Keluarga Aryo sudah menunggu pesawat terbang di bandara untuk membawa mereka ke pulau Lombok. Suasana di bandara memang cukup ramai karena menjelang libur tahun baru, jadi banyak masyarakat yang merencanakan untuk liburan sekaligus menyaksikan pergantian tahun baru.
"Pa, Lombok itu jauh ya?" tanya Salma pada Aryo.
"Jauhlah dek, kan naik pesawat terbang," Naura menanggapi pertanyaan adiknya.
Aryo hanya tersenyum saja, begitu juga dengan Ralin. Keduanya sangat senang dengan anaknya yang begitu antusias ingin liburan ke Lombok.
Waktu pemberangkatan pun tiba, mereka sudah memasuki terminal dan akan naik pesawat yang sudah siap take off.
Pandangan Aryo mengarah pada satu perempuan di depan, dia mengerutkan dahi karena seperti mengenal seseorang yang di depannya. Dia menoleh pada istrinya, tapi Ralin sibuk merapikan tas kedua anaknya.
"Itu kan Devia," gumam Aryo pelan.
Dia heran kenapa Devia juga ikut naik di pesawat yang menuju lombok, apa dia juga mau liburan ke Lombok atau ...
"Mas, nanti hotel tempat kita menginap dekat dengan pantai ya?" tanya Ralin pada Aryo.
Laki-laki itu kaget dan mengalihkan pandangannya pada istrinya lalu mengangguk, pikirannya masih pada perempuan di depannya yang terhalang lima orang.
Begitu satu persatu masuk ke dalam pesawat dan pemeriksaan paspor atau tiket, pandangan Aryo masih tertuju pada Devia. Perempuan itu menoleh ke belakang, menatap Aryo lalu tersenyum kecil. Dan tentu saja Aryo sedikit grogi dengan senyuman Devia itu.
Mereka mencari duduk sesuai dengan tiket masing-masing, pikiran Aryo sungguh aneh. Kemarin-kemarin dia sangat acuh dan tegas pada Devia di kantor, lalu kenapa dia jadi kepikiran dengan perempuan itu setelah melihatnya di lift menuju pesawat.
"Mau apa dia?" gumam Aryo lagi.
Ralin yang sejak tadi sibuk merapikan safety belt pada Naura dan Salma menoleh pada suaminya, heran kenapa suaminya jadi diam sejak naik lift tadi. Bahkan cenderung melamun sekarang.
"Mas, sejak tadi kok diam saja sih? Kamu kenapa?" tanya Ralin heran.
"Ngga apa-apa sayang," jawab Aryo.
Ralin hanya menggeleng saja, tapi dia kembali duduk dan mengambil buku yang sengaja dia bawa untuk mengusir keheningan di dalam pesawat. Meski celotehan kedua anaknya cukup membuatnya sedikit terganggu, tapi Ralin terus saja membaca buku yang dia suka.
_
Sejenak Aryo melupakan rasa penasaran pada Devia ketika di pesawat itu, dia bersenang-senang dengan kedua putrinya. Bermain air di pantai menikmati indahnya pantai pink di Labuan Bajo, kedua anaknya memaksa Aryo untuk pergi ke pantai pink. Yang tentunya mereka harus menyewa kapal veri menuju pantai pink itu.
Aryo dan Ralin menuruti apa kemauan kedua putrinya, entah dari mana mereka tahu ada pantai pink di Lombok itu. Mungkin dari cerita teman-temannya di sekolah.
"Kakak dari mana tahu ada pantai pink di Lombok?" tanya Ralin pada anak sulungnya Naura.
"Dari Dita ma, kan dia suka cerita sering jalan-jalan sama mamanya. Mamanya kan artis, dia sering ikut jalan-jalan sama mamanya kalau lagi syuting," jawab Naura.
Ralin mengangguk saja, mereka bermain pasir yang terhampar indah itu. Banyak yang melakukan destinasi liburan ke pantai pink juga ternyata, Aryo hanya duduk-duduk saja di kursi dengan penutup payung sebagai pelindung dari matahari.
Dia menikmati juga liburan kali ini sambil mengecek pekerjaan melalui ponselnya.
"Papa! Ayo turun main air, seru pa!" teriak Naura pada Aryo.
"Sebentar sayang, papa lagi ngecek pekerjaan dulu," jawab Aryo.
"Papa kerja aja ih, ngga seru!" ucap Naura lagi.
"Kalau papa ngga kerja, mana bisa kita liburan ke Lombok ini. Apa lagi di pantai pink ini," jawab Aryo tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Naura, udah jangan ganggu papa dulu. Kalau sudah selesai nanti papa juga ikut gabung kita main," ucap Ralin pada anaknya.
Meski dia kecewa dengan papanya, Naura pun menurut. Dia kembali ke pantai bermain pasir lagi dengan adik dan mamanya, Aryo menoleh pada ketiganya dan tersenyum senang. Tapi kemudian melanjutkan lagi kegiatannya mengecek semua laporan akhir tahun dari pegawainya yang masuk ke email-nya.
Saat sedang serius, Aryo di kagetkan suara seseorang di samping kirinya. Suara tak asing di telinganya.
"Pa Aryo?"
Aryo menoleh ke samping kiri dan terkejut siapa seseorang yang menyapanya, matanya melebar ketika melihat senyum perempuan cantik di sampingnya itu. Dengan penampilan yang cukup seksi, perempuan itu berdiri sambil memegang gelas Berisi minuman.
"Waah, senangnya bisa bertemu dengan pak Aryo dan keluarga di tempat ini," ujar perempuan itu dengan senyum mengembang manis.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Aryo masih dalam kekagetannya.
"Tentu saja liburan tahun baru pak Aryo, sama dengan bapak," jawabnya.
"Devia, apa kamu mengikuti kami?" tanya Aryo sedikit heran dengan kehadiran Devia itu.
"Tidak. Kebetulan aja liburan kita sama, pak Aryo," jawab Devia.
Aryo mendengus kesal, pandangannya ke depan dan melihat istrinya berjalan cepat mendekatinya. Dia tersenyum pada Devia, entah apa yang ada dalam pikiran Aryo saat ini.
"Hai, Devia! Kamu sudah sampai?" tanya Ralin mendekat dan langsung memeluk sahabatnya itu.
"Ini baru sampai, kalian senang ya liburan di sini?" tanya Devia.
"Hahah! Naura pengen ke pantai pink, dia pengen tahu katanya temannya selalu cerita tentang pantai pink. Jadi kamu kesini," jawab Ralin.
"Hmm, anak-anak sungguh lebih tahu apa yang menarik dari pada orang dewasa ya," ucap Devia.
"Ya begitulah. Oh ya, kamu menginap di mana?" tanya Ralin lagi.
Percakapan mereka berlanjut dengan berjalan menjauh menuju pantai, pandangan Aryo masih tertuju pada kedua sahabat yang sedang asyik mengobrol itu. Dia menggeleng kepala melihat keduanya yang akrab, dia yakin istrinya yang memberitahu rencana liburan keluarganya ke Lombok ada Devia.
"Kenapa aku selalu di bayang-bayangi oleh dia?" gumam Aryo masih menatap kedua perempuan itu.
Pandangannya beralih pada kedua anak gadisnya yang masih asyik bermain pasir, tanpa pikir panjang lagi Aryo pun meletakkan ponselnya di tas kecil lalu berlari mendekati kedua putrinya.
"Papa datang! Ayo kita main kejar-kejaran!"
"Asyiiik!"
_
_
*******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments