Bab 16: Tidak Terduga

Cahaya matahari pagi menembus tirai kamar hotel, menciptakan nuansa hangat di dalam ruangan. Hawa sudah bangun sejak subuh, memastikan Emma rapi dan siap menghadapi hari baru. Emma, dengan tingkah polosnya, tersenyum penuh semangat saat Hawa membantunya memakai dress kecilnya.

"Kak Hawa selalu membuatku cantik," ucap Emma dengan senyum manis.

Hawa tertawa kecil, mengelus rambut bocah itu. "Emma memang sudah cantik, Kakak hanya membantu sedikit."

Harrison, yang sudah menunggu di sofa tengah dengan secangkir kopi di tangannya, mendengar percakapan itu dan merasa hatinya hangat. Perasaan ini mulai sering muncul setiap kali ia melihat Hawa. Namun, ia segera mengalihkan perhatian dan berdiri.

"Sudah siap, Emma? Kita keluar sebentar sebelum sarapan. Ada tempat bagus di sekitar sini," kata Harrison sambil menggenggam kunci mobilnya.

Emma bersorak kecil. "Siap, Papa! Kak Hawa ikut, kan?"

Hawa menatap Harrison dengan sedikit ragu. "Apa aku perlu ikut, Tuan? Jika hanya jalan-jalan singkat, aku di sini saja."

"Tentu saja kau ikut," jawab Harrison tegas. "Ini bukan permintaan, Hawa."

Merasa tidak punya pilihan, Hawa hanya mengangguk. Mereka bertiga keluar dari kamar hotel, bertemu Ares yang sudah menunggu di lobi.

Tujuan mereka adalah taman kecil di dekat hotel, tempat Emma bisa bermain sejenak. Harrison, Hawa, dan Emma tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Hawa bahkan beberapa kali tertawa melihat Harrison membantu Emma bermain ayunan, sisi lembut pria itu terlihat jelas.

Namun, suasana berubah ketika seseorang mendekat dari kejauhan. Sosok wanita dengan gaun mewah dan riasan sempurna muncul di hadapan mereka.

"Ella," gumam Harrison dengan nada datar, namun matanya menajam.

Emma, yang semula tertawa lepas, langsung bersembunyi di belakang Hawa. "Aku nggak mau bicara dengannya," bisiknya ketakutan.

Hawa menggenggam tangan kecil Emma, memberikan rasa aman. "Jangan khawatir, Emma. Kakak ada di sini."

Ella mendekati mereka dengan senyum sinis. "Harrison. Lama tidak bertemu. Dan… siapa ini? Kekasih baru?" tanyanya, matanya menatap Hawa dengan penuh penghinaan.

Harrison tersenyum dingin. "Ya, Ella. Ini Hawa, kekasihku."

Hawa tertegun mendengar kata-kata itu. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia tetap berusaha menjaga ekspresinya.

Ella tampak terkejut, tapi segera tertawa sinis. "Kekasih? Sejak kapan kau menyukai seseorang yang... biasa saja?"

Harrison melangkah maju, berdiri di antara Ella dan Hawa. "Hawa jauh lebih berarti daripada seseorang yang meninggalkan keluarganya tanpa alasan, seperti yang kau lakukan."

Hawa, yang semula memilih diam, akhirnya angkat bicara. "Setidaknya, aku tidak meninggalkan tanggung jawabku. Wanita yang meninggalkan anaknya tanpa peduli apa yang terjadi padanya tidak punya hak untuk berbicara seperti itu."

Wajah Ella memerah karena amarah. "Kau pikir kau siapa? Berani-beraninya bicara seperti itu pada—"

"Aku lebih dari cukup untuk melindungi Emma dari seseorang yang tidak tahu arti menjadi seorang ibu," potong Hawa dengan tegas.

Ella melirik Emma yang tetap bersembunyi di belakang Hawa. "Emma, aku ibumu. Kau seharusnya mendengarkan aku."

Namun, Emma akhirnya bersuara, matanya penuh air mata. "Kau bukan ibuku. Kak Hawa yang selalu menjagaku. Aku nggak butuh kamu."

Kata-kata itu menusuk hati Ella, tapi Harrison tidak memberi kesempatan padanya untuk melanjutkan. "Sudah cukup, Ella. Pergi sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran."

Ella memandang mereka dengan tatapan penuh kebencian, tapi akhirnya berbalik dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Setelah kejadian di taman, Harrison, Hawa, dan Emma memilih langsung ke restoran hotel untuk sarapan. Restoran itu cukup ramai, tapi suasana tetap terasa nyaman dengan desain interior yang elegan. Ares sudah memesan meja di sudut ruangan yang cukup privat.

Emma tampak lebih ceria setelah kejadian tadi, apalagi dengan Hawa yang terus memberinya perhatian. Saat pelayan datang membawa menu, Harrison memesan dengan tenang, sesekali melirik ke arah Hawa yang masih tampak ragu.

