Bab 4: Izin yang Alot

Rumah keluarga Harper malam itu dipenuhi suasana hangat. Hawa, yang baru saja pulang kerja, langsung disambut aroma khas masakan ibunya, Tamara Harper. Dapur tampak sibuk dengan Tamara yang sedang menggoreng ikan, sementara Dylan Harper, sang ayah, duduk di ruang tamu menikmati teh hangat sambil membaca koran.

"Hawa, capek, ya? Sudah cuci tangan? Bantu Mama sebentar, Kak Benji sama keluarganya sudah mau sampai," kata Tamara dengan suara lembut, tetapi penuh semangat.

Hawa tersenyum, mengangguk, dan segera menggulung lengan bajunya. "Iya, Ma. Aku bantu potong sayur aja ya, biar cepat."

Tak lama kemudian, pintu depan terdengar diketuk. Benji Harper, kakak laki-laki Hawa, masuk bersama istrinya, Malika, dan anak mereka yang berusia tujuh tahun, Nikki. Nikki langsung berlari ke dapur begitu melihat Hawa.

"Tante Hawa! Aku kangen!" seru Nikki sambil memeluk Hawa erat.

Hawa tertawa dan mengusap rambut keponakannya yang lucu itu. "Tante juga kangen sama Nikki. Wah, tambah pintar aja nih!"

Setelah makan malam selesai, keluarga Harper berkumpul di ruang tamu. Nikki duduk manis di pangkuan Benji, sementara Malika sibuk menyuapkan buah ke mulut Nikki. Dylan Harper mengamati keluarganya dengan senyum puas.

Namun, Hawa terlihat gelisah. Ia berulang kali memainkan jemarinya, terlihat ragu ingin berbicara. Dylan, yang peka, segera menyadari hal itu. "Hawa, kamu seperti mau ngomong sesuatu. Apa itu, Nak?"

Semua mata tertuju ke Hawa. Dengan napas berat, ia mulai bicara. "Papa, Mama, aku mau minta izin. Aku diminta untuk tinggal sementara di rumah seseorang yang membutuhkan bantuan."

Tamara langsung menatap putrinya dengan khawatir. "Rumah siapa, Hawa? Apa yang sebenarnya terjadi?"

Hawa menggigit bibir, berusaha mencari kata-kata. "Ada seorang anak kecil, Ma. Namanya Emma. Dia... Dia sangat membutuhkan aku. Aku nggak tega meninggalkannya."

Benji ikut angkat bicara. "Tunggu, tunggu. Kenapa harus kamu? Apa nggak ada orang lain yang bisa membantu? Apa hubungannya anak itu dengan kamu?"

Hawa menjelaskan dengan hati-hati, menceritakan tentang pertemuannya dengan Emma tanpa memberikan terlalu banyak detail. Ia tahu harus menyembunyikan fakta tentang Harrison dan situasi kecelakaan itu.

"Aku tahu ini terdengar aneh, tapi anak itu sangat terikat denganku. Dia trauma dan hanya merasa nyaman kalau aku ada di dekatnya," kata Hawa dengan nada memohon.

Dylan mengerutkan dahi, mencoba mencerna penjelasan putrinya. "Hawa, ini bukan masalah sederhana. Tinggal di rumah orang asing? Kamu yakin ini keputusan yang tepat?"

"Aku sudah memikirkannya, Pa. Ini nggak akan lama, cuma sampai dia merasa lebih baik," jawab Hawa dengan tegas.

Tamara menatap Hawa dengan cemas. "Mama cuma takut terjadi sesuatu sama kamu, Nak. Kamu tahu kan, dunia sekarang ini penuh orang jahat."

Hawa menggenggam tangan ibunya. "Mama, percayalah. Aku tahu yang aku lakukan. Aku nggak akan membahayakan diriku sendiri."

