangan Hawa ke berbagai butik mewah. Harrison mengikuti dari belakang, sesekali memberikan pendapat jika diminta.

“Kak Hawa, coba lihat gaun ini!” Emma menunjuk sebuah gaun berwarna merah lembut.

Hawa menggeleng. “Emma, itu terlalu mahal. Kak Hawa nggak perlu.”

Emma menarik tangan Hawa. “Tapi ini cantik banget! Papa, bilang dong Kak Hawa harus coba.”

Harrison mendekat, menatap gaun itu dengan serius. “Sepertinya memang cocok untukmu, Hawa. Cobalah.”

Hawa merasa canggung, tapi akhirnya menyerah. “Baiklah, tapi saya nggak janji akan membelinya.”

Setelah mencoba gaun itu, Emma bersorak senang. “Kak Hawa terlihat seperti putri!”

Hawa hanya tersenyum kecil, merasa pipinya memanas saat menyadari Harrison juga menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Malam harinya, Emma mengetuk pintu kamar Hawa sambil membawa kotak besar.

“Kak Hawa, ini untuk Kak Hawa,” katanya sambil menyerahkan kotak itu.

Hawa membuka kotak itu dan terkejut melihat gaun cantik di dalamnya. “Emma, untuk apa ini?”

“Pakai aja, Kak. Aku punya kejutan lagi,” jawab Emma penuh rahasia.

Hawa akhirnya mengenakan gaun itu, merasa sedikit tidak nyaman karena terlihat begitu mewah. Emma membawanya ke restoran mewah dengan pemandangan kota Dubai yang gemerlap.

Ketika tiba di restoran, Harrison sudah menunggu di meja dengan senyuman kecil.

“Emma, apa ini?” bisik Hawa.

Emma hanya tersenyum jahil. “Dinner romantis! Aku tunggu di kamar, ya. Papa yang jagain Kak Hawa malam ini.”

Sebelum Hawa sempat protes, Emma sudah melarikan diri.

Harrison berdiri, menarik kursi untuk Hawa. “Silakan duduk.”

Hawa duduk dengan ragu. “Tuan Harrison, semua ini ide Emma?”

Harrison mengangguk. “Dia hanya ingin membuatmu merasa nyaman.”

Percakapan mereka dimulai dengan hal-hal ringan, tapi perlahan Harrison mulai bertanya tentang kehidupan pribadi Hawa.

“Bagaimana keluargamu, Hawa? Aku sering dengar kamu bicara tentang mereka, tapi jarang tahu lebih dalam.”

Hawa tersenyum kecil. “Keluargaku sederhana. Papaku sangat protektif, tapi dia juga orang yang paling mendukungku.”

Harrison menatap Hawa dengan serius. “Aku bisa melihat itu. Kamu terlihat sangat dekat dengan mereka.”

Hawa mengangguk. “Aku selalu merasa keluarga adalah rumah terbaik.”

Keheningan sesaat menyelimuti mereka. Harrison menyesap anggur di gelasnya, lalu dengan nada pelan berkata, “Kamu pernah berpikir untuk memiliki keluarga sendiri?”

Pertanyaan itu membuat jantung Hawa berdebar. “Maksud Tuan Harrison?”

“Pernikahan, anak-anak… apakah itu bagian dari rencanamu?” Harrison menatapnya dengan serius, membuat Hawa merasa sulit bernapas.

Hawa menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah. “Aku… aku belum memikirkannya sejauh itu.”

Harrison tersenyum tipis, merasakan detak jantungnya sendiri yang tidak karuan. “Maaf kalau pertanyaanku terlalu pribadi. Aku hanya penasaran.”

Hawa mengangkat pandangannya, tersenyum kecil. “Tidak apa-apa. Aku juga… penasaran.”

“Penasaran?” Harrison mengangkat alis.

Hawa tersenyum, kali ini dengan sedikit keberanian. “Bagaimana anda kedepannya? Apa ada seseorang yang…”

Harrison terdiam sejenak, memikirkan pertanyaan itu. “Aku tidak tahu.”

Malam semakin larut, tapi suasana di restoran terasa semakin hangat. Lampu-lampu temaram dan gemerlap kota Dubai di luar jendela menjadi saksi percakapan mendalam antara Hawa dan Harrison.

