Bab 2: Pusingnya Hawa

Hawa Harper berdiri di depan pintu rumahnya dengan napas tersengal, matanya memandang tajam pada pria yang kini duduk di sofa ruang tamunya. Harrison Noah, pria yang wajahnya keras dan penuh luka itu, tetap memancarkan aura dingin meski tubuhnya terlihat lemah. Di sampingnya, Emma, anak perempuannya yang baru berusia tujuh tahun, terbaring dengan luka di dahi yang sudah ia balut dengan rapi dn beberapa luka di tangannya yang sudah rapih di perban. Namun, itu belum cukup membuat hati Hawa tenang.

Setelah malam penuh ketegangan itu, Harrison memaksa Hawa membawa mereka ke rumahnya alih-alih ke rumah Bab 2: Pusingnya Hawa di rumahnya, dan ia harus memastikan mereka baik-baik saja, sambil menjaga rahasia besar yang mungkin bisa menghancurkan hidupnya.

“Dengar, Tuan Noah,” kata Hawa sambil melipat tangannya di dada. “Aku sudah melakukan semua ini atas dasar rasa kemanusiaan. Tapi aku harus tahu, kenapa Anda tidak mau ke rumah sakit? Apa yang sebenarnya Anda sembunyikan?”

Harrison menatapnya dengan dingin, tatapannya seakan bisa menembus jiwa. “Semakin sedikit orang yang tahu, semakin baik. Itu saja yang perlu kau ketahui,” katanya pendek.

Hawa mendesah panjang. “Tuan, aku paham Anda punya alasan. Tapi Anda harus tahu, ini rumahku. Jika orang tuaku tahu ada pria asing dan anak kecil di sini, apa yang harus aku katakan?”

Harrison mendongak, menatap Hawa dengan tajam. “Bilang saja aku saudara temanmu yang membutuhkan bantuan. Kau cukup pandai bicara, bukan? Jangan seolah kamu tidak paham!”

“Tuan!” seru Hawa, suaranya meninggi. “Ini bukan lelucon! Aku bisa kehilangan pekerjaan kalau ini sampai ketahuan. Dan lagi, Anda siapa sebenarnya? Apa yang membuat Anda begitu takut untuk ditemukan?”

Harrison tersenyum tipis, tapi senyuman itu sama sekali tidak menenangkan. “Kau tidak perlu tahu siapa aku. Percayalah, semakin sedikit yang kau tahu, semakin aman kau dan keluargamu.”

"Pria aneh dan egois. Rasanya ingin sekali memukul kepalanya." batin Hawa.

Hawa menggelengkan kepala, merasa frustrasi. Ia ingin menolak, tapi tatapan Harrison yang penuh ancaman membuatnya bungkam. Sementara itu, Emma mulai bergerak kecil, membuka matanya perlahan.

“Mama…” suara kecil itu terdengar lirih, membuat hati Hawa mencelos.

Hawa langsung mendekat, membelai kepala gadis kecil itu dengan lembut. “Ssshh, sayang. Tidak apa-apa. Kamu aman di sini.” Akhirnya membuat Emma kembali terlelap tidur dengan tenang.

Harrison memperhatikan adegan itu tanpa berkata apa-apa, tapi matanya melembut sesaat sebelum kembali menegang. “Emma tidak boleh tahu apa pun,” katanya pelan, tapi penuh penekanan.

Hawa menatapnya tajam. “Tuan, aku bukan orang yang suka menyimpan rahasia, apalagi di rumah saya sendiri. Tapi baiklah, aku akan melakukannya. Tapi ini tidak bisa lama-lama. Aku akan merawat kalian sampai membaik. Setelah itu, Anda harus pergi. Dan biarkan aku kembali damai dan bekerja dengan bebas.”

Harrison tidak menjawab, hanya mengangguk kecil.

---

Hari-hari berikutnya terasa seperti neraka bagi Hawa. Setiap kali Papa Dylan Harper atau Mama Tamara Harper bertanya siapa tamu di rumah mereka, Hawa harus berbohong dengan hati berdebar.

“Siapa mereka, Hawa?” tanya Tamara suatu malam saat mereka sedang duduk di ruang makan. “Pria itu tampak... berbahaya. Kau yakin dia temanmu?”

Hawa menelan ludah. “Dia saudara dari teman kerja, Ma. Mereka kecelakaan, dan aku tidak tega meninggalkan mereka begitu saja.”

Tamara mengerutkan kening, tapi akhirnya mengangguk. “Kamu ini terlalu baik, Hawa. Tapi hati-hati, ya. Jangan sampai kebaikanmu dimanfaatkan. Mama hanya pesan itu, karena kau sangat baik, Hawa.”

