Panggil Mars! Jangan Planet!

Ansel menghampiri Herman yang baru saja menghubungi Mars, raut wajah pria itu terlihat sangat khawatir. "Bagaimana? Aurora sudah ketemu?" Tanyanya.

Herman mengangguk, ia berbalik dan menatap sang adik dengan tatapan lekat. "Kamu mengkhawatirkan putrimu, tapi kenapa kamu abai padanya? Ansel, Aurora tidak tahu apapun soal kem4tian ibunya. Dia tidak memilih di lahirkan, mendiang istrimu lah yang memutuskan untuk melahirkannya. Jangan benci dia hanya karena kelahirannya menyebabkan istrimu meninggal." Ujar Herman menegur adiknya itu.

Ansel hanya diam, dia tak menjawab apapun yang Herman katakan padanya. Itulah yang membuat Herman bingung dengan isi pikiran dan hati adiknya. Tanpa Ansel menjelaskan, Herman tahu jika sebenarnya Ansel peduli pada putri semata wayangnya. Namun, entah mengapa pria itu bersikap seolah membenci putrinya.

"Apa nanti kamu akan pulang? Atau kembali merantau? Apa tidak lelah bekerja jauh? Disini juga banyak lowongan pekerjaan, aku bisa mencarikanmu pekerjaan di perusahaan keluarga Reviano." Tanya Herman.

Ansel menggeleng, "Aku sudah mendapat pekerjaan baru di perusahaan temanku. Rencana aku akan tinggal di rumahku." Jawab Ansel.

"Bagus lah kalau kamu kembali, perbaiki hubunganmu dengan putrimu. Aurora anak yang baik, dia hanya kecewa atas sikapmu padanya." Setelah mengatakan itu, Herman berlalu pergi. Meninggalkan Ansel yang menatap kosong ke depan.

.

.

.

Selesai makan siang, Mars membawa Aurora dan Arkan pulang. Sepanjang jalan, mungkin karena kenyang Arkan dan Aurora jadi tertidur pulas. Bahkan, Arkan tertidur sambil memeluk tangan Aurora. Melihat pemandangan itu, Mars tersenyum tipis.

"Lihat, cara tidur mereka saja hampir sama." Batin Mars.

Tatapan matanya beralih menatap Aurora yang tidur dengan mulut sedikit terbuka. Tidak ada anggunnya sama sekali, sungguh aneh. Tapi kenyataannya, Mars menikahi perempuan yang apa adanya itu. Tidak anggun, sangat kekanakan, juga tak bisa diam. Sungguh bukan kriteria yang ia cari, tapi entah mengapa ia memilihnya.

Aurora terbangun dari tidurnya, ia melihat Arkan yang bergerak memeluk tangannya. Ia tak berani menarik tangannya, karena khawatir Arkan akan terbangun. Bertepatan dengan Aurora terbangun dari tidurnya, mobil pun berhenti di pekarangan rumah Mars.

"Sudah sampai, ayo turun." Ajak Mars.

"Arkan gimana?" Tanya Aurora, matanya terlihat sangat mengantuk. Ia baru tidur sebentar, tapi karena tak nyenyak jadi ia bangun.

"Saya akan menggendong nya, dia tidak akan bangun sebelum merasa lapar. Kamu turun dulu saja," ujar Mars.

Aurora menurut, ia turun dari mobil lebih dulu. Sementara Mars, ia meraih Arkan dalam gendongannya dan membawanya keluar. Pertama kalinya, ia akan mengajak istri kecilnya itu masuk ke dalam rumahnya.

"Tuan Planet, rumahmu besar sekali. Berapa luas tanahnya?" Tanya Aurora sembari mengg4ruk lehernya yang tak gatal.

"Bisakah kamu mengganti nama panggilanmu untuk saya? Mars! semudah itu tapi kamu selalu lupa?" Desis MArs tak terima.

Aurora tertawa kecil, "Kata Planet sudah melekat di wajahmu, yasudah mana kamarnya? Aku mau lanjut tidur, eh ... tapi apa ada ibu mertua? Apa aku akan di marahi olehnya? Tuan planet, ibu mertuaku terlihat tidak menyukai ku kemarin."

Mars memasang raut wajah dinginnya, baru saja dia memberitahu dengan jelas namanya Mars. Bukan planet, mister Planet, atau yang lainnya. Tapi sekarang, gadis itu terus memanggilnya Tuan Planet.

Tak ingin berdebat, Mars melangkah pergi. Membuat Aurora seketika panik dan segera menyusul nya. Mars membawa Arkan ke kamarnya, ia membaringkan tubuh putranya di atas ranjang kecil anak itu. Tak lupa, ia mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur agar tidur putranya semakin lelap.

"Ayo, ikut saya."

"E-eh!" Mars menarik tangan Aurora pergi, ia membawanya menaiki tangga. Aurora tak tahu kemana Mars membawanya. Setibanya di lantai dua, pria itu membuka pintu kamarnya dan menarik tangan Aurora masuk.

"Kau!!" Aurora tak terima saat Mars menepis tangannya sebelum mengunci pintu kamar.

"Ayo, katakan sekali lagi. Panggil saya Tuan Planet seberani tadi, sekarang!" Titah MArs pada istri kecilnya yang terlihat ketakutan.

"Tuan Venus, aku kan cuman bercan ...,"

"MARRRS! MAARRS! HARUS BERAPA KALI SAYA BILANG KALAU NAMA SAYA MAAARRS!!" Pekik Mars dengan segala kekesalannya.

Aurora mengerjapkan matanya, ia cukup terkejut dengan teriakan Mars yang merasa kesal padanya. Menyadari kesalahannya, Mars menegakkan tubuhnya dan merubah eskpresi nya kembali. Seolah, ia tak melakukan apapun tadi.

"Ekhem, kamu bisa tidur di kamar ini. Ini kamar saya,"

"Di rumah ini kamar cuman dua?" Tanya Aurora, ia tak ingin sekamar dengan Mars. Jujur saja, dia masih merasa belum nyaman berdekatan dengan Mars.

"Kenapa? Tidak mau sekamar dengan saya?" Mars melangkah mendekat, membuat Aurora reflek memundurkan langkahnya.

"Bisa gak usah maju-maju kaaan! Ngomongnya dari situ aja!" Pinta Aurora, raut wajahnya terlihat panik.

Mars menyeringai dalam, ia semakin niat menjaili Aurora. Wajah panik gadis itu terlihat lucu, jadi entah mengapa Mars ingin selalu menjailinya. Hanya di saat ini saja Aurora tak banyak bertingkah.

"MUKA TUAN KAYAK OM-OM TAU GAK!" Teriak Aurora.

Raut wajah Mars berubah datar, baru kali ini ada yang mengatakan hal seperti itu padanya. Menyadari dirinya salah ucap, Aurora menutup mulutnya. Ia menatap Mars dengan penuh rasa sesal, apakah pria itu marah hingga diam seperti itu?

"Umur saya baru tiga puluh tahun dan kamu mengatakan saya om-om?"

Aurora meringis pelan, "Emang om-om kan?"

Mars memejamkan matanya, ingin marah tapi tidak bisa. Sudah planet, Venus, om-om, setelah ini apalagi?

Mars membuka kembali matanya, ia berjalan menuju lemari miliknya dan mengambil handuk dari sana. Lalu, ia melempar handuk itu pada Aurora. Reflek, Aurora mengambilnya. Matanya menatap Mars dengan tatapan tak terima.

"Gak sopan banget, heran." Gumam Aurora.

"Mandi, saya gak suka istri yang bau badan!" Ucap Mars sebelum berlalu pergi, meninggalkan Aurora yang melongo tak percaya.

"Dih, emang aku pernah bau? Enggak yah! Mau seminggu gak mandi juga gak pernah bau! Situ yang bau! Bau aki-aki, jelek! Tua! Ngese ...,"

"SAYA DENGAR! CEPATLAH MANDIII! ATAU MAU SAYA MANDIKAN HAH?!"