"Hawa, kau suka apa?" tanya Harrison tiba-tiba.

Hawa yang sedang membuka menu mendongak dengan sedikit gugup. "Aku tidak masalah, Tuan. Aku akan pilih yang ringan saja."

"Tidak perlu formal di sini," ujar Harrison lembut. "Kita sedang sarapan bersama. Anggap saja seperti keluarga."

Kata-kata itu membuat wajah Hawa memerah. Ia hanya mengangguk pelan dan menyebutkan pesanannya. Emma, di sisi lain, sibuk memilih menu favoritnya sambil berceloteh tentang kejadian tadi di taman.

"Papa tadi hebat!" kata Emma penuh semangat. "Aku senang Papa bilang kalau Kak Hawa itu kekasih Papa!"

Hawa langsung terbatuk kecil, hampir tersedak mendengar ucapan Emma. Ia buru-buru menyesap air putih di depannya, sementara Harrison menahan senyum tipis.

"Emma," ujar Hawa dengan suara pelan, "itu hanya... ya, anggap saja bagian dari pembicaraan tadi."

"Tapi kan Kak Hawa memang cocok jadi kekasih Papa," lanjut Emma polos, membuat Hawa semakin salah tingkah.

"Emma," potong Harrison, "fokus ke sarapanmu dulu, ya."

Emma hanya tertawa kecil, sementara Hawa menundukkan wajahnya, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.

Percakapan berlanjut dengan suasana yang lebih santai. Harrison dan Hawa mulai berbicara tentang hal-hal ringan, seperti rencana hari itu. Harrison bahkan sempat menggoda Hawa dengan pertanyaan tentang makanan favoritnya, membuat Hawa semakin canggung.

"Jadi, kau suka makanan manis?" tanya Harrison, sambil menyeruput kopinya.

Hawa mengangguk pelan. "Ya, aku lebih suka dessert dibanding makanan berat."

"Kalau begitu, lain kali aku akan pastikan kita mencicipi dessert terbaik di kota ini," kata Harrison sambil tersenyum tipis.

Hawa hanya bisa tersenyum kecil, hatinya mulai merasakan sesuatu yang berbeda pada Harrison.

Namun, momen harmonis itu tidak berlangsung lama. Dari sudut mata, Harrison melihat Ella memasuki restoran dengan langkah anggun. Wanita itu langsung mendekati meja mereka, dengan senyum yang sama sekali tidak menyenangkan.

"Ah, Harrison," sapa Ella dengan nada tinggi. "Tidak kusangka kita bertemu lagi, dan tampaknya kau... menikmati kebersamaanmu."

Emma langsung menegang di tempat duduknya, sementara Hawa menatap Ella dengan tatapan waspada.

"Apa yang kau inginkan, Ella?" tanya Harrison datar.

Ella tidak menjawab, malah mengalihkan pandangannya ke Hawa. "Dan ini kamu masih membawanya juga? Lebih pantas jadi pengasuh Emma?"

Harrison langsung menyela sebelum Hawa bisa menjawab. "Hawa adalah kekasihku. Jadi, berhentilah menghinanya."

Hawa kembali terkejut mendengar pernyataan itu, tapi ia tidak bisa membiarkan Ella terus merendahkannya. Ia mengambil napas dalam dan menatap Ella dengan tegas.

"Setidaknya aku ada untuk Emma," ucap Hawa dengan nada dingin. "Berbeda dengan seseorang yang memilih meninggalkan anaknya sendiri."

Ella memutar bola matanya. "Kau tidak tahu apa-apa. Harrison, aku hanya ingin bicara denganmu. Berdua."

"Tak ada lagi yang perlu dibicarakan," jawab Harrison cepat. "Emma sudah membuat pilihannya, dan aku juga."

Ella tampak semakin kesal, terutama saat Emma berkata dengan suara kecil tapi penuh ketegasan, "Aku tidak butuh kamu. Kak Hawa dan Papa sudah cukup untukku."

Mendengar itu, Ella melemparkan tatapan penuh kebencian sebelum akhirnya berbalik pergi. Harrison menghela napas panjang, mencoba mengendalikan amarahnya, sementara Hawa menggenggam tangan Emma dengan lembut, memberinya rasa aman.

Setelah kepergian Ella, suasana di meja kembali tenang. Harrison menatap Hawa dengan penuh rasa terima kasih.

"Hawa," ucapnya perlahan, "aku benar-benar menghargai apa yang kau lakukan tadi."

Hawa tersenyum tipis. "Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Emma tidak pantas diperlakukan seperti itu."

Harrison mengangguk. "Dan aku tidak pernah menyesal memilihmu untuk berada di sisi kami."

