Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja

Pagi yang cerah menyambut di mansion Harrison. Hawa sedang mempersiapkan sarapan untuk Emma, yang pagi ini terlihat lebih ceria dari biasanya. Gadis kecil itu duduk di meja makan sambil mengayunkan kakinya dan menatap Hawa dengan mata berbinar.

“Kak Hawa, nanti jemput aku di sekolah ya?” pinta Emma tiba-tiba, suaranya penuh harapan.

Hawa terkejut mendengar permintaan itu. “Eh, jemput kamu? Bukannya biasanya Papa kamu yang jemput?”

Emma cemberut manja. “Aku mau Kak Hawa yang jemput. Teman-teman aku sering cerita kalau mama mereka yang jemput. Aku pengen juga, Kak. Aku pengen rasain diantar jemput sama mama, atau… sama Kak Hawa.”

Hawa terdiam. Kata-kata Emma begitu menyentuh hatinya. Ia tahu betapa besar kerinduan Emma untuk memiliki figur seorang ibu. Namun, Hawa juga merasa khawatir. Pekerjaannya di rumah sakit membuat jadwalnya tidak menentu.

“Emma, Kak Hawa nggak selalu bisa datang tepat waktu, lho. Kalau Kakak terlambat, kamu harus sabar menunggu, ya?” ujar Hawa dengan lembut, mencoba memberi pengertian.

Emma mengangguk cepat. “Aku janji bakal nunggu, Kak. Asal Kakak jemput aku.”

Saat itu, Harrison masuk ke ruang makan, mendengar percakapan mereka. Ia mendekati meja dan menatap Emma dengan tegas. “Emma, lebih baik Papa saja yang jemput kamu. Itu lebih aman dan pasti.”

Namun, Emma menggeleng keras. “Enggak, aku maunya Kak Hawa! Papa selalu sibuk, dan aku pengen ngerasain seperti teman-temanku.”

Harrison terdiam, tatapannya melunak. Permintaan Emma begitu sederhana, namun ia sadar bahwa itu adalah sesuatu yang tidak bisa selalu ia penuhi. Ia melihat Hawa, seolah meminta pendapat.

Hawa tersenyum lembut. “Baiklah, Emma. Kakak akan jemput kamu. Tapi kamu harus janji, kalau Kakak terlambat, kamu harus menunggu dengan sabar.”

Emma bersorak gembira, melompat dari kursinya dan memeluk Hawa erat. “Makasih, Kak Hawa! Kamu yang terbaik!”

Melihat itu, Harrison hanya bisa menghela napas panjang. Dalam hatinya, ia merasa terharu sekaligus sedikit cemburu. Dia melakukan sesuatu yang aku tidak bisa berikan pada Emma. Mungkin memang Hawa adalah sosok yang Emma butuhkan.

***

Hari itu berlalu dengan cepat. Malam harinya, setelah memastikan Emma tertidur, Hawa dan Harrison berbincang sejenak di ruang tamu. Suasana malam yang tenang membuat mereka berbicara dengan lebih santai.

“Aku tidak tahu harus bilang apa, Tuan Harrison,” kata Hawa pelan. “Emma adalah anak yang luar biasa. Dia hanya butuh perhatian lebih.”

Harrison mengangguk. “Aku tahu itu. Tapi terkadang, aku merasa gagal sebagai papanya. Aku terlalu sibuk, terlalu sering meninggalkan dia sendirian.”

Hawa menatap Harrison, melihat sisi rapuh yang jarang ia tunjukkan. “Emma tahu Papa-nya mencintainya. Tapi anak-anak memang butuh sosok yang selalu ada, meski hanya untuk hal-hal kecil. Maaf Tuan, bukan bermaksud menyinggung.”

Harrison terdiam, merenungkan kata-kata Hawa. Dalam hatinya, ia merasa berterima kasih pada wanita itu karena telah menjadi figur yang begitu penting bagi Emma.

"Tidak, Hawa. Kamu benar, aku akan coba untuk memberikan waktu lebih pada Emma." jawab Harrison.

Malam semakin larut. Hawa yang haus memutuskan pergi ke dapur untuk mengambil air. Namun, gelas yang ia butuhkan tersimpan di rak yang tinggi, dan ia kesulitan mencapainya.

Saat ia mencoba meraih gelas itu, sebuah tangan besar tiba-tiba mengambilnya untuknya. Hawa berbalik, terkejut melihat Harrison berdiri di belakangnya.

“Maaf, aku tidak tahu Anda ada di sini,” kata Hawa dengan gugup.

Harrison hanya tersenyum tipis, lalu memberikan gelas itu padanya. “Tidak apa-apa. Aku hanya sekalian mengambil kopi.”

Namun, saat Hawa hendak mengambil gelas dari tangan Harrison, jari mereka bersentuhan. Sentuhan itu singkat, namun cukup membuat keduanya salah tingkah.

“Maaf,” kata Harrison cepat, menarik tangannya.

“Tidak apa-apa,” balas Hawa, wajahnya sedikit memerah.

