Bab 8: Hawa Dicegat

Hari itu, Hawa merasa sedikit kewalahan. Pekerjaannya di rumah sakit sedang menumpuk, tetapi ia tetap mengutamakan Emma. Seperti biasa, ia menjemput Emma dari sekolah dan membawanya ke ruangannya di rumah sakit.

“Kak Hawa, aku suka di sini,” kata Emma sambil duduk manis di kursi kecil yang biasanya digunakan untuk pasien anak-anak.

Hawa tersenyum lembut, meski matanya tetap fokus pada catatan medis yang harus diperiksa. “Kenapa suka di sini, Sayang?”

“Karena aku bisa lihat Kak Hawa kerja. Aku juga bisa ketemu anak-anak lain,” jawab Emma polos. Ia menatap seorang anak kecil yang sedang diperiksa oleh dokter lain di seberang ruangan.

Hawa tertawa kecil. “Kamu ini lucu sekali. Tapi jangan ganggu mereka ya, Emma. Kita harus menghormati privasi pasien.”

Emma mengangguk patuh, lalu mengamati seorang anak kecil yang terlihat sedang belajar membaca kartu bergambar. “Kak Hawa, anak itu pintar sekali. Baru lihat sekali, dia sudah hafal!”

Hawa melirik ke arah yang ditunjuk Emma dan tersenyum. “Iya, dia memang anak yang pintar. Sama seperti kamu, Emma.”

Namun, suasana berubah ketika Hawa tiba-tiba dipanggil keluar oleh seorang temannya.

“Hawa, ada yang ingin bicara denganmu di luar,” kata seorang perawat.

Hawa mengerutkan kening. “Siapa?”

“Dokter muda baru itu, Dokter Malik,” jawab perawat tersebut dengan nada ragu.

Hawa menghela napas. “Baiklah, aku akan ke sana sebentar. Emma, kamu tunggu di sini ya. Jangan ke mana-mana.”

Emma mengangguk, tapi matanya penuh rasa ingin tahu. Ia mengikuti Hawa dengan pandangan sampai ke luar ruangan.

Di luar ruangan, percakapan Hawa dengan Dokter Malik berlangsung dengan nada yang cukup tegang.

“Hawa, aku tidak mengerti kenapa kamu terus menjaga jarak seperti ini,” kata Dokter Malik dengan nada frustasi.

“Aku tidak menjaga jarak, Dokter Malik. Aku hanya tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita. Kita adalah pekerja dirumah sakit ini, tidak lebih,” jawab Hawa tegas.

“Tapi aku sungguh menyukaimu, Hawa,” balas Malik. “Kenapa kamu tidak bisa memberiku kesempatan?”

Hawa menghela napas panjang. “Dokter Malik, ini bukan masalah kesempatan. Aku tidak punya waktu untuk hal seperti ini, dan aku tidak ingin mengubah hubungan profesional kita menjadi sesuatu yang rumit.”

Percakapan mereka terdengar samar-samar di telinga Emma. Gadis kecil itu memperhatikan ekspresi wajah Hawa yang terlihat tidak nyaman, dan naluri protektifnya terhadap "Kak Hawa"-nya langsung muncul.

Setelah beberapa saat, Hawa kembali ke ruangan dengan ekspresi yang berusaha ia netralkan. Namun, Emma sudah mencatat setiap detail kecil.

“Kak Hawa, tadi ngomong apa sama dokter itu?” tanya Emma polos.

Hawa tersenyum kecil, mencoba menghindari topik itu. “Tidak apa-apa, Sayang. Hanya masalah pekerjaan.”

“Tapi mukamu tadi serius sekali,” kata Emma sambil mengerutkan alis. “Kalau ada yang ganggu Kak Hawa, aku bakal kasih tahu Papa!”

