Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki

Beberapa hari kemudian, suasana pagi rumah Harrison lebih sibuk dari biasanya. Emma sedang mempersiapkan perlengkapannya untuk lomba mewarnai tingkat kota yang akan diadakan di salah satu mal terbesar. Bocah tujuh tahun itu tampak bersemangat luar biasa, tapi juga sedikit tegang.

“Kak Hawa, jangan lupa kita harus sampai lebih awal, ya! Aku nggak mau telat,” rengek Emma sambil memeluk tas berisi peralatan mewarnainya.

Hawa tersenyum lembut sambil membetulkan kerah baju Emma. “Tenang, Emma. Kita pasti sampai tepat waktu. Papa kamu juga akan menemani, kan?”

Harrison, yang sedang mengikat dasi, hanya mengangguk kecil sambil memperhatikan interaksi mereka. Ia tahu betapa pentingnya acara ini bagi Emma, apalagi bocah itu ingin ditemani oleh "keluarga lengkapnya."

“Emma, sudah siap?” tanya Harrison sambil mengambil kunci mobil.

Emma melirik papanya dengan senyum kecil. “Papa harus janji, jangan sibuk sendiri, ya. Aku mau Papa dan Kak Hawa duduk sama-sama nanti.”

Harrison hanya tersenyum tipis, mengangkat bahu tanda setuju.

***

Mal yang biasanya ramai kini penuh sesak dengan anak-anak yang sedang bersiap untuk lomba. Emma menggenggam erat tangan Hawa sementara Harrison berjalan di belakang mereka, memandangi kerumunan dengan wajah tenang.

“Kak Hawa, tempat duduk kita di mana?” tanya Emma dengan antusias.

“Di area depan sana. Ayo, kita cari tempat yang nyaman supaya kamu bisa fokus,” jawab Hawa sambil menggandeng Emma ke arah meja peserta.

Di sisi lain ruangan, Hawa tiba-tiba mendengar suara yang familiar. “Hawa? Apa itu benar kamu?”

Hawa menoleh, dan senyum lebarnya muncul saat melihat kakak iparnya, Malika, melambaikan tangan. Di samping Malika, ada Nikki, keponakan laki-laki Hawa, yang juga sedang membawa perlengkapan lomba mewarnai.

“Kak Malika! Sudah lama sekali kita nggak ketemu!” Hawa menyapa dengan gembira, menghampiri mereka.

Malika langsung memeluk Hawa erat. “Ya ampun, Hawa. Aku kangen banget sama kamu. Akhir-akhir ini kamu sibuk banget, ya? Kita jadi jarang ngobrol.”

“Iya, maaf banget, Kak. Kerjaan di rumah sakit lagi padat,” jawab Hawa dengan nada bersalah.

“Eh, itu Emma, ya? Wah, kamu cantik sekali hari ini!” sapa Malika sambil mencubit pipi Emma dengan lembut.

Emma tersenyum manis. “Iya, Tante Malika. Aku ikut lomba hari ini. Kak Hawa yang nemenin aku.”

Di samping Emma, Nikki berdiri dengan penasaran. Ia melirik Emma lalu tersenyum. “Hai, Emma. Aku kamu ikut juga ternyata.”

Emma mengangguk sambil tersenyum cerah. “Iya, Nikki. Kita lomba bareng.”

Percakapan antara Emma dan Nikki langsung cair. Keduanya duduk berdampingan di meja lomba, sementara Hawa dan Malika berdiri agak jauh, berbincang sambil sesekali melirik ke arah anak-anak itu. Harrison tetap berdiri di dekat Hawa, memperhatikan semua dengan tenang.

“Jadi, apa kabar kamu, Hawa? Harrison, makasih ya sudah menjaga adik iparku ini,” kata Malika sambil tersenyum ke arah Harrison.

“Dia yang lebih banyak menjaga kami,” jawab Harrison singkat, tapi nada suaranya tulus.

Malika berkata pelan sambil tertawa kecil. “Kamu selalu seperti itu, ya. Dingin, tapi perhatian.”

Di meja lomba, Emma dan Nikki mulai mengobrol dengan serius di sela-sela mereka mewarnai.

“Nikki, aku mau tanya sesuatu,” bisik Emma sambil melirik ke arah Hawa.

“Apa?” Nikki balas berbisik, penasaran.

“Kak Hawa itu baik banget, kan? Aku pengen dia jadi mamaku. Tapi aku nggak tahu gimana caranya biar dia mau,” curhat Emma dengan ekspresi serius.

Nikki, yang sedikit lebih tua dari Emma, tertawa kecil. “Maksud kamu, kamu mau dia menikah sama Om Harrison?”

Emma mengangguk cepat. “Iya. Aku pengen banget. Papa selalu sibuk, tapi kalau ada Kak Hawa, semuanya lebih seru. Dia baik, pintar, dan dia sayang banget sama aku.”