Mereka terdiam sejenak, sebelum akhirnya Hawa berkata, “Aku rasa, saya harus kembali ke kamar.”

Harrison hanya mengangguk, memandang punggung Hawa yang menjauh. Dalam hatinya, ia merasa jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu tentang dia yang berbeda... sesuatu yang membuatku tidak bisa mengabaikannya.

Keesokan harinya, Emma kembali menjadi pusat perhatian di mansion. Gadis kecil itu terus menggoda Hawa dengan permintaannya untuk diantar ke sekolah.

“Kak Hawa, nanti antar aku, ya? Jangan lupa!” seru Emma sambil memeluk Hawa erat.

Hawa tertawa kecil. “Iya, Emma. Kakak janji.”

Melihat keakraban itu, Harrison hanya bisa tersenyum tipis. Dalam hatinya, ia tahu bahwa Hawa telah membawa kebahagiaan yang berbeda dalam hidup mereka. Meskipun ia mencoba menyangkalnya, ia tidak bisa mengabaikan perasaan hangat yang muncul setiap kali melihat interaksi Hawa dan Emma.

***

Malam itu, saat Hawa sedang membantu Emma bersiap tidur, Harrison datang untuk mengucapkan selamat malam pada putrinya.

“Papa, lihat! Kak Hawa sudah bantu aku pilih piyama,” kata Emma ceria, menunjuk pakaian tidurnya.

“Bagus sekali,” jawab Harrison sambil tersenyum.

Namun, ketika Hawa hendak bangkit dari tempat tidur, tangan mereka kembali bersentuhan. Kali ini, sentuhan itu tidak disengaja, namun cukup untuk membuat keduanya saling bertatapan.

“Maaf,” kata Harrison pelan.

“Aku juga,” balas Hawa, cepat-cepat berdiri.

Namun, Emma yang sudah mengantuk tidak menyadari kecanggungan itu. Gadis kecil itu hanya memeluk Hawa erat sebelum akhirnya tertidur.

Harrison memperhatikan Hawa yang dengan hati-hati menyelimuti Emma. Dalam hati, ia kembali merasakan kekaguman yang sulit ia jelaskan. Dia tidak hanya tulus, tapi juga membawa kehangatan yang sudah lama hilang dari hidupku.

Setelah memastikan Emma tertidur dengan lelap, Hawa perlahan melangkah keluar dari kamar. Namun, di lorong yang sedikit remang, langkahnya terhenti saat melihat Harrison berdiri tidak jauh dari pintu. Pria itu tampaknya sedang menunggu untuk memastikan semuanya baik-baik saja.

“Oh, Anda masih di sini, Tuan Harrison?” tanya Hawa pelan, mencoba memecah keheningan.

Harrison mengangguk. “Ya, aku hanya memastikan Emma sudah tidur. Dia kadang suka terbangun di tengah malam.”

Hawa mengangguk kecil, merasa canggung dengan tatapan pria itu yang seolah tidak lepas darinya. “Emma sudah tidur nyenyak. Dia sangat lelah setelah seharian beraktivitas.”

“Terima kasih, Hawa,” ujar Harrison tiba-tiba, suaranya rendah namun tulus.

Hawa mengerutkan kening, tidak mengerti maksud ucapannya. “Untuk apa, Tuan?”

“Untuk semuanya,” jawab Harrison sambil menatapnya. “Emma terlihat sangat bahagia sejak kamu ada di sini. Dia merasa lebih dicintai, lebih diperhatikan... sesuatu yang mungkin tidak bisa selalu aku berikan sebagai seorang papa.”

Hawa tersenyum kecil, merasa tersentuh oleh kata-kata itu. “Emma adalah anak yang luar biasa. Siapa pun pasti ingin mencintainya. Anda tidak perlu berterima kasih untuk hal itu.”

Harrison terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Tapi aku tetap merasa kamu membawa sesuatu yang berbeda ke dalam hidupnya... juga ke dalam hidup saya.”

Pernyataan itu membuat Hawa terkejut. Ia menunduk sedikit, tidak tahu harus berkata apa. Ada kehangatan dalam suara Harrison yang membuatnya merasa salah tingkah.

“Maaf, kalau saya terlalu banyak bicara,” kata Harrison akhirnya, menyadari kecanggungan yang mulai muncul.

“Tidak, tidak apa-apa,” balas Hawa cepat, mengangkat wajahnya untuk menatap Harrison. Namun, tatapan mereka bertemu, dan untuk beberapa detik, keduanya terdiam tanpa berkata-kata.

Hawa buru-buru memalingkan wajahnya, mencoba menyembunyikan rasa canggung yang kini menyelimuti dirinya. “Aku rasa, aku harus kembali ke kamar.”

Harrison mengangguk pelan. “Ya, tentu.”

Namun, saat Hawa hendak melangkah pergi, langkahnya terhenti ketika Harrison tanpa sengaja menyentuh lengannya. Sentuhan itu singkat, namun cukup untuk membuat keduanya kembali salah tingkah.

“Maaf, saya tidak sengaja,” kata Harrison cepat, menarik tangannya.

