Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu

"Hawa," suara Harrison memecah keheningan.

Hawa menoleh dengan cepat, sedikit terkejut. "Ya, Harrison?"

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu," katanya sambil berjalan mendekat.

Hawa merasa jantungnya mulai berdebar, tetapi ia tetap mencoba terlihat tenang. "Apa itu? Kau terdengar serius."

Harrison tersenyum, menatap Hawa dengan lembut. "Karena ini memang serius. Tapi sebelum itu, aku ingin kau tahu betapa aku menghargai setiap momen yang kita habiskan bersama, terutama melihat bagaimana kau menyayangi Emma."

Hawa tersenyum kecil, meski perasaannya mulai bercampur aduk. "Emma gadis yang luar biasa. Siapa pun akan jatuh hati padanya."

"Dan aku," Harrison melanjutkan, langkahnya semakin mendekat, "jatuh hati pada orang yang telah membuat Emma tertawa lagi. Orang yang telah mengisi kekosongan dalam hidupku tanpa aku sadari."

Hawa terdiam, matanya membulat. "Harrison..."

"Aku tahu ini mendadak," katanya, memotong. "Tapi aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku lagi. Aku mencintaimu, Hawa."

Hawa merasa dunia seolah berhenti. Kata-kata itu terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan. "Apa... apa kau serius?" tanyanya dengan suara bergetar.

Harrison mengangguk mantap. "Aku tidak pernah seyakini ini sebelumnya. Kau telah membawa cahaya ke dalam hidupku yang sudah lama gelap. Dan aku ingin kau tahu, perasaan ini bukan hanya untukku. Aku juga ingin Emma memiliki sosok ibu yang mencintainya seperti kau mencintainya."

Hawa terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Harrison mengambil kotak kecil dari saku jasnya dan membukanya, memperlihatkan seperangkat perhiasan berlian yang berkilau di bawah cahaya lampu balkon.

"Ini bukan lamaran," Harrison berkata pelan. "Belum. Tapi ini adalah simbol dari keseriusanku. Aku ingin kau tahu bahwa aku siap untuk menjalin hubungan yang lebih serius denganmu, jika kau bersedia."

Air mata menggenang di mata Hawa. Ia tidak tahu apakah ini kebahagiaan, keterkejutan, atau mungkin keduanya. "Harrison... aku..."

"Jangan jawab sekarang," potong Harrison lagi, senyum lembut menghiasi wajahnya. "Aku hanya ingin kau tahu bagaimana perasaanku. Aku ingin kau berpikir dengan tenang, tanpa tekanan."

Hawa mengangguk pelan, mengambil kotak perhiasan itu dengan tangan gemetar. "Aku tidak tahu harus berkata apa. Ini semua terasa begitu... mendadak."

"Aku mengerti," jawab Harrison. "Tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu atau Emma lagi. Kau adalah bagian dari hidup kami sekarang."

Setelah menyerahkan kotak perhiasan itu, Harrison menggenggam tangan Hawa dengan erat, membawa wanita itu kembali masuk ke kamar Harrison. Langkahnya mantap, tapi penuh kehangatan, seolah tidak ingin melepaskan momen ini begitu saja.

Begitu Hawa masuk ke kamar, matanya langsung membesar. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kelopak bunga mawar merah tersebar di lantai, membentuk jalur menuju meja kecil di sudut ruangan yang dihiasi lilin-lilin berpendar lembut. Di meja itu, ada dua gelas anggur kosong, sebotol sparkling cider, dan sebuah buket mawar putih yang terlihat segar.

"Harrison... apa semua ini?" tanyanya dengan suara gemetar.

Harrison, yang berdiri di belakangnya, tersenyum kecil. "Ini adalah caraku mengucapkan terima kasih atas semua yang telah kau lakukan untukku dan Emma. Aku ingin malam ini menjadi malam yang istimewa untukmu, Hawa."

Hawa merasa wajahnya memanas. "Aku... aku tidak tahu harus berkata apa."

