Si gadis pecicilan

Herman baru saja pulang dari acara pernikahan Mars dan Aurora, raut wajahnya terlihat sangat lelah. Ia lebih dulu memarkirkan mobilnya sebelum masuk ke dalam rumah. Setelah itu, ia baru beranjak keluar mobilnya dan berniat untuk mengetuk pintu rumahnya. Sebelum tangannya sampai mengetuk, ia melihat mobil lain yang berhenti di depan rumahnya. Tak lama, seorang pria dengan tas ranselnya keluar dari dalam mobil tersebut.

"Ansel." Gumam Herman dengan tatapan terkejut.

"Kamu terkejut dengan kedatanganku kak?" Ucap Ansel yang mana membuat Herman sadar dari keterkejutannya.

"Buat apa kamu pulang sekarang? Setelah putrimu menikah, kamu baru pulang? Putrimu sampai mengemis-ngemis memintamu pulang, tapi kamu baru pulang sekarang? Untuk apa? Putrimu sudah menjadi milik orang lain, bukan lagi milik ayahnya yang egois menyalahkan atas kesalahan yang tidak ia lakukan!" Sentak Herman dengan tatapan tajam.

Cklek!

"Ada apa ribut-ri ... Ansel?" Helen terkejut dengan kehadiran adik iparnya. Ia beralih menatap suaminya yang memasang raut wajah penuh amarah.

"Kita bicara di dalam saja." Ajak Herman, dia khawatir tetangga akan mendengar perdebatan mereka.

"Mas, tapi Aurora belum pulang. Aku coba menghubungi teman-temannya, tapi mereka tidak tahu dimana Aurora." Seru Helen mengejar suaminya yang sudah masuk ke dalam rumah mereka.

"Aurora ada di tempat yang aman, besok dia akan pulang." Jawab Herman dan mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tengah. Tatapan matanya tak lepas dari adiknya yang mendudukkan tubuhnya tepat berhadapan dengannya.

"Apa tujuanmu pulang? Sejak Aurora bayi, sampai sekarang ... kamu hanya baru pulang dua kali. Dua kali, saat ibu kita meninggal, dan saat sepuluh tahun kepergian mendiang istrimu. Aurora selalu mengemis memintamu pulang karena dia rindu, tapi apa? Kamu tak pernah mendengarkannya. Dia merindukanmu, dia sangat rindu orang tuanya yang tersisa. Bahkan, di hari pernikahannya. Kamu tidak ada mengatakan tunggu ayah, ayah akan datang. Tidak! Kamu justru membebani tugasmu sebagai ayahnya kepadaku, yang hanya seorang pamannya!" Sentak Herman dengan emosi yang menggebu.

Helen tentu kaget, dia menatap suaminya dan langsung duduk di sebelahnya. "Maksudnya apa Mas? Maksudnya apa?! Aurora menikah dengan siapa?!" Sentak Helen, raut wajahnya terlihat sangat panik.

Herman akhirnya menceritakan apa yang terjadi tadi dengan detail tanpa ia kurang-kurangi. Lalu, tatapannya beralih menatap Hansel yang seolah tak merasa bersalah dan hanya menatapnya santai.

"Pernikahannya sangat mendadak, akan butuh waktu juga untuk aku sampai di sana."

"Jangan kamu kira aku tidak tahu kamu berada di kota ini sejak seminggu yang lalu Ansel! Jangan jadikan jarak sebuah alasan! Aku tahu, kamu sudah kembali sejak satu minggu yang lalu!" Sentak Herman dengan tatapan tajam. Ansel tak terlihat terkejut, ia hanya diam menerima kemarahan yang sang kakak berikan.

"Aku mencoba menjelaskan pada putrimu tanpa menjelekkan mu. Tapi sepertinya, putrimu sudah tak mempercayainya. Sudahlah, kehadiranmu sudah tak di tunggu lagi olehnya. Dia sudah sangat-sangat kecewa padamu." Ujar Herman sebelum meninggalkan Ansel. Ia beranjak pergi, sang istri bergegas menyusulnya untuk meminta penjelasan lebih.