Hawa tertawa, meskipun hatinya terasa hangat mendengar kepedulian Emma. “Tidak ada yang ganggu Kak Hawa. Kamu tidak perlu khawatir, ya.”

***

Beberapa hari kemudian, Hawa mendapat panggilan darurat di rumah sakit dan tidak bisa menjemput Emma. Dengan berat hati, ia menelepon Harrison untuk meminta bantuan.

“Maaf sekali, Tuan Harrison,” kata Hawa di telepon. “Saya benar-benar tidak bisa meninggalkan rumah sakit saat ini. Bisakah Anda menjemput Emma?”

Harrison mendengar nada cemas di suara Hawa. “Tidak masalah, aku akan menjemputnya. Jangan khawatir.”

Namun, Emma tidak senang ketika melihat ayahnya yang datang.

“Papa? Kenapa bukan Kak Hawa?” tanyanya dengan nada kecewa.

“Hawa sedang sibuk di rumah sakit, Sayang,” jawab Harrison.

“Kalau begitu kita ke rumah sakit! Aku yakin Kak Hawa pasti diganggu seseorang,” kata Emma penuh keyakinan.

Harrison mengernyitkan alis. “Apa maksudmu?”

“Papa, cepat ke rumah sakit. Aku mau lihat Kak Hawa,” pinta Emma dengan nada serius.

Harrison awalnya mengira itu hanya candaan anak kecil, tetapi tatapan serius Emma membuatnya berpikir ulang. Ia memutuskan untuk mengikuti permintaan putrinya.

Harrison melangkah tegas memasuki rumah sakit bersama Emma yang menggenggam tangannya erat. Ia tidak pernah menyangka akan mengikuti permintaan anak kecilnya dengan serius seperti ini. Namun, cara Emma bicara membuatnya tidak bisa mengabaikan situasi ini.

"Papa, cepat! Kak Hawa pasti butuh kita," kata Emma dengan nada mendesak.

Harrison menghela napas panjang sambil memandangi wajah serius putrinya. "Emma, kamu ini serius sekali. Apa kamu yakin Kak Hawa ada masalah?"

"Yakin, Papa! Hatiku yang bilang gitu," serunya dengan penuh keyakinan.

Harrison mempercepat langkahnya menuju ruangan Hawa. Dari kejauhan, ia bisa melihat seorang pria berdiri di dekat Hawa dengan ekspresi yang tidak ramah. Insting protektifnya langsung muncul.

"Hawa!" panggil Harrison dengan suara lantang.

Hawa terkejut mendengar suaranya dan langsung menoleh. Rasa lega tampak di wajahnya saat melihat Harrison dan Emma.

"Tuan Harrison? Kenapa Anda di sini?" tanyanya sambil berusaha tetap tenang.

"Aku datang karena Emma bersikeras. Ada apa di sini?" Harrison bertanya dengan nada tajam, matanya langsung tertuju pada pria di depannya.

Emma berlari mendekati Hawa dan memeluk pinggangnya. "Kak Hawa, aku tahu ada yang ganggu kamu! Papa juga tahu, makanya kita datang!"

Hawa mengelus kepala Emma dengan lembut. "Emma, Kakak baik-baik saja, Sayang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Namun, Harrison tidak mempercayai jawaban itu. Ia memandang pria yang berdiri di dekat Hawa dengan tatapan dingin. "Siapa Anda, dan apa urusan Anda dengan Hawa?"

Pria itu, Dokter Malik, tampak gugup. "Saya... saya hanya rekan kerja. Tidak ada apa-apa di sini, Pak."

"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa wajah Hawa tampak kusut?" tanya Harrison sambil melangkah maju, tubuhnya menegaskan otoritas yang tak bisa dilawan.

"Tuan Harrison, tolong jangan salah paham," kata Hawa cepat-cepat. Ia menatap Malik dengan tatapan tegas. "Dokter Malik hanya ingin membahas sesuatu yang tidak relevan dengan pekerjaan. Itu saja."

