Bab 5: Lengketnya Emma

Malam sudah semakin larut ketika mobil yang membawa Hawa dan Emma akhirnya memasuki halaman luas mansion Harrison. Keheningan di dalam mobil hanya dipecahkan oleh suara napas Emma yang perlahan mulai terlelap, namun kembali terbangun ketika kendaraan berhenti.

Hawa memandangi pintu besar mansion itu dengan jantung yang sedikit berdebar. Di depan pintu, berdiri Harrison dengan tubuh tegap, tangan bersedekap, dan tatapan dingin yang entah kenapa membuat hawa malam terasa lebih menusuk.

Saat pintu mobil dibuka oleh sopir, Emma langsung keluar terlebih dahulu. "Papa!" serunya penuh antusias, berlari kecil ke arah Harrison yang langsung merentangkan tangannya.

Harrison menunduk sedikit, memeluk anaknya dengan lembut, meski wajahnya tetap mempertahankan ekspresi kaku. Namun, pelukan itu tidak bisa menyembunyikan kasih sayangnya. "Kenapa kamu pulang malam sekali, Emma?" tanyanya dengan nada tegas yang bercampur kelegaan.

Emma menyeringai kecil dan mendekatkan bibirnya ke telinga Harrison, berbisik, "Aku jemput Kak Hawa. Aku nggak mau jauh dari dia, Pa."

Harrison mengangkat alis, menatap Hawa yang baru saja keluar dari mobil. Wajahnya tidak menunjukkan rasa terkejut, tapi matanya berbicara banyak. Hawa menundukkan kepala dengan gugup, merasa seperti seorang anak kecil yang tertangkap basah.

"Kak Hawa, ayo kita masuk!" Emma menggenggam tangan Hawa dengan erat dan menariknya ke dalam mansion, tidak memberi kesempatan Hawa untuk menolak.

Harrison memperhatikan mereka tanpa suara, hanya berjalan di belakang, masih mencoba memahami bagaimana Emma bisa begitu lengket dengan Hawa.

Begitu masuk, suasana canggung langsung menyelimuti Hawa. Interior mansion yang megah dengan perabotan serba mahal membuatnya merasa seperti berada di dunia lain. Emma tetap menggandeng tangannya erat, membawanya ke ruang tamu.

"Kak Hawa, duduk sini! Aku mau Kak Hawa nemenin aku minum susu dulu," ujar Emma sambil menunjuk sofa empuk berwarna krem.

Hawa tersenyum lembut, menuruti permintaan Emma. "Emma, nggak capek? Harusnya kamu istirahat dulu, sayang."

"Iya, Kak. Aku harus minum susu di temani sama Kak Hawa," balas Emma dengan wajah memelas, yang sukses membuat Hawa menyerah. Tidak lama artnya membawa susu yang biasa di minum Nona mudanya.

Harrison hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan. "Biasanya kau mandiri, Emma. Kenapa selalu minta ditemani Kak Hawa?"

"Aku ingin, Pa." jawabnya. Setelah itu Hawa mengambil alih susu yang berada di tangan artnya.

"Terima kasih, Bi." ucap Hawa pada artnya. Di angguki olehnya yang sungkan terhadap Hawa.

Emma bersorak kecil, sementara Hawa tidak bisa menahan senyum. Di balik sikap tegas Harrison, jelas terlihat betapa ia tidak mampu menolak permintaan anak perempuannya.

Setelah Emma selesai minum susu dan akhirnya tertidur di kamarnya, Hawa merasa lega. Ia dengan hati-hati menyelimuti tubuh kecil Emma sebelum keluar dari kamar.

Namun, saat membuka pintu, ia terkejut melihat Harrison berdiri di depan kamar, menatapnya dengan tajam. "Ikut aku ke ruang kerja," ucapnya singkat, lalu berbalik tanpa menunggu jawaban.

Hawa mengikuti langkah Harrison menuju ruang kerja dengan sedikit canggung. Pintu ruang kerja dibuka, memperlihatkan ruangan yang luas, penuh dengan rak buku tinggi, meja kerja besar dari kayu mahoni, dan sebuah jendela lebar yang menghadap taman di luar. Harrison berjalan menuju kursinya, lalu duduk sambil melipat tangannya di atas meja, menatap Hawa yang berdiri ragu di depan pintu.

"Masuk," ucap Harrison dengan nada tegas, tanpa basa-basi.

Hawa menelan ludah dan melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Ada yang ingin Anda bicarakan, Tuan Harrison?" tanyanya dengan sopan, meski nadanya terdengar agak kaku.

Harrison mengangguk kecil, memandangi Hawa dengan tatapan tajam yang seolah ingin menyelidik isi pikirannya. "Duduk," ujarnya sambil menunjuk kursi di depan mejanya.