Harrison menggenggam tangan Hawa lebih erat, membimbingnya menuju sofa kecil di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Dubai Di malam hari. Angin malam yang sejuk masuk melalui celah kecil di pintu balkon, menciptakan suasana yang begitu syahdu.

Setelah duduk di sofa, Harrison menatap Hawa dengan lembut. Matanya begitu dalam, seolah mencari sesuatu di balik tatapan wanita itu. Hawa merasa hatinya berdebar hebat. "Hawa," Harrison memulai dengan suara pelan tapi tegas, "aku tahu ini mungkin terlalu cepat bagimu. Tapi aku ingin kau tahu, aku tidak pernah merasa seaman ini bersama seseorang sejak... sejak lama."

Hawa mengerutkan kening, bingung. "Apa maksudmu?"

Harrison menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Setelah pernikahan pertamaku berakhir, aku berpikir tidak akan pernah ada lagi ruang untuk cinta dalam hidupku. Aku menutup diri, bukan hanya untuk orang lain, tapi juga untuk kebahagiaan yang seharusnya kumiliki. Tapi kemudian kau datang, dan semuanya berubah."

Hawa merasa air matanya mulai menggenang. Ia tidak tahu apakah ini kebahagiaan, keterkejutan, atau mungkin keduanya. "Harrison... aku..."

Harrison mengangkat tangannya, menyentuh pipi Hawa dengan lembut. "Aku tahu kau mungkin merasa ini terlalu mendadak, tapi aku ingin kau tahu betapa berharganya dirimu bagiku. Bukan hanya karena kau ada untuk Emma, tapi juga karena kau membuatku ingin menjadi pria yang lebih baik."

Hawa terdiam. Ia bisa merasakan kehangatan dari tangan Harrison di pipinya, dan itu membuatnya merasa begitu dihargai.

Harrison tersenyum kecil sebelum melanjutkan, "Aku tahu aku mungkin tidak sempurna, tapi aku ingin mencoba. Aku ingin mencoba memberikan yang terbaik untukmu, untuk kita."

Hawa hanya bisa menatap Harrison, tidak mampu berkata apa-apa. Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua.

Melihat Hawa terdiam, Harrison berdiri dan berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan. Ia menuangkan sparkling cider ke dalam dua gelas, lalu kembali ke sofa dan menyerahkan salah satu gelas kepada Hawa.

"Untuk kita," kata Harrison sambil mengangkat gelasnya sedikit.

Hawa tersenyum kecil, meski hatinya masih bergejolak. "Untuk kita," balasnya pelan, sebelum menyesap minuman di tangannya.

Keheningan kembali melingkupi mereka, tapi kali ini bukan keheningan yang canggung. Itu adalah keheningan yang penuh makna, seolah-olah tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan apa yang mereka rasakan.

Setelah beberapa saat, Harrison berdiri dan mengulurkan tangannya pada Hawa. "Ayo, aku ingin menunjukkan sesuatu."

Hawa menatapnya dengan bingung. "Menunjukkan apa?"

Harrison hanya tersenyum misterius. "Percayalah padaku."

Dengan ragu, Hawa meletakkan gelasnya di atas meja dan menerima uluran tangan Harrison. Ia membimbingnya keluar ke balkon, di mana meja kecil dengan lilin dan kursi telah disiapkan. Langit malam yang cerah menjadi latar belakang yang sempurna.

Harrison menarik kursi untuk Hawa sebelum duduk di kursi di depannya. Ia menatap wanita itu dengan intens, membuat Hawa merasa wajahnya kembali memanas.

"Hawa," Harrison memulai, suaranya lembut tapi penuh keyakinan, "aku tahu aku bukan pria yang sempurna. Aku punya banyak kekurangan, dan aku tahu aku tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi aku ingin mencoba, untuk masa depan."

Hawa merasa air matanya mulai mengalir. "Harrison, aku..."

Harrison mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Hawa membiarkannya menyelesaikan kalimatnya. "Aku ingin kau tahu bahwa aku siap mencoba lagi. Aku siap untuk memberikan kesempatan pada cinta, dan aku ingin itu bersamamu."

