"Apa yang kalian lakukan?!"
Teriakan itu lagi dari seorang perempuan terkejut melihat Devia memeluk Aryo dari belakang. Tentu saja Aryo dan Devia ikut terkejut, laki-laki itu cepat-cepat melepaskan tangan Devia di pinggangnya. Dia sendiri merasa takut dan sekaligus kesal pada Devia yang berani memeluknya di tempat umum.
"Sayang," ucap Aryo mendekat pada istrinya.
Ralin menatap tajam pada Devia kemudian beralih pada suaminya. Aryo salah tingkah di tatap seperti itu oleh istrinya, pasalnya tatapan itu tidak pernah keluar dari mata Ralin untuknya.
"Ralin, saya..." ucapan Devia terputus, wajahnya merah menahan malu dan khawatir akan kemarahan sahabatnya.
"Kamu, sebaiknya jangan lagi datang ke rumahku. Kita putus hubungan, Devia. Aku tidak percaya kamu begitu murah mendekati suamiku, apa lagi memeluknya. Apa itu artinya seorang sahabat yang mau menikam dari belakang?" tanya Ralin.
"Ralin, bukan begitu. Kamu salah sangka, kami ini hanya..."
"Cukup. Aku tidak perlu mendengar penjelasanmu lagi, itu cukup bagiku kalau kamu itu bukan teman yang baik," ucap Ralin.
Setelah itu dia berbalik dan pergi, di susul oleh Aryo yang masih kebingungan karena kejadian itu. Dia harus menjelaskan semuanya, mau tidak mau harus memberitahu pada Ralin tentang semua dirinya.
"Sayang, tunggu dulu. Aku bisa jelaskan tentang apa yang kamu lihat tadi, aku sudah menghindar darinya. Tapi entah kenapa dia malah bersikap seperti itu," ucap Aryo berusaha mengimbangi langkah Ralin.
"Mas, jangan karena dia itu sahabatku. Lalu kamu seenaknya saja berdekatan dengannya, aku sudah cukup baik padanya memberikan pekerjaan di kantormu. Tapi kamu memanfaatkan dia seperti itu?" ucap Ralin.
"Ralin sayang, apa kamu tidak lihat siapa yang lebih dulu memeluk? Dia memelukku tiba-tiba dari belakang, dan kamu melihat itu. Aku tidak membalasnya bahkan kamu datang memergoki kami," ucap Aryo membela diri.
Ralin berhenti dan menatap tajam padanya, Aryo pun ikut berhenti. Mereka saling tatap satu sama lain.
"Jadi, menurutmu jika aku tidak datang kamu akan membalas pelukan Devia? Dia sahabatku mas, kenapa kamu tega padaku?" tanya Ralin dengan wajah yang memerah hampir menangis.
Tentu saja Aryo jadi merasa bersalah karena telah menyakiti hati istrinya, meski bukan di sengaja. Devia yang telah melakukan itu, dia sudah berusaha menghindar dari Devia. Tapi perempuan itu terus saja memaksa mendekatinya hanya karena ingin memastikan masa lalunya.
"Sebaiknya kita pulang, aku tidak mau berlama-lama di sini. Anak-anak juga sudah selesai bermain," ucap Ralin.
Dia kembali pergi meninggalkan Aryo, laki-laki itu jadi bingung kemudian kesal sekali. Kenapa bisa kejadian itu terjadi dan sialnya lagi harus ketahuan oleh istrinya.
_