Sementara itu, Ansel menyandarkan tubuhnya. Ia menatap sekelilingnya, terdapat banyak sekali piala dengan nama putri tunggalnya. Dia akui, putrinya sangat berprestasi, pintar, dan tumbuh dengan baik di keluarga kakaknya. Ada rasa penyesalan yang tak bisa ia ungkapkan, namun seperti nya terlambat.

.

.

.

Aurora belum juga bisa tertidur, ia melirik ke sebelahnya dimana Mars baru saja selesai mandi dan memakai piyama dengan motif yang sama dengannya. Kecanggungan terjadi antara keduanya, bahkan keduanya merebahkan tubuh mereka di tepi ranjang dengan di batasi oleh guling.

Tak lama, Aurora merasa ada pergerakan dari Mars. Ia langsung duduk saat melihat pria itu duduk. Seolah, dirinya berjaga-jaga khawatir Mars berbuat macam-macam padanya. Namun, Mars yang melihat tingkah Aurora menatap heran.

"Kenapa? Apa kamu berpikir saya akan memp3rkosa kamu huh?" Desis Mars.

Aurora menggeleng lucu, ia melirik sekitar kamar yang memang sedari tadi tak berubah hanya untuk mengalihkan perhatiannya dari Mars. Tak lama, helaan nafas Mars terdengar. Pria itu menatap Aurora yang tengah menatap ke arah berbeda.

"Seperti yang kamu tahu, saya seorang duda. Pernikahan ini, mungkin terlalu mendadak untukmu. Saya tahu, kamu terkejut pastinya." Ucap Mars yang mana membuat Aurora beralih menatapnya.

"Aku setuju menikah denganmu karena Paman. Aku tak tega menolak permintaannya, walau sebenarnya aku bisa menolak nya. Keluarga ini sudah sangat baik pada paman dan keluarga kami, waktu nya aku yang membalas kebaikan keluarga kalian." Lirih Aurora sembari menundukkan kepalanya.

"Jadi kamu mau menikah dengan saya karena balas budi?" Tanya Mars sambil mengerutkan keningnya.

Aurora mengangguk, "Iya, kalau enggak karena balas budi siapa yang mau menikah dengan duda seperti ...." Aurora menutup mulutnya, ia menatap Mars yang sudah memasang raut wajah dinginnya. Ia tak bisa memperhatikan apa yang akan dia bicarakan.

"Bu-bukan itu maksudku, ehm .... memangnya kenapa Tuan mau menikahi dengan ku?" Aurora tampak canggung, ia memundurkan tubuhnya dan melirik Mars dengan tatapan takut.

Mars menghembuskan nafasnya kasar, "Karena gak ada pilihan lain! Sudahlah, yang penting kamu tahu saja kalau saya duda dan memiliki satu anak. Seorang putra berusia empat tahun, kamu akan bertemunya dengannya besok." Ujar Mars sebelum akhirnya memilih tidur, meninggalkan Aurora yang terdiam seraya memikirkan sesuatu.

"Mimpi apa kemarin malam, tiba-tiba jadi istri, belum ada sehari udah jadi ibu. Apa semesta tengah memihakku? Ini nasib beruntung atau buntung?" Gumam Aurora.

"Kamu mau tidur atau saya tidurkan hah?!" Sentak Mars yang mana membuat Aurora langsung meraih guling dan merebahkan tubuhnya. Ia segera memejamkan matanya, khawatir Mars akan kembali memarahinya.

Pagi hari, Mars bangun lebih dulu. Sebab, ia merasa berat di bagian perutnya. Saat ia membuka matanya, ternyata perutnya tertimpa kaki Aurora. Belum lagi, tangan wanita itu berada di atas kepalanya. Sungguh tak pernah Mars duga, jika cara tidur gadis cantik itu begitu sangat aneh.

"Astaga ...." Mars segera menyingkirkan kaki Aurora, ia lalu beranjak berdiri dan menatap istri kecilnya yang justru kembali tertidur seolah tak terjadi apa-apa.

