13. Mulai Bekerja

Setelah mendapat persetujuan dan membutuhkan karyawan di kantornya, akhirnya Aryo mempekerjakan Devia sesuai permintaan istrinya. Awalnya dia sedikit enggan, tapi memang lebih baik dia menurutinya karena penempatannya juga cukup jauh di bagian gudang.

Bagi Devia itu tidak masalah, yang penting perempuan itu bisa bekerja di kantor Aryo. Dia juga ingin mengetahui sesuatu yang membuat Aryo lupa akan dirinya dan bagaimana bisa Aryo bisa menikah dengan Ralin, itu juga tujuan Devia akan statusnya sebagai karyawan Aryo di kantornya.

Hari ini, Devia baru masuk pertama kali sebagai karyawan Aryo. Dia sangat senang karena banyak karyawan lain yang menyambutnya.

"Kamu hebat, bisa masuk dari orang dalam. Katanya kamu teman lama istrinya pak Aryo ya?" tanya karyawan lama pada Devia.

"Ya begitulah, dia teman yang baik," jawab Devia.

"Hmm, selain cantik Bu Ralin itu sangat baik. Perusahaan ini awalnya milik pak Sunarto, tapi di pegang oleh menantunya," ucap karyawan itu lagi.

"Oh ya?"

"Ya. Dan ternyata pak Aryo juga sama baik dengan karyawan lain sama dengan mertuanya, jadi kamu para karyawan sangat senang dengan pak Aryo," ucapnya lagi.

Devia tersenyum, dia merasa senang mendengar kebaikan Aryo oleh karyawannya itu. Meski begitu, dia akan mencoba mendekat pada laki-laki itu, untuk mengingat akan dulu kalau dirinya adalah teman dekatnya juga sewaktu kuliah. Yang dulu hampir menjadi pacarnya itu.

Setiap hari Devia bekerja dengan baik dan disiplin, terkadang dia juga ikut dengan kepala bagian gudang untuk laporan ke direktur. Di saat itu dia mencuri-curi pandang pada Aryo.

Sudah dua bulan Devia bekerja di kantor Aryo, dia sangat senang banyak yang menyukainya. Dan sekarang dia juga lagi-lagi di ajak memberikan laporan pada Aryo dengan kepala gudang itu.

"Kamu sepertinya suka sama pak Aryo," ucap pak Dante kepala gudang.

"Eh, kenapa pak Dante bilang begitu?" tanya Devia.

"Ya, saya perhatikan kamu sering menatap pak Aryo," ucap pak Dante.

"Emm, pak Aryo itu aku kenal dia," ucap Devia.

"Kamu kenal pak Aryo?"

"Ya, kan aku masuk di perusahaannya itu karena istrinya. Aku sahabat istrinya pak Aryo," jawab Devia lagi.

"Oh, jadi kamu masuk karena orang dalam ya. Tapi, sepertinya pak Aryo biasa saja sama kamu."

"Hmm, ya karena di kantor saja. Kalau di luar kantor ..."

Ucapan Devia tidak berlanjut, tapi temannya tidak mau cari tahu karena dia beranggapan Devia hanya mencari-cari alasan saja.

_

Aryo segera keluar dari ruangannya karena sudah waktunya pulang, dia berjalan tergesa melewati beberapa ruang staf kantor. Istrinya mengabarkan kalau dirinya segera pulang cepat agar bisa berkumpul di acara ulang tahun anak bungsunya.

Aryo sangat senang sekali, dia buru-buru memasuki lift dan segera menekan tombol tapi pintu tidak segera tertutup karena ada yang ingin masuk ke dalam liftnya.

"Tunggu!" teriak satu suara perempuan.

Aryo menahan tombolnya, tampak seorang perempuan masuk menatapnya dengan tersenyum manis. Aryo menarik napas panjang, dia sendiri sedikit risih dengan perempuan yang tak lain adalah Devia.

Entah kenapa perempuan itu di rasakan Aryo sedang mendekatinya, apa yang di inginkan perempuan itu?

"Baru pulang?" tanya Aryo datar saja.

"Ya, tadi habis membantu kepala gudang merapikan barang-barang," jawab Devia.

"Hmm."

Devia menoleh pada Aryo, menatap cukup lama membuat laki-laki itu mau tak mau menoleh padanya.

"Kenapa?" tanya Aryo.

"Aku seperti mengingat temanku pada diri pak Aryo," jawab Devia tanpa mengalihkan pandangannya pada laki-laki itu.

"Oh ya?"

"Ya, aku pikir anda adalah temanku dulu," ucap Devia seakan dia memanfaatkan situasi di dalam lift tersebut.

Aryo diam saja, pandangannya tetap ke depan. Devia pun beralih pandangan ke depan pintu lift sama halnya Aryo. Sedikit kaku dia tidak di tanggapi oleh bosnya.

Tak lama pintu lift terbuka, Aryo segera keluar lebih dulu di susul Devia mengikuti di belakang. Ada beberapa staf yang masih berada di kantor itu, melihat Devia keluar bersama dengan Aryo membuat pandangan staf itu heran.

"Aryo, eh pak Aryo!" panggil Devia sedikit keras.

Membuat Aryo berhenti dan menoleh ke belakang menatap Devia.

"Jangan lancang memanggil sembarangan namaku Devia, aku bosmu!" ucap Aryo menatap tajam pada perempuan itu.

Tentu saja Devia kaget, dia menunduk dan meminta maaf karena kesalahannya itu.

"Maafkan saya pak," ucap Devia lirih.

"Sudahlah, jangan bercerita lagi tentang teman lamamu itu di depanku. Aku bukan temanmu, aku bosmu," ucap Aryo.

Setelah berkata seperti itu, Aryo segera pergi dari hadapan Devia. Perempuan itu terpaku dengan ucapan Aryo, dia sungguh menyesal telah lancang memanggil nama Aryo saja ketika masih di dalam kantor.

"Tapi aku yakin dia itu Aryo teman lamaku, kenapa dia pura-pura tegas begitu?"

Setelah Aryo pergi dengan mobilnya, Devia pun segera keluar. Dia bingung bagaimana meyakinkan kalau Aryo adalah teman lamanya itu, bukan dirinya saja adalah teman Ralin. Tapi Aryo juga adalah teman lama yang hampir jadi pacarnya.

_

_

*****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!