Hati yang terikat

"Aurora adalah anak dari adik laki-laki saya, sedangkan istri adik saya sudah meninggal setelah melahirkan Aurora. Jadi, saya tidak bisa memutuskan." Ujar Herman dengan ragu.

"Kalau begitu, hubungi adikmu dan katakan jika keluarga Reviano akan meminangnya. Jika dia bisa datang dan menjadi wali nya, itu bagus." Titah Tuan Mark.

Herman ragu, ia bingung. Di satu sisi, ia ingin menolak karena tahu Aurora pasti akan menolak. Tapi disi lain, ia merasa takut keluarga Reviano kecewa pada dirinya. terlebih, ia merasa banyak berhutang budi pada keluarga itu.

"Baiklah, saya akan menghubungi adik saya." Ucapnya. Ia lalu mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya dan menelpon seseorang. Ia sedikit berjalan menjauh ketika tersambung.

"Ansel, Tuan Mark ingin cucunya Mars menikahi putrimu. Apa kamu mengizinkannya? Kamu bisa kesini untuk menjadi walinya?"

Tuan Mark dan keluarganya masih memantau Herman yang tenga mengobrol serius dengan seseorang di telepon. Terjadi sedikit perdebatan antara Herman dengan adiknya. Membuat Mars dan yang lainnya sedikit bingung dengan apa yang terjadi. Tak lama, Herman kembali, raut wajahnya terlihat kesal dan penuh amarah.

"Saya yang akan menjadi wali untuk keponakan saya." Jawab Herman dengan lantang.

Seribu pertanyaan di pikiran Mars, mengapa ayah dari gadis yang ia lihat saat ini tak mau menjadi wali? Atau karena berada di luar kota dan akan membutuhkan waktu kesini?

"Adik saya kerja di luar kota, akan butuh waktu lebih lama. Jadi, dia meminta saya untuk mewakilinya." Terang Herman saat melihat ketegangan keluarga itu.

"Yasudah, bagus. Ayo, panggil keponakanmu. kita mulai acaranya!" Seru Tuan Mark dengan senyuman mengembang. Ia berniat berbalik dan beranjak dari sana. Namun, asistennya itu justru malah memanggilnya kembali.

"Tuan, tapi jika ponakan saya menolak. Saya tak punya hak untuk memaksanya. Karena pernikahan ini dia yang jalani, bukan saya. Tapi, saya akan mencoba membujuknya dulu." Ujar Herman dan segera beranjak menemui Aurora.

Tuan Mark langsung merangkul cucunya pergi. Meninggalkan sepasang suami istri yang sedang saling berdebat karena permasalahan yang sedang di landa saat ini.

"Kenapa harus keponakan asisten Papa mu itu sih? Dia masih sangat muda!" Desis dengan raut wajahnya yang kesal.

"Kamu mau yang seperti apa? Wanita berpendidikan kayak Aurora yang kabur itu? Sudahlah, yang terpenting masalah ini cepat selesai!" Balas Evano dan berlalu pergi, meninggalkan sang istri yang akhirnya menurut keputusan Tuan Mark.

Sementara itu, Herman menemui Aurora. Dia sebenarnya ragu akan mengatakan hal ini. melihat kegelisahan sang paman, Aurora mencoba mencairkan suasana yang ada.

"Apa atasan Paman tadi marah? Kalau gitu, biar aku saja yang minta maaf." Ujar Aurora dan berkata akan pergi menghampiri Tuan Mark. Namun, sang Paman justru menahannya.

"Tuan Mark ingin kamu menikah dengan cucunya."

"Hah? Paman, aku hanya tak sengaja masuk ke dalam acara ini. Mengapa hukumannya harus menikah dengan cucunya itu? Aku ingat, cucunya itu duda kan? Ih, aku gak mau sama duda!" Pekik Aurora yang mengundang tatapan semua orang ke arahnya. Untungnya, Herman langsung memintanya untuk tidak berisik.