Harrison memperhatikan Hawa yang menunduk, jemarinya bermain dengan gelas yang sudah kosong. Ada sesuatu dalam dirinya yang terus mendesaknya untuk berbicara lebih jujur, namun ia menahan diri. Hawa, di sisi lain, merasa debaran jantungnya semakin tidak terkendali.

Ketika Hawa akhirnya mengangkat pandangan, mata mereka bertemu. Ada sesuatu dalam tatapan Harrison yang membuat Hawa ingin segera mengalihkan pandangan, tapi ia tidak bisa.

“Hawa,” Harrison memecah keheningan dengan suara rendah. “Ada sesuatu yang ingin kukatakan.”

Hawa mengerjap pelan, menunggu kata-kata selanjutnya. “Apa itu, Pak Harrison?”

Harrison terdiam, seolah-olah memilih kata yang tepat. “Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kurasakan… tapi aku merasa… nyaman setiap kali aku berada di dekatmu.”

Hawa tertegun, wajahnya memanas. “Aku juga merasa nyaman, Tuan Harrison. Tapi…”

“Ya?” Harrison mendekatkan tubuhnya sedikit, tanpa sadar membiarkan jarak di antara mereka semakin kecil.

“Tapi aku tidak tahu apakah ini… benar,” jawab Hawa pelan, nyaris berbisik.

Harrison tersenyum kecil, tapi matanya menunjukkan rasa gugup. “Tidak ada yang tahu apa yang benar, Hawa. Kadang-kadang kita hanya perlu mengikuti apa yang hati kita katakan.”

Hawa merasa jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia yakin Harrison bisa mendengarnya. Ia mencoba menenangkan diri, namun rasanya semakin sulit ketika Harrison menatapnya begitu dalam.

Malam itu, setelah mereka meninggalkan restoran, Harrison berjalan di samping Hawa menuju mobil yang sudah menunggu. Jalanan di sekitar restoran cukup sepi, hanya ada angin malam yang berhembus lembut.

Ketika mereka melewati trotoar kecil, Hawa kehilangan keseimbangan akibat salah melangkah di ujung jalan. Dengan refleks, Harrison menangkap tubuh Hawa sebelum ia jatuh.

“Ah!” seru Hawa kecil, tangannya otomatis berpegangan pada dada Harrison.

Harrison mendekap Hawa dengan kuat, memastikan ia tidak terjatuh. “Hati-hati, Hawa.”

Namun, ketika mereka sadar posisi mereka, waktu terasa berhenti. Hawa berada begitu dekat di pelukan Harrison, dengan kedua tangan pria itu memegang pinggangnya. Wajah mereka hanya terpisah beberapa sentimeter, hingga Hawa bisa merasakan napas Harrison yang hangat.

“Tuan Harrison… aku…” Hawa mencoba berbicara, tapi suaranya tercekat.

Harrison pun tampak canggung. Ia tidak bergerak, hanya menatap Hawa dengan tatapan yang sulit diartikan. Wajahnya perlahan memerah, begitu pula dengan wajah Hawa yang merona.

Beberapa detik berlalu tanpa ada yang bergerak. Hawa akhirnya mencoba melepaskan diri, tapi Harrison tidak langsung melonggarkan pegangannya.

“Aku tidak apa-apa,” kata Hawa dengan suara pelan, mencoba menenangkan diri.

“Oh… ya, tentu.” Harrison buru-buru melepas Hawa, wajahnya jelas menunjukkan rasa malu. Ia mengalihkan pandangannya, mengusap tengkuknya dengan gugup. “Maaf, aku terlalu refleks.”

Hawa tersenyum kecil, meski masih merasa dadanya berdebar hebat. “Tidak apa-apa. Terima kasih sudah membantuku.”

Mereka berdua berdiri dalam keheningan sesaat, masing-masing mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. Harrison akhirnya melangkah ke depan, membuka pintu mobil untuk Hawa.

“Mari kita pulang,” katanya singkat, suaranya sedikit serak.

Bersambung.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hi semuanya, jangan lupa like dan komentarnya ya.

Terima kasih.

