Aryo menikmati peran barunya sebagai suami dan seorang ayah. Meski dia kadang canggung jika berhadapan dengan papa mertuanya ketika berkunjung ke rumahnya, dia mencoba untuk bersikap biasa saja layaknya seorang menantu kesayangan.
"Kata Ralin, kamu mengingat semuanya Yo? Papa senang mendengarnya," kata papa mertuanya, pak Brata.
"Sedikit-sedikit pa, tidak semuanya," jawab Aryo.
Meski dia bingung apa yang membuatnya lupa akan ingatan tentang kejadian masa lalu itu, dia belum secara detail menanyakan kejadian apa yang membuatnya lupa tentang memorinya.
"Ya, sebaiknya seperti itu. Kamu jangan mengingat sesuatu yang susah untuk di ingat, nanti Ralin membantu kamu untuk mengingatnya. Memang trauma otak itu bisa membuat ingatan jadi hilang, dan kecelakaan itu sungguh membuat kamu jadi lebih baik lagi," kata pak Brata.
"Kecelakaan?" tanya Aryo mengerutkan dahinya.
Rasanya Ralin tidak menceritakan dirinya pernah kecelakaan, dia bercerita tentang pertemuannya pertama kali dengan istri masa depannya itu.
"Ya, kamu juga lupa tentang kecelakaan itu? Aah ya, itu beberapa bulan lalu. Mungkin Ralin tidak ingin mengingatkanmu tentang kecelakaan yang menimpamu waktu itu," kata pak Brata lagi.
Aryo semakin bingung, dia benar-benar tidak tahu kalau dirinya pernah kecelakaan. Dan justru saat ini dia juga tidak mengingat ibunya sama sekali.
"Ya, Ralin tidak menceritakan kecelakaan itu pa," ucap Aryo.
"Kecelakaan beberapa bulan lalu, mmebuat kamu tidak sadarkan diri selama satu bulan. Dan ibumu sampai meninggal," kata pak Brata dengan hati-hati, tatapannya menyelidik apakah Aryo akan sedih atau tegang mendengar peristiwa yang menimpanya dulu.
Justru itu yang membuat kaget Aryo, dia mengalami kecelakaan dan ibunya meninggal?
"Oh Tuhan, aku beberapa hari masuk ke dunia masa depan. Kenapa banyak sekali peristiwa yang aku alami? Padahal beberapa hari lalu aku masih bicara dengan ibu," gumam Aryo sambil menunduk.
"Kamu tidak apa-apa Aryo?" tanya pak Brata.
"Oh, tidak pa. Hanya sedih saja," jawab Aryo.
"Jangan berlarut-larut, semuanya sudah ketentuan Tuhan kalau kecelakaan itu adalah takdirnya. Ibumu juga sudah tenang dan mungkin bahagia melihat kamu bahagia dengan Ralin," kata pak Brata lagi.
"Iya pa," ucap Aryo lesu.
Tidak menyangka setelah mengobrol dengan mertuanya itu justru membuatnya kaget.
Ralin istri masa depannya mendekat, dia tersenyum pada suaminya itu yang sedang berpikir keras.
"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Ralin melihat wajah Aryo begitu lesu dan sedikit pucat.
Tangan lembut Ralin meraba wajah Aryo, menatap lelaki itu yang sebenarnya sedang bingung. Perempuan itu menoleh ke arah pak Brata, mencari tahu apa yang mereka bicarakan tadi.
"Pa, kalian bicara apa tadi?" tanya Ralin.
"Papa cuma memberitahu tentang kecelakaan itu," jawab pak Brata.
"Kenapa papa menceritakan itu? Mas Aryo masih trauma pa, kenapa papa lakukan itu sih?" tanya Ralin kesal pada papanya.
"Sudah sayang, tidak apa-apa. Memang aku juga perlu tahu tentang semuanya, aku kenapa bisa lupa dengan masa lalu yang belum pernah aku tahu dan aku alami," kata Aryo menenangkan istrinya.
"Ya tapi aku takut mas, kamu jadi lebih murung lagi. Sudah beberapa bulan kamu menjadi suami dan papa yang baik buat Salma dan Naura, aku takut kamu jadi murung terus," kata Ralin.
"Sudah Ralin, jangan berlebihan. Papa yakin Aryo hanya terkejut saja, mungkin memang saatnya suamimu tahu kalau dia pernah kecelakaan yang membuat ingatannya hilang sedikit. Papa hanya membantu suamimu untuk mengingat sedikit demi sedikit apa yang dulu dia alami," kata pak Brata.
"Tapi pa, Ralin jadi takut kalau nanti mas Aryo ..."
"Sayang sudah, jangan di bahas lagi. Aku tidak apa-apa kok, lihat aku baik-baik saja," kata Aryo menenangkan istri masa depannya.
Ralin menoleh ke arah suaminya, dia menatap penuh kecemasan. Tak tampak di wajah Aryo cemas, tegang atau kesedihan. Hanya ada kebingungan, ya kebingungan yang selama beberapa hari dia rasakan. Kebahagiaan dua hari lalu dengan perlakuan manis Ralin dan juga jalinan cinta yang tiba-tiba hadir di pikiran Aryo.
Aryo tersenyum, dia memeluk istrinya untuk menenangkannya agar tidak cemas lagi.
"Sudah ya, jangan khawatir lagi. Aku tidak apa-apa kok," ucap Aryo.
"Iya mas, maafkan aku kalau aku tidak menceritakan tentang kecelakaan itu. Ibu meninggal karena kecelakaan itu juga, aku hanya takut kamu jadi histeris," ucap Ralin.
"Ya, aku baik-baik saja. Karena aku cuma kaget tadi mendengar cerita papa kalau ibuku meninggal karena kecelakaan," kata Aryo.
"Iya mas, ibu tidak selamat waktu itu dan kamu juga koma. Aku tidak bisa memberitahumu karena dokter bilang kemungkinan sebagian ingatan kamu hilang, jadi niatnya mau memberitahumu secara perlahan. Tapi papa lebih dulu bercerita sama kamu," kata Ralin.
Aryo tersenyum, dia semakin yakin kalau hidupnya di masa depan banyak mendapatkan kebahagiaan. Meski dia sekarang sudah tidak lagi memiliki ibu, padahal sewaktu dia ngekos itu ibunya masih sehat wal afiat. Hanya saja dia terjebak dalam masa depan yang menjadikan dirinya seorang suami dan memiliki dua anak.
Setelah cukup lama Aryo dan Ralin berkunjung ke rumah pak Brata, mereka pun akhirnya pulang juga. Dalam pikiran Aryo, banyak sekali yang dia tidak tahu dalam empat tahun ke belakang. Karena ketika dia masuk ke dunia masa depan, sudah berusia lima tahun pernikahan.
"Mas, kamu kenapa diam saja?" tanya Ralin.
"Kamu tahu di mana makam ibu?" tanya Aryo.
"Apa kamu mau berkunjung ke makam ibu?" Ralin balik bertanya.
"Ya, aku ingin tahu makam ibu di mana sayang," jawab Aryo.
"Besok aku antar ke makam ibu mas, ini sudah sore. Sekalian juga beli bunga buat taburan di makam ibu," kata Ralin.
Aryo mengangguk, dia penasaran juga di mana makam ibunya di makamkan. Apakah di samping makam ayahnya di kampung halamannya, atau di kota itu juga?
_
_
********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments