Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar

Malam di Dubai terasa hangat, namun suasana di antara Hawa dan Harrison jauh lebih sulit digambarkan. Setelah kejadian makan malam romantis yang dirancang oleh Emma, kini mereka kembali ke hotel. Di dalam mobil, Hawa hanya bisa diam, menatap jalanan kota yang penuh gemerlap, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdetak tidak karuan sejak kejadian tadi.

Harrison, di sisi lain, melirik Hawa beberapa kali dari sudut matanya. Ia ingin mengatakan sesuatu untuk mencairkan suasana, tapi bibirnya seolah terkunci. Dalam hatinya, ia terus memutar kembali momen saat ia mendekap Hawa tadi.

Di Lobi Hotel.

Ketika mereka tiba di lobi hotel, Hawa melangkah lebih dulu dengan langkah kecil dan ragu, wajahnya masih sedikit merona. Ia sadar bahwa setiap langkahnya kini diikuti oleh Harrison, dan itu cukup membuatnya gugup.

“Tuan Harrison, apakah Emma sudah tertidur di kamar?” Hawa bertanya pelan, mencoba memecah keheningan yang mulai membuatnya tidak nyaman.

Harrison tersenyum tipis. “Sepertinya sudah. Ares menemaninya sampai kita kembali. Jangan khawatir, dia anak yang mandiri.”

“Oh, baiklah,” jawab Hawa sambil mengangguk. Ia menunduk, tidak berani menatap Harrison terlalu lama.

Saat mereka berdiri di depan lift, keheningan kembali melingkupi. Hawa menggigit bibirnya, merasa situasi ini terlalu canggung. Harrison, yang berdiri di sampingnya, tampak tenang, meski sebenarnya pikirannya sedang tidak fokus.

Namun, momen itu pecah saat Harrison tiba-tiba menoleh. Ia menangkap sekilas sosok wanita yang tampaknya ia kenal. Matanya menyipit, mencoba memastikan siapa yang baru saja ia lihat.

“Ella?” gumam Harrison pelan, nyaris tidak terdengar.

Hawa menoleh, bingung dengan perubahan ekspresi Harrison. “Ada apa, Tuan Harrison?”

“Ah, tidak,” Harrison buru-buru menggeleng dan tersenyum tipis. “Hanya merasa seperti melihat seseorang yang kukenal.”

“Oh,” Hawa mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut, meski ia menyadari ada sesuatu di balik tatapan Harrison yang tiba-tiba menjadi serius.

Ketika pintu lift terbuka, mereka masuk bersama, berdiri berdampingan. Hawa mencoba menjaga jarak, tapi ruang lift yang sempit membuatnya sulit untuk melakukannya. Ia bisa merasakan kehadiran Harrison begitu dekat, membuatnya semakin salah tingkah.

Setelah sampai di lantai mereka, Harrison membuka pintu kamar suite dengan hati-hati. Di dalam, Emma sudah tertidur dengan damai di tempat tidurnya. Ares yang duduk di sofa mengangguk pada Harrison dan Hawa sebelum pamit untuk kembali ke kamarnya.

“Emma sangat menyukai liburan kali ini,” kata Harrison pelan sambil berjalan ke arah tempat tidur putrinya, memastikan selimutnya rapi.

“Dia anak yang sangat ceria,” jawab Hawa dengan senyuman. “Aku senang bisa mendampinginya.”

Harrison menoleh, menatap Hawa dengan lembut. “Terima kasih, Hawa. Kau sudah melakukan banyak hal untukku dan Emma.”

Hawa hanya tersenyum tipis, merasa tidak perlu menjawab lebih dari itu. Namun, ketika Harrison mendekat, ia bisa merasakan jantungnya kembali berdebar.

“Tuan Harrison… apakah ada yang ingin Anda sampaikan?” Hawa bertanya, mencoba memecah keheningan.

Harrison tertawa kecil. “Kenapa kau masih memanggilku Tuan? Bukankah kita sudah cukup dekat?”