Aurora berlari masuk ke kamar mandi dengan cepat, ia kahwatir Mars akan kembali masuk dan justru memaksanya mandi. Dengan kesal, Aurora meletakkan handuk mandi yang Mars berikan tadi di atas wastafel.

"Apa sih! Manggil Planet salah! Dia ngomong saya-kamu ke aku aja gak masalah kok! Udah kayak atasan dan bawahan kan jadinya! Dasar aki-aki, kerjanya marah aja terus!" Gerutu Aurora.

Melihat keadaan kamar mandi di kamar suaminya, Aurora berdecak kagum. Tatapan nnya berbinar terang melihat kesekitar kamar mandi. Sangat mewah, bahkan ada bathtub berbentuk bulat yang sering ia lihat di drama korea yang dirinya tonton.

"Waaah, apa ini yang di namakan menikah dengan sugar daddy!"

Aurora mengelus pinggiran bathtub, tatapannya beralih menatap deretan sabun mandi berbagai merk yang terlihat mewah. Tak sabar berendam, Aurora pun segera menyalakan airnya.

"Gak dapet Xu Kai, dapet sugar daddy gak rugi juga lah." Gumamnya.

Selesai mandi, Aurora memakai handuknya keluar. Tanpa tahu, jika Mars sudah menunggunya sedari tadi sembari duduk di tepi ranjang. Melihat kehadiran Mars, tentu Aurora kaget. Ia hampir saja berteriak, untungnya masih bisa dia tahan.

"Ini pakaian mendiang istri saya, pakai saja sampai Paman membawa bajumu. Setelah itu istirahatlah." Ucap Mars dan memberikan pakaian untuk Aurora.

"Apa tidak masalah?" Tanya Aurora dengan ragu.

Mars menggeleng, "Besok saya akan membawamu belanja," Aurora mengangguk, ia mengambil pakaian itu dan menatapnya sebentar.

"Apa kamu bisa memasak?"

"Hah? Masak? Bi ... bisaaa! Aku bisa masak!" Seru Aurora dengan yakin tanpa ragu sedikit pun. Hanya saja, tatapannya terlihat berbeda terlihat risau.

Mars mengangguk pelan, "Yasudah, saya tinggal ke ruang kerja dulu." Pamit Mars.

Aurora mengangguk, senyumannya belum luntur. Namun, setelah Mars keluar dari kamar dan menutup pintu. Aurora menghela nafas berat, senyumannya seketika luntur. Raut wajah yakinnya tadi lenyap. Jujur, dia tak bisa memasak. Setiap kali Helen mengajaknya belajar memasak, Aurora selalu menolaknya. Ia tak kuat mengiris bawang dan tak tertarik dengan pekerjaan satu itu.

"Boro-boro masak makanan? Masak air aja sampe gosong pancinya." Gumam Aurora dengan tatapan meringis.

Cklek!

Aurora terkejut melihat Mars yang kembali lagi, tapi kali ini pria itu hanya memunculkan setengah badannya saja dari balik pintu. "Nanti malam temani Mama memasak."

"Hah?!"

___

Mulaaaai di seleksi mertua 🤣

Terpopuler

Comments

Alistalita

Alistalita

Dah ngerti duluan kalau dengar kata "Mertua".Wkwkwk, tapi tenang yakin deh
ibunya Mars sebetulnya baik. Cuman ya harus sering berinteraksi aja, misalnya belanja bersama ngabisiin duitt suami gitu😂 tapi kalau Ibunya Mars berulah siap2 diamuk sama opahh evano, setidaknya karena Aurora Naomi pernikahan putranya terselamatkan🤭

Arkan ketemu Aurora langsung cocok, semoga kalian kompok juga jahilin daddy dan sugar daddy kalian ya. Wkwkwk
Jadi penasaran juga kenapa Mars langsung suka sama Aurora, apa jangan2 lama menduda makannya jadi kaya gitu😂

Betul kata paman Herman, waktunya anda sebagai Ayah Aurora memberikan kasih sayang. Jadi kasihan sama Aurora walupun tumbuh baik dengan paman dan bibinya. tapi tetap saja terasa beda, kalau bukan orang tua sendiri yang ikut merawatnya tapi ini bukan soal uang ya.