Perdebatan itu berlangsung cukup lama, hingga suara ketukan pintu kembali terdengar. Dylan bangkit untuk membukanya, dan di depan pintu berdiri Emma, ditemani seorang sopir pribadi yang menunggu di mobil.

Emma melangkah masuk dengan boneka kesayangannya di tangan. Matanya langsung mencari Hawa. Begitu melihatnya, Emma berlari kecil dan memeluk Hawa erat-erat.

"Kak Hawa! Aku mau ikut Kak Hawa!" kata Emma dengan suara kecil, tetapi penuh emosi.

Semua anggota keluarga Harper tertegun melihat pemandangan itu. Nikki, yang penasaran, mendekati Emma dan memperkenalkan diri.

"Hai, aku Nikki. Kamu siapa?" tanya Nikki dengan senyuman lebar.

Emma memandang Nikki sejenak sebelum menjawab pelan, "Aku Emma."

Nikki tertawa kecil. "Kita seumuran, lho! Kamu suka main boneka? Aku suka mobilan besar."

Emma mengangguk pelan, masih memegang erat tangan Hawa. Nikki dengan cepat menarik tangan Emma dan mengajaknya duduk di lantai untuk bermain bersama.

Melihat kedekatan instan antara Emma dan Nikki, Tamara menyeka air matanya. "Dia manis sekali, Hawa. Mama ngerti sekarang kenapa kamu nggak tega meninggalkannya."

Dylan, yang sedari tadi memperhatikan dengan seksama, menghela napas panjang. "Baiklah, Nak. Kalau itu memang keputusanmu, Papa nggak akan menghalangi. Tapi Papa minta satu hal hati-hati. Jangan terlalu memaksakan diri."

Hawa mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Pa. Aku janji akan menjaga diri."

Tamara memeluk Hawa erat, sementara Benji mengacak rambut adiknya dengan senyum tipis. "Kamu memang nggak pernah bisa melihat orang lain menderita, ya," gumam Benji.

Emma, yang melihat keluarga Hawa begitu hangat, mulai merasa nyaman. Nikki terus mengajaknya bermain, sementara Tamara membawakan kue kecil untuk mereka nikmati.

Emma dan Nikki tampak bermain bersama di ruang tamu keluarga Harper. Nikki, meskipun biasanya lebih suka bermain sendiri, terlihat sangat ramah pada Emma. Ia dengan sabar menunjukkan koleksi mobil mainannya, Sesuatu yang jarang ia bagikan dengan orang lain.

"Emma, ini mobil balap favoritku. Kamu suka warna merah nggak?" tanya Nikki sambil menyerahkan sebuah mobil mainan kecil.

Emma mengangguk pelan. "Suka... Aku nggak punya mainan kayak gini di rumah," jawabnya dengan suara lembut.

Nikki tersenyum lebar. "Kalau kamu mau, kamu bisa pinjam. Nanti kalau kita ketemu lagi, kamu balikin, ya."

Emma memandang Nikki dengan mata berbinar, seolah tidak percaya. "Benar aku boleh pinjam?"

"Benar! Tapi jaga baik-baik, ya," kata Nikki dengan tegas, tetapi tetap ramah.

Hawa, yang memperhatikan interaksi itu dari kejauhan, tidak bisa menahan senyum. Ia merasa lega melihat Emma begitu nyaman berada di rumah keluarganya. Tamara, yang duduk di sebelahnya, berbisik pelan.

"Nikki jarang sekali mau berbagi mainannya, apalagi dengan anak yang baru ia kenal. Emma pasti punya tempat istimewa di hati Nikki."

Hawa hanya tersenyum, tetapi dalam hatinya ia setuju. Nikki dan Emma terlihat sangat cocok sebagai teman, dan melihat mereka bermain tanpa beban membuat Hawa merasa damai.

Namun, saat malam semakin larut, Hawa tahu waktunya untuk kembali ke rumah Harrison bersama Emma telah tiba. Dengan berat hati, ia memanggil Emma untuk bersiap.

