Bab 9: Emma Mogok dan Manja

Pagi hari, suasana di rumah Harrison berubah menjadi sedikit tegang. Biasanya, Emma adalah anak yang paling bersemangat bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Namun, pagi ini, gadis kecil itu duduk di sofa dengan wajah cemberut, tangan terlipat di dada, dan tatapan tajam yang diarahkan pada semua orang yang berani memanggilnya.

“Emma, Sayang, kamu kenapa tidak bersiap-siap? Kak Hawa sudah siapkan sarapan favoritmu, lho,” Hawa berkata lembut sambil duduk di samping Emma, mencoba memancing reaksi.

Namun, Emma hanya menggeleng. “Aku libur sekolah.”

Hawa menatap Emma dengan penuh perhatian. “Kenapa? Kamu sakit?”

Emma menggeleng lagi, kali ini dengan lebih keras. “Aku libur di sekolah dan aku mau ikut Kak Hawa ke rumah sakit!”

Harrison yang sedang membaca koran di ruang makan langsung mengangkat kepalanya. “Emma, jika kamu libur maka dirumah saja. Jangan ganggu Hawa, dia mempunyai tanggungjawab di rumah sakit.”

Emma tidak terpengaruh. Dia malah melompat dari sofa dan langsung memeluk Hawa erat-erat. “Aku nggak mau dirumah, Papa. Aku mau sama Kak Hawa!”

Hawa berusaha melepaskan pelukan Emma dengan lembut, tetapi gadis kecil itu semakin erat memeluk pinggangnya. “Emma, Sayang, kamu tahu kan dirumah sakit tidak baik buatmu untuk menunggu. Disana adalah tempat orang sakit.”

Emma memandang Hawa dengan mata berkaca-kaca. “Aku nggak peduli! Aku cuma mau sama Kak Hawa!”

Harrison meletakkan korannya, berdiri, dan berjalan mendekati mereka. Dia menatap putrinya dengan tegas. “Emma, apa yang kamu lakukan ini tidak sopan. Kak Hawa punya tanggung jawab lain di rumah sakit. Kamu nggak bisa memaksanya seperti ini.”

“Tapi, Papa!” Emma merengek, suaranya mulai pecah karena emosi. "Aku takut dirumah sendiri. Aku takut seperti disekolah."

Mendengar itu, Hawa langsung memeluk Emma erat-erat, menyadari ketakutan gadis kecil itu yang masih membekas sejak tragedi terakhir di sekolahnya. “Sayang, nggak akan ada lagi orang jahat mengganggu di sekolahmu. Papa sudah memastikan semuanya aman, kan, Tuan Harrison?”

Harrison mendengus pelan, mencoba menenangkan dirinya sebelum menjawab. “Emma, Papa sudah memastikan pihak sekolah meningkatkan keamanan. Tidak akan ada yang bisa menyakiti kamu lagi.”

Namun, Emma tetap tidak terpengaruh. “Aku nggak percaya. Aku cuma percaya Kak Hawa bisa jaga aku!”

Hawa menatap Harrison, mencoba mencari solusi. “Mungkin biarkan dia ikut saya hari ini saja, Tuan Harrison. Lagipula, sekolah memang sedang libur untuk tiga hari ke depan.”

“Dan kamu pikir itu ide yang bagus?” Harrison menatap Hawa dengan penuh ketidaksetujuan. “Emma nggak bisa terus-terusan mendapatkan apa yang dia mau. Dia harus belajar menghadapi kenyataan.”

“Tapi ini hanya tiga hari,” ujar Hawa lembut, mencoba menenangkan Harrison. “Dan selama di rumah sakit, Emma bisa belajar banyak hal baru. Aku akan memastikan dia tidak mengganggu pekerjaanku.”

Harrison terdiam, menatap Hawa dalam-dalam, sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Baiklah. Tapi kalau Emma membuat masalah, aku akan langsung menjemputnya.”

Emma yang mendengar itu langsung melompat kegirangan. “Terima kasih, Papa! Terima kasih, Kak Hawa!”

***

Di Rumah Sakit

Ketika tiba di rumah sakit, Emma terlihat sangat antusias. Gadis kecil itu terus mengikuti Hawa seperti bayangan, memerhatikan setiap gerakan Hawa dengan penuh minat.

“Kak Hawa, itu apa?” tanya Emma sambil menunjuk sebuah alat di ruang perawatan anak.

“Itu namanya stetoskop, Sayang. Alat ini dipakai untuk mendengar detak jantung dan pernapasan pasien,” jawab Hawa sabar sambil tersenyum.