2024-11-10

31

Syifa Azahrasiyah

Syifa Azahrasiyah

/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/nah malah masak Ama mamer lagi,alamat bukan cuma air yang gosong bisa2 mau goreng, minyaknya samapi surut lagi cuma di lihatin saking groginya ya Ra/Joyful//Joyful//Joyful/

2024-11-10

7

nuraeinieni

nuraeinieni

wah ternyara aurora tdk bisa masak,,jujur aja sama suami mu rora;

tenang rora,,ikut saja apa kata mertuamu yg penting bantu petik sayur,😂,,,hitung2 belajar masak sama ibu mertua.

2024-11-10

6

lihat semua
Episodes
1 Situasi yang berbeda
2 Tak ada pilihan
3 Hati yang terikat
4 Dia sudah menjadi istri saya!
5 Si gadis pecicilan
6 Alkan nda mau punya ibu tiliii!
7 Rasa kecewa seorang putri
8 Kakak tantik, ibu tili Alkan?!
9 Panggil Mars! Jangan Planet!
10 Kehebohan di dapur
11 Jangan memasak, jika kamu akan terluka
12 Aku tidak suka!
13 Kucing nakal!
14 Tidak mau di jandakan
15 Drama Arkan di pagi hari
16 Mulai posesif
17 Aku akan menjaganya
18 Dunia saya yang baru adalah kamu ~Mars
19 Cerita Arkan
20 Kedatangan adik ipar
21 Minta ponakan baru~
22 Perasaan yang mulai tumbuh
23 Tingkah Aurora
24 Ujian menantu
25 Demam dadakan
26 Ego seorang ayah
27 Perhatian yang di impikan
28 Gara-gara martabak
29 Diam nya Mars
30 Bahagiakan dia!
31 Saran adik ipar
32 Terjebak rencana sendiri
33 Jual aja, Mommy!
34 Kepedulian seorang anak
35 Bubuuul
36 Sulit menebak
37 Manjanya Aurora
38 Langkah yang Mars ambil
39 Ada yang harus kamu tahu~
40 Tak ingin kehilangan lagi
41 Kejailan Arkan
42 Jailnya Aurora
43 Nda enak pelacaan Alkan ini
44 Hadiah dari suami
45 Salah sangka
46 Memberikan hakmu
47 Tanda cinta
48 Tamu bulanan
49 Manjanya seorang putri
50 Kehebohan Arkan
51 Menciptakan momen berdua
52 Tingkah istri kecil Tuan Mars
53 Isi Paket Aurora
54 Kebahagiaan sederhana Arkan
55 Cemburunya Mars
56 Adek balu nya kapan?
57 Bulan madu 1
58 Bulan madu 2
59 Bulan Madu 3
60 Orang yang sama?
61 Terlupakan
62 Nda enaaaak!
63 Selesainya masa kebebasan Arkan
64 Kebahagiaan manis keluarga kecil
65 Berpisah sementara
66 Tak sengaja
67 Bangganya Mars
68 Perhatiannya mama mertua