“Tidak apa-apa,” jawab Hawa, suaranya sedikit bergetar.

Keduanya terdiam lagi, suasana di antara mereka begitu canggung namun juga penuh dengan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Bersambung.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hi semuanya, jangan lupa like dan komentarya ya.

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Sampai bab ini aku masih penasaran dwngan mommy nya Emma..🤔🤔

2025-02-17

0

Astuti Setiorini

Astuti Setiorini

sama sama canggung

2024-12-14

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Pertemuan Terburuk
2 Bab 2: Pusingnya Hawa
3 Bab 3: Permintaan Emma
4 Bab 4: Izin yang Alot
5 Bab 5: Lengketnya Emma
6 Bab 6: Tragedi di Sekolah
7 Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8 Bab 8: Hawa Dicegat
9 Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10 Bab 10: Aksi Harrison
11 Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12 Bab 12: Gosip yang Menyebar
13 Bab 13: Sidak Dylan
14 Bab 14 – Kejutan Liburan
15 Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16 Bab 16: Tidak Terduga
17 Bab 17: Cerita Emma
18 Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19 Bab 19: Hawa Tersipu
20 Bab 20: Keberanian Harrison
21 Bab 21 - Bicara Berdua
22 Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23 Bab 23: Jemput Emma
24 Bab 24: Rindu Mendalam
25 Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26 Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27 Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28 Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29 Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30 Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31 Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32 Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33 Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34 Bab 34: Malam Syahdu
35 Bab 35: Keseruan Sarapan
36 Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37 Bab 37: Welcome to Maldives
38 Bab 38 : Hawa kelelahan.
39 Bab 39 Borong Oleh oleh
40 Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41 Bab 41: Kembali Pulang
42 Bab 42: Rindunya Emma
43 Bab 43 : Ella menculik Emma.
44 Bab 44 – Emma Menangis Terus
45 Bab 45 – Penyelamatan Emma
46 Bab 46 : Kehamilan Hawa
47 Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48 Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49 Bab 49 – Kematian Victoria
50 Bab 50 – Sialnya Ella
51 Bab 51 – Ancaman Harrison
52 Bab 52 – Aksi Harrison
53 Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54 Bab 54 – Kawan vs Lawan
55 Bab 55 – Sayangnya Hawa
56 Bab 56 – Rencana Liam
57 Bab 57 – Rencana Harrison
58 Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59 Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60 Bab 60: Hawa Bahagia
61 Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62 Bab 62 - Liliana Merajuk
63 Bab 63 - Liliana Curhat
64 Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65 Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66 Bab 66 - Harrison Menang
67 Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68 Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69 Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70 Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71 Bab 71: Serangan Lanjutan
72 Bab 72: Keberhasilan Harrison
73 Bab 73: Liam dan Liliana
74 Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75 Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76 Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77 Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78 Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79 Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80 promo karya terbaru
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1: Pertemuan Terburuk
2
Bab 2: Pusingnya Hawa
3
Bab 3: Permintaan Emma
4
Bab 4: Izin yang Alot
5
Bab 5: Lengketnya Emma
6
Bab 6: Tragedi di Sekolah
7
Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8
Bab 8: Hawa Dicegat
9
Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10
Bab 10: Aksi Harrison
11
Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12
Bab 12: Gosip yang Menyebar
13
Bab 13: Sidak Dylan
14
Bab 14 – Kejutan Liburan
15
Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16
Bab 16: Tidak Terduga
17
Bab 17: Cerita Emma
18
Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19
Bab 19: Hawa Tersipu
20
Bab 20: Keberanian Harrison
21
Bab 21 - Bicara Berdua
22
Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23
Bab 23: Jemput Emma
24
Bab 24: Rindu Mendalam
25
Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26
Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27
Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28
Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29
Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30
Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31
Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32
Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33
Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34
Bab 34: Malam Syahdu
35
Bab 35: Keseruan Sarapan
36
Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37
Bab 37: Welcome to Maldives
38
Bab 38 : Hawa kelelahan.
39
Bab 39 Borong Oleh oleh
40
Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41
Bab 41: Kembali Pulang
42
Bab 42: Rindunya Emma
43
Bab 43 : Ella menculik Emma.
44
Bab 44 – Emma Menangis Terus
45
Bab 45 – Penyelamatan Emma
46
Bab 46 : Kehamilan Hawa
47
Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48
Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49
Bab 49 – Kematian Victoria
50
Bab 50 – Sialnya Ella
51
Bab 51 – Ancaman Harrison
52
Bab 52 – Aksi Harrison
53
Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54
Bab 54 – Kawan vs Lawan
55
Bab 55 – Sayangnya Hawa
56
Bab 56 – Rencana Liam
57
Bab 57 – Rencana Harrison
58
Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59
Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60
Bab 60: Hawa Bahagia
61
Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62
Bab 62 - Liliana Merajuk
63
Bab 63 - Liliana Curhat
64
Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65
Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66
Bab 66 - Harrison Menang
67
Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68
Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69
Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70
Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71
Bab 71: Serangan Lanjutan
72
Bab 72: Keberhasilan Harrison
73
Bab 73: Liam dan Liliana
74
Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75
Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76
Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77
Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78
Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79
Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!