"Sebenarnya, seperti apa wanita yang ku nikahi ini? Kemarin ia seperti kucing kecil yang jinak, tapi sekarang kenapa seperti kancil yang banyak tingkah." Gumam Mars. Tak ambil pusing, ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Mars pikir, setelah ia mandi dan berpakaian, Aurora akan bangun. Tapi ternyata tidak, gadis itu justru tambah tenggelam dalam mimpinya. Tak ingin kesiangan, Mars mencoba untuk membangunkannya. Dari cara memanggilnya hingga menarik kakinya.

"Astagaa, dia tidur apa pingsan?! Aurora! Bangunlah!" Seru Mars.

Karena tak kunjung bangun, Mars meraih gelas air minum dan menci.pratkan sedikit air itu pada wajah Aurora. Beruntung, cara ini berhasil. Aurora segera bangun dan menatap Mars yang berdiri di sisinya.

"KAMU?!" Aurora belum sadar sepenuhnya, ia terkejut atas kehadiran Mars dan lupa jika pria itu adalah suaminya. Reflek, Aurora menendang paha Mars hingga menyebabkan pria itu terjatuh.

Bugh!

"ARGH!! Kamuu ...."

"Eh? Mister Planet?"

.

.

.

Mars melirik kesal ke arah Aurora yang duduk di sebelahnya, ia masih teringat akan kejadian di kamar hotel tadi. Aurora yang merasa di tatap pun mengalihkan perhatiannya dari jendela kaca mobil, dan menatap Mars dengan tatapan meringis.

"Maaf soal tadi, aku lupa." Cicit Aurora.

"Dasar pecicilan! Bisakah kamu memanggil saya dengan panggilan yang benar? Planet? Kamu kira muka saya seperti planet hah?!" Desis Mars yang kesal.

"Tadikan udah minta maaf! Lagian situ juga bahasanya formal! Saya-saya, ngerasa tahanan tau gak!" Balas Aurora tak takut. Namun, menyadari perubahan raut wajah Mars, membuat nyalinya menciut.

"Habis bingung namanya, lupa terus. Namanya juga salah satu planet, sama aja kan?" Cicit Aurora.

Mars mengalihkan perhatiannya ke ponselnya, ia harus membalas pesan yang asistennya berikan tentang pekerjaan. Sampai, ia tak sadar mobil sudah berhenti tepat di depan rumah Herman. Aurora berniat membuka pintu mobil, tetapi dirinya merasa kesulitan membukanya. Jadi, Mars berinisiatif membantunya.

"Hanya begini saja kamu tidak bisa? Bisa mu apa sih?" Desis Mars.

"Bukan tidak bisa, mobilmu aja yang aneh." Balas Aurora dan segera turun dari mobil Meninggalkan Mars yang hanya bisa menghela nafas sabar.

"Sepertinya, aku menikahi wanita yang sangat menguji kesabaranku." Gumam Mars. Akhirnya, ia menyusul Aurora yang saat ini sudah berada di depan pintu.

Tok!

Tok!

Senyuman Aurora mengembang, tak sabar ia bertemu kembali dengan bibi nya. Tak lama, pintu terbuka. Terlihat, Helen menyambut kedatangan Aurora dengan sangat ramah. Ia bahkan sampai memeluk Aurora.

"Astaga, pengantin baruuu. Bibi gak nyangka banget kamu nikah, paman itu benar-benar mengesalkan! Apa kemarin dia yang memaksamu? Maafkan bibi tak sempat mencegahnya." Ujar Helen dengan penuh rasa sesal.

Aurora menggeleng, ia meraih tangan bibinya dan menggenggamnya. "Aku menerima semuanya Bi, dan ...." Aurora melirik ke arah Mars. Helen turut menatap apa yang Aurora tatap.

"Tuan Mars, selamat datang di rumah kami. Kita bicara di dalam saja yah, ayo." Ajak Helen dan langsung menggandeng tangan Aurora masuk. Tadinya Mars akan ikut menyusul, hanya saja ia tiba-tiba mendapat telepon dari seseorang. Sehingga, ia memilih menjauh untuk menjawab telepon itu.