"Pelankan suara mu! Pengantin perempuannya kabur, reputasi keluarga ini akan hancur jika pernikahan di batalkan. Namamu dan nama calon pengantin wanita sama. Jadi, Tuan Mark meminta mu untuk menjadi istri cucunya. Aurora, keluarga Reviano sangat baik, cucunya sangat tampan, kaya raya pula. Seperti Xu Kai idamanmu. Semuanya terwujud disini, cuman kurangnya duda aja." Bisik Herman yang berusaha membujuk keponakannya.

"Paman, pernikahan itu sekali seumur hidup. Aku tidak mencintainya," ujar Aurora merasa keberatan.

"Keluarga Herman sangat banyak membantu kita, ingat saat kamu sakit dan harus di rawat? Paman tak punya biaya, tapi saat paman meminta di pinjamkan uang pada Tuan Mark ... bukan hanya di pinjamkan, bahkan di kasih secara cuma-cuma. Kalau Paman punya anak perempuan, Paman tidak akan memintamu membantu Paman." Herman berusaha membujuk Aurora. Dia merasa takut menolak keinginan Tuan Mark.

Aurora terdiam, ia memandang sang paman yang menatapnya dengan penuh harap. Aurora tak tahu dia harus memutuskan apa. Tapi, sang paman yang telah merawatnya sejak bayi. Bukankah ia harus membalas apa yang Paman dan bibinya berikan padanya?

"Sejak bayi, aku sudah merepotkan paman dan bibi. Banyak hal yang mereka lakukan untukku. Jika aku menolak, pekerjaan paman yang akan menjadi taruhannya. Mungkin, ini adalah cara membalas kebaikan paman dan bibi selama ini. Aku juga tidak mungkin, terus membuat mereka mengalami kesulitan karenaku." Batin Aurora.

Aurora mengangkat pandangannya ke arah wajah Herman yang sedang menunggu jawabannya.

"Baiklah Paman, aku mau. Demi Paman," ujar Aurora dengan mata berkaca-kaca.

Herman menghela nafas lega, "Kamu tenang saja, setahu Paman calon suamimu pria yang baik. Kamu tidak akan kesulitan menikah dengannya. Ayo, kita ...,"

"Ayah?" Herman menghentikan niatnya, ia kembali menatap wajah keponakannya yang terlihat murung.

"Ayahmu menyerahkan tugasnya pada Paman, dia masih belum bisa pulang. Akan butuh waktu sampai kesini, dan ...,"

Aurora menghapus air matanya yang sempat luruh, ia sudah akan menduga hal ini terjadi. "Andai saja ayah disini bersamaku, dia bisa menghadirinya bukan? Biarkan, aku tidak peduli tentangnya. Ayo Paman,"

Herman menatap sedih ke arah keponakannya itu. Ia tahu, seberapa kecewanya Aurora pada sang ayah yang selalu enggan menemuinya. Ia pun mengelus kepala Aurora dan tersenyum lembut pada keponakannya itu. Berharap, hal itu bisa sedikit menguatkannya.

Melihat kedatangan Aurora, Tuan Mark langsung memintanya duduk di sebelah Mars. Melihat sosok calon suaminya, Aurora sampai mematung. Ketampanan Mars, tak dapat dia pungkiri. Ia sampai tak bisa mengalihkan pandangannya saat melihat pria tampan itu.

"Aurora, ayo duduk sini." Ajak Tuan Mark.

Julia mengambil alih, ia langsung menarik lembut lengan calon menantunya dan mendudukkan nya di sebelah Mars. Semua keluarga telah siap di kursi mereka, para tamu pun duduk kembali di kursi masing-maisng dan bersiap menunggu pengesahan pernikahan dua insan itu.

Acara di mulai, Mars mengangkat tangannya dan berjabatan tangan langsung dengan sang penghulu. Jantung Aurora semakin berdegup kencang, perasaannya saat ini sedang kacau. Entah mengapa, d4danya terasa sesak. Air matanya rasanya ingin jatuh mengalir di pipinya.

"Saya nikah kan engkau, dengan saudari Aurora Naomi binti Ansel Pratama. Dengan mas kawin, uang sebesar enam ratus ribu US Dollar di bayar tunai!"

