Bab 3: Permintaan Emma

Hawa Harper melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu dengan perasaan campur aduk. Tatapan tajam para bodyguard yang mengawalnya menambah berat langkahnya. Di ruang keluarga, suara tangisan seorang anak kecil menggema, memecah keheningan. Hawa berhenti sejenak, mengatur napasnya.

“Aku tidak mau! Aku mau Kak Hawa! Aku tidak peduli, Papa!” teriak suara kecil itu dengan nada penuh tangis.

Hawa mengenali suara itu. Emma. Gadis kecil yang ia rawat dengan penuh kasih sayang selama seminggu terakhir. Tanpa menunggu aba-aba, ia berjalan lebih cepat menuju sumber suara.

Di ruang keluarga, Harrison Noah tampak duduk di sofa besar, kepalanya ditopang oleh tangannya, wajahnya penuh dengan kelelahan dan frustrasi. Di depannya, Emma berdiri dengan wajah merah dan air mata mengalir deras di pipinya.

“Emma, berhenti menangis. Ini tidak akan mengubah apa pun,” suara Harrison terdengar berat, tetapi tetap tegas.

“Tidak! Aku mau Kak Hawa! Aku tidak akan tidur kalau Kak Hawa tidak di sini!” Emma tetap bersikeras, tangisnya semakin keras.

Harrison mengusap wajahnya dengan kasar, jelas menunjukkan kebingungannya. “Emma, dengar. Kak Hawa sudah pergi. Dia punya hidupnya sendiri, dan dia tidak bisa tinggal di sini selamanya.”

Namun, tangisan Emma justru semakin memilukan. Hawa yang mendengarnya dari balik pintu merasa hatinya seperti ditusuk. Tubuhnya bergetar melihat betapa sedihnya gadis kecil itu.

Salah satu bodyguard yang berdiri di samping Harrison melirik Hawa, berniat memberi tahu kehadirannya. Tapi Hawa menggelengkan kepala, memberi isyarat agar tidak mengatakan apa-apa. Dengan hati-hati, ia melangkah maju, menghampiri Emma.

“Emma...” suara lembut Hawa memecah suasana.

Tangisan Emma langsung berhenti. Gadis kecil itu mendongak, matanya yang bengkak karena menangis langsung berbinar begitu melihat sosok Hawa. Tanpa pikir panjang, ia berlari ke arah Hawa dan memeluknya erat.

“Kak Hawa!” serunya dengan suara parau, tetapi penuh kelegaan.

Hawa tersenyum kecil, membelai rambut Emma dengan lembut. “Ssshh, sayang. Tidak apa-apa. Aku di sini. Jangan menangis lagi, ya?”

Emma mengangguk kecil, meski isakannya masih terdengar. Hawa berlutut di depannya, menatap wajah mungil itu dengan penuh kasih sayang.

“Emma, kamu harus istirahat, ya? Kamu tidak boleh terlalu lelah,” bujuk Hawa.

“Tapi... aku tidak mau tidur kalau Kak Hawa tidak di sini,” bisik Emma, matanya berkaca-kaca.

Hawa melirik Harrison, yang kini menatap mereka dengan ekspresi sulit dibaca. Ia menghela napas panjang, lalu kembali menatap Emma. “Baiklah. Kakak akan menemani kamu sampai kamu tertidur, tapi kamu harus janji, ya? Setelah itu kamu harus istirahat dengan baik.”

Emma mengangguk dengan semangat. “Aku janji, Kak Hawa!”

Tanpa menunggu lebih lama, Emma menarik tangan Hawa dan membawanya ke kamar. Hawa mengikuti dengan langkah berat, merasa bahwa keputusannya ini akan membuat segalanya menjadi lebih rumit.

***

Di kamar Emma yang luas dan mewah, Hawa duduk di tepi tempat tidur sambil membelai kepala gadis kecil itu. Emma perlahan mulai terlelap, tetapi tangannya tetap menggenggam erat tangan Hawa, seakan takut kehilangan.