Hawa terdiam, hatinya berdebar hebat. Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

"Hawa," Harrison melanjutkan, "aku tahu ini mungkin terlalu cepat, tapi aku ingin kau tahu betapa berharganya dirimu bagiku. Bukan hanya karena kau ada untuk Emma, tapi juga karena kau membuatku ingin menjadi pria yang lebih baik."

Hawa tidak bisa menahan air matanya lagi. "Harrison, aku tidak tahu harus berkata apa."

"Katakan saja apa yang ada di hatimu," jawab Harrison lembut.

Hawa menghapus air matanya dan tersenyum kecil. "Aku tidak tahu bagaimana perasaan ini bisa tumbuh begitu cepat, tapi aku tidak bisa menyangkalnya. Kau membuatku merasa begitu dihargai, begitu berarti. Rasanya aku tidak sopan denganmu hanya memanggil nama saja, bagaimana jika aku panggil Mas?"

Harrison tersenyum lebar, dan tanpa sadar, ia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Hawa di atas meja. "Aku suka dengan panggilan itu. Karena kau memang berarti, Hawa. Bukan hanya untukku, tapi juga untuk Emma. Dan aku tidak ingin kehilanganmu."

Di bawah langit Dubai yang bertabur bintang, Hawa dan Harrison saling membuka hati mereka. Itu adalah awal dari sesuatu yang baru, sesuatu yang indah, dan sesuatu yang mereka tahu akan membawa mereka pada kebahagiaan yang lebih besar.

"Hawa..." Harrison berbisik, suaranya penuh emosi.

"Ya?" jawab Hawa dengan suara yang hampir tidak terdengar.

"Aku ingin kau tahu, aku tidak hanya serius tentang perasaanku. Aku juga telah memastikan bahwa masa laluku tidak akan pernah memengaruhi masa depan kita."

Hawa mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"Aku meminta Ares untuk menyelidiki keluargamu, dan aku akan membuka hubungan ini dengan kejujuran," Harrison mengakui. "Bukan karena aku meragukanmu, tapi karena aku tidak ingin kejadian masa laluku terulang lagi. Aku ingin memastikan bahwa tidak ada apa pun yang bisa menghalangi kita untuk bahagia."

Hawa terkejut, tetapi juga tersentuh oleh keseriusannya. "Dan... apa yang kau temukan?"

Harrison tersenyum lembut. "Keluargamu luar biasa. Mereka adalah orang-orang yang jujur dan pekerja keras. Aku tidak menemukan apa pun yang bisa membuatku ragu."

Air mata mengalir di pipi Hawa. Ia merasa tidak pernah dihargai seperti ini sebelumnya. "Terima kasih, Mas Harrison. Kau tidak tahu betapa banyak hal ini berarti bagiku."

Harrison menghapus air mata di pipi Hawa dengan ibu jarinya, lalu tersenyum lembut. "Malam ini adalah awal dari sesuatu yang baru untuk kita, Hawa. Sesuatu yang indah."

Mereka berdiri di sana, di tengah kamar yang penuh kehangatan, membiarkan perasaan mereka saling berbicara tanpa kata-kata. Untuk pertama kalinya, Hawa merasa bahwa ia benar-benar menemukan tempatnya di dunia ini.

Bersambung.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hi semuanya, jangan lupa like dan komentarnya ya.

Terima kasih.

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Wooww gak nyanka kulkas 20 pintu ternyata bisa romantis juga .🤣🤣