Emma mengangguk dengan ekspresi penasaran. “Aku boleh coba nggak?”

Hawa tersenyum. “Nanti, ya. Kalau Kakak sedang tidak sibuk, Kakak akan tunjukkan cara pakainya.”

Namun, suasana berubah ketika seorang dokter muda, Dokter Hakim, datang menghampiri Hawa. Dokter itu membawa beberapa berkas di tangannya dan menyunggingkan senyum lebar.

“Suster Hawa, tolong bantu saya memeriksa pasien di ruang empat,” katanya sambil menyerahkan berkas kepada Hawa.

“Baik, Dokter Hakim. Saya akan segera ke sana,” jawab Hawa profesional.

Emma, yang memperhatikan interaksi itu dari samping, mengerutkan alis. Ketika Dokter Hakim berbalik untuk pergi, gadis kecil itu mendekat ke Hawa dan berbisik, “Kak Hawa, aku nggak suka dokter itu.”

Hawa menatap Emma dengan bingung. “Kenapa, Sayang? Dokter Hakim itu orang baik, kok.”

Emma menggeleng keras. “Aku nggak suka cara dia ngeliat Kak Hawa. Dia kayak ganggu dan ingin merebut kakak dariku.”

Hawa hanya terkekeh kecil, menganggap ucapan Emma sebagai celotehan anak kecil. “Emma, jangan berpikiran seperti itu. Dia hanya sedang bekerja.”

Namun, Emma tetap merasa tidak nyaman. Ketika dia melihat Dokter Hakim kembali mendekati Hawa beberapa saat kemudian, dia mulai bertindak jahil. Saat dokter itu berdiri dekat Hawa, Emma dengan sengaja menjatuhkan sebuah pena ke lantai, membuat Dokter Hakim tersandung sedikit.

“Ups, maaf ya, Dokter,” kata Emma dengan nada polos.

Dokter Hakim menatap Emma dengan bingung tetapi hanya tersenyum kecil. “Tidak apa-apa.”

Hawa yang melihat kejadian itu menegur Emma dengan lembut. “Emma, itu tidak baik. Jangan seperti itu, ya.”

Namun, Emma hanya mengangkat bahu. “Aku cuma nggak suka dia, Kak Hawa.”

Sementara itu, Emma mengirim pesan singkat kepada Harrison: “Papa, dokter itu gangguin Kak Hawa terus. Datang sekarang.”

Harrison, yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, membaca pesan itu dengan dahi mengernyit. Meski awalnya ia menganggap itu hanya candaan Emma, rasa penasaran membuatnya meninggalkan pekerjaannya dan langsung menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Harrison menemukan Emma sedang duduk di ruang tunggu perawatan anak. Gadis kecil itu langsung berlari ke arahnya begitu melihatnya.

“Papa! Kak Hawa digangguin dokter itu lagi,” katanya dengan nada penuh semangat.

Harrison mengerutkan kening. “Emma, jangan asal bicara. Mana Kak Hawa?”

Emma menarik tangan Harrison dan membawanya ke salah satu lorong rumah sakit, di mana Hawa sedang berdiri bersama Dokter Hakim, membahas sesuatu.

Harrison berjalan mendekat dengan langkah tegas. “Hawa, semuanya baik-baik saja?”

Hawa menoleh, terkejut melihat Harrison ada di sana. “Tuan Harrison? Apa yang Anda lakukan di sini?”

“Emma bilang ada masalah,” jawab Harrison singkat, matanya tertuju tajam pada Dokter Hakim.

Dokter Hakim, yang merasa terganggu dengan kedatangan Harrison, mencoba menjelaskan. “Tidak ada masalah, Pak. Kami hanya sedang membahas tugas.”

Namun, Harrison tidak puas. “Hawa, kalau ada sesuatu yang mengganggu, beri tahu aku.”

Hawa tersenyum kecil, merasa situasinya sedikit canggung. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Tuan Harrison. Semua baik-baik saja.”

Emma, yang merasa puas karena Papanya datang, memeluk Hawa erat-erat. “Papa, Kak Hawa harus dijaga dengan baik. Kalau ada yang ganggu dia lagi, Papa marahin aja mereka semua!”

Harrison menatap Emma dengan senyum kecil. “Emma, kamu nggak boleh seperti itu. Kak Hawa tahu bagaimana menjaga dirinya sendiri.”

Emma mengangguk, tetapi dalam hati dia bertekad untuk terus menjaga Kak Hawanya dengan caranya sendiri.

Bersambung.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hi semuanya jangan lupa ya like dan komentarnya.

Terima kasih.