Hawa menunggu dengan sabar sampai napas Emma menjadi tenang dan teratur, tanda bahwa gadis kecil itu benar-benar tertidur. Baru setelah itu ia perlahan melepaskan genggamannya dan bangkit dari tempat tidur.

Namun, saat ia membuka pintu kamar, ia terkejut melihat Harrison berdiri di baliknya. Wajah pria itu terlihat dingin, tetapi sorot matanya penuh dengan sesuatu yang sulit diterjemahkan.

“Kita perlu bicara,” kata Harrison singkat sebelum berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya.

Hawa hanya bisa mengikutinya tanpa berkata apa-apa.

***

Di dalam ruang kerja yang luas dan penuh dengan aura dingin, Hawa berdiri dengan canggung. Tumpukan buku-buku tebal berjajar rapi di rak, sementara meja besar yang terbuat dari kayu mahoni menambah kesan serius ruangan itu. Harrison berdiri di dekat jendela besar, menatap keluar dengan tangan terlipat di dada. Ia tidak segera berbicara, menciptakan jeda yang terasa menekan bagi Hawa.

Hawa berdehem pelan, mencoba memecah keheningan. “Tuan Noah, jika ada sesuatu yang ingin Anda bicarakan, tolong langsung saja. Aku harus segera pulang.”

Harrison berbalik perlahan, tatapan tajamnya langsung menusuk ke arah Hawa. "Emma tidak akan membiarkanmu pergi, dia membutuhkanmu," ucapnya tanpa basa-basi.

Hawa terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Ia menunduk, mencoba meredakan detak jantungnya yang mulai berpacu. “Tuan Noah, aku mengerti Emma merasa nyaman denganku, tapi... aku tidak bisa tinggal di sini. Aku punya pekerjaan, keluarga yang menungguku di rumah. Ini sulit bagiku.”

Harrison mendekat, langkahnya tenang namun tegas. “Kau pikir aku tidak tahu itu? Tapi saat ini, Emma hanya percaya padamu. Dia baru saja kehilangan rasa aman, dan kau satu-satunya yang membuatnya merasa tenang.”

“Tuan Noah, Anda harus mengerti, aku bukan pengasuh. Aku punya tanggung jawab lain di luar sini. Kalau Emma membutuhkan perhatian, mungkin Anda bisa memanggil seseorang yang lebih profesional untuk membantu,” balas Hawa dengan nada tegas, meskipun suaranya sedikit gemetar.

“Aku tidak bisa memercayai siapa pun, belum tentu juga Emma mau,” potong Harrison dengan nada dingin. “Orang-orang di luar sana tidak tahu tentang kecelakaan ini, dan aku ingin tetap seperti itu. Kau satu-satunya yang tahu, dan itu membuatmu berbeda.”

Hawa mengernyit, firasat buruknya semakin kuat. “Tuan Noah, Anda... bukan orang biasa, bukan?” tanyanya pelAn, nyaris berbisik.

Harrison menatapnya tajam, namun tidak menjawab. Tatapan itu cukup untuk membuat Hawa mundur setengah langkah.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku merasa ada sesuatu yang... berbahaya,” lanjut Hawa, suaranya melemah. “Dan itu membuatku semakin yakin, aku tidak seharusnya berada di sini.”

“Kau tidak punya pilihan,” jawab Harrison dingin. “Emma membutuhkanmu, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun yang tidak aku kenal berada di dekatnya.”

Hawa menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. “Tuan Noah, ini bukan hanya tentangku. Bagaimana dengan keluargaku? Bagaimana aku menjelaskan ini pada mereka? Bagaimana aku bisa menjelaskan kenapa aku harus tinggal di rumah orang asing?”

