Tidak mau di jandakan

"Kamu gak papa kan? Aku dan teman-teman sangat mengkhawatirkanmu kemarin di acara pentas." Ujar Pria bernama Lingga itu.

Lingga, merupakan kakak kelas Aurora, tepatnya masih satu angkatan di atas nya. Keduanya memang terbilang dekat karena sering bersama dalam kegiatan lomba di sekolah. Saat pentas Drama sekolah di adakan, Lingga tentu datang karna dia sebagai pelatih drama yang akan mereka tampilkan. Makanya, saat Aurora tak datang membuat pria itu begitu panik.

Aurora kembali menatap Lingga dengan tatapan bersalah, "Kak, maafkan aku. Ada masalah yang tidak bisa aku jelaskan. Di hari itu, aku sudah siap dan akan berangkat ke gedung acara. Tapi, aku mengalami masalah. Apa teman-teman marah pada ku Kak? Doni gimana? Apa ada yang menggantikanku menjadi pasangannya di Pentas Drama itu?"

Lingga mengangguk pelan, ia melihat ada raut wajah gelisah dari gadis yang ada di depannya saat ini. "Kita ada pemain cadangan, jadi di saat-saat seperti kemarin, kita sudah siap. Tapi, kamu beneran gak papa?"

"Aku enggak papa kak, terima kasih atas segalanya. Maaf, kalau hari itu aku membuat masalah. Aku benar-benar minta maaf," ujar Aurora yang khawatir Lingga dan para temannya memarahinya karena ketidakhadirannya.

Lingga mengangguk, ia akan kembali berbicara. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering. Pria itu segera mengangkatnya dan menjawab seseorang yang menghubunginya.

"Iya, aku kesana sekarang." Ucap Lingga sebelum memutus sambungan telepon nya.

Tatapan Lingga kembali menatap Aurora yang sedang menatap sekitar, "Maaf, kakak gak bisa lama-lama. Karena habis ini ada acara di kampus, kamu pulangnya hati-hati yah. Atau, mau sekalian pulang bersama?"

"Oh eng-enggak usah! Enggak, kebetulan Paman akan menjemputku nanti." tolak Aurora dengan cepat.

Lingga mengangguk kaku, "Oke, kakak pulang dulu yah." Pamit Lingga yang di balas senyuman tipis oleh Aurora.

Pria itu tersenyum dan menepuk kepala Aurora dengan lembut. Hal itu, tentu membuat Aurora merasa kaget bukan main. Lingga santai, ia berjalan melewati Aurora. Namun, tatapannya tak sengaja bersitatap dengan bodyguard yang berdiri tak jauh dari Aurora. Karena merasa tak mengenalinya, Lingga fokus kembali berjalan pergi. Meninggalkan Aurora yang menatap kepergiannya dengan tatapan terkejut

"Kenapa bisa ketemu sih? Heran, untungnya enggak lama." Gumam Aurora sebelum mengalihkan tatapannya ke arah Mars.

"Eh?!" Aurora kaget saat melihat Mars yang sudah menghadap ke arahnya sembari menatap tajam padanya.

"Masalah lagi ini." Batin gadis cantik itu.

Perlahan, Mars melangkah ke arahnya dengan memegang es krim coklat di tangannya. Sementara Arkan, bocah kecil itu mengikutinya dari belakang sembari sibuk memakan es krimnya dan tak peduli apa yang terjadi saat ini.

"Siapa?" Tanya Mars setibanya ia di hadapan sang istri.

"Itu kakak kelasku, dia kebetulan disini jadi menyapaku." Jawab Aurora yang gugup.

"Menyapamu tapi sambil menepuk kepalamu? Siapa dia? Kakak kelas atau pacarmu?" Sindir Mars dengan lirikan tajamnya

"Kakak kelaaas! Aku gak pernah pacaran!" Pekik Aurora tak terima.

"Apa kamu cerita padanya kalau kamu disini bersama suamimu?" Tanya Mars, tatapannya penuh selidik.

Aurora meneguk kasar lud4hnya, ia tadi tak menceritakannya. Sebab, ia takut akan menjadi masalah. Teman-temannya tidak tahu dia menikah, apalagi dengan seorang duda. Aurora belum siap menceritakannya.

"Aku belum siap mereka tahu." Lirihnya.

Mars tambah merasa kesal, pria itu menarik tangan Aurora dan memberikan es krim yang tadi dirinya beli agar istri kecilnya itu tak tambah kesal. Namun, justru sekarang dirinya yang di buat kesal.

