12. Mengobrol

"Kerja?!" tanya Aryo kaget.

Kenapa bisa istrinya menawarkan Devia kerja di kantornya? Apakah dia tidak tampak khawatir, karena sejujurnya Devia itu janda yang masih cantik. Tentu saja akan ada ketertarikan olehnya, lagi pula ada hubungan di masa lalu yang belum selesai dia dan Devia.

"Mas?" ucap Ralin membuyarkan kekagetan Aryo.

"Oh, nanti aku tanyakan sama bagian HRD dulu. Kalau pun ada aku hubungi kamu, sayang," jawab Aryo.

Ralin tersenyum, dia senang bisa membantu teman lamanya itu. Sedangkan Devia dalam hatinya berharap di kantor Aryo memang ada lowongan pekerjaan untuknya. Di samping untuk mendapatkan penghasilan, dia juga penasaran dengan kehidupan Aryo yang sekarang. Setelah lama tidak bertemu dan kini di pertemukan dalam keadaan berbeda.

"Waah, ngobrolnya ngga terasa ya cukup lama. Ini sudah waktunya makan siang, aku sudah menyiapkan makan siang untuk kita bersama. Menyambut kamu Devia, kamu makan di rumah kami ya," ucap Ralin.

"Apa tidak merepotkan kalian? Ini hari Minggu, tentunya kalian ingin meluangkan waktu bersama keluarga. Aku jadi ngga enak sama kalian mengganggu waktu keluarga," ucap Devia.

"Hanya sekali-sekali aja tidak masalah, ya kan mas Aryo?" ucap Ralin mencari kepastian dari suaminya.

"Ya, hanya sesekali tidak masalah. Tapi waktuku juga ngga banyak untuk anak-anak, jadi aku lebih suka bermain dengan anak-anak aja," jawab Aryo.

Devia mengangguk, dia mengerti tentunya Aryo adalah seorang laki-laki mapan dan juga kepala keluarga yang harus menjaga keharmonisan keluarganya di waktu libur kerja itu.

Tiba-tiba wajah Devia murung, dia menundukkan kepala karena sedih nasibnya tidak baik seperti Aryo.

"Aku ke dapur dulu, menyiapkan makanan untuk kita semua," ucap Ralin bangkit dari duduknya.

Aryo ikut berdiri dan hendak pergi, tapi di cegah oleh istrinya.

"Lho, mas Aryo mau kemana?" tanya Ralin.

"Mau main sama Naura dan Salma," jawab Aryo.

"Tunggu temani Devia dulu sebentar, aku ke dapur dulu. Masa tamu di biarkan sendiri sih," ucap Ralin.

Aryo diam, Devia menatap ke arah teman lamanya itu penuh kebingungan. Tapi sekaligus kesempatan buat dirinya untuk bertanya pada Aryo.

"Tapi sayang ..."

"Udah, sebentar aja. Aku cuma mau menyiapkan semuanya dulu lalu panggil kalian untuk makan di meja makan," kata Ralin.

Tanpa menunggu persetujuan suaminya, Ralin pergi meninggalkan Aryo dan Devia yang masih bingung. Tentu Aryo gugup dengan keadaan mereka yang hanya berdua saja, apa yang akan di lakukannya itu?

Akhirnya Aryo dudul lagi, menarik napas panjang untuk menetralkan hatinya yang gundah dengan keadaan itu. Apa lagi Devia sepertinya ingin bicara banyak dengannya.

"Mas Aryo."

"Devia."

Hening, keduanya kaget karena sama-sama menyebut nama mereka masing-masing. Detak jantung Aryo sepertinya berdegup kencang, bukan karena rasa itu masih ada. Tapi entah apa, mungkin karena ini pertama kalinya setelah lima tahun lalu itu mereka berpisah tanpa kabar.

"Mas Aryo hidupnya enak ya, punya keluarga yang harmonis dan menyenangkan," ucap Devia berbasa basi.

"Ya, aku bersyukur bisa memiliki keluarga yang sempurna," jawab Aryo masih dalam keadaan tegang.

"Ralin bilang mas Aryo pernah tabrakan dan hilang ingatan, apa itu benar mas?" tanya Devia mencari tahu tentang Aryo.

Karena baginya sangat aneh jika waktu itu dia melihat Aryo dan laki-laki itu juga kaget melihatnya ada di rumah sahabatnya. Tentu hilang ingatan itu harus di cari tahu, kenapa dengannya bisa ingat sedangkan kematian ibunya tidak ingat sama sekali.

"Ya, dulu. Dan Ralin membuatku lebih baik dari sebelumnya," jawab Aryo berbohong.

Padahal saat itu dia benar-benar tidak tahu jika dirinya masuk ke dunia masa depan lima tahun ke depan. Tentu saja keterkejutannya nasib dan keadaannya yang berbeda, apa lagi ibunya di kabarkan sudah meninggal sejak dia kecelakaan. Sedangkan sehari sebelum dia berpindah waktu, masih bertemu ibunya dan dalam keadaan baik-baik saja.

"Ooh, tapi kamu tahu aku kan mas? Maksudku, kamu tahu kalau kita pernah bertemu dan ...," ucapan Devia terhenti karena dia sedikit ragu apakah Aryo memang masih ingat dirinya atau tidak.

"Tidak," jawab Aryo tegas.

Tentu perasaan laki-laki itu sedikit kacau dengan ucapannya, jelas sekali baginya Devia sangat tahu dan mengenalnya dan hubungan mereka yang mulai dekat namun belum sempat jadian dulu. Dia juga tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya saat ini.

"Owh. Iya, maaf mas Aryo," ucap Devia sedikit kecewa.

kembali keduanya diam, berkutat dengan pikiran masing-masing yang memang sedikit kecewa.

"Kupikir, kamu mengenalku dulu," ucap Devia lirih dan tentu tatapan Aryo mengarah pada perempuan yang sedang menunduk.

"Kamu berharap aku mengenalmu?" tanya Aryo.

"Yaa, ngga begitu mas. Aah, jangan di pikirkan tentang itu. Heheh," ucap Devia dengan tertawa kecil.

Aryo hanya tersenyum segaris, meski dia juga sedikit kecewa dengan pernyataannya itu.

Kini obrolan mereka menjadi formalitas mengenai lowongan pekerjaan di kantor Aryo, dan dengan santai pula Aryo menanggapi obrolan dengan Devia.

Saat asyik mengobrol dengan santai dan ringan, Ralin pun mendekati mereka dengan wajah tersenyum.

"Waah, asyik sekali ngobrolnya. Kalian ternyata mudah akrab ya," ucap Ralin.

"Oh, heheh. Iya nih, aku tanya tentang pekerjaan di kantornya suamimu itu. Aku berharap ada lowongan buatku," jawab Devia.

"Mudah-mudahan ya, dan mas Aryo akan mengusahakannya kan mas?" tanya Ralin membuat Aryo mengangguk pelan.

"Terima kasih mas Aryo. Aku tunggu lho kabarnya," ucap Devia.

Mereka pun tertawa kecil, lalu ketiganya pergi menuju ruang makan untuk makan siang bersama.

_

_

*****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!