Bab 17: Cerita Emma

Malam terakhir di Dubai menjadi momen yang sangat berarti bagi Emma. Setelah seharian penuh bermain di wahana yang menghibur, Emma tampak lebih ceria dari sebelumnya. Tawa dan canda memenuhi hari itu, terutama karena kehadiran Harrison dan Hawa yang selalu berada di sisinya.

Namun, malam itu tidak hanya menjadi momen kebahagiaan, tetapi juga awal dari pengungkapan perasaan terdalam Emma.

Saat kembali ke hotel, Emma berjalan di antara Harrison dan Hawa dengan langkah riang. Tangannya menggenggam erat tangan Hawa, sementara Harrison memandang putrinya dengan senyuman lembut.

"Papa," kata Emma tiba-tiba ketika mereka hampir sampai di lobi hotel.

"Ya, sayang?"

Emma menatap Harrison dengan wajah polos tapi penuh kebahagiaan. "Terima kasih sudah membuat liburan ini jadi yang terbaik. Aku merasa punya keluarga yang utuh."

Harrison tertegun, matanya sedikit melembut mendengar kata-kata itu. Hawa, di sisi lain, merasa ada sesuatu yang bergejolak di hatinya. Ia tersenyum kecil, mencoba menutupi rasa haru yang muncul tiba-tiba.

"Emma, kau memang selalu memiliki keluarga," jawab Harrison dengan suara rendah. "Papa dan Kak Hawa selalu ada untukmu."

Hawa menambahkan, "Dan aku akan selalu di sini untukmu, Emma."

Ucapan itu membuat Emma melompat kecil, lalu memeluk Hawa erat. "Kak Hawa, aku senang kau ada di sini. Jangan pernah pergi, ya?"

Hawa mengangguk sambil mengusap rambut Emma dengan lembut. "Aku janji, Emma. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

Ares, yang menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan, tersenyum tipis. Ia jarang melihat Harrison tersenyum selebar itu. Momen ini benar-benar berbeda, penuh kehangatan dan kebahagiaan.

Setelah tiba di hotel, Emma meminta Hawa untuk tetap bersamanya di kamar. Hawa dengan senang hati setuju. Setelah Emma selesai mandi dan bersiap tidur, mereka berdua duduk di tempat tidur, berbincang ringan.

"Emma," tanya Hawa sambil mengusap pipi gadis kecil itu. "Bagaimana liburanmu? Apa kau senang?"

Emma mengangguk dengan semangat. "Senang sekali! Aku tidak akan melupakan liburan ini. Papa, Kak Hawa, semuanya sempurna!"

Namun, raut wajah Emma berubah sedikit suram. Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Tapi... ada sesuatu yang aku tidak suka."

Hawa menatapnya dengan lembut. "Apa itu, sayang? Kau bisa cerita pada Kak Hawa."

Emma menundukkan kepalanya, tampak ragu untuk berbicara. Tapi akhirnya, ia mulai mengungkapkan isi hatinya.

"Itu... tentang Ibu Ella," bisiknya pelan.

Hawa sedikit terkejut, tapi ia tetap tenang. "Apa yang terjadi, Emma? Ceritakan padaku."

Emma mengangkat wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Dua tahun lalu, aku mendengar semua yang terjadi antara Papa dan Ibu Ella. Mereka bertengkar hebat. Aku masih ingat setiap kata yang mereka ucapkan."

Hawa menggenggam tangan Emma, memberi isyarat bahwa ia siap mendengarkan.

"Ibu Ella datang setelah lima tahun pergi. Aku pikir dia datang untuk meminta maaf, tapi ternyata tidak. Dia hanya ingin kembali tinggal bersama kami. Papa tidak setuju, dia bilang Ibu Ella sudah meninggalkan kami terlalu lama."