"Jika itu tidak relevan dengan pekerjaan, maka sebaiknya Anda berhenti membahasnya," kata Harrison dengan nada dingin. "Hawa adalah salah satu orang paling penting di kehidupan Emma. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggunya, apalagi di tempat kerja."

Emma, yang mendengar percakapan itu, memeluk Hawa lebih erat. "Kak Hawa, kalau ada yang ganggu kamu lagi, aku akan bilang ke Papa supaya dia marahin mereka semua!"

Hawa tersenyum tipis sambil berusaha menenangkan Emma. "Emma, kamu ini terlalu khawatir. Kakak baik-baik saja, Sayang."

Malik, merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut, akhirnya berkata, "Saya rasa saya harus pergi. Permisi."

Setelah Malik pergi, Harrison menatap Hawa dengan penuh perhatian. "Kamu harus lebih tegas, Hawa. Orang seperti dia tidak akan berhenti jika kamu hanya diam."

Hawa mengangguk pelan. "Terima kasih, Tuan Harrison. Aku akan ingat nasihat Anda."

***

Dalam perjalanan pulang, Emma tidak berhenti berbicara.

"Papa, tadi itu benar kan, aku bilang Kak Hawa butuh kita?"

Harrison tersenyum tipis. "Iya, Emma. Kamu benar kali ini."

"Berarti Papa harus percaya sama aku terus, ya! Kalau aku bilang ada yang ganggu Kak Hawa lagi, Papa langsung bawa aku ke sana," kata Emma penuh semangat.

Hawa tertawa kecil mendengar percakapan mereka. "Emma, kamu terlalu khawatir tentang Kakak. Tidak semua hal seperti yang kamu pikirkan."

"Tapi Kak Hawa harus aman," jawab Emma tegas. "Papa juga setuju, kan?"

Harrison melirik Hawa melalui kaca spion, lalu menjawab, "Tentu saja. Saya tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu Hawa."

Hawa merasa sedikit tersipu mendengar kata-kata itu, tetapi ia mencoba menyembunyikannya dengan mengalihkan pandangan ke luar jendela.

Emma, yang tidak menyadari keheningan canggung di antara mereka, berkata lagi, "Papa, aku suka Kak Hawa. Dia seperti mama, tapi lebih baik!"

Hawa menatap Emma dengan mata membelalak. "Emma! Jangan bicara seperti itu."

"Tapi itu benar!" jawab Emma sambil tersenyum lebar. "Kak Hawa selalu baik sama aku. Aku mau Kak Hawa terus sama kita."

Harrison tidak mengatakan apa-apa, tetapi kata-kata Emma menggores sesuatu di dalam hatinya. Ia mulai menyadari bahwa Hawa benar-benar membawa kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup mereka.

Harrison sadar dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang mulai berubah. Kehadiran Hawa tidak hanya berarti untuk Emma, tetapi juga mulai berarti untuk dirinya sendiri.

Bersambung.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hi semuanya, jangan lupa ya like dan komentarnya.