"Pulang." Titah Mars dan berjalan pergi lebih dulu, membawa perasaanya yang campur aduk. antara marah dan kesal, tapi ia bingung mengapa perasananya seperti ini?

"Masalah lagi ini." Lirih Aurora, ia memandang es krim yang ada di tangannya dengan tatapan lemah.

.

.

.

Setelah dari mall tadi, seharian Mars mendiaminya. Bahkan, saat tidur malam pria itu masih mendiaminya. Aurora jadi merasa bersalah di buatnya, tapi ia merasa gengsi untuk meminta maaf pada Mars mengenai kejadian di mall tadi.

Aurora berbalik, ia menatap Mars yang tidur memunggunginya. Gadis cantik itu memberanikan dirinya untuk memanggil Mars yang sedari tadi mendiaminya. Perlahan, Aurora mengangkat tangannya. Dengan ragu, ia menyentuh punggung Mars dengan jari telunjuknya.

"Tuan Mars, apa kamu sudah tidur?" Tanya Aurora.

Sebenarnya Mars tidak tidur, dia hanya memejamkan matanya saja. Hatinya masih merasa kesal karena kejadian di mall tadi. Seolah, wanita itu malu mengakuinya sebagai suami. Mars akui, umur mereka berjarak jauh. Tapi, apa dia jelek sampai sebegitu tidak maunya untuk di akui?

"Tuan Mars, aku minta maaf. Aku belum siap menceritakan pada teman-temanku jika aku sudah menikah. Beri aku waktu yah, pernikahan ini juga sangat mendadak. Tolong, mengerti." Ucap Aurora, suara terdengar lirih tapi Mars mampu mendengarnya.

"Udah tidur yah? Yasudah kalau gitu. selamat tidur Mister Planet, Tuan Planet, Tuan Mars, Duda genit! ku sebut semua biar kamu makin marah!" Aurora berbalik memunggungi Mars, kali ini dia yang kesal karena pria itu tak menanggapi ucapannya. Aurora tahu Mars belum tidur dan pasti sudah mendengar penjelasannya.

Mars tak peduli, ia memilih tidur dan tak ingin memikirkan Aurora. Tak butuh waktu lama, ia masuk ke alam mimpi nya. Namun, tak berselang lama dirinya terlelap. Tiba-tiba ia mendengar suara isak tangis yang sangat kencang. Reflek, Mars membuka matanya, ia segera menoleh ke sekitar kamarnya yang gelap. Takut terjadi sesuatu, Mars langsung menyalakan lampu kamarnya.

Mars mencari asal suara isak tangis itu, ia beralih menatap sebelahnya. Tak ada keberadaan Aurora, sudah pasti yang menangis itu adalah istrinya. Tapi dimana kah istri kecil nya itu?

Tatapan Mars terjatuh pada sudut kamarnya, tepatnya di sela lemarinya. Ia merasa suara tangis itu berasal dari sela lemarinya.

"Aurora?" Tebak Mars.

Pria tampan itu memutuskan turun dari ranjang dan menghampiri asal suara. Sesampainya di depan lemari, ia menengok ke arah sela lemari dan terlihatlah Aurora tengah berj0ngkok sembari menyembunyikan wajahnya di lengannya.

"Aurora, kamu ngapain?" Tanya Mars yang bingung, dia benar-benar tak tahu apa yang istri kecilnya itu lakukan. Bersembunyi di sela lemari? Seperti seorang anak kecil yang di marahi oleh orang tuanya.

Tak mendapat sambutan, Mars pun turut berj0ngkok. Ia menatap tubuh istrinya yang bergetar menahan tangis. Mars khawatir, takut, dan penasaran apa yang terjadi dengan Aurora. Pasalnya, sebelum tidur seingatnya tak ada drama apapun Kecuali dirinya yang marah.

"Apa kamu sakit? Aurora, hei ... dengar saya?" Mars mencoba menggoyangkan bahu Aurora, berharap gadis itu membalas perkataannya.

Perlahan, Aurora mengangkat wajahnya. Ia menatap Mars dengan mata sembab dan rambut yang acak-acakan. Melihat itu, Mars hampir terjungkal ke belakang karena wajah Aurora terlihat sangat menyedihkan.

"Kamu kenapa sih?!" Mars semakin tak tahu dengan apa yang terjadi pada istri kecilnya.

"Kamu marah hiks ... aku gak mau jadi janda mudaaaa hiks ... aku gak mau hiks huaaa ...." Pekik Aurora sebelum kembali menangis kencang.

"Hah? Yang mau jadiin kamu janda siapa?!"