Episodes
1 Bab 1: Pertemuan Terburuk
2 Bab 2: Pusingnya Hawa
3 Bab 3: Permintaan Emma
4 Bab 4: Izin yang Alot
5 Bab 5: Lengketnya Emma
6 Bab 6: Tragedi di Sekolah
7 Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8 Bab 8: Hawa Dicegat
9 Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10 Bab 10: Aksi Harrison
11 Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12 Bab 12: Gosip yang Menyebar
13 Bab 13: Sidak Dylan
14 Bab 14 – Kejutan Liburan
15 Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16 Bab 16: Tidak Terduga
17 Bab 17: Cerita Emma
18 Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19 Bab 19: Hawa Tersipu
20 Bab 20: Keberanian Harrison
21 Bab 21 - Bicara Berdua
22 Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23 Bab 23: Jemput Emma
24 Bab 24: Rindu Mendalam
25 Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26 Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27 Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28 Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29 Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30 Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31 Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32 Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33 Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34 Bab 34: Malam Syahdu
35 Bab 35: Keseruan Sarapan
36 Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37 Bab 37: Welcome to Maldives
38 Bab 38 : Hawa kelelahan.
39 Bab 39 Borong Oleh oleh
40 Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41 Bab 41: Kembali Pulang
42 Bab 42: Rindunya Emma
43 Bab 43 : Ella menculik Emma.
44 Bab 44 – Emma Menangis Terus
45 Bab 45 – Penyelamatan Emma
46 Bab 46 : Kehamilan Hawa
47 Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48 Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49 Bab 49 – Kematian Victoria
50 Bab 50 – Sialnya Ella
51 Bab 51 – Ancaman Harrison
52 Bab 52 – Aksi Harrison
53 Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54 Bab 54 – Kawan vs Lawan
55 Bab 55 – Sayangnya Hawa
56 Bab 56 – Rencana Liam
57 Bab 57 – Rencana Harrison
58 Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59 Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60 Bab 60: Hawa Bahagia
61 Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62 Bab 62 - Liliana Merajuk
63 Bab 63 - Liliana Curhat
64 Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65 Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66 Bab 66 - Harrison Menang
67 Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68 Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69 Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70 Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71 Bab 71: Serangan Lanjutan
72 Bab 72: Keberhasilan Harrison
73 Bab 73: Liam dan Liliana
74 Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75 Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76 Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77 Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78 Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79 Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80 promo karya terbaru
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1: Pertemuan Terburuk
2
Bab 2: Pusingnya Hawa
3
Bab 3: Permintaan Emma
4
Bab 4: Izin yang Alot
5
Bab 5: Lengketnya Emma
6
Bab 6: Tragedi di Sekolah
7
Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8
Bab 8: Hawa Dicegat
9
Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10
Bab 10: Aksi Harrison
11
Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12
Bab 12: Gosip yang Menyebar
13
Bab 13: Sidak Dylan
14
Bab 14 – Kejutan Liburan
15
Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16
Bab 16: Tidak Terduga
17
Bab 17: Cerita Emma
18
Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19
Bab 19: Hawa Tersipu
20
Bab 20: Keberanian Harrison
21
Bab 21 - Bicara Berdua
22
Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23
Bab 23: Jemput Emma
24
Bab 24: Rindu Mendalam
25
Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26
Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27
Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28
Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29
Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30
Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31
Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32
Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33
Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34
Bab 34: Malam Syahdu
35
Bab 35: Keseruan Sarapan
36
Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37
Bab 37: Welcome to Maldives
38
Bab 38 : Hawa kelelahan.
39
Bab 39 Borong Oleh oleh
40
Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41
Bab 41: Kembali Pulang
42
Bab 42: Rindunya Emma
43
Bab 43 : Ella menculik Emma.
44
Bab 44 – Emma Menangis Terus
45
Bab 45 – Penyelamatan Emma
46
Bab 46 : Kehamilan Hawa
47
Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48
Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49
Bab 49 – Kematian Victoria
50
Bab 50 – Sialnya Ella
51
Bab 51 – Ancaman Harrison
52
Bab 52 – Aksi Harrison
53
Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54
Bab 54 – Kawan vs Lawan
55
Bab 55 – Sayangnya Hawa
56
Bab 56 – Rencana Liam
57
Bab 57 – Rencana Harrison
58
Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59
Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60
Bab 60: Hawa Bahagia
61
Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62
Bab 62 - Liliana Merajuk
63
Bab 63 - Liliana Curhat
64
Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65
Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66
Bab 66 - Harrison Menang
67
Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68
Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69
Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70
Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71
Bab 71: Serangan Lanjutan
72
Bab 72: Keberhasilan Harrison
73
Bab 73: Liam dan Liliana
74
Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75
Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76
Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77
Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78
Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79
Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!