Hawa tertegun, tidak tahu harus menjawab apa. “Aku… hanya merasa itu lebih sopan.”

“Kau tidak perlu terlalu formal, Hawa,” kata Harrison dengan suara yang lebih lembut. “Setidaknya, ketika kita hanya berdua seperti ini.”

Hawa menunduk, wajahnya memerah. “Baik, Harrison.”

Nama itu meluncur dari bibirnya dengan pelan, tapi cukup untuk membuat Harrison tersenyum lebar. Ada sesuatu yang berbeda ketika Hawa menyebut namanya tanpa embel-embel formalitas.

Setelah memastikan Emma nyaman, Harrison menutup pintu kamar anaknya, meninggalkan mereka berdua di ruang tengah suite yang luas. Hawa duduk di sofa, mencoba mengalihkan perhatian dengan membuka tasnya, tapi tangannya sedikit gemetar.

Harrison, yang berdiri di dekat minibar, menuangkan segelas air untuk dirinya sendiri. Ia melirik Hawa, merasa ada sesuatu yang harus ia katakan, tapi ia tidak tahu bagaimana memulainya.

“Hawa,” panggil Harrison akhirnya, membuat Hawa mendongak.

“Ya?”

“Aku ingin bertanya sesuatu.” Harrison mendekat, duduk di sofa di hadapan Hawa. “Apa kau pernah merasa… bingung dengan perasaanmu sendiri?”

Pertanyaan itu membuat Hawa terdiam. Ia menatap Harrison, mencoba memahami maksud dari pertanyaannya. “Mungkin. Tapi kenapa Anda bertanya seperti itu?”

Harrison menghela napas, menunduk sejenak sebelum kembali menatap Hawa. “Tidak, Hawa. Aku hanya bertanya saja.”

Hawa tertegun, tidak tahu harus merespons bagaimana. Ia merasakan debaran jantungnya semakin kuat, tapi ia mencoba untuk tetap tenang.

“Oh begitu, Harrison?” tanyanya dengan suara pelan.

“Jangan salah paham, Hawa. Baiklah, aku akan mengatakannya tapi tidak tahu bagaimana menjelaskannya,” Harrison mengaku. “Tapi setiap kali aku bersamamu, aku merasa berbeda....”

Kata-kata itu membuat suasana menjadi semakin canggung. Hawa merasa wajahnya semakin panas, tapi ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Harrison.

“A-aku…” Hawa membuka mulutnya, tapi sebelum ia sempat menjawab, ia tanpa sengaja menjatuhkan tasnya.

Refleks, Harrison berlutut untuk membantu Hawa memungut barang-barangnya. Dalam proses itu, tangan mereka bertemu, membuat keduanya terhenti sejenak.

Mata mereka bertemu, dan waktu seolah berhenti. Mereka begitu dekat, dan ruang di antara mereka terasa semakin kecil.

“Harrison…” bisik Hawa, nyaris tanpa suara.

Harrison tidak menjawab, hanya menatap Hawa dengan intens. Namun, ketika ia menyadari betapa dekat mereka, ia segera mundur, wajahnya memerah.

“Maaf,” kata Harrison cepat, berdiri dengan gugup.

“Tidak, tidak apa-apa,” balas Hawa, meski ia sendiri merasa jantungnya hampir melompat keluar.

Keduanya berdiri dalam keheningan, masing-masing mencoba menenangkan diri. Namun, momen itu meninggalkan sesuatu yang tidak bisa diabaikan sebuah perasaan yang semakin sulit untuk disembunyikan.

Malam semakin larut, namun suasana hati Harrison dan Hawa belum juga tenang. Keduanya masih dilingkupi debaran yang sulit diabaikan setelah momen di ruang tengah tadi.

Di Kamar Hawa.

Hawa berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, mencoba menenangkan pikiran yang terus berputar. Bayangan tatapan mata Harrison kembali terlintas di kepalanya, membuat wajahnya kembali memerah.

"Apa yang sebenarnya terjadi denganku? Kenapa aku jadi seperti ini hanya karena dia…?" Hawa bergumam sambil duduk di tepi tempat tidur. Tangannya menyentuh dadanya yang masih berdebar.