Aurora tak menjawab, dia hanya nangis sembari menatap Mars dengan deraian air mata. Nafasnya terasa sesak karena dirinya mengalami sesenggukan. Mars yang melihat wajah sembab Aurora pun menjadi tak tega melihatnya. Bahkan, Aurora sampai memiliki pikiran jika dia akan menjandakannya.

"Kemari!"

"Enggak mau, pokoknya enggak mau hiks ...." Rengek Aurora saat Mars menariknya keluar.

"Terus maunya apa?" Tanya Mars yang sudah pasrah. Aurora hanya diam, dia memantap Mars dengan mata sembabnya.

Tak ada pilihan lain, Mars langsung mengalungkan medua tangan Aurora di lehernya. Tak di sangka, Aurora tak menolaknya. Ia lalu mengangkat tubuh Aurora dan menggendongnya seperti koala. Gadis cantik itu langsung melingkarkan kakinya di pinggang Mars, seolah takut terjatuh.

Mars mendukkan tubuhnya di tepi ranjang, dengan Aurora yang berada di pangkuannya. Dengan lembut dan penuh perhatian, pria itu menghapus air mata sang istri dengan jari-jemarinya. Tatapan keduanya bertemu, menatap dengan tatapan dalam.

"Jangan diamkan aku, Tuan Planet." Lirih Aurora, nada suaranya terdengar bergetar.

"Mister Planet, Tuan Planet, duda genit, om-om giila, masih bisa saya bersabar denganmu huh?" Sindir Mars.

"Itu kan bahasa sayang, hanya kamu yang aku panggil seperti itu." Ujar Aurora membela diri.

"Oh, panggilan sayang yah ... jujur sekali kamu sudah mengaku sayang pada saya."

"Eh?!"

___

Selamat beraktivitas kawaaaan, bocil muncul setelah ini🤓

Terpopuler

Comments

Fitri Anwar

Fitri Anwar

lah thor arkan apa gk ketinggalan dimall tadi kan beli ice crean sama tuan planet

2024-11-12

5

Nandi Ni

Nandi Ni

hemmmm dah mulai posesif nih,,tuan planet,maklumi mommy lolana Alkan yah,dia ga ada figur ayah dan ibu buat dia manja2 dan keluh kesah,masih remaja juga dia.gantikan peran ortu yg ga dia dpt dr bayi

2024-11-12

5

Puji Ustariana

Puji Ustariana

bukan di situ masalahnya planeeeet klo kamu di posisi rora jg akan melakukan hal yg sama nikah secara mendadak gak ada cinta ujuk" nikah pst lah rora blm siap utk mengabari temen"nya klo mw kenali temen" rora dulu trus undang mrk di rmh kamu istilahnya pesta kecil"an di sana baru deh kamu jelasin kondisi yg sebenarnya