Nikki terdiam sejenak, memikirkan ide itu. “Hmm, itu ide yang bagus, sih. Tante Hawa pasti cocok jadi mama kamu. Tapi gimana kamu mau bikin dia sama Om Harrison lebih dekat?”

Emma menatap Nikki dengan penuh harap. “Makanya aku tanya kamu. Kamu kan pintar. Ayo, bantu aku!”

Nikki tersenyum penuh percaya diri. “Oke, aku bantu. Tapi kamu harus janji nggak kasih tahu siapa-siapa, ya. Ini misi rahasia.”

Emma mengangguk mantap. “Janji!”

“Pertama-tama, kamu harus cari cara biar Papa kamu lebih sering ngobrol sama Kak Hawa. Terus, bikin mereka jalan bareng, kayak keluarga. Kalau udah begitu, mereka pasti makin dekat,” saran Nikki sambil terus mewarnai.

Emma mengangguk sambil tersenyum lebar. “Kamu benar, Nikki. Aku bakal coba itu!”

Lomba berakhir dengan suasana meriah. Nikki dan Emma sama-sama tersenyum lebar saat nama mereka diumumkan sebagai pemenang kategori khusus untuk karya kreatif. Nikki mendapat penghargaan sebagai peserta dengan konsep warna terbaik, sementara Emma dipuji atas detail dan kecermatan hasil karyanya. Tepuk tangan membahana memenuhi ruangan, sementara kedua bocah itu naik ke panggung untuk menerima hadiah mereka.

“Kak Hawa, aku menang!” seru Emma dengan mata berbinar, berlari menghampiri Hawa begitu turun dari panggung.

Hawa menyambut Emma dengan pelukan hangat. “Kamu memang hebat, Emma. Kak Hawa bangga banget sama kamu.”

Di sebelah mereka, Nikki juga menghampiri Malika, memamerkan hadiahnya. Malika memeluk Nikki erat, tapi perhatiannya sempat teralih ke Hawa dan Emma. Ada kehangatan yang terpancar di sana, terutama ketika Hawa merapikan poni Emma yang berantakan karena keringat.

Harrison, yang berdiri di dekat mereka, memperhatikan interaksi itu dalam diam. Ia melihat betapa bahagianya Emma bersama Hawa. Gadis kecilnya tertawa tanpa beban, sesuatu yang jarang ia lihat sejak ibunya meninggalkan mereka.

“Nikki, terima kasih sudah bantuin Emma,” ucap Hawa sambil tersenyum ke arah keponakannya.

Nikki, yang biasanya cuek, mengangguk sambil tersenyum bangga. “Iya, Tante Hawa. Emma itu pinter kok, aku cuma kasih sedikit Tips.”

Emma mengangguk setuju, lalu tiba-tiba menggenggam tangan Nikki. “Nikki itu keren banget, Kak Hawa. Dia juga bilang aku harus percaya diri kalau mau menang.”

Hawa tertawa kecil, merasa terharu melihat kedekatan keduanya. Tapi sebelum ia sempat menjawab, Malika mendekat dengan tatapan penuh arti.

“Hawa, aku nggak pernah lihat kamu sedekat ini sama anak kecil selain Nikki. Emma benar-benar sayang sama kamu, ya?”

Hawa hanya tersenyum samar, tidak ingin menjelaskan terlalu jauh. “Emma anak yang luar biasa, Kak. Dia bikin aku merasa seperti... bagian dari keluarganya.”

Pernyataan itu membuat Harrison menoleh. Ada sesuatu dalam suara Hawa yang membuatnya diam sesaat, seperti ada makna mendalam di balik kata-katanya.

***

Setelah lomba selesai, Emma bersikeras mengajak semua orang makan malam di restoran favoritnya. Hawa, yang awalnya ingin menolak karena merasa sudah terlalu larut, akhirnya setuju setelah dibujuk oleh Nikki, Malika dan Harrison.

Restoran itu penuh dengan keluarga yang sedang menikmati akhir pekan. Emma dan Nikki duduk berdampingan, sibuk membahas rencana baru mereka yang penuh rahasia, sementara Hawa dan Malika berbincang ringan di meja yang sama.

“Papa,” panggil Emma tiba-tiba, menyela pembicaraan.

“Hm?” Harrison menoleh, memasang ekspresi penuh perhatian.

Emma menggenggam tangannya erat. “Aku senang banget hari ini. Terima kasih sudah datang dan nemenin aku sama Kak Hawa.”

Harrison tersenyum tipis, tapi sebelum ia sempat menjawab, Emma melanjutkan dengan suara kecil namun jelas.

“Papa, aku mau bilang sesuatu...”

Hawa dan Malika spontan terdiam, menoleh ke arah Emma yang terlihat serius. Nikki di sebelahnya ikut menatap penuh rasa ingin tahu.

“Aku mau Kak Hawa jadi mama aku,” ujar Emma polos, tanpa ragu sedikit pun.