Hawa menurut, meskipun ia merasa tidak nyaman dengan keheningan yang menyelimuti mereka.

"Emma terlihat sangat nyaman denganmu," Harrison memulai, memecah keheningan. "Lebih nyaman daripada dengan siapa pun, bahkan dibandingkan denganku."

Hawa mengangguk pelan. "Emma anak yang luar biasa. Dia hanya butuh seseorang yang bisa memberikan perhatian lebih untuknya."

Harrison menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Hawa dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Aku ingin memastikan satu hal, Hawa. Apa yang kau lakukan untuk Emma benar-benar murni dari hatimu?"

Pertanyaan itu membuat Hawa tertegun. Ia mengerutkan kening, merasa sedikit tersinggung dengan insinuasi di balik kata-kata Harrison. "Tentu saja murni, Tuan Harrison. Apa maksud Anda menanyakan itu?"

"Aku hanya ingin memastikan," Harrison menjawab dengan nada yang masih datar, "bahwa kau tidak memiliki motif tersembunyi atau memanfaatkan Emma untuk keuntungan pribadi."

Ucapan itu membuat darah Hawa mendidih. Ia menatap Harrison dengan mata yang berbinar marah. "Tuan Harrison, aku rasa Anda salah menilaiku. Tidak ada sedikit pun dalam pikiranku untuk melakukan hal seperti itu. Aku membantu Emma karena kepedulianku, bukan karena aku ingin mendapatkan sesuatu."

Harrison mengangkat satu alis, tampak terkejut dengan keberanian Hawa. "Banyak orang yang mendekatiku atau Emma hanya karena mereka ingin sesuatu dariku. Jadi, wajar jika aku berhati-hati."

"Aku bukan salah satu dari mereka," Hawa menjawab tegas. "Jika Anda mengenal aku lebih baik, Anda akan tahu bahwa aku tidak pernah memanfaatkan siapa pun, apalagi seorang anak kecil yang membutuhkan kasih sayang."

"Berani sekali kau bicara seperti itu," Harrison berkomentar dengan nada dingin, meski ada sedikit penghargaan dalam tatapannya.

"Karena aku yakin dengan niatku," balas Hawa tanpa gentar. "Emma mengingatkanku pada ponakan sendiri, Nikki. Dia juga anak yang luar biasa dan membutuhkan perhatian. Aku melakukan ini karena aku peduli, bukan karena ada keuntungan yang aku harapkan."

Harrison terdiam, memandang Hawa dengan lebih serius. "Jadi, kau melakukan ini hanya karena dia mengingatkanmu pada ponakanmu?"

"Sebagian," jawab Hawa jujur. "Tapi sebagian besar karena Emma adalah anak yang istimewa. Dia butuh seseorang yang bisa mengerti dirinya. Itu saja."

Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, wajah Harrison melunak sedikit. "Baiklah," gumamnya. "Aku percaya padamu, untuk sekarang. Tapi ingat, Hawa, aku tidak akan mentolerir siapa pun yang menyakiti Emma, baik secara langsung maupun tidak langsung."

"Aku tidak pernah berniat menyakiti Emma," balas Hawa dengan tegas.

"Bagus," Harrison mengangguk. "Dan satu hal lagi. Jangan biarkan Emma terlalu bergantung padamu. Aku tidak ingin dia menjadi terlalu lekat hingga menyulitkanmu."

Hawa tersenyum kecil, mencoba mengendurkan suasana yang tegang. "Aku rasa itu sudah terlambat, Tuan Harrison. Emma sudah sangat lengket denganku."

Harrison mendengus pelan, hampir seperti tawa kecil. "Benar. Dia memang anak keras kepala."

"Sepertinya itu menurun dari papanya," gumam Hawa dengan nada setengah bercanda, meski langsung menyesali ucapannya ketika Harrison menatapnya tajam.

Namun, Harrison tidak berkata apa-apa, hanya menatap Hawa dengan ekspresi yang sulit diartikan. Akhirnya, ia mengangguk pelan. "Baiklah. Kau boleh kembali ke kamarmu. Istirahatlah. Kau pasti lelah setelah hari yang panjang."

Hawa berdiri, sedikit membungkuk sebagai tanda hormat. "Selamat malam, Tuan Harrison."

Saat Hawa keluar dari ruang kerja, ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdegup kencang. Percakapan itu jauh lebih menegangkan dari yang ia bayangkan. Namun, ia juga merasa lega karena setidaknya, Harrison mulai mempercayainya—meski hanya sedikit.

Bersambung.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Jangan lupa ya, like komentarnya kalian.

Terima kasih.