69 Kedatangan yang tak di harapkan
70 Sikap tegas Aurora
71 Kehebohan Zeeya
72 Pembelaan mertua
73 Kamu tidak tahu seberapa bar-bar nya aku!
74 Acara Tuan Mark
75 Kata cinta yang sangat berarti
76 Mual~
77 Aku mengenalnya!
78 Rahasia besar yang di sembunyikan
79 Tak mudah percaya
80 Rekaman kenangan
81 Arkan, si bocah hobi jajan
82 Cinta bertepuk sebelah tangan
83 Tertangkap juga
84 Cucu kesayangan kakek Ansel
85 Lari pagi
86 Hasil yang tak sesuai harapan
87 Keterkejutan Evano & Julia
88 Alkan lapal
89 Hamil?
90 Kehamilan Aurora
91 Drama ngidamnya Mars
92 Perhatian mertua
93 Kekasih Denzel?
94 Membujuk istri
95 Alkan mau potong lambut!
96 Pintar VS cerdik
97 Ledekan Jimmy
98 Sidang penetapan hukuman
99 Dia sangat meratukanku
100 Jemput Arkan
101 Bukan suami yang sempurna
102 Nda boleh lebut mommy tili olang!
103 Kedatangan Denzel
104 Di labraak
105 Ke lumah kakeeeek!
106 Berharap tak pernah tahu
107 Salah lagi
108 Titipan yang salah
109 Tragedi
110 Putraku atau putramu?
111 Terbongkar!
112 Si belok!
113 Kebijakan Aurora
114 Kembar
115 Susu hamil
116 Mood ibu hamil
117 Ngidamnya bumil
118 Kesepakatan
119 Teloooong!
120 Duda baru
121 Harus menerima
122 Pasrahnya Mars menghadapi mood bumil
123 Pinjam Mommy
124 Mendadak Operasi
125 Lahirnya si kembar
126 Bayi kembar yang di nanti
127 Pulang
128 Ci kembal
129 Begadang
130 Tingkah Arkan
131 Sama-sama jaaiil
132 Tuan Mark
133 Kesenangan Arkan
134 Mommy nya gak rindu?
135 Kejailan Aurora
136 Ada apa?
137 Perasaan Zeeya
138 Terlambat
139 Tingkah memggemaskan si kembar
140 Menerima
141 Si kembar yang menggemaskan
142 Adek lagi?
143 Lamaran Zeeya
144 Happy End
145 Bonus Chapter
146 Bonus Chapter
147 UNDANGAN!
148 Bonus Chapter
149 Bonus Chapter
150 Bonus Chapter
151 Bonus Chapter
152 Bonus chapter
153 Bonus Chapter
154 Bonus Chapter
155 Bonus Chapter
156 Bonus Chapter
157 Bonus Chapter
158 Bonus Chapterr
159 Bonus Chapter
160 Bonus Chapter
161 Bonus Chapter
162 Bonus Chapter
163 Bonus Chapter
164 Bonus Chapter
165 Bonus Chapter
166 Bonus Chapter
167 Bonus Chapter
168 BONCHAP HABIS
169 Cinta yang kamu pilih~
Episodes