Emma terisak kecil, tapi ia tetap melanjutkan ceritanya. "Aku ingat bagaimana Papa melindungiku waktu itu. Ibu Ella mencoba membawaku pergi, tapi dia melakukannya dengan kasar. Aku ketakutan. Papa sampai harus menahannya agar dia tidak menyentuhku."

Hawa merasa hatinya remuk mendengar cerita itu. Ia menarik Emma ke dalam pelukannya, membiarkan gadis kecil itu menangis di dadanya.

"Itulah kenapa aku tidak ingin melihatnya lagi," lanjut Emma sambil terisak. "Dia tidak peduli padaku. Dia hanya peduli pada dirinya sendiri."

Hawa mengusap punggung Emma dengan lembut. "Emma, dengarkan Kak Hawa. Kau tidak perlu takut lagi. Kak Hawa akan selalu ada untuk melindungimu. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi."

Emma mengangguk pelan, merasa sedikit lega mendengar kata-kata Hawa.

Setelah Emma tertidur, Hawa tetap duduk di sisi ranjang, memandang wajah polos gadis kecil itu. Perasaan lembut dan hangat mengalir di hatinya. Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa ia akan merasa sangat dekat dengan seorang anak kecil, seperti ia dan Emma telah mengenal satu sama lain seumur hidup.

Pintu kamar terbuka perlahan, dan Harrison muncul dengan langkah tenang. Ia berhenti sejenak di ambang pintu, melihat Hawa yang masih duduk di sana.

"Dia sudah tidur?" bisik Harrison, suaranya rendah namun penuh perhatian.

Hawa menoleh dan mengangguk. "Dia lelah sekali setelah bermain seharian. Tapi dia tidur dengan senyuman."

Harrison melangkah masuk, berdiri di sisi lain ranjang sambil menatap putrinya yang terlelap. "Emma… sudah lama tidak terlihat sebahagia ini."

Hawa menatap Harrison dengan lembut. "Dia gadis kecil yang luar biasa. Meski banyak hal yang telah dia lalui, dia tetap penuh cinta dan harapan."

Harrison menarik napas panjang dan menatap Hawa. "Itu karena kau. Kehadiranmu membuatnya merasa dicintai dan dilindungi. Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu."

Hawa tersenyum kecil, merasa sedikit canggung dengan pujian itu. "Aku hanya melakukan yang aku bisa, Tuan."

Harrison menggeleng pelan, langkahnya mendekati Hawa. "Berhenti memanggilku Tuan. Aku ingin kita berbicara lebih santai, seperti teman. Panggil aku Harrison."

Hawa tersentak kecil, lalu tersenyum kaku. "Baik… Harrison."

Ada jeda canggung di antara mereka, tapi juga terasa hangat. Harrison menatap Hawa dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Kau tahu, Hawa," katanya perlahan, "malam ini aku memikirkan banyak hal. Emma adalah segalanya bagiku. Tapi aku sadar, selama ini aku terlalu fokus pada pekerjaanku dan melupakan apa yang benar-benar penting."

Hawa menunduk, merasa bahwa percakapan ini menuju arah yang lebih personal. "Apa yang kau maksud?"

Harrison mengambil kursi di dekat Hawa dan duduk, menyamakan tinggi pandangan mereka. "Aku lupa bagaimana rasanya memiliki seseorang yang bisa kuandalkan, seseorang yang bisa membuatku merasa… tidak sendiri."

Hawa merasakan debaran di dadanya, tapi ia tetap berusaha tenang. "Harrison, kau memiliki Emma. Dia mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini."

"Aku tahu," jawab Harrison dengan suara lembut. "Tapi aku juga tahu bahwa Emma membutuhkan lebih dari sekadar aku. Dia membutuhkan seorang figur yang bisa dia jadikan panutan, seseorang yang bisa memberinya kasih sayang seorang ibu."

Hawa terdiam, tidak tahu harus merespons apa. Matanya menatap Harrison dengan campuran rasa bingung dan terharu.