Pikirannya terus memutar percakapan singkat mereka. Harrison bukan hanya seorang atasan baginya, tapi pria itu memiliki cara membuat hatinya kacau dengan sikap lembut namun penuh karisma.

"Aku tidak boleh seperti ini," gumamnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Tapi setiap kali ia mengingat bagaimana tangan mereka bersentuhan, hatinya kembali goyah.

Di Kamar Harrison.

Di kamar sebelah, Harrison duduk di sofa dekat jendela. Pemandangan kota Dubai yang gemerlap seolah tidak menarik perhatiannya malam ini. Yang ada di pikirannya hanya Hawa—senyumnya, sorot matanya, dan sikap lembutnya yang tanpa sadar telah membuatnya jatuh hati.

Harrison menghela napas berat. "Ini tidak boleh terjadi… Aku hanya tidak ingin dia merasa terbebani."

Namun, meski ia mencoba menyangkal perasaannya, hatinya tidak bisa berbohong. Hawa telah membawa cahaya baru dalam hidupnya, sebuah perasaan yang bahkan belum pernah ia rasakan sejak lama.

Sebuah keraguan mulai muncul di benaknya. "Apa yang akan dia pikirkan tentangku? Apakah dia juga merasakan hal yang sama?"

Bersambung.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hi semuanya, jangan lupa like dan komentarnya ya.

Terima kasih.