"Emma, kita harus pulang sekarang," kata Hawa lembut.

Emma, yang sedang tertawa bersama Nikki, mendadak terdiam. Ia menatap Nikki dengan ekspresi sedih. "Aku nggak mau pulang, Kak Hawa. Aku mau di sini main sama Nikki."

Nikki, yang mendengar itu, juga terlihat kecewa. Ia berusaha menghibur Emma. "Nggak apa-apa, Emma. Kita bisa ketemu lagi nanti. Kamu harus nurut sama Kak Hawa, ya."

Emma menunduk, menggenggam erat mobil mainan yang dipinjamkan Nikki. "Aku suka di sini... Nikki baik sama aku."

Hawa berlutut di depan Emma, menyentuh bahunya dengan lembut. "Emma, aku janji kita akan datang lagi ke sini kalau ada waktu. Tapi sekarang kita harus pulang. Kamu nggak mau Papamu khawatir, kan?"

Emma mengangguk pelan, meski masih terlihat sedih. Ia lalu memeluk Nikki erat, dan Nikki, yang meski masih kecil, menepuk punggung Emma dengan penuh pengertian.

"Kamu teman terbaik aku, Emma. Nanti kalau ketemu lagi, kita main yang lebih seru, ya," ujar Nikki dengan senyum hangat.

"Janji?" tanya Emma, matanya berkaca-kaca.

"Janji!" jawab Nikki dengan tegas.

Saat Emma akhirnya digandeng Hawa menuju mobil, Nikki melambai penuh semangat dari teras rumah, mencoba menyemangati Emma. Tamara dan Dylan juga berdiri di depan rumah, melepas kepergian putri mereka dan Emma dengan senyum lembut.

"Jaga dirimu, Hawa. Jangan lupa kabari Mama dan Papa kalau ada apa-apa," pesan Dylan dengan suara tenang namun tegas.

Hawa mengangguk, menahan rasa haru di dadanya. "Iya, Pa. Terima kasih sudah mengizinkan aku membantu mereka."

Di dalam mobil, Emma terus memegang mobil mainan pemberian Nikki dengan erat. Meski tidak banyak bicara, senyumnya perlahan muncul kembali.

Hawa menghela napas lega saat di dalam mobil bersama Emma. Dalam hati, ia tahu bahwa meski perpisahan ini sementara, persahabatan yang baru terjalin antara Emma dan Nikki akan memberikan pengaruh besar pada keduanya. Dan meski berat, ia yakin keputusan ini adalah yang terbaik untuk semua pihak.

Bersambung.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hi semuanya, jangan lupa buat like dan komentarnya ya.

Terima kasih.

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Niasanya ortu akan melepaskan putri mereka di bawa menantu,Lha ini malah di Bawa Emma si bocil gemes,dan daddy nya gak tau kemana..🤣🤣

2025-02-17

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Nah ini bocil udah nongol aja,Kenapa gak Emma yg tinggal di sini.🤣

2025-02-17

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Nah kan langsung dapat temen main..🤣😜