Wajah Hawa kembali merona, tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Di sisi lain, Emma sudah melanjutkan makannya dengan ceria, seolah kejadian tadi tidak pernah terjadi.

Bersambung.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hi semuanya, jangan lupa ya like dan komentarnya.

Terima kasih.

Episodes
1 Bab 1: Pertemuan Terburuk
2 Bab 2: Pusingnya Hawa
3 Bab 3: Permintaan Emma
4 Bab 4: Izin yang Alot
5 Bab 5: Lengketnya Emma
6 Bab 6: Tragedi di Sekolah
7 Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8 Bab 8: Hawa Dicegat
9 Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10 Bab 10: Aksi Harrison
11 Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12 Bab 12: Gosip yang Menyebar
13 Bab 13: Sidak Dylan
14 Bab 14 – Kejutan Liburan
15 Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16 Bab 16: Tidak Terduga
17 Bab 17: Cerita Emma
18 Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19 Bab 19: Hawa Tersipu
20 Bab 20: Keberanian Harrison
21 Bab 21 - Bicara Berdua
22 Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23 Bab 23: Jemput Emma
24 Bab 24: Rindu Mendalam
25 Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26 Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27 Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28 Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29 Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30 Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31 Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32 Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33 Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34 Bab 34: Malam Syahdu
35 Bab 35: Keseruan Sarapan
36 Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37 Bab 37: Welcome to Maldives
38 Bab 38 : Hawa kelelahan.
39 Bab 39 Borong Oleh oleh
40 Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41 Bab 41: Kembali Pulang
42 Bab 42: Rindunya Emma
43 Bab 43 : Ella menculik Emma.
44 Bab 44 – Emma Menangis Terus
45 Bab 45 – Penyelamatan Emma
46 Bab 46 : Kehamilan Hawa
47 Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48 Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49 Bab 49 – Kematian Victoria
50 Bab 50 – Sialnya Ella
51 Bab 51 – Ancaman Harrison
52 Bab 52 – Aksi Harrison
53 Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54 Bab 54 – Kawan vs Lawan
55 Bab 55 – Sayangnya Hawa
56 Bab 56 – Rencana Liam
57 Bab 57 – Rencana Harrison
58 Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59 Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60 Bab 60: Hawa Bahagia
61 Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62 Bab 62 - Liliana Merajuk
63 Bab 63 - Liliana Curhat
64 Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65 Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66 Bab 66 - Harrison Menang
67 Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68 Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69 Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70 Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71 Bab 71: Serangan Lanjutan
72 Bab 72: Keberhasilan Harrison
73 Bab 73: Liam dan Liliana
74 Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75 Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76 Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77 Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78 Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79 Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80 promo karya terbaru
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1: Pertemuan Terburuk
2
Bab 2: Pusingnya Hawa
3
Bab 3: Permintaan Emma
4
Bab 4: Izin yang Alot
5
Bab 5: Lengketnya Emma
6
Bab 6: Tragedi di Sekolah
7
Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8
Bab 8: Hawa Dicegat
9
Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10
Bab 10: Aksi Harrison
11
Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12
Bab 12: Gosip yang Menyebar
13
Bab 13: Sidak Dylan
14
Bab 14 – Kejutan Liburan
15
Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16
Bab 16: Tidak Terduga
17
Bab 17: Cerita Emma
18
Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19
Bab 19: Hawa Tersipu
20
Bab 20: Keberanian Harrison
21
Bab 21 - Bicara Berdua
22
Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23
Bab 23: Jemput Emma
24
Bab 24: Rindu Mendalam
25
Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26
Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27
Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28
Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29
Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30
Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31
Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32
Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33
Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34
Bab 34: Malam Syahdu
35
Bab 35: Keseruan Sarapan
36
Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37
Bab 37: Welcome to Maldives
38
Bab 38 : Hawa kelelahan.
39
Bab 39 Borong Oleh oleh
40
Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41
Bab 41: Kembali Pulang
42
Bab 42: Rindunya Emma
43
Bab 43 : Ella menculik Emma.
44
Bab 44 – Emma Menangis Terus
45
Bab 45 – Penyelamatan Emma
46
Bab 46 : Kehamilan Hawa
47
Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48
Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49
Bab 49 – Kematian Victoria
50
Bab 50 – Sialnya Ella
51
Bab 51 – Ancaman Harrison
52
Bab 52 – Aksi Harrison
53
Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54
Bab 54 – Kawan vs Lawan
55
Bab 55 – Sayangnya Hawa
56
Bab 56 – Rencana Liam
57
Bab 57 – Rencana Harrison
58
Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59
Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60
Bab 60: Hawa Bahagia
61
Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62
Bab 62 - Liliana Merajuk
63
Bab 63 - Liliana Curhat
64
Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65
Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66
Bab 66 - Harrison Menang
67
Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68
Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69
Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70
Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71
Bab 71: Serangan Lanjutan
72
Bab 72: Keberhasilan Harrison
73
Bab 73: Liam dan Liliana
74
Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75
Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76
Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77
Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78
Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79
Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!