2024-12-17

0

lihat semua
Episodes
1 Situasi yang berbeda
2 Tak ada pilihan
3 Hati yang terikat
4 Dia sudah menjadi istri saya!
5 Si gadis pecicilan
6 Alkan nda mau punya ibu tiliii!
7 Rasa kecewa seorang putri
8 Kakak tantik, ibu tili Alkan?!
9 Panggil Mars! Jangan Planet!
10 Kehebohan di dapur
11 Jangan memasak, jika kamu akan terluka
12 Aku tidak suka!
13 Kucing nakal!
14 Tidak mau di jandakan
15 Drama Arkan di pagi hari
16 Mulai posesif
17 Aku akan menjaganya
18 Dunia saya yang baru adalah kamu ~Mars
19 Cerita Arkan
20 Kedatangan adik ipar
21 Minta ponakan baru~
22 Perasaan yang mulai tumbuh
23 Tingkah Aurora
24 Ujian menantu
25 Demam dadakan
26 Ego seorang ayah
27 Perhatian yang di impikan
28 Gara-gara martabak
29 Diam nya Mars
30 Bahagiakan dia!
31 Saran adik ipar
32 Terjebak rencana sendiri
33 Jual aja, Mommy!
34 Kepedulian seorang anak
35 Bubuuul
36 Sulit menebak
37 Manjanya Aurora
38 Langkah yang Mars ambil
39 Ada yang harus kamu tahu~
40 Tak ingin kehilangan lagi
41 Kejailan Arkan
42 Jailnya Aurora
43 Nda enak pelacaan Alkan ini
44 Hadiah dari suami
45 Salah sangka
46 Memberikan hakmu
47 Tanda cinta
48 Tamu bulanan
49 Manjanya seorang putri
50 Kehebohan Arkan
51 Menciptakan momen berdua
52 Tingkah istri kecil Tuan Mars
53 Isi Paket Aurora
54 Kebahagiaan sederhana Arkan
55 Cemburunya Mars
56 Adek balu nya kapan?
57 Bulan madu 1
58 Bulan madu 2
59 Bulan Madu 3
60 Orang yang sama?
61 Terlupakan
62 Nda enaaaak!
63 Selesainya masa kebebasan Arkan
64 Kebahagiaan manis keluarga kecil
65 Berpisah sementara
66 Tak sengaja
67 Bangganya Mars
68 Perhatiannya mama mertua
69 Kedatangan yang tak di harapkan
70 Sikap tegas Aurora
71 Kehebohan Zeeya
72 Pembelaan mertua
73 Kamu tidak tahu seberapa bar-bar nya aku!
74 Acara Tuan Mark
75 Kata cinta yang sangat berarti
76 Mual~
77 Aku mengenalnya!
78 Rahasia besar yang di sembunyikan
79 Tak mudah percaya
80 Rekaman kenangan
81 Arkan, si bocah hobi jajan
82 Cinta bertepuk sebelah tangan
83 Tertangkap juga
84 Cucu kesayangan kakek Ansel
85 Lari pagi
86 Hasil yang tak sesuai harapan
87 Keterkejutan Evano & Julia
88 Alkan lapal
89 Hamil?
90 Kehamilan Aurora
91 Drama ngidamnya Mars
92 Perhatian mertua
93 Kekasih Denzel?
94 Membujuk istri
95 Alkan mau potong lambut!
96 Pintar VS cerdik
97 Ledekan Jimmy
98 Sidang penetapan hukuman
99 Dia sangat meratukanku
100 Jemput Arkan
101 Bukan suami yang sempurna
102 Nda boleh lebut mommy tili olang!
103 Kedatangan Denzel
104 Di labraak
105 Ke lumah kakeeeek!
106 Berharap tak pernah tahu
107 Salah lagi
108 Titipan yang salah
109 Tragedi
110 Putraku atau putramu?
111 Terbongkar!
112 Si belok!
113 Kebijakan Aurora
114 Kembar
115 Susu hamil
116 Mood ibu hamil
117 Ngidamnya bumil
118 Kesepakatan
119 Teloooong!
120 Duda baru
121 Harus menerima
122 Pasrahnya Mars menghadapi mood bumil
123 Pinjam Mommy
124 Mendadak Operasi
125 Lahirnya si kembar
126 Bayi kembar yang di nanti
127 Pulang
128 Ci kembal
129 Begadang
130 Tingkah Arkan
131 Sama-sama jaaiil
132 Tuan Mark
133 Kesenangan Arkan
134 Mommy nya gak rindu?
135 Kejailan Aurora
136 Ada apa?
137 Perasaan Zeeya
138 Terlambat
139 Tingkah memggemaskan si kembar
140 Menerima
141 Si kembar yang menggemaskan
142 Adek lagi?
143 Lamaran Zeeya
144 Happy End
145 Bonus Chapter
146 Bonus Chapter
147 UNDANGAN!
148 Bonus Chapter
149 Bonus Chapter
150 Bonus Chapter
151 Bonus Chapter
152 Bonus chapter
153 Bonus Chapter
154 Bonus Chapter
155 Bonus Chapter
156 Bonus Chapter
157 Bonus Chapter
158 Bonus Chapterr
159 Bonus Chapter
160 Bonus Chapter
161 Bonus Chapter
162 Bonus Chapter
163 Bonus Chapter
164 Bonus Chapter
165 Bonus Chapter
166 Bonus Chapter
167 Bonus Chapter
168 BONCHAP HABIS
169 Cinta yang kamu pilih~
Episodes