"Saya terima nikah dan kawinnya Aurora Naomi binti Ansel Pratama dengan mas kawin tersebut Tunai."

Deghh!

Jantung Aurora berpacu semakin kencang, air matanya luruh tak sanggup lagi ia tahan. Suara lantang Mars membuat tubuh Aurora menegang kaku. Ia melirik pria yang saat ini baru saja sah menjadi suaminya. Suami? Aurora tak pernah membayangkan akan menjadi seorang istri secepat ini.

Mars beralih menatap Aurora, gadis yang baru saja menjadi istrinya itu sedang menahan tangis. Herman membantu menenangkan keponakannya, ia tahu mengapa Aurora menangis. Sebab, tak hadirnya sang ayah di pernikahannya. Mars berinisiatif mengambil tisu dan memberikannya pada Aurora.

"Makasih." Jawab Aurora sembari mengambil tisu itu. Ia lalu menghapus air matanya dan mengeluarkan cairan hidungnya.

"Aurora!" Tegur Herman, ia merasa tak enak dengan Mars yang terkejut atas tingkah Aurora.

"Ingusnya ngehalangin jalan napas." Ucap Aurora tanpa malu.

Tuan Mark berbicara dengan penghulu yang menikahkan cucunya. Setelah selesai, ia kembali mendekati Mars dan juga Aurora. Senyumannya terbit, ia menepuk pundak cucunya itu dan menatap Aurora yang masih menangis.

"Nanti, uang enam ratus ribunya pegang Aurora langsung atau?"

"Maharnya enam ratus ribu?!" Pekik Aurora dengan mata membulat sempurna.

"Dollar." Sahut Mars memberi kejelasan.

"Do-dollar?!" Aurora bergegas menghitungnya, ia memakai semua jari-jarinya guna menghitung berapakah uang yang ia dapat.

"Itu totalnya berapa? Sepuluh juta? Lima puluh? Paman ...." Aurora syok bukan main, ia menatap Pamannya yang justru meringis pelan.

"Lebih dari Xu Kai mu kan Nak?"

.

.

.

Di tempat berbeda, terlihat seorang pria paruh baya tengah berada di kamarnya. Mendengar kabar putrinya akan segera menikah dengan waktu yang sangat mendadak, membuat pria itu terkejut. Sudah seminggu ia kembali dari perantauan dan memilih tinggal di rumahnya dulu bersama mendiang istrinya tanpa mengabari siapapun. Termasuk, putrinya.

Tatapan matanya tak melepas dari foto istrinya yang tengah mengandung buah hati mereka. Matanya terlihat berkaca-kaca, d4danya terasa sesak. Merindukan seseorang yang sudah tiada, rasanya sangat menyakitkan. Air matanya pun luruh tanpa bisa ia cegah, ia merindukan sosok mendiang istri tercintanya.

"Hari ini putri kita menikah, maafkan aku karena tak menepati janjiku menjadi wali saat putri kita menikah. Aku merasa tidak pantas menjadi wali di pernikahan putri kita. Maafkan aku, aku minta maaf jika selama ini aku terkesan tidak menyayangi putri kita. Dia terlalu mirip denganmu, melihat nya ... sungguh membuatku sakit." Lirih Ansel, ayah kandung dari Aurora.

Ia masih belum terima akan kematian istrinya karena melahirkan putri mereka. Setiap kali melihat wajah putrinya, ia pasti akan teringat akan mendiang istrinya. Bagai pinang di belah dua, keduanya memang sangat mirip. Itulah mengapa, ia memutuskan untuk merantau. Meninggalkan putrinya di asuh oleh kakaknya.

"Selamat atas pernikahan mu, putriku." Lirihnya dan mengangkat pandangannya ke arah luar jendela kamarnya.