Hawa hanya tersenyum tipis. Ia tahu ibunya tidak akan pernah membayangkan betapa rumitnya situasi ini.

Di sisi lain, hubungan Hawa dan Harrison tetap penuh ketegangan. Setiap kali mereka bertukar kata, selalu diwarnai dengan argumen tajam.

“Tuan Noah, Anda harus makan. Tubuh Anda butuh energi untuk pulih,” kata Hawa suatu malam sambil membawa nampan makanan ke ruang tamu.

“Aku tidak lapar,” jawab Harrison tanpa menoleh.

Hawa mendengus kesal. “Dengar, Tuan. Kalau Anda mati kelaparan di rumahku, itu hanya akan membawa masalah besar bagiku. Jadi, makanlah!”

Harrison berbalik, menatapnya dengan tatapan yang begitu menusuk hingga Hawa hampir mundur. “Kau pikir aku tidak tahu bagaimana caranya bertahan hidup? Aku tidak butuh ceramah darimu.”

Hawa menahan napas, tapi ia tidak mau kalah. “Tuan, aku bukan ceramah. Aku hanya memastikan Anda dan anak Anda tetap hidup. Jadi, tolong, jangan buat segalanya lebih sulit dari yang sudah ada. Setidaknya menurut lah padaku.”

Untuk pertama kalinya, Harrison tidak menjawab. Ia mengambil nampan itu dengan satu tangan dan mulai makan dalam diam.

Emma, di sisi lain, mulai terbiasa dengan kehadiran Hawa. Gadis kecil itu sering meminta Hawa untuk duduk bersamanya, bahkan memeluknya saat tidur. Hal itu membuat hati Hawa hangat, meski ia tahu ini hanya sementara.

---

Seminggu berlalu, dan kondisi Harrison serta Emma semakin membaik. Luka-luka mereka sudah mengering, dan Hawa mulai merasa lega. Namun, ada sesuatu yang membuatnya gelisah. Harrison tidak pernah menyentuh ponsel atau meminta bantuan dari siapa pun. Bahkan, ia tidak pernah keluar rumah.

Suatu pagi, saat mereka sedang sarapan, Hawa akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. “Tuan Noah, sudah seminggu Anda di sini. Bukankah seharusnya Anda menghubungi keluarga atau teman Anda?”

Harrison menatapnya dengan dingin. “Aku akan pergi hari ini. Tapi kau harus mengantarku.”

Hawa mengernyit. “Mengantar ke mana?”

“Ke rumahku,” jawab Harrison singkat.

Hawa terdiam. Ia tidak tahu harus merasa lega atau khawatir. Namun, ia tidak punya pilihan selain mengikuti permintaannya.

---

Saat Hawa mengantar Harrison dan Emma ke alamat yang ia berikan, ia terkejut melihat sebuah rumah besar dengan gerbang tinggi dan penjagaan ketat. Mobilnya terasa begitu kecil saat melewati jalan masuk yang panjang.

“Kau tinggal di sini?” tanya Hawa, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan.

Harrison hanya mengangguk. Saat mobil berhenti, beberapa pria berjas hitam segera menghampiri. Mereka tampak terkejut melihat Harrison dan Emma, tapi tidak mengatakan apa-apa.

“Terima kasih atas bantuanmu,” kata Harrison dingin sebelum keluar dari mobil, membawa Emma di pelukannya.

Namun, sebelum Hawa sempat pergi, salah satu pria berjas hitam menghampiri. “Maaf, Nona. Tuan Harrison ingin Anda masuk sebentar.”

Hawa menatap pria itu dengan bingung. “Apa maksud Anda? Aku hanya membantu mereka. Tidak ada urusan lain.”

Pria itu tidak menjawab, hanya membuka pintu mobilnya. Dengan enggan, Hawa mengikuti. Ia tidak tahu apa yang menantinya di dalam rumah mewah itu, tapi firasatnya mengatakan, ini adalah awal dari masalah yang jauh lebih besar.

Bersambung.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terima kasih atas dukungan kalian ya.

Terpopuler

Comments

💝F&N💝

💝F&N💝

baru tengok, thor.

2 episode ini ceritanya menarik untuk lanjut menyimak ke episode 3. dan semoga di episode episode selanjutnya, ceritanya tidak membosankan.😅😅😅😅🙏🏻🙏🏻🙏🏻

2025-01-30

1

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Ckk si Hawa juga ngotot banget pengen tau,Bilang aja sodara temen perlukan pertolongan,gampang kan,..