Updated 169 Episodes

1
Situasi yang berbeda
2
Tak ada pilihan
3
Hati yang terikat
4
Dia sudah menjadi istri saya!
5
Si gadis pecicilan
6
Alkan nda mau punya ibu tiliii!
7
Rasa kecewa seorang putri
8
Kakak tantik, ibu tili Alkan?!
9
Panggil Mars! Jangan Planet!
10
Kehebohan di dapur
11
Jangan memasak, jika kamu akan terluka
12
Aku tidak suka!
13
Kucing nakal!
14
Tidak mau di jandakan
15
Drama Arkan di pagi hari
16
Mulai posesif
17
Aku akan menjaganya
18
Dunia saya yang baru adalah kamu ~Mars
19
Cerita Arkan
20
Kedatangan adik ipar
21
Minta ponakan baru~
22
Perasaan yang mulai tumbuh
23
Tingkah Aurora
24
Ujian menantu
25
Demam dadakan
26
Ego seorang ayah
27
Perhatian yang di impikan
28
Gara-gara martabak
29
Diam nya Mars
30
Bahagiakan dia!
31
Saran adik ipar
32
Terjebak rencana sendiri
33
Jual aja, Mommy!
34
Kepedulian seorang anak
35
Bubuuul
36
Sulit menebak
37
Manjanya Aurora
38
Langkah yang Mars ambil
39
Ada yang harus kamu tahu~
40
Tak ingin kehilangan lagi
41
Kejailan Arkan
42
Jailnya Aurora
43
Nda enak pelacaan Alkan ini
44
Hadiah dari suami
45
Salah sangka
46
Memberikan hakmu
47
Tanda cinta
48
Tamu bulanan
49
Manjanya seorang putri
50
Kehebohan Arkan
51
Menciptakan momen berdua
52
Tingkah istri kecil Tuan Mars
53
Isi Paket Aurora
54
Kebahagiaan sederhana Arkan
55
Cemburunya Mars
56
Adek balu nya kapan?
57
Bulan madu 1
58
Bulan madu 2
59
Bulan Madu 3
60
Orang yang sama?
61
Terlupakan
62
Nda enaaaak!
63
Selesainya masa kebebasan Arkan
64
Kebahagiaan manis keluarga kecil
65
Berpisah sementara
66
Tak sengaja
67
Bangganya Mars
68
Perhatiannya mama mertua
69
Kedatangan yang tak di harapkan
70
Sikap tegas Aurora
71
Kehebohan Zeeya
72
Pembelaan mertua
73
Kamu tidak tahu seberapa bar-bar nya aku!
74
Acara Tuan Mark
75
Kata cinta yang sangat berarti
76
Mual~
77
Aku mengenalnya!
78
Rahasia besar yang di sembunyikan
79
Tak mudah percaya
80
Rekaman kenangan
81
Arkan, si bocah hobi jajan
82
Cinta bertepuk sebelah tangan
83
Tertangkap juga
84
Cucu kesayangan kakek Ansel
85
Lari pagi
86
Hasil yang tak sesuai harapan
87
Keterkejutan Evano & Julia
88
Alkan lapal
89
Hamil?
90
Kehamilan Aurora
91
Drama ngidamnya Mars
92
Perhatian mertua
93
Kekasih Denzel?
94
Membujuk istri
95
Alkan mau potong lambut!
96
Pintar VS cerdik
97
Ledekan Jimmy
98
Sidang penetapan hukuman
99
Dia sangat meratukanku
100
Jemput Arkan
101
Bukan suami yang sempurna
102
Nda boleh lebut mommy tili olang!
103
Kedatangan Denzel
104
Di labraak
105
Ke lumah kakeeeek!
106
Berharap tak pernah tahu
107
Salah lagi
108
Titipan yang salah
109
Tragedi
110
Putraku atau putramu?
111
Terbongkar!
112
Si belok!
113
Kebijakan Aurora
114
Kembar
115
Susu hamil
116
Mood ibu hamil
117
Ngidamnya bumil
118
Kesepakatan
119
Teloooong!
120
Duda baru
121
Harus menerima
122
Pasrahnya Mars menghadapi mood bumil
123
Pinjam Mommy
124
Mendadak Operasi
125
Lahirnya si kembar
126
Bayi kembar yang di nanti
127
Pulang
128
Ci kembal
129
Begadang
130
Tingkah Arkan
131
Sama-sama jaaiil
132
Tuan Mark
133
Kesenangan Arkan
134
Mommy nya gak rindu?
135
Kejailan Aurora
136
Ada apa?
137
Perasaan Zeeya
138
Terlambat
139
Tingkah memggemaskan si kembar
140
Menerima
141
Si kembar yang menggemaskan
142
Adek lagi?
143
Lamaran Zeeya
144
Happy End
145
Bonus Chapter
146
Bonus Chapter
147
UNDANGAN!
148
Bonus Chapter
149
Bonus Chapter
150
Bonus Chapter
151
Bonus Chapter
152
Bonus chapter
153
Bonus Chapter
154
Bonus Chapter
155
Bonus Chapter
156
Bonus Chapter
157
Bonus Chapter
158
Bonus Chapterr
159
Bonus Chapter
160
Bonus Chapter
161
Bonus Chapter
162
Bonus Chapter
163
Bonus Chapter
164
Bonus Chapter
165
Bonus Chapter
166
Bonus Chapter
167
Bonus Chapter
168
BONCHAP HABIS
169
Cinta yang kamu pilih~

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!