Sementara itu, Helen membawa Aurora ke ruang tengah. Senyuman Aurora yang tadinya merekah seketika luntur saat menangkap kehadiran sosok pria paruh baya yang selama ini ia rindukan kehadiran nya. Kini, pria paruh baya itu menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Nak, ayahmu ...,"

"Ngapain anda disini?!"

___

Nah loooh sekaliaaan up 5 spesial rilis, biar puaas🤣

Bocil cadel, setelah bab ini🤓

Terpopuler

Comments

mars ini orang baru kah? atau udah pernah muncul dicerita lainnya?

2024-11-08

4

ryani yuliawati

ryani yuliawati

selamat untuk karya barunya 👏👏👏👏👏 aku hadir nih,,,, semoga ceritanya bnyak yang suka karna aku suka cerita baru ini 💜💜💜💜💜💜🥰🥰🥰🥰

2024-11-08

3

merry jen

merry jen

ank dh segeda gaban. bpkk y br plgg kmnn aj Bru pulng 2 x ap ada klurga baruu dan hdp bhgian dgn klurga baruuumu pak Ansel atau hdpp terpuruk Krn dtgll istrinya mmgglll

2024-11-08

3

lihat semua
Episodes
1 Situasi yang berbeda
2 Tak ada pilihan
3 Hati yang terikat
4 Dia sudah menjadi istri saya!
5 Si gadis pecicilan
6 Alkan nda mau punya ibu tiliii!
7 Rasa kecewa seorang putri
8 Kakak tantik, ibu tili Alkan?!
9 Panggil Mars! Jangan Planet!
10 Kehebohan di dapur
11 Jangan memasak, jika kamu akan terluka
12 Aku tidak suka!
13 Kucing nakal!
14 Tidak mau di jandakan
15 Drama Arkan di pagi hari
16 Mulai posesif
17 Aku akan menjaganya
18 Dunia saya yang baru adalah kamu ~Mars
19 Cerita Arkan
20 Kedatangan adik ipar
21 Minta ponakan baru~
22 Perasaan yang mulai tumbuh
23 Tingkah Aurora
24 Ujian menantu
25 Demam dadakan
26 Ego seorang ayah
27 Perhatian yang di impikan
28 Gara-gara martabak
29 Diam nya Mars
30 Bahagiakan dia!
31 Saran adik ipar
32 Terjebak rencana sendiri
33 Jual aja, Mommy!
34 Kepedulian seorang anak
35 Bubuuul
36 Sulit menebak
37 Manjanya Aurora
38 Langkah yang Mars ambil
39 Ada yang harus kamu tahu~
40 Tak ingin kehilangan lagi
41 Kejailan Arkan
42 Jailnya Aurora
43 Nda enak pelacaan Alkan ini
44 Hadiah dari suami
45 Salah sangka
46 Memberikan hakmu
47 Tanda cinta
48 Tamu bulanan
49 Manjanya seorang putri
50 Kehebohan Arkan
51 Menciptakan momen berdua
52 Tingkah istri kecil Tuan Mars
53 Isi Paket Aurora
54 Kebahagiaan sederhana Arkan
55 Cemburunya Mars
56 Adek balu nya kapan?
57 Bulan madu 1
58 Bulan madu 2
59 Bulan Madu 3