Harrison melangkah lebih dekat, hingga jarak di antara mereka hanya beberapa inci. “Katakan apa pun yang kau perlu katakan. Katakan kau membantu teman. Katakan kau punya tanggung jawab. Aku tidak peduli, selama mereka tidak tahu siapa aku sebenarnya dan apa yang terjadi. Bukankah sebelumnya kau mampu menyembunyikan kami dirumahmu?”

“Itu berbeda Tuan! Dan saat ini tidak adil!” sergah Hawa, emosinya mulai memuncak. “Aku tidak bisa hidup dengan kebohongan seperti itu terus! Aku punya kehidupan sendiri, dan aku tidak bisa mengorbankannya hanya karena Anda memutuskan ini!”

“Adil?” Harrison tersenyum tipis, tanpa humor. “Hawa, dalam hidupku, tidak ada yang adil. Kau pikir aku meminta kecelakaan itu terjadi? Kau pikir aku meminta Emma kehilangan rasa aman dan kepercayaannya? Aku juga tidak ingin ini terjadi, tapi aku harus memastikan Emma mendapatkan apa yang dia butuhkan. Jika itu berarti memintamu tinggal, maka aku akan melakukannya.”

Hawa terdiam, hatinya berdebar keras. Kata-kata Harrison seperti cambuk yang menusuk ke dalam dirinya. Ia tahu pria ini berbicara dari rasa tanggung jawab sebagai seorang ayah, tetapi keputusannya terasa begitu sepihak dan memberatkan.

“Tuan Noah... ini sangat sulit bagiku,” ucap Hawa akhirnya, suaranya melemah. “Tapi aku tidak tega melihat Emma terus menangis. Dia gadis kecil yang manis, dan aku ingin membantunya. Hanya saja... butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan semua ini.”

Harrison mengangguk perlahan, meskipun ekspresinya tetap dingin. “Aku tidak meminta lebih. Selama kau ada untuk Emma, itu sudah cukup.”

Hawa menggigit bibirnya, merasa dilematis. “Baiklah,” katanya akhirnya. “Tapi aku punya syarat. Aku harus tetap bisa menjalankan pekerjaan seperti biasa, dan aku harus tahu bahwa ini hanya sementara.”

Harrison menatapnya dalam-dalam, seolah menilai ketulusan kata-katanya. “Deal,” katanya singkat. “Tapi satu hal lagi, Hawa.”

“Apa?” tanya Hawa, suaranya nyaris bergetar.

“Kalau kau mencoba melibatkan orang lain, atau mencoba pergi tanpa izinku, aku tidak akan segan-segan mengambil tindakan,” ucap Harrison dengan nada rendah, penuh ancaman.

Hawa menelan ludah, merasa tubuhnya bergetar. "Aku mengerti,” jawabnya pelan, meskipun hatinya penuh dengan ketakutan.

Bersambung.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hi semuanya, jangan lupa ya like dan komentarnya ya.

Dukung terus ya karya mommy ini. Terima kasih.❤❤❤❤❤

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Ya salam udah kayak Suami isteri aja,Kenapa gak di nikahin aja,biar sama2 untung,Kalo gini mah Noah yg untung..

2025-02-17

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Aduuhh semakin rumit aja..