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Diih Amnesia kamu pak,Kamu yg ngenyel minta Hawa utk tetap sini,Sedangkan Hawanya aja gak mau.. Sekarang malah nuduh Hawa mendekati anakmu dgn keuntungan pribadi,Gak kebalik tuh pak..

2025-02-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Pertemuan Terburuk
2 Bab 2: Pusingnya Hawa
3 Bab 3: Permintaan Emma
4 Bab 4: Izin yang Alot
5 Bab 5: Lengketnya Emma
6 Bab 6: Tragedi di Sekolah
7 Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8 Bab 8: Hawa Dicegat
9 Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10 Bab 10: Aksi Harrison
11 Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12 Bab 12: Gosip yang Menyebar
13 Bab 13: Sidak Dylan
14 Bab 14 – Kejutan Liburan
15 Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16 Bab 16: Tidak Terduga
17 Bab 17: Cerita Emma
18 Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19 Bab 19: Hawa Tersipu
20 Bab 20: Keberanian Harrison
21 Bab 21 - Bicara Berdua
22 Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23 Bab 23: Jemput Emma
24 Bab 24: Rindu Mendalam
25 Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26 Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27 Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28 Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29 Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30 Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31 Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32 Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33 Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34 Bab 34: Malam Syahdu
35 Bab 35: Keseruan Sarapan
36 Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37 Bab 37: Welcome to Maldives
38 Bab 38 : Hawa kelelahan.
39 Bab 39 Borong Oleh oleh
40 Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41 Bab 41: Kembali Pulang
42 Bab 42: Rindunya Emma
43 Bab 43 : Ella menculik Emma.
44 Bab 44 – Emma Menangis Terus
45 Bab 45 – Penyelamatan Emma
46 Bab 46 : Kehamilan Hawa
47 Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48 Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49 Bab 49 – Kematian Victoria
50 Bab 50 – Sialnya Ella
51 Bab 51 – Ancaman Harrison
52 Bab 52 – Aksi Harrison
53 Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54 Bab 54 – Kawan vs Lawan
55 Bab 55 – Sayangnya Hawa
56 Bab 56 – Rencana Liam
57 Bab 57 – Rencana Harrison
58 Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59 Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60 Bab 60: Hawa Bahagia
61 Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62 Bab 62 - Liliana Merajuk
63 Bab 63 - Liliana Curhat
64 Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65 Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66 Bab 66 - Harrison Menang
67 Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68 Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69 Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70 Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71 Bab 71: Serangan Lanjutan
72 Bab 72: Keberhasilan Harrison
73 Bab 73: Liam dan Liliana
74 Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75 Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76 Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77 Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78 Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79 Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80 promo karya terbaru
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1: Pertemuan Terburuk
2
Bab 2: Pusingnya Hawa
3
Bab 3: Permintaan Emma
4
Bab 4: Izin yang Alot
5
Bab 5: Lengketnya Emma
6
Bab 6: Tragedi di Sekolah
7
Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8
Bab 8: Hawa Dicegat
9
Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10
Bab 10: Aksi Harrison
11
Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12
Bab 12: Gosip yang Menyebar
13
Bab 13: Sidak Dylan
14
Bab 14 – Kejutan Liburan
15
Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16
Bab 16: Tidak Terduga
17
Bab 17: Cerita Emma
18
Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19
Bab 19: Hawa Tersipu
20
Bab 20: Keberanian Harrison
21
Bab 21 - Bicara Berdua
22
Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23
Bab 23: Jemput Emma
24
Bab 24: Rindu Mendalam
25
Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26
Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27
Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28
Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29
Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30
Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31
Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32
Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33
Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34
Bab 34: Malam Syahdu
35
Bab 35: Keseruan Sarapan
36
Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37
Bab 37: Welcome to Maldives
38
Bab 38 : Hawa kelelahan.
39
Bab 39 Borong Oleh oleh
40
Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41
Bab 41: Kembali Pulang
42
Bab 42: Rindunya Emma
43
Bab 43 : Ella menculik Emma.
44
Bab 44 – Emma Menangis Terus
45
Bab 45 – Penyelamatan Emma
46
Bab 46 : Kehamilan Hawa
47
Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48
Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49
Bab 49 – Kematian Victoria
50
Bab 50 – Sialnya Ella
51
Bab 51 – Ancaman Harrison
52
Bab 52 – Aksi Harrison
53
Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54
Bab 54 – Kawan vs Lawan
55
Bab 55 – Sayangnya Hawa
56
Bab 56 – Rencana Liam
57
Bab 57 – Rencana Harrison
58
Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59
Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60
Bab 60: Hawa Bahagia
61
Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62
Bab 62 - Liliana Merajuk
63
Bab 63 - Liliana Curhat
64
Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65
Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66
Bab 66 - Harrison Menang
67
Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68
Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69
Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70
Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71
Bab 71: Serangan Lanjutan
72
Bab 72: Keberhasilan Harrison
73
Bab 73: Liam dan Liliana
74
Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75
Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76
Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77
Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78
Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79
Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!