2025-02-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Pertemuan Terburuk
2 Bab 2: Pusingnya Hawa
3 Bab 3: Permintaan Emma
4 Bab 4: Izin yang Alot
5 Bab 5: Lengketnya Emma
6 Bab 6: Tragedi di Sekolah
7 Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8 Bab 8: Hawa Dicegat
9 Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10 Bab 10: Aksi Harrison
11 Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12 Bab 12: Gosip yang Menyebar
13 Bab 13: Sidak Dylan
14 Bab 14 – Kejutan Liburan
15 Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16 Bab 16: Tidak Terduga
17 Bab 17: Cerita Emma
18 Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19 Bab 19: Hawa Tersipu
20 Bab 20: Keberanian Harrison
21 Bab 21 - Bicara Berdua
22 Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23 Bab 23: Jemput Emma
24 Bab 24: Rindu Mendalam
25 Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26 Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27 Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28 Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29 Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30 Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31 Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32 Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33 Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34 Bab 34: Malam Syahdu
35 Bab 35: Keseruan Sarapan
36 Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37 Bab 37: Welcome to Maldives
38 Bab 38 : Hawa kelelahan.
39 Bab 39 Borong Oleh oleh
40 Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41 Bab 41: Kembali Pulang
42 Bab 42: Rindunya Emma
43 Bab 43 : Ella menculik Emma.
44 Bab 44 – Emma Menangis Terus
45 Bab 45 – Penyelamatan Emma
46 Bab 46 : Kehamilan Hawa
47 Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48 Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49 Bab 49 – Kematian Victoria
50 Bab 50 – Sialnya Ella
51 Bab 51 – Ancaman Harrison
52 Bab 52 – Aksi Harrison
53 Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54 Bab 54 – Kawan vs Lawan
55 Bab 55 – Sayangnya Hawa
56 Bab 56 – Rencana Liam
57 Bab 57 – Rencana Harrison
58 Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59 Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60 Bab 60: Hawa Bahagia
61 Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62 Bab 62 - Liliana Merajuk
63 Bab 63 - Liliana Curhat
64 Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65 Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66 Bab 66 - Harrison Menang
67 Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68 Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69 Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70 Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71 Bab 71: Serangan Lanjutan
72 Bab 72: Keberhasilan Harrison
73 Bab 73: Liam dan Liliana
74 Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75 Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76 Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77 Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78 Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79 Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80 promo karya terbaru
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1: Pertemuan Terburuk
2
Bab 2: Pusingnya Hawa
3
Bab 3: Permintaan Emma
4
Bab 4: Izin yang Alot
5
Bab 5: Lengketnya Emma
6
Bab 6: Tragedi di Sekolah
7
Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8
Bab 8: Hawa Dicegat
9
Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10
Bab 10: Aksi Harrison
11
Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12
Bab 12: Gosip yang Menyebar
13
Bab 13: Sidak Dylan
14
Bab 14 – Kejutan Liburan
15
Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16
Bab 16: Tidak Terduga
17
Bab 17: Cerita Emma
18
Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19
Bab 19: Hawa Tersipu
20
Bab 20: Keberanian Harrison
21
Bab 21 - Bicara Berdua
22
Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23
Bab 23: Jemput Emma
24
Bab 24: Rindu Mendalam
25
Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26
Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27
Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28
Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29
Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30
Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31
Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32
Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33
Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34
Bab 34: Malam Syahdu
35
Bab 35: Keseruan Sarapan
36
Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37
Bab 37: Welcome to Maldives
38
Bab 38 : Hawa kelelahan.
39
Bab 39 Borong Oleh oleh
40
Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41
Bab 41: Kembali Pulang
42
Bab 42: Rindunya Emma
43
Bab 43 : Ella menculik Emma.
44
Bab 44 – Emma Menangis Terus
45
Bab 45 – Penyelamatan Emma
46
Bab 46 : Kehamilan Hawa
47
Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48
Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49
Bab 49 – Kematian Victoria
50
Bab 50 – Sialnya Ella
51
Bab 51 – Ancaman Harrison
52
Bab 52 – Aksi Harrison
53
Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54
Bab 54 – Kawan vs Lawan
55
Bab 55 – Sayangnya Hawa
56
Bab 56 – Rencana Liam
57
Bab 57 – Rencana Harrison
58
Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59
Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60
Bab 60: Hawa Bahagia
61
Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62
Bab 62 - Liliana Merajuk
63
Bab 63 - Liliana Curhat
64
Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65
Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66
Bab 66 - Harrison Menang
67
Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68
Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69
Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70
Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71
Bab 71: Serangan Lanjutan
72
Bab 72: Keberhasilan Harrison
73
Bab 73: Liam dan Liliana
74
Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75
Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76
Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77
Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78
Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79
Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!