2025-02-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Pertemuan Terburuk
2 Bab 2: Pusingnya Hawa
3 Bab 3: Permintaan Emma
4 Bab 4: Izin yang Alot
5 Bab 5: Lengketnya Emma
6 Bab 6: Tragedi di Sekolah
7 Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8 Bab 8: Hawa Dicegat
9 Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10 Bab 10: Aksi Harrison
11 Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12 Bab 12: Gosip yang Menyebar
13 Bab 13: Sidak Dylan
14 Bab 14 – Kejutan Liburan
15 Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16 Bab 16: Tidak Terduga
17 Bab 17: Cerita Emma
18 Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19 Bab 19: Hawa Tersipu
20 Bab 20: Keberanian Harrison
21 Bab 21 - Bicara Berdua
22 Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23 Bab 23: Jemput Emma
24 Bab 24: Rindu Mendalam
25 Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26 Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27 Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28 Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29 Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30 Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31 Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32 Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33 Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34 Bab 34: Malam Syahdu
35 Bab 35: Keseruan Sarapan
36 Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37 Bab 37: Welcome to Maldives
38 Bab 38 : Hawa kelelahan.
39 Bab 39 Borong Oleh oleh
40 Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41 Bab 41: Kembali Pulang
42 Bab 42: Rindunya Emma
43 Bab 43 : Ella menculik Emma.
44 Bab 44 – Emma Menangis Terus
45 Bab 45 – Penyelamatan Emma
46 Bab 46 : Kehamilan Hawa
47 Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48 Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49 Bab 49 – Kematian Victoria
50 Bab 50 – Sialnya Ella
51 Bab 51 – Ancaman Harrison
52 Bab 52 – Aksi Harrison
53 Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54 Bab 54 – Kawan vs Lawan
55 Bab 55 – Sayangnya Hawa
56 Bab 56 – Rencana Liam
57 Bab 57 – Rencana Harrison
58 Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59 Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60 Bab 60: Hawa Bahagia
61 Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62 Bab 62 - Liliana Merajuk
63 Bab 63 - Liliana Curhat
64 Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65 Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66 Bab 66 - Harrison Menang
67 Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68 Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69 Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70 Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71 Bab 71: Serangan Lanjutan
72 Bab 72: Keberhasilan Harrison
73 Bab 73: Liam dan Liliana
74 Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75 Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76 Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77 Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78 Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79 Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80 promo karya terbaru
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1: Pertemuan Terburuk
2
Bab 2: Pusingnya Hawa
3
Bab 3: Permintaan Emma
4
Bab 4: Izin yang Alot
5
Bab 5: Lengketnya Emma
6
Bab 6: Tragedi di Sekolah
7
Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8
Bab 8: Hawa Dicegat
9
Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10
Bab 10: Aksi Harrison
11
Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12
Bab 12: Gosip yang Menyebar
13
Bab 13: Sidak Dylan
14
Bab 14 – Kejutan Liburan
15
Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16
Bab 16: Tidak Terduga
17
Bab 17: Cerita Emma
18
Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19
Bab 19: Hawa Tersipu
20
Bab 20: Keberanian Harrison
21
Bab 21 - Bicara Berdua
22
Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23
Bab 23: Jemput Emma
24
Bab 24: Rindu Mendalam
25
Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26
Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27
Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28
Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29
Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30
Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31
Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32
Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33
Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34
Bab 34: Malam Syahdu
35
Bab 35: Keseruan Sarapan
36
Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37
Bab 37: Welcome to Maldives
38
Bab 38 : Hawa kelelahan.
39
Bab 39 Borong Oleh oleh
40
Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41
Bab 41: Kembali Pulang
42
Bab 42: Rindunya Emma
43
Bab 43 : Ella menculik Emma.
44
Bab 44 – Emma Menangis Terus
45
Bab 45 – Penyelamatan Emma
46
Bab 46 : Kehamilan Hawa
47
Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48
Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49
Bab 49 – Kematian Victoria
50
Bab 50 – Sialnya Ella
51
Bab 51 – Ancaman Harrison
52
Bab 52 – Aksi Harrison
53
Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54
Bab 54 – Kawan vs Lawan
55
Bab 55 – Sayangnya Hawa
56
Bab 56 – Rencana Liam
57
Bab 57 – Rencana Harrison
58
Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59
Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60
Bab 60: Hawa Bahagia
61
Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62
Bab 62 - Liliana Merajuk
63
Bab 63 - Liliana Curhat
64
Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65
Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66
Bab 66 - Harrison Menang
67
Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68
Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69
Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70
Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71
Bab 71: Serangan Lanjutan
72
Bab 72: Keberhasilan Harrison
73
Bab 73: Liam dan Liliana
74
Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75
Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76
Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77
Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78
Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79
Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!