___

Terpopuler

Comments

IG: Kenz___567

IG: Kenz___567

Sedang di revisi kawan. Takut membingungkan, yaudah pakai binti aja deh😭 Tapi inget, ni cerita bukan cerita religi. Romansa, cinta manis. Oke

2024-11-08

58

Nurlaela

Nurlaela

terkadang kasihan pada anak yang dilahirkan dan si ibu meninggal dunia, kenapa begitu Ansel kamu biarkan Aurora dia sangat membutuhkanmu,...tega pernahkah kamu ucapkan papa sayang kamu nak,,,,kehilangan itu sudah takdir...dari bayi sampe besar dan menikah masih tidak bisa melihatnya apalagi mengurusnya....😭😭😭😭yang sabar Aurora...

2024-11-09

1

Mita Karolina

Mita Karolina

Kalau bagai pinang di belah 2 sama persis istrimu harusnya bisa mencurahkan kasih sayang semaksimal mungkin,apa lg istrimu melahirkan dgn bertaruh nyawa,hrsnya bisa lebih sayang dong,,,sia2 pengorbanan istrimu kalau anak yg di lahirkannya malah di sia2kan bapak kandungnya…devinisi egoisss😭. Kayaknya blm siap jd orang tua

2025-01-10

0

lihat semua
Episodes
1 Situasi yang berbeda
2 Tak ada pilihan
3 Hati yang terikat
4 Dia sudah menjadi istri saya!
5 Si gadis pecicilan
6 Alkan nda mau punya ibu tiliii!
7 Rasa kecewa seorang putri
8 Kakak tantik, ibu tili Alkan?!
9 Panggil Mars! Jangan Planet!
10 Kehebohan di dapur
11 Jangan memasak, jika kamu akan terluka
12 Aku tidak suka!
13 Kucing nakal!
14 Tidak mau di jandakan
15 Drama Arkan di pagi hari
16 Mulai posesif
17 Aku akan menjaganya
18 Dunia saya yang baru adalah kamu ~Mars
19 Cerita Arkan
20 Kedatangan adik ipar
21 Minta ponakan baru~
22 Perasaan yang mulai tumbuh
23 Tingkah Aurora
24 Ujian menantu
25 Demam dadakan
26 Ego seorang ayah
27 Perhatian yang di impikan
28 Gara-gara martabak
29 Diam nya Mars
30 Bahagiakan dia!
31 Saran adik ipar
32 Terjebak rencana sendiri
33 Jual aja, Mommy!
34 Kepedulian seorang anak
35 Bubuuul
36 Sulit menebak
37 Manjanya Aurora
38 Langkah yang Mars ambil
39 Ada yang harus kamu tahu~
40 Tak ingin kehilangan lagi
41 Kejailan Arkan
42 Jailnya Aurora
43 Nda enak pelacaan Alkan ini
44 Hadiah dari suami
45 Salah sangka
46 Memberikan hakmu
47 Tanda cinta
48 Tamu bulanan
49 Manjanya seorang putri
50 Kehebohan Arkan
51 Menciptakan momen berdua
52 Tingkah istri kecil Tuan Mars
53 Isi Paket Aurora
54 Kebahagiaan sederhana Arkan
55 Cemburunya Mars
56 Adek balu nya kapan?
57 Bulan madu 1
58 Bulan madu 2