60 Orang yang sama?
61 Terlupakan
62 Nda enaaaak!
63 Selesainya masa kebebasan Arkan
64 Kebahagiaan manis keluarga kecil
65 Berpisah sementara
66 Tak sengaja
67 Bangganya Mars
68 Perhatiannya mama mertua
69 Kedatangan yang tak di harapkan
70 Sikap tegas Aurora
71 Kehebohan Zeeya
72 Pembelaan mertua
73 Kamu tidak tahu seberapa bar-bar nya aku!
74 Acara Tuan Mark
75 Kata cinta yang sangat berarti
76 Mual~
77 Aku mengenalnya!
78 Rahasia besar yang di sembunyikan
79 Tak mudah percaya
80 Rekaman kenangan
81 Arkan, si bocah hobi jajan
82 Cinta bertepuk sebelah tangan
83 Tertangkap juga
84 Cucu kesayangan kakek Ansel
85 Lari pagi
86 Hasil yang tak sesuai harapan
87 Keterkejutan Evano & Julia
88 Alkan lapal
89 Hamil?
90 Kehamilan Aurora
91 Drama ngidamnya Mars
92 Perhatian mertua
93 Kekasih Denzel?
94 Membujuk istri
95 Alkan mau potong lambut!
96 Pintar VS cerdik
97 Ledekan Jimmy
98 Sidang penetapan hukuman
99 Dia sangat meratukanku
100 Jemput Arkan
101 Bukan suami yang sempurna
102 Nda boleh lebut mommy tili olang!
103 Kedatangan Denzel
104 Di labraak
105 Ke lumah kakeeeek!
106 Berharap tak pernah tahu
107 Salah lagi
108 Titipan yang salah
109 Tragedi
110 Putraku atau putramu?
111 Terbongkar!
112 Si belok!
113 Kebijakan Aurora
114 Kembar
115 Susu hamil
116 Mood ibu hamil
117 Ngidamnya bumil
118 Kesepakatan
119 Teloooong!
120 Duda baru
121 Harus menerima
122 Pasrahnya Mars menghadapi mood bumil
123 Pinjam Mommy
124 Mendadak Operasi
125 Lahirnya si kembar
126 Bayi kembar yang di nanti
127 Pulang
128 Ci kembal
129 Begadang
130 Tingkah Arkan
131 Sama-sama jaaiil
132 Tuan Mark
133 Kesenangan Arkan
134 Mommy nya gak rindu?
135 Kejailan Aurora
136 Ada apa?
137 Perasaan Zeeya
138 Terlambat
139 Tingkah memggemaskan si kembar
140 Menerima
141 Si kembar yang menggemaskan
142 Adek lagi?
143 Lamaran Zeeya
144 Happy End
145 Bonus Chapter
146 Bonus Chapter
147 UNDANGAN!
148 Bonus Chapter
149 Bonus Chapter
150 Bonus Chapter
151 Bonus Chapter
152 Bonus chapter
153 Bonus Chapter
154 Bonus Chapter
155 Bonus Chapter
156 Bonus Chapter
157 Bonus Chapter
158 Bonus Chapterr
159 Bonus Chapter
160 Bonus Chapter
161 Bonus Chapter
162 Bonus Chapter
163 Bonus Chapter
164 Bonus Chapter
165 Bonus Chapter
166 Bonus Chapter
167 Bonus Chapter
168 BONCHAP HABIS
169 Cinta yang kamu pilih~
Episodes