Terpopuler

Comments

Astuti Setiorini

Astuti Setiorini

wah malu2 kucing emma dan papanya emma

2024-12-17

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Pertemuan Terburuk
2 Bab 2: Pusingnya Hawa
3 Bab 3: Permintaan Emma
4 Bab 4: Izin yang Alot
5 Bab 5: Lengketnya Emma
6 Bab 6: Tragedi di Sekolah
7 Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8 Bab 8: Hawa Dicegat
9 Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10 Bab 10: Aksi Harrison
11 Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12 Bab 12: Gosip yang Menyebar
13 Bab 13: Sidak Dylan
14 Bab 14 – Kejutan Liburan
15 Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16 Bab 16: Tidak Terduga
17 Bab 17: Cerita Emma
18 Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19 Bab 19: Hawa Tersipu
20 Bab 20: Keberanian Harrison
21 Bab 21 - Bicara Berdua
22 Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23 Bab 23: Jemput Emma
24 Bab 24: Rindu Mendalam
25 Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26 Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27 Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28 Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29 Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30 Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31 Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32 Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33 Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34 Bab 34: Malam Syahdu
35 Bab 35: Keseruan Sarapan
36 Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37 Bab 37: Welcome to Maldives
38 Bab 38 : Hawa kelelahan.
39 Bab 39 Borong Oleh oleh
40 Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41 Bab 41: Kembali Pulang
42 Bab 42: Rindunya Emma
43 Bab 43 : Ella menculik Emma.
44 Bab 44 – Emma Menangis Terus
45 Bab 45 – Penyelamatan Emma
46 Bab 46 : Kehamilan Hawa
47 Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48 Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49 Bab 49 – Kematian Victoria
50 Bab 50 – Sialnya Ella
51 Bab 51 – Ancaman Harrison
52 Bab 52 – Aksi Harrison
53 Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54 Bab 54 – Kawan vs Lawan
55 Bab 55 – Sayangnya Hawa
56 Bab 56 – Rencana Liam
57 Bab 57 – Rencana Harrison
58 Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59 Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60 Bab 60: Hawa Bahagia
61 Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62 Bab 62 - Liliana Merajuk
63 Bab 63 - Liliana Curhat
64 Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65 Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66 Bab 66 - Harrison Menang
67 Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68 Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69 Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70 Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71 Bab 71: Serangan Lanjutan
72 Bab 72: Keberhasilan Harrison
73 Bab 73: Liam dan Liliana
74 Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75 Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76 Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77 Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78 Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79 Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80 promo karya terbaru
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1: Pertemuan Terburuk
2
Bab 2: Pusingnya Hawa
3
Bab 3: Permintaan Emma
4
Bab 4: Izin yang Alot
5
Bab 5: Lengketnya Emma
6
Bab 6: Tragedi di Sekolah
7
Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8
Bab 8: Hawa Dicegat
9
Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10
Bab 10: Aksi Harrison
11
Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12
Bab 12: Gosip yang Menyebar
13
Bab 13: Sidak Dylan
14
Bab 14 – Kejutan Liburan
15
Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16
Bab 16: Tidak Terduga
17
Bab 17: Cerita Emma
18
Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19
Bab 19: Hawa Tersipu
20
Bab 20: Keberanian Harrison
21
Bab 21 - Bicara Berdua
22
Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23
Bab 23: Jemput Emma
24
Bab 24: Rindu Mendalam
25
Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26
Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27
Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28
Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29
Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30
Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31
Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32
Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33
Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34
Bab 34: Malam Syahdu
35
Bab 35: Keseruan Sarapan
36
Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37
Bab 37: Welcome to Maldives
38
Bab 38 : Hawa kelelahan.
39
Bab 39 Borong Oleh oleh
40
Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41
Bab 41: Kembali Pulang
42
Bab 42: Rindunya Emma
43
Bab 43 : Ella menculik Emma.
44
Bab 44 – Emma Menangis Terus
45
Bab 45 – Penyelamatan Emma
46
Bab 46 : Kehamilan Hawa
47
Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48
Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49
Bab 49 – Kematian Victoria
50
Bab 50 – Sialnya Ella
51
Bab 51 – Ancaman Harrison
52
Bab 52 – Aksi Harrison
53
Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54
Bab 54 – Kawan vs Lawan
55
Bab 55 – Sayangnya Hawa
56
Bab 56 – Rencana Liam
57
Bab 57 – Rencana Harrison
58
Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59
Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60
Bab 60: Hawa Bahagia
61
Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62
Bab 62 - Liliana Merajuk
63
Bab 63 - Liliana Curhat
64
Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65
Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66
Bab 66 - Harrison Menang
67
Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68
Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69
Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70
Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71
Bab 71: Serangan Lanjutan
72
Bab 72: Keberhasilan Harrison
73
Bab 73: Liam dan Liliana
74
Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75
Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76
Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77
Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78
Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79
Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!