59 Bulan Madu 3
60 Orang yang sama?
61 Terlupakan
62 Nda enaaaak!
63 Selesainya masa kebebasan Arkan
64 Kebahagiaan manis keluarga kecil
65 Berpisah sementara
66 Tak sengaja
67 Bangganya Mars
68 Perhatiannya mama mertua
69 Kedatangan yang tak di harapkan
70 Sikap tegas Aurora
71 Kehebohan Zeeya
72 Pembelaan mertua
73 Kamu tidak tahu seberapa bar-bar nya aku!
74 Acara Tuan Mark
75 Kata cinta yang sangat berarti
76 Mual~
77 Aku mengenalnya!
78 Rahasia besar yang di sembunyikan
79 Tak mudah percaya
80 Rekaman kenangan
81 Arkan, si bocah hobi jajan
82 Cinta bertepuk sebelah tangan
83 Tertangkap juga
84 Cucu kesayangan kakek Ansel
85 Lari pagi
86 Hasil yang tak sesuai harapan
87 Keterkejutan Evano & Julia
88 Alkan lapal
89 Hamil?
90 Kehamilan Aurora
91 Drama ngidamnya Mars
92 Perhatian mertua
93 Kekasih Denzel?
94 Membujuk istri
95 Alkan mau potong lambut!
96 Pintar VS cerdik
97 Ledekan Jimmy
98 Sidang penetapan hukuman
99 Dia sangat meratukanku
100 Jemput Arkan
101 Bukan suami yang sempurna
102 Nda boleh lebut mommy tili olang!
103 Kedatangan Denzel
104 Di labraak
105 Ke lumah kakeeeek!
106 Berharap tak pernah tahu
107 Salah lagi
108 Titipan yang salah
109 Tragedi
110 Putraku atau putramu?
111 Terbongkar!
112 Si belok!
113 Kebijakan Aurora
114 Kembar
115 Susu hamil
116 Mood ibu hamil
117 Ngidamnya bumil
118 Kesepakatan
119 Teloooong!
120 Duda baru
121 Harus menerima
122 Pasrahnya Mars menghadapi mood bumil
123 Pinjam Mommy
124 Mendadak Operasi
125 Lahirnya si kembar
126 Bayi kembar yang di nanti
127 Pulang
128 Ci kembal
129 Begadang
130 Tingkah Arkan
131 Sama-sama jaaiil
132 Tuan Mark
133 Kesenangan Arkan
134 Mommy nya gak rindu?
135 Kejailan Aurora
136 Ada apa?
137 Perasaan Zeeya
138 Terlambat
139 Tingkah memggemaskan si kembar
140 Menerima
141 Si kembar yang menggemaskan
142 Adek lagi?
143 Lamaran Zeeya
144 Happy End
145 Bonus Chapter
146 Bonus Chapter
147 UNDANGAN!
148 Bonus Chapter
149 Bonus Chapter
150 Bonus Chapter
151 Bonus Chapter
152 Bonus chapter
153 Bonus Chapter
154 Bonus Chapter
155 Bonus Chapter
156 Bonus Chapter
157 Bonus Chapter
158 Bonus Chapterr
159 Bonus Chapter
160 Bonus Chapter
161 Bonus Chapter
162 Bonus Chapter
163 Bonus Chapter
164 Bonus Chapter
165 Bonus Chapter
166 Bonus Chapter
167 Bonus Chapter
168 BONCHAP HABIS
169 Cinta yang kamu pilih~
Episodes