Terpopuler

Comments

HARTINMARLIN

HARTINMARLIN

lanjut lagi

2024-12-14

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Pertemuan Terburuk
2 Bab 2: Pusingnya Hawa
3 Bab 3: Permintaan Emma
4 Bab 4: Izin yang Alot
5 Bab 5: Lengketnya Emma
6 Bab 6: Tragedi di Sekolah
7 Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8 Bab 8: Hawa Dicegat
9 Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10 Bab 10: Aksi Harrison
11 Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12 Bab 12: Gosip yang Menyebar
13 Bab 13: Sidak Dylan
14 Bab 14 – Kejutan Liburan
15 Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16 Bab 16: Tidak Terduga
17 Bab 17: Cerita Emma
18 Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19 Bab 19: Hawa Tersipu
20 Bab 20: Keberanian Harrison
21 Bab 21 - Bicara Berdua
22 Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23 Bab 23: Jemput Emma
24 Bab 24: Rindu Mendalam
25 Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26 Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27 Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28 Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29 Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30 Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31 Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32 Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33 Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34 Bab 34: Malam Syahdu
35 Bab 35: Keseruan Sarapan
36 Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37 Bab 37: Welcome to Maldives
38 Bab 38 : Hawa kelelahan.
39 Bab 39 Borong Oleh oleh
40 Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41 Bab 41: Kembali Pulang
42 Bab 42: Rindunya Emma
43 Bab 43 : Ella menculik Emma.
44 Bab 44 – Emma Menangis Terus
45 Bab 45 – Penyelamatan Emma
46 Bab 46 : Kehamilan Hawa
47 Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48 Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49 Bab 49 – Kematian Victoria
50 Bab 50 – Sialnya Ella
51 Bab 51 – Ancaman Harrison
52 Bab 52 – Aksi Harrison
53 Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54 Bab 54 – Kawan vs Lawan
55 Bab 55 – Sayangnya Hawa
56 Bab 56 – Rencana Liam
57 Bab 57 – Rencana Harrison
58 Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59 Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60 Bab 60: Hawa Bahagia
61 Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62 Bab 62 - Liliana Merajuk
63 Bab 63 - Liliana Curhat
64 Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65 Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66 Bab 66 - Harrison Menang
67 Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68 Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69 Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70 Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71 Bab 71: Serangan Lanjutan
72 Bab 72: Keberhasilan Harrison
73 Bab 73: Liam dan Liliana
74 Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75 Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76 Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77 Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78 Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79 Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80 promo karya terbaru
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1: Pertemuan Terburuk
2
Bab 2: Pusingnya Hawa
3
Bab 3: Permintaan Emma
4
Bab 4: Izin yang Alot
5
Bab 5: Lengketnya Emma
6
Bab 6: Tragedi di Sekolah
7
Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8
Bab 8: Hawa Dicegat
9
Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10
Bab 10: Aksi Harrison
11
Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12
Bab 12: Gosip yang Menyebar
13
Bab 13: Sidak Dylan
14
Bab 14 – Kejutan Liburan
15
Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16
Bab 16: Tidak Terduga
17
Bab 17: Cerita Emma
18
Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19
Bab 19: Hawa Tersipu
20
Bab 20: Keberanian Harrison
21
Bab 21 - Bicara Berdua
22
Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23
Bab 23: Jemput Emma
24
Bab 24: Rindu Mendalam
25
Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26
Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27
Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28
Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29
Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30
Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31
Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32
Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33
Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34
Bab 34: Malam Syahdu
35
Bab 35: Keseruan Sarapan
36
Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37
Bab 37: Welcome to Maldives
38
Bab 38 : Hawa kelelahan.
39
Bab 39 Borong Oleh oleh
40
Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41
Bab 41: Kembali Pulang
42
Bab 42: Rindunya Emma
43
Bab 43 : Ella menculik Emma.
44
Bab 44 – Emma Menangis Terus
45
Bab 45 – Penyelamatan Emma
46
Bab 46 : Kehamilan Hawa
47
Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48
Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49
Bab 49 – Kematian Victoria
50
Bab 50 – Sialnya Ella
51
Bab 51 – Ancaman Harrison
52
Bab 52 – Aksi Harrison
53
Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54
Bab 54 – Kawan vs Lawan
55
Bab 55 – Sayangnya Hawa
56
Bab 56 – Rencana Liam
57
Bab 57 – Rencana Harrison
58
Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59
Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60
Bab 60: Hawa Bahagia
61
Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62
Bab 62 - Liliana Merajuk
63
Bab 63 - Liliana Curhat
64
Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65
Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66
Bab 66 - Harrison Menang
67
Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68
Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69
Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70
Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71
Bab 71: Serangan Lanjutan
72
Bab 72: Keberhasilan Harrison
73
Bab 73: Liam dan Liliana
74
Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75
Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76
Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77
Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78
Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79
Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!