"Aku tidak mengatakan ini untuk membuatmu merasa tertekan," lanjut Harrison. "Aku hanya ingin kau tahu betapa berharganya kau bagi Emma. Dan juga... bagiku."

Hawa merasakan pipinya memanas. Ia berusaha mengalihkan pandangan, tapi tatapan intens Harrison membuatnya sulit untuk melakukannya.

"Harrison…" Hawa akhirnya membuka suara, tapi suaranya hampir seperti bisikan. "Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk Emma. Aku tidak pernah membayangkan bisa menjadi bagian yang penting dalam hidupmu atau hidupnya."

"Tapi kau sudah menjadi bagian itu, Hawa," balas Harrison dengan tegas tapi lembut. "Kau membuat kami merasa utuh."

Suasana menjadi hening, hanya suara napas mereka yang terdengar. Hawa merasa jantungnya berdegup kencang, sementara Harrison tampak seperti sedang memerangi perasaan yang mulai tumbuh dalam dirinya.

Setelah beberapa saat, Harrison berdiri dan melangkah ke arah balkon. "Udara malam ini cukup sejuk. Kau ingin ikut?" tanyanya, mencoba mengalihkan suasana.

Hawa mengangguk, berdiri pelan agar tidak membangunkan Emma, lalu mengikuti Harrison ke balkon.

Di luar, lampu-lampu kota Dubai yang gemerlap memanjakan mata mereka. Hawa bersandar pada pagar balkon, menikmati angin malam yang sejuk.

"Dubai memang indah," ujar Hawa pelan, mencoba memecah keheningan.

"Ya," jawab Harrison. "Tapi tidak seindah momen seperti ini."

Hawa menoleh cepat, mendapati Harrison menatapnya dengan tatapan yang lembut namun dalam.

"Kau suka membuatku salah tingkah, ya?" ujar Hawa setengah bercanda, mencoba meredakan rasa gugupnya.

Harrison tertawa pelan. "Bukan salahku jika kau terlihat sangat... memesona malam ini."

Hawa mengerjap kaget, wajahnya memerah. Ia menunduk, tidak tahu harus berkata apa.

Harrison mendekat sedikit, jaraknya hanya beberapa langkah darinya. "Aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman, Hawa. Tapi aku ingin kau tahu, aku sangat menghargai semua yang telah kau lakukan untuk Emma. Dan untukku."

Hawa mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu. Kali ini, mereka terdiam cukup lama, membiarkan emosi dan perasaan masing-masing berbicara tanpa kata-kata.

"Harrison…" Hawa akhirnya berbisik.

"Ya?" jawab Harrison dengan suara rendah.

"Tidak ada yang pernah membuatku merasa seperti ini sebelumnya," kata Hawa jujur, meski suaranya bergetar.

Harrison tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahu Hawa dengan lembut. "Dan aku juga merasakan hal yang sama."

Dalam keheningan malam, mereka berdiri di sana, membiarkan perasaan mereka saling mendekat, tanpa satu pun kata yang perlu dijelaskan.

Bersambung.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hi semuanya, jangan lupa ya like dan komentarnya.

Terima kasih.