Ruangan seolah membeku sesaat. Bahkan pelayan yang sedang mendekat untuk mengantar makanan tampak sedikit terkejut mendengar pernyataan bocah itu.

Bersambung.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hi semuanya, jangan lupa ya kasih like dan komentarnya.

Terima kasih.

Episodes
1 Bab 1: Pertemuan Terburuk
2 Bab 2: Pusingnya Hawa
3 Bab 3: Permintaan Emma
4 Bab 4: Izin yang Alot
5 Bab 5: Lengketnya Emma
6 Bab 6: Tragedi di Sekolah
7 Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8 Bab 8: Hawa Dicegat
9 Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10 Bab 10: Aksi Harrison
11 Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12 Bab 12: Gosip yang Menyebar
13 Bab 13: Sidak Dylan
14 Bab 14 – Kejutan Liburan
15 Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16 Bab 16: Tidak Terduga
17 Bab 17: Cerita Emma
18 Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19 Bab 19: Hawa Tersipu
20 Bab 20: Keberanian Harrison
21 Bab 21 - Bicara Berdua
22 Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23 Bab 23: Jemput Emma
24 Bab 24: Rindu Mendalam
25 Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26 Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27 Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28 Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29 Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30 Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31 Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32 Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33 Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34 Bab 34: Malam Syahdu
35 Bab 35: Keseruan Sarapan
36 Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37 Bab 37: Welcome to Maldives
38 Bab 38 : Hawa kelelahan.
39 Bab 39 Borong Oleh oleh
40 Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41 Bab 41: Kembali Pulang
42 Bab 42: Rindunya Emma
43 Bab 43 : Ella menculik Emma.
44 Bab 44 – Emma Menangis Terus
45 Bab 45 – Penyelamatan Emma
46 Bab 46 : Kehamilan Hawa
47 Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48 Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49 Bab 49 – Kematian Victoria
50 Bab 50 – Sialnya Ella
51 Bab 51 – Ancaman Harrison
52 Bab 52 – Aksi Harrison
53 Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54 Bab 54 – Kawan vs Lawan
55 Bab 55 – Sayangnya Hawa
56 Bab 56 – Rencana Liam
57 Bab 57 – Rencana Harrison
58 Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59 Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60 Bab 60: Hawa Bahagia
61 Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62 Bab 62 - Liliana Merajuk
63 Bab 63 - Liliana Curhat
64 Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65 Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66 Bab 66 - Harrison Menang
67 Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68 Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69 Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70 Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71 Bab 71: Serangan Lanjutan
72 Bab 72: Keberhasilan Harrison
73 Bab 73: Liam dan Liliana
74 Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75 Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76 Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77 Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78 Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79 Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80 promo karya terbaru
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1: Pertemuan Terburuk
2
Bab 2: Pusingnya Hawa
3
Bab 3: Permintaan Emma
4
Bab 4: Izin yang Alot
5
Bab 5: Lengketnya Emma
6
Bab 6: Tragedi di Sekolah
7
Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8
Bab 8: Hawa Dicegat
9
Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10
Bab 10: Aksi Harrison
11
Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12
Bab 12: Gosip yang Menyebar
13
Bab 13: Sidak Dylan
14
Bab 14 – Kejutan Liburan
15
Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16
Bab 16: Tidak Terduga
17
Bab 17: Cerita Emma
18
Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19
Bab 19: Hawa Tersipu
20
Bab 20: Keberanian Harrison
21
Bab 21 - Bicara Berdua
22
Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23
Bab 23: Jemput Emma
24
Bab 24: Rindu Mendalam
25
Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26
Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27
Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28
Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29
Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30
Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31
Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32
Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33
Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34
Bab 34: Malam Syahdu
35
Bab 35: Keseruan Sarapan
36
Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37
Bab 37: Welcome to Maldives
38
Bab 38 : Hawa kelelahan.
39
Bab 39 Borong Oleh oleh
40
Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41
Bab 41: Kembali Pulang
42
Bab 42: Rindunya Emma
43
Bab 43 : Ella menculik Emma.
44
Bab 44 – Emma Menangis Terus
45
Bab 45 – Penyelamatan Emma
46
Bab 46 : Kehamilan Hawa
47
Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48
Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49
Bab 49 – Kematian Victoria
50
Bab 50 – Sialnya Ella
51
Bab 51 – Ancaman Harrison
52
Bab 52 – Aksi Harrison
53
Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54
Bab 54 – Kawan vs Lawan
55
Bab 55 – Sayangnya Hawa
56
Bab 56 – Rencana Liam
57
Bab 57 – Rencana Harrison
58
Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59
Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60
Bab 60: Hawa Bahagia
61
Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62
Bab 62 - Liliana Merajuk
63
Bab 63 - Liliana Curhat
64
Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65
Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66
Bab 66 - Harrison Menang
67
Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68
Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69
Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70
Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71
Bab 71: Serangan Lanjutan
72
Bab 72: Keberhasilan Harrison
73
Bab 73: Liam dan Liliana
74
Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75
Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76
Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77
Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78
Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79
Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!