2025-02-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Pertemuan Terburuk
2 Bab 2: Pusingnya Hawa
3 Bab 3: Permintaan Emma
4 Bab 4: Izin yang Alot
5 Bab 5: Lengketnya Emma
6 Bab 6: Tragedi di Sekolah
7 Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8 Bab 8: Hawa Dicegat
9 Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10 Bab 10: Aksi Harrison
11 Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12 Bab 12: Gosip yang Menyebar
13 Bab 13: Sidak Dylan
14 Bab 14 – Kejutan Liburan
15 Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16 Bab 16: Tidak Terduga
17 Bab 17: Cerita Emma
18 Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19 Bab 19: Hawa Tersipu
20 Bab 20: Keberanian Harrison
21 Bab 21 - Bicara Berdua
22 Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23 Bab 23: Jemput Emma
24 Bab 24: Rindu Mendalam
25 Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26 Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27 Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28 Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29 Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30 Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31 Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32 Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33 Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34 Bab 34: Malam Syahdu
35 Bab 35: Keseruan Sarapan
36 Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37 Bab 37: Welcome to Maldives
38 Bab 38 : Hawa kelelahan.
39 Bab 39 Borong Oleh oleh
40 Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41 Bab 41: Kembali Pulang
42 Bab 42: Rindunya Emma
43 Bab 43 : Ella menculik Emma.
44 Bab 44 – Emma Menangis Terus
45 Bab 45 – Penyelamatan Emma
46 Bab 46 : Kehamilan Hawa
47 Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48 Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49 Bab 49 – Kematian Victoria
50 Bab 50 – Sialnya Ella
51 Bab 51 – Ancaman Harrison
52 Bab 52 – Aksi Harrison
53 Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54 Bab 54 – Kawan vs Lawan
55 Bab 55 – Sayangnya Hawa
56 Bab 56 – Rencana Liam
57 Bab 57 – Rencana Harrison
58 Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59 Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60 Bab 60: Hawa Bahagia
61 Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62 Bab 62 - Liliana Merajuk
63 Bab 63 - Liliana Curhat
64 Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65 Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66 Bab 66 - Harrison Menang
67 Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68 Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69 Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70 Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71 Bab 71: Serangan Lanjutan
72 Bab 72: Keberhasilan Harrison
73 Bab 73: Liam dan Liliana
74 Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75 Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76 Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77 Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78 Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79 Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80 promo karya terbaru
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1: Pertemuan Terburuk
2
Bab 2: Pusingnya Hawa
3
Bab 3: Permintaan Emma
4
Bab 4: Izin yang Alot
5
Bab 5: Lengketnya Emma
6
Bab 6: Tragedi di Sekolah
7
Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8
Bab 8: Hawa Dicegat
9
Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10
Bab 10: Aksi Harrison
11
Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12
Bab 12: Gosip yang Menyebar
13
Bab 13: Sidak Dylan
14
Bab 14 – Kejutan Liburan
15
Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16
Bab 16: Tidak Terduga
17
Bab 17: Cerita Emma
18
Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19
Bab 19: Hawa Tersipu
20
Bab 20: Keberanian Harrison
21
Bab 21 - Bicara Berdua
22
Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23
Bab 23: Jemput Emma
24
Bab 24: Rindu Mendalam
25
Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26
Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27
Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28
Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29
Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30
Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31
Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32
Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33
Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34
Bab 34: Malam Syahdu
35
Bab 35: Keseruan Sarapan
36
Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37
Bab 37: Welcome to Maldives
38
Bab 38 : Hawa kelelahan.
39
Bab 39 Borong Oleh oleh
40
Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41
Bab 41: Kembali Pulang
42
Bab 42: Rindunya Emma
43
Bab 43 : Ella menculik Emma.
44
Bab 44 – Emma Menangis Terus
45
Bab 45 – Penyelamatan Emma
46
Bab 46 : Kehamilan Hawa
47
Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48
Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49
Bab 49 – Kematian Victoria
50
Bab 50 – Sialnya Ella
51
Bab 51 – Ancaman Harrison
52
Bab 52 – Aksi Harrison
53
Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54
Bab 54 – Kawan vs Lawan
55
Bab 55 – Sayangnya Hawa
56
Bab 56 – Rencana Liam
57
Bab 57 – Rencana Harrison
58
Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59
Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60
Bab 60: Hawa Bahagia
61
Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62
Bab 62 - Liliana Merajuk
63
Bab 63 - Liliana Curhat
64
Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65
Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66
Bab 66 - Harrison Menang
67
Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68
Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69
Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70
Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71
Bab 71: Serangan Lanjutan
72
Bab 72: Keberhasilan Harrison
73
Bab 73: Liam dan Liliana
74
Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75
Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76
Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77
Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78
Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79
Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!