Updated 169 Episodes

1
Situasi yang berbeda
2
Tak ada pilihan
3
Hati yang terikat
4
Dia sudah menjadi istri saya!
5
Si gadis pecicilan
6
Alkan nda mau punya ibu tiliii!
7
Rasa kecewa seorang putri
8
Kakak tantik, ibu tili Alkan?!
9
Panggil Mars! Jangan Planet!
10
Kehebohan di dapur
11
Jangan memasak, jika kamu akan terluka
12
Aku tidak suka!
13
Kucing nakal!
14
Tidak mau di jandakan
15
Drama Arkan di pagi hari
16
Mulai posesif
17
Aku akan menjaganya
18
Dunia saya yang baru adalah kamu ~Mars
19
Cerita Arkan
20
Kedatangan adik ipar
21
Minta ponakan baru~
22
Perasaan yang mulai tumbuh
23
Tingkah Aurora
24
Ujian menantu
25
Demam dadakan
26
Ego seorang ayah
27
Perhatian yang di impikan
28
Gara-gara martabak
29
Diam nya Mars
30
Bahagiakan dia!
31
Saran adik ipar
32
Terjebak rencana sendiri
33
Jual aja, Mommy!
34
Kepedulian seorang anak
35
Bubuuul
36
Sulit menebak
37
Manjanya Aurora
38
Langkah yang Mars ambil
39
Ada yang harus kamu tahu~
40
Tak ingin kehilangan lagi
41
Kejailan Arkan
42
Jailnya Aurora
43
Nda enak pelacaan Alkan ini
44
Hadiah dari suami
45
Salah sangka
46
Memberikan hakmu
47
Tanda cinta
48
Tamu bulanan
49
Manjanya seorang putri
50
Kehebohan Arkan
51
Menciptakan momen berdua
52
Tingkah istri kecil Tuan Mars
53
Isi Paket Aurora
54
Kebahagiaan sederhana Arkan
55
Cemburunya Mars
56
Adek balu nya kapan?
57
Bulan madu 1
58
Bulan madu 2
59
Bulan Madu 3
60
Orang yang sama?
61
Terlupakan
62
Nda enaaaak!
63
Selesainya masa kebebasan Arkan
64
Kebahagiaan manis keluarga kecil
65
Berpisah sementara
66
Tak sengaja
67
Bangganya Mars
68
Perhatiannya mama mertua
69
Kedatangan yang tak di harapkan
70
Sikap tegas Aurora
71
Kehebohan Zeeya
72
Pembelaan mertua
73
Kamu tidak tahu seberapa bar-bar nya aku!
74
Acara Tuan Mark
75
Kata cinta yang sangat berarti
76
Mual~
77
Aku mengenalnya!
78
Rahasia besar yang di sembunyikan
79
Tak mudah percaya
80
Rekaman kenangan
81
Arkan, si bocah hobi jajan
82
Cinta bertepuk sebelah tangan
83
Tertangkap juga
84
Cucu kesayangan kakek Ansel
85
Lari pagi
86
Hasil yang tak sesuai harapan
87
Keterkejutan Evano & Julia
88
Alkan lapal
89
Hamil?
90
Kehamilan Aurora
91
Drama ngidamnya Mars
92
Perhatian mertua
93
Kekasih Denzel?
94
Membujuk istri
95
Alkan mau potong lambut!
96
Pintar VS cerdik
97
Ledekan Jimmy
98
Sidang penetapan hukuman
99
Dia sangat meratukanku
100
Jemput Arkan
101
Bukan suami yang sempurna
102
Nda boleh lebut mommy tili olang!
103
Kedatangan Denzel
104
Di labraak
105
Ke lumah kakeeeek!
106
Berharap tak pernah tahu
107
Salah lagi
108
Titipan yang salah
109
Tragedi
110
Putraku atau putramu?
111
Terbongkar!
112
Si belok!
113
Kebijakan Aurora
114
Kembar
115
Susu hamil
116
Mood ibu hamil
117
Ngidamnya bumil
118
Kesepakatan
119
Teloooong!
120
Duda baru
121
Harus menerima
122
Pasrahnya Mars menghadapi mood bumil
123
Pinjam Mommy
124
Mendadak Operasi
125
Lahirnya si kembar
126
Bayi kembar yang di nanti
127
Pulang
128
Ci kembal
129
Begadang
130
Tingkah Arkan
131
Sama-sama jaaiil
132
Tuan Mark
133
Kesenangan Arkan
134
Mommy nya gak rindu?
135
Kejailan Aurora
136
Ada apa?
137
Perasaan Zeeya
138
Terlambat
139
Tingkah memggemaskan si kembar
140
Menerima
141
Si kembar yang menggemaskan
142
Adek lagi?
143
Lamaran Zeeya
144
Happy End
145
Bonus Chapter
146
Bonus Chapter
147
UNDANGAN!
148
Bonus Chapter
149
Bonus Chapter
150
Bonus Chapter
151
Bonus Chapter
152
Bonus chapter
153
Bonus Chapter
154
Bonus Chapter
155
Bonus Chapter
156
Bonus Chapter
157
Bonus Chapter
158
Bonus Chapterr
159
Bonus Chapter
160
Bonus Chapter
161
Bonus Chapter
162
Bonus Chapter
163
Bonus Chapter
164
Bonus Chapter
165
Bonus Chapter
166
Bonus Chapter
167
Bonus Chapter
168
BONCHAP HABIS
169
Cinta yang kamu pilih~

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!