2025-02-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Pertemuan Terburuk
2 Bab 2: Pusingnya Hawa
3 Bab 3: Permintaan Emma
4 Bab 4: Izin yang Alot
5 Bab 5: Lengketnya Emma
6 Bab 6: Tragedi di Sekolah
7 Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8 Bab 8: Hawa Dicegat
9 Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10 Bab 10: Aksi Harrison
11 Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12 Bab 12: Gosip yang Menyebar
13 Bab 13: Sidak Dylan
14 Bab 14 – Kejutan Liburan
15 Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16 Bab 16: Tidak Terduga
17 Bab 17: Cerita Emma
18 Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19 Bab 19: Hawa Tersipu
20 Bab 20: Keberanian Harrison
21 Bab 21 - Bicara Berdua
22 Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23 Bab 23: Jemput Emma
24 Bab 24: Rindu Mendalam
25 Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26 Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27 Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28 Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29 Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30 Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31 Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32 Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33 Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34 Bab 34: Malam Syahdu
35 Bab 35: Keseruan Sarapan
36 Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37 Bab 37: Welcome to Maldives
38 Bab 38 : Hawa kelelahan.
39 Bab 39 Borong Oleh oleh
40 Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41 Bab 41: Kembali Pulang
42 Bab 42: Rindunya Emma
43 Bab 43 : Ella menculik Emma.
44 Bab 44 – Emma Menangis Terus
45 Bab 45 – Penyelamatan Emma
46 Bab 46 : Kehamilan Hawa
47 Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48 Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49 Bab 49 – Kematian Victoria
50 Bab 50 – Sialnya Ella
51 Bab 51 – Ancaman Harrison
52 Bab 52 – Aksi Harrison
53 Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54 Bab 54 – Kawan vs Lawan
55 Bab 55 – Sayangnya Hawa
56 Bab 56 – Rencana Liam
57 Bab 57 – Rencana Harrison
58 Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59 Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60 Bab 60: Hawa Bahagia
61 Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62 Bab 62 - Liliana Merajuk
63 Bab 63 - Liliana Curhat
64 Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65 Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66 Bab 66 - Harrison Menang
67 Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68 Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69 Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70 Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71 Bab 71: Serangan Lanjutan
72 Bab 72: Keberhasilan Harrison
73 Bab 73: Liam dan Liliana
74 Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75 Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76 Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77 Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78 Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79 Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80 promo karya terbaru
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1: Pertemuan Terburuk
2
Bab 2: Pusingnya Hawa
3
Bab 3: Permintaan Emma
4
Bab 4: Izin yang Alot
5
Bab 5: Lengketnya Emma
6
Bab 6: Tragedi di Sekolah
7
Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8
Bab 8: Hawa Dicegat
9
Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10
Bab 10: Aksi Harrison
11
Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12
Bab 12: Gosip yang Menyebar
13
Bab 13: Sidak Dylan
14
Bab 14 – Kejutan Liburan
15
Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16
Bab 16: Tidak Terduga
17
Bab 17: Cerita Emma
18
Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19
Bab 19: Hawa Tersipu
20
Bab 20: Keberanian Harrison
21
Bab 21 - Bicara Berdua
22
Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23
Bab 23: Jemput Emma
24
Bab 24: Rindu Mendalam
25
Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26
Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27
Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28
Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29
Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30
Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31
Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32
Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33
Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34
Bab 34: Malam Syahdu
35
Bab 35: Keseruan Sarapan
36
Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37
Bab 37: Welcome to Maldives
38
Bab 38 : Hawa kelelahan.
39
Bab 39 Borong Oleh oleh
40
Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41
Bab 41: Kembali Pulang
42
Bab 42: Rindunya Emma
43
Bab 43 : Ella menculik Emma.
44
Bab 44 – Emma Menangis Terus
45
Bab 45 – Penyelamatan Emma
46
Bab 46 : Kehamilan Hawa
47
Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48
Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49
Bab 49 – Kematian Victoria
50
Bab 50 – Sialnya Ella
51
Bab 51 – Ancaman Harrison
52
Bab 52 – Aksi Harrison
53
Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54
Bab 54 – Kawan vs Lawan
55
Bab 55 – Sayangnya Hawa
56
Bab 56 – Rencana Liam
57
Bab 57 – Rencana Harrison
58
Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59
Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60
Bab 60: Hawa Bahagia
61
Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62
Bab 62 - Liliana Merajuk
63
Bab 63 - Liliana Curhat
64
Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65
Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66
Bab 66 - Harrison Menang
67
Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68
Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69
Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70
Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71
Bab 71: Serangan Lanjutan
72
Bab 72: Keberhasilan Harrison
73
Bab 73: Liam dan Liliana
74
Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75
Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76
Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77
Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78
Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79
Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!