Episodes
1 Bab 1: Pertemuan Terburuk
2 Bab 2: Pusingnya Hawa
3 Bab 3: Permintaan Emma
4 Bab 4: Izin yang Alot
5 Bab 5: Lengketnya Emma
6 Bab 6: Tragedi di Sekolah
7 Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8 Bab 8: Hawa Dicegat
9 Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10 Bab 10: Aksi Harrison
11 Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12 Bab 12: Gosip yang Menyebar
13 Bab 13: Sidak Dylan
14 Bab 14 – Kejutan Liburan
15 Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16 Bab 16: Tidak Terduga
17 Bab 17: Cerita Emma
18 Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19 Bab 19: Hawa Tersipu
20 Bab 20: Keberanian Harrison
21 Bab 21 - Bicara Berdua
22 Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23 Bab 23: Jemput Emma
24 Bab 24: Rindu Mendalam
25 Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26 Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27 Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28 Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29 Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30 Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31 Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32 Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33 Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34 Bab 34: Malam Syahdu
35 Bab 35: Keseruan Sarapan
36 Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37 Bab 37: Welcome to Maldives
38 Bab 38 : Hawa kelelahan.
39 Bab 39 Borong Oleh oleh
40 Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41 Bab 41: Kembali Pulang
42 Bab 42: Rindunya Emma
43 Bab 43 : Ella menculik Emma.
44 Bab 44 – Emma Menangis Terus
45 Bab 45 – Penyelamatan Emma
46 Bab 46 : Kehamilan Hawa
47 Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48 Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49 Bab 49 – Kematian Victoria
50 Bab 50 – Sialnya Ella
51 Bab 51 – Ancaman Harrison
52 Bab 52 – Aksi Harrison
53 Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54 Bab 54 – Kawan vs Lawan
55 Bab 55 – Sayangnya Hawa
56 Bab 56 – Rencana Liam
57 Bab 57 – Rencana Harrison
58 Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59 Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60 Bab 60: Hawa Bahagia
61 Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62 Bab 62 - Liliana Merajuk
63 Bab 63 - Liliana Curhat
64 Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65 Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66 Bab 66 - Harrison Menang
67 Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68 Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69 Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70 Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71 Bab 71: Serangan Lanjutan
72 Bab 72: Keberhasilan Harrison
73 Bab 73: Liam dan Liliana
74 Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75 Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76 Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77 Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78 Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79 Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80 promo karya terbaru
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1: Pertemuan Terburuk
2
Bab 2: Pusingnya Hawa
3
Bab 3: Permintaan Emma
4
Bab 4: Izin yang Alot
5
Bab 5: Lengketnya Emma
6
Bab 6: Tragedi di Sekolah
7
Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8
Bab 8: Hawa Dicegat
9
Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10
Bab 10: Aksi Harrison
11
Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12
Bab 12: Gosip yang Menyebar
13
Bab 13: Sidak Dylan
14
Bab 14 – Kejutan Liburan
15
Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16
Bab 16: Tidak Terduga
17
Bab 17: Cerita Emma
18
Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19
Bab 19: Hawa Tersipu
20
Bab 20: Keberanian Harrison
21
Bab 21 - Bicara Berdua
22
Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23
Bab 23: Jemput Emma
24
Bab 24: Rindu Mendalam
25
Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26
Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27
Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28
Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29
Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30
Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31
Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32
Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33
Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34
Bab 34: Malam Syahdu
35
Bab 35: Keseruan Sarapan
36
Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37
Bab 37: Welcome to Maldives
38
Bab 38 : Hawa kelelahan.
39
Bab 39 Borong Oleh oleh
40
Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41
Bab 41: Kembali Pulang
42
Bab 42: Rindunya Emma
43
Bab 43 : Ella menculik Emma.
44
Bab 44 – Emma Menangis Terus
45
Bab 45 – Penyelamatan Emma
46
Bab 46 : Kehamilan Hawa
47
Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48
Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49
Bab 49 – Kematian Victoria
50
Bab 50 – Sialnya Ella
51
Bab 51 – Ancaman Harrison
52
Bab 52 – Aksi Harrison
53
Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54
Bab 54 – Kawan vs Lawan
55
Bab 55 – Sayangnya Hawa
56
Bab 56 – Rencana Liam
57
Bab 57 – Rencana Harrison
58
Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59
Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60
Bab 60: Hawa Bahagia
61
Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62
Bab 62 - Liliana Merajuk
63
Bab 63 - Liliana Curhat
64
Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65
Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66
Bab 66 - Harrison Menang
67
Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68
Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69
Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70
Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71
Bab 71: Serangan Lanjutan
72
Bab 72: Keberhasilan Harrison
73
Bab 73: Liam dan Liliana
74
Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75
Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76
Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77
Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78
Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79
Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!