Episodes
1 Bab 1: Pertemuan Terburuk
2 Bab 2: Pusingnya Hawa
3 Bab 3: Permintaan Emma
4 Bab 4: Izin yang Alot
5 Bab 5: Lengketnya Emma
6 Bab 6: Tragedi di Sekolah
7 Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8 Bab 8: Hawa Dicegat
9 Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10 Bab 10: Aksi Harrison
11 Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12 Bab 12: Gosip yang Menyebar
13 Bab 13: Sidak Dylan
14 Bab 14 – Kejutan Liburan
15 Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16 Bab 16: Tidak Terduga
17 Bab 17: Cerita Emma
18 Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19 Bab 19: Hawa Tersipu
20 Bab 20: Keberanian Harrison
21 Bab 21 - Bicara Berdua
22 Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23 Bab 23: Jemput Emma
24 Bab 24: Rindu Mendalam
25 Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26 Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27 Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28 Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29 Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30 Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31 Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32 Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33 Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34 Bab 34: Malam Syahdu
35 Bab 35: Keseruan Sarapan
36 Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37 Bab 37: Welcome to Maldives
38 Bab 38 : Hawa kelelahan.
39 Bab 39 Borong Oleh oleh
40 Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41 Bab 41: Kembali Pulang
42 Bab 42: Rindunya Emma
43 Bab 43 : Ella menculik Emma.
44 Bab 44 – Emma Menangis Terus
45 Bab 45 – Penyelamatan Emma
46 Bab 46 : Kehamilan Hawa
47 Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48 Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49 Bab 49 – Kematian Victoria
50 Bab 50 – Sialnya Ella
51 Bab 51 – Ancaman Harrison
52 Bab 52 – Aksi Harrison
53 Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54 Bab 54 – Kawan vs Lawan
55 Bab 55 – Sayangnya Hawa
56 Bab 56 – Rencana Liam
57 Bab 57 – Rencana Harrison
58 Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59 Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60 Bab 60: Hawa Bahagia
61 Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62 Bab 62 - Liliana Merajuk
63 Bab 63 - Liliana Curhat
64 Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65 Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66 Bab 66 - Harrison Menang
67 Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68 Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69 Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70 Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71 Bab 71: Serangan Lanjutan
72 Bab 72: Keberhasilan Harrison
73 Bab 73: Liam dan Liliana
74 Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75 Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76 Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77 Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78 Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79 Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80 promo karya terbaru
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1: Pertemuan Terburuk
2
Bab 2: Pusingnya Hawa
3
Bab 3: Permintaan Emma
4
Bab 4: Izin yang Alot
5
Bab 5: Lengketnya Emma
6
Bab 6: Tragedi di Sekolah
7
Bab 7: Sentuhan Tak Disengaja
8
Bab 8: Hawa Dicegat
9
Bab 9: Emma Mogok dan Manja
10
Bab 10: Aksi Harrison
11
Bab 11: Hawa Bertemu dengan Nikki
12
Bab 12: Gosip yang Menyebar
13
Bab 13: Sidak Dylan
14
Bab 14 – Kejutan Liburan
15
Bab 15 – Kelanjutan Debar-Debar
16
Bab 16: Tidak Terduga
17
Bab 17: Cerita Emma
18
Bab 18: Pengakuan di Malam Syahdu
19
Bab 19: Hawa Tersipu
20
Bab 20: Keberanian Harrison
21
Bab 21 - Bicara Berdua
22
Bab 22: Kediaman Keluarga Noah
23
Bab 23: Jemput Emma
24
Bab 24: Rindu Mendalam
25
Bab 25: Lamaran yang Mendebarkan
26
Bab 26: Acara Lamaran yang Penuh Harapan
27
Bab 27: Ancaman di Balik Bayangan
28
Bab 28: Di Antara Persiapan dan Ketegangan
29
Bab 29: Bayangan dari Masa Lalu
30
Bab 30: Persiapan Pernikahan Supermewah
31
Bab 31: Malam H-1 Pernikahan
32
Bab 32: Pernikahan dan Akad yang Sakral
33
Bab 33: Megahnya Resepsi dan Tamu Tak Diduga
34
Bab 34: Malam Syahdu
35
Bab 35: Keseruan Sarapan
36
Bab 36: Drama Sebelum Berangkat Honeymoon
37
Bab 37: Welcome to Maldives
38
Bab 38 : Hawa kelelahan.
39
Bab 39 Borong Oleh oleh
40
Bab 40 : Ancaman tidak terduga.
41
Bab 41: Kembali Pulang
42
Bab 42: Rindunya Emma
43
Bab 43 : Ella menculik Emma.
44
Bab 44 – Emma Menangis Terus
45
Bab 45 – Penyelamatan Emma
46
Bab 46 : Kehamilan Hawa
47
Bab 47 : Nginam aneh Hawa
48
Bab 48 – Beruntungnya Hawa
49
Bab 49 – Kematian Victoria
50
Bab 50 – Sialnya Ella
51
Bab 51 – Ancaman Harrison
52
Bab 52 – Aksi Harrison
53
Bab 53 – Musuh Lama Kembali
54
Bab 54 – Kawan vs Lawan
55
Bab 55 – Sayangnya Hawa
56
Bab 56 – Rencana Liam
57
Bab 57 – Rencana Harrison
58
Bab 58: Paul, Pengkhianatan yang Tumbang
59
Bab 59: Kebohongan Paul, Kesulitan Liam
60
Bab 60: Hawa Bahagia
61
Bab 61: Menghadapi Lucas Hope
62
Bab 62 - Liliana Merajuk
63
Bab 63 - Liliana Curhat
64
Bab 64 - Nenek Liliana dan Harrison
65
Bab 65 - Perangkap untuk Liam
66
Bab 66 - Harrison Menang
67
Bab 67 - Ikatan yang Tidak Pernah Terputus
68
Bab 68 – Lili Terus Berusaha
69
Bab 69 – Kehadiran Harrison dan Hawa
70
Bab 70 – Liam dan Harrison Bersekutu
71
Bab 71: Serangan Lanjutan
72
Bab 72: Keberhasilan Harrison
73
Bab 73: Liam dan Liliana
74
Bab 74: Persiapan Melahirkan Hawa
75
Bab 75: Kelahiran Hiro Noah
76
Bab 76: Hiro Membawa Kebahagiaan dan Keberuntungan
77
Bab 77 – Dalam Bayang Cinta dan Ancaman
78
Bab 78 – Akhir Perjalanan, Awal Kebahagiaan
79
Bab 79: Akhir yang Bahagia, Awal yang Baru
80
promo karya terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!