20. Devia Bercerita

Di restoran yang cukup ramai di waktu makan siang ini, ralin dan Devia duduk hanya berdua. Devia menikmati makan siang karena sejak tadi dia sangat lapar. Sedangkan Ralin hanya makan sedikit, dia penasaran apa yang akan di ceritakan Devia tentang masa lalunya dengan suaminya Aryo.

Devia melihat piring Ralin masih banyak sisa makanan, dia mendongak ke arah perempuan itu. Dia tahu Ralin tidak berniat makan meski waktunya makan siang.

"Kamu tidak habiskan makanannya?" tanya Devia.

"Aku menunggumu bercerita setelah itu aku harus pergi," jawab Ralin datar.

Devia menarik napas panjang, dia meneruskan makannya. Meski dia lapar, tapi dia juga tidak begitu berselera dengan makanannya setelah Ralin bersikap dingin padanya. Dia makan karena lapar saja.

Lima menit Devia selesai makan, dia mengambil minum dan meneguknya pelan. Lalu menatap sahabatnya itu, sedikit bingung tiba-tiba dia mau menjelaskan dari mana harus di mulai.

"Cepat katakan, aku tidak punya waktu lagi untuk bicara denganmu," ucap Ralin semakin kesal.

"Ralin, aku minta maaf sebelumnya. Ini juga karena kita kembali bertemu dan aku tidak tahu kalau suamimu itu Aryo, mantanku dulu," ucap Devia menjeda ucapannya.

Ralin hanya menatap sambil tangannya bersedekap, menunggu cerita selanjutnya dari Devia.

"Ya, memang tidak lama setelah itu aku pergi. Aku pergi dari kehidupan Aryo karena sesuatu itu, jadinya hubungan kami putus begitu saja. Makanya kemarin aku mau minta kejelasan di masa lalu padanya. Dan apa yang dia katakan?" Devia memberi pertanyaan pada Ralin.

"Ck, aku tidak peduli. Mungkin kamu yang mengada-ada," ucap Ralin.

"Tidak Ralin, dia mengatakan kalau dia masih sayang padaku," ucap Devia dengan senyum tipis.

Wajah Ralin tidak berubah sejak tadi, dingin. Tapi hatinya berkecamuk mendengar ucapan Devia itu. Ingin dia pergi, tapi dia juga ingin mendengar cerita selanjutnya. Apakah Devia berbohong atau suaminya yang bohong?

Karena selama ini Aryo tidak pernah menceritakan tentang masa lalunya, karena dia hilang ingatan. Atau itu hanya akal-akalan suaminya saja?

"Kamu jangan bohong, Devia. Mas Aryo tidak pernah mengatakan apa pun tentang masa lalunya, dia hilang ingatan. Mana mungkin dia masih menyayangimu, ingat kamu sebagai mantannya saja tidak. Jadi, jangan membuatku dan suamiku bertengkar. Kamu sengaja mengatakan ini padaku agar kami berpisah?"

"Bukan begitu Ralin, tapi coba kamu tanyakan pada suamimu. Makanya kenapa aku memeluk dia dari belakang karena dia bicara sendiri kalau dia masih menyayangiku," ucap Devia.

"Cukup Devia! Jangan membuat cerita palsu!"

"Kalau tidak percaya, tanyakan saja sama suamimu," ucap Devia lagi.

Ralin berdiri menatap tajam pada Devia, dia benar-benar kesal sekali pada perempuan itu.

"Satu hal yang aku sesalkan sekarang adalah mengajakmu, mencari keberadaan mu, dan meminta pekerjaan pada mas Aryo. Baiklah, terima kasih tentang ceritamu itu. Aku akan mengingatmu sebagai seorang teman yang mencari kesempatan dalam hubungan persahabatan. Menjijikan sekali."

Setelah bicara seperti itu, Ralin pun segera pergi. Dia benar-benar marah dan menyesal karena telah membawa Devia masuk ke dalam keluarganya. Dan tidak habis pikir kenapa Devia memanfaatkan kebaikannya itu.

Lalu, Bagaimana dengan Aryo? Apa yang di pikirkan suaminya saat ini?

_

Ralin pulang meninggalkan Devia sendiri di restoran, pikirannya berkecamuk. Rasa kesal juga marah pada sahabatnya itu yang mengaku mantan kekasihnya. Apakah benar seperti itu?

"Apa dia bilang? Mas Aryo masih sayang sama dia? Heh, lucu sekali. Apa dia sedang mengarang cerita?" ucap Ralin sepanjang jalan pulang ke rumah.

Hatinya benar-benar kacau dan sakit mendengar cerita Devia, tapi dia harus berpikir bagaimana selanjutnya dengan suaminya. Dia juga harus bicara dengan Aryo mengenai masa lalunya dengan Devia itu.

Sampai di rumah dia segera masuk ke dalam rumah, membaringkan tubuhnya karena rasa penat pikiran dan hatinya. Tentunya sakit hati yang dia rasakan, ucapan Devia mengiang kalau Aryo sebenarnya masih sayang padanya.

Hingga lelah karena pikiran dan tubuhnya akhirnya dia tertidur. Baru beberapa menit matanya terpejam, suara teriakan dari dua anaknya memekik di telinga.

"Mamaa!"

Tentu saja Ralin terkejut, dia melihat anak bungsunya berteriak dekat telinganya.

"Salma! Kenapa teriak-teriak? Sakit telinga mama!" ucap Ralin memarahi anaknya.

"Mama kenapa tidur? Aku lapar ma," ucap Salma.

"Ya ampun, jadi kamu belum makan?" tanya Ralin merasa bersalah karena langsung masuk ke kamar tidak menanyakan keadaan anaknya sudah makan atau belum.

"Kak Naura aja yang udah makan, aku mau makan sama mama," jawab Salma.

Ralin menarik napas panjang, lalu beranjak dari kasurnya. Membawa anak bungsunya keluar dari kamarnya menuju ruang makan, di sana Naura sedang makan.

Merasa bersalah karena membiarkan kedua anaknya mengurus dirinya sendiri.

"Kakak ngga ambilkan makan buat dek Salma?" tanya Ralin.

"Adek ngga mau ma, maunya sama mama," jawab Naura.

"Ya sudah, ayo Salma duduk sini. Kenapa jadi mama lupa kalau Salma kadang suka rewel makannya," ucap Ralin.

Mereka bertiga pun duduk di ruang makan, Ralin yang awalnya di restoran makan sedikit kini dia pun ikut makan juga dengan kedua anaknya. Sejenak dia lupakan masalah dengan Devia dan suaminya, dia hanya ingin bersama dengan kedua anak-anaknya.

_

_

******

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!