Updated 169 Episodes

1
Situasi yang berbeda
2
Tak ada pilihan
3
Hati yang terikat
4
Dia sudah menjadi istri saya!
5
Si gadis pecicilan
6
Alkan nda mau punya ibu tiliii!
7
Rasa kecewa seorang putri
8
Kakak tantik, ibu tili Alkan?!
9
Panggil Mars! Jangan Planet!
10
Kehebohan di dapur
11
Jangan memasak, jika kamu akan terluka
12
Aku tidak suka!
13
Kucing nakal!
14
Tidak mau di jandakan
15
Drama Arkan di pagi hari
16
Mulai posesif
17
Aku akan menjaganya
18
Dunia saya yang baru adalah kamu ~Mars
19
Cerita Arkan
20
Kedatangan adik ipar
21
Minta ponakan baru~
22
Perasaan yang mulai tumbuh
23
Tingkah Aurora
24
Ujian menantu
25
Demam dadakan
26
Ego seorang ayah
27
Perhatian yang di impikan
28
Gara-gara martabak
29
Diam nya Mars
30
Bahagiakan dia!
31
Saran adik ipar
32
Terjebak rencana sendiri
33
Jual aja, Mommy!
34
Kepedulian seorang anak
35
Bubuuul
36
Sulit menebak
37
Manjanya Aurora
38
Langkah yang Mars ambil
39
Ada yang harus kamu tahu~
40
Tak ingin kehilangan lagi
41
Kejailan Arkan
42
Jailnya Aurora
43
Nda enak pelacaan Alkan ini
44
Hadiah dari suami
45
Salah sangka
46
Memberikan hakmu
47
Tanda cinta
48
Tamu bulanan
49
Manjanya seorang putri
50
Kehebohan Arkan
51
Menciptakan momen berdua
52
Tingkah istri kecil Tuan Mars
53
Isi Paket Aurora
54
Kebahagiaan sederhana Arkan
55
Cemburunya Mars
56
Adek balu nya kapan?
57
Bulan madu 1
58
Bulan madu 2
59
Bulan Madu 3
60
Orang yang sama?
61
Terlupakan
62
Nda enaaaak!
63
Selesainya masa kebebasan Arkan
64
Kebahagiaan manis keluarga kecil
65
Berpisah sementara
66
Tak sengaja
67
Bangganya Mars
68
Perhatiannya mama mertua
69
Kedatangan yang tak di harapkan
70
Sikap tegas Aurora
71
Kehebohan Zeeya
72
Pembelaan mertua
73
Kamu tidak tahu seberapa bar-bar nya aku!
74
Acara Tuan Mark
75
Kata cinta yang sangat berarti
76
Mual~
77
Aku mengenalnya!
78
Rahasia besar yang di sembunyikan
79
Tak mudah percaya
80
Rekaman kenangan
81
Arkan, si bocah hobi jajan
82
Cinta bertepuk sebelah tangan
83
Tertangkap juga
84
Cucu kesayangan kakek Ansel
85
Lari pagi
86
Hasil yang tak sesuai harapan
87
Keterkejutan Evano & Julia
88
Alkan lapal
89
Hamil?
90
Kehamilan Aurora
91
Drama ngidamnya Mars
92
Perhatian mertua
93
Kekasih Denzel?
94
Membujuk istri
95
Alkan mau potong lambut!
96
Pintar VS cerdik
97
Ledekan Jimmy
98
Sidang penetapan hukuman
99
Dia sangat meratukanku
100
Jemput Arkan
101
Bukan suami yang sempurna
102
Nda boleh lebut mommy tili olang!
103
Kedatangan Denzel
104
Di labraak
105
Ke lumah kakeeeek!
106
Berharap tak pernah tahu
107
Salah lagi
108
Titipan yang salah
109
Tragedi
110
Putraku atau putramu?
111
Terbongkar!
112
Si belok!
113
Kebijakan Aurora
114
Kembar
115
Susu hamil
116
Mood ibu hamil
117
Ngidamnya bumil
118
Kesepakatan
119
Teloooong!
120
Duda baru
121
Harus menerima
122
Pasrahnya Mars menghadapi mood bumil
123
Pinjam Mommy
124
Mendadak Operasi
125
Lahirnya si kembar
126
Bayi kembar yang di nanti
127
Pulang
128
Ci kembal
129
Begadang
130
Tingkah Arkan
131
Sama-sama jaaiil
132
Tuan Mark
133
Kesenangan Arkan
134
Mommy nya gak rindu?
135
Kejailan Aurora
136
Ada apa?
137
Perasaan Zeeya
138
Terlambat
139
Tingkah memggemaskan si kembar
140
Menerima
141
Si kembar yang menggemaskan
142
Adek lagi?
143
Lamaran Zeeya
144
Happy End
145
Bonus Chapter
146
Bonus Chapter
147
UNDANGAN!
148
Bonus Chapter
149
Bonus Chapter
150
Bonus Chapter
151
Bonus Chapter
152
Bonus chapter
153
Bonus Chapter
154
Bonus Chapter
155
Bonus Chapter
156
Bonus Chapter
157
Bonus Chapter
158
Bonus Chapterr
159
Bonus Chapter
160
Bonus Chapter
161
Bonus Chapter
162
Bonus Chapter
163
Bonus Chapter
164
Bonus Chapter
165
Bonus Chapter
166
Bonus Chapter
167
Bonus Chapter
168
BONCHAP HABIS
169
Cinta yang kamu pilih~

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!