Updated 169 Episodes

1
Situasi yang berbeda
2
Tak ada pilihan
3
Hati yang terikat
4
Dia sudah menjadi istri saya!
5
Si gadis pecicilan
6
Alkan nda mau punya ibu tiliii!
7
Rasa kecewa seorang putri
8
Kakak tantik, ibu tili Alkan?!
9
Panggil Mars! Jangan Planet!
10
Kehebohan di dapur
11
Jangan memasak, jika kamu akan terluka
12
Aku tidak suka!
13
Kucing nakal!
14
Tidak mau di jandakan
15
Drama Arkan di pagi hari
16
Mulai posesif
17
Aku akan menjaganya
18
Dunia saya yang baru adalah kamu ~Mars
19
Cerita Arkan
20
Kedatangan adik ipar
21
Minta ponakan baru~
22
Perasaan yang mulai tumbuh
23
Tingkah Aurora
24
Ujian menantu
25
Demam dadakan
26
Ego seorang ayah
27
Perhatian yang di impikan
28
Gara-gara martabak
29
Diam nya Mars
30
Bahagiakan dia!
31
Saran adik ipar
32
Terjebak rencana sendiri
33
Jual aja, Mommy!
34
Kepedulian seorang anak
35
Bubuuul
36
Sulit menebak
37
Manjanya Aurora
38
Langkah yang Mars ambil
39
Ada yang harus kamu tahu~
40
Tak ingin kehilangan lagi
41
Kejailan Arkan
42
Jailnya Aurora
43
Nda enak pelacaan Alkan ini
44
Hadiah dari suami
45
Salah sangka
46
Memberikan hakmu
47
Tanda cinta
48
Tamu bulanan
49
Manjanya seorang putri
50
Kehebohan Arkan
51
Menciptakan momen berdua
52
Tingkah istri kecil Tuan Mars
53
Isi Paket Aurora
54
Kebahagiaan sederhana Arkan
55
Cemburunya Mars
56
Adek balu nya kapan?
57
Bulan madu 1
58
Bulan madu 2
59
Bulan Madu 3
60
Orang yang sama?
61
Terlupakan
62
Nda enaaaak!
63
Selesainya masa kebebasan Arkan
64
Kebahagiaan manis keluarga kecil
65
Berpisah sementara
66
Tak sengaja
67
Bangganya Mars
68
Perhatiannya mama mertua
69
Kedatangan yang tak di harapkan
70
Sikap tegas Aurora
71
Kehebohan Zeeya
72
Pembelaan mertua
73
Kamu tidak tahu seberapa bar-bar nya aku!
74
Acara Tuan Mark
75
Kata cinta yang sangat berarti
76
Mual~
77
Aku mengenalnya!
78
Rahasia besar yang di sembunyikan
79
Tak mudah percaya
80
Rekaman kenangan
81
Arkan, si bocah hobi jajan
82
Cinta bertepuk sebelah tangan
83
Tertangkap juga
84
Cucu kesayangan kakek Ansel
85
Lari pagi
86
Hasil yang tak sesuai harapan
87
Keterkejutan Evano & Julia
88
Alkan lapal
89
Hamil?
90
Kehamilan Aurora
91
Drama ngidamnya Mars
92
Perhatian mertua
93
Kekasih Denzel?
94
Membujuk istri
95
Alkan mau potong lambut!
96
Pintar VS cerdik
97
Ledekan Jimmy
98
Sidang penetapan hukuman
99
Dia sangat meratukanku
100
Jemput Arkan
101
Bukan suami yang sempurna
102
Nda boleh lebut mommy tili olang!
103
Kedatangan Denzel
104
Di labraak
105
Ke lumah kakeeeek!
106
Berharap tak pernah tahu
107
Salah lagi
108
Titipan yang salah
109
Tragedi
110
Putraku atau putramu?
111
Terbongkar!
112
Si belok!
113
Kebijakan Aurora
114
Kembar
115
Susu hamil
116
Mood ibu hamil
117
Ngidamnya bumil
118
Kesepakatan
119
Teloooong!
120
Duda baru
121
Harus menerima
122
Pasrahnya Mars menghadapi mood bumil
123
Pinjam Mommy
124
Mendadak Operasi
125
Lahirnya si kembar
126
Bayi kembar yang di nanti
127
Pulang
128
Ci kembal
129
Begadang
130
Tingkah Arkan
131
Sama-sama jaaiil
132
Tuan Mark
133
Kesenangan Arkan
134
Mommy nya gak rindu?
135
Kejailan Aurora
136
Ada apa?
137
Perasaan Zeeya
138
Terlambat
139
Tingkah memggemaskan si kembar
140
Menerima
141
Si kembar yang menggemaskan
142
Adek lagi?
143
Lamaran Zeeya
144
Happy End
145
Bonus Chapter
146
Bonus Chapter
147
UNDANGAN!
148
Bonus Chapter
149
Bonus Chapter
150
Bonus Chapter
151
Bonus Chapter
152
Bonus chapter
153
Bonus Chapter
154
Bonus Chapter
155
Bonus Chapter
156
Bonus Chapter
157
Bonus Chapter
158
Bonus Chapterr
159
Bonus Chapter
160
Bonus Chapter
161
Bonus Chapter
162
Bonus Chapter
163
Bonus Chapter
164
Bonus Chapter
165
Bonus Chapter
166
Bonus Chapter
167
Bonus Chapter
168
BONCHAP HABIS
169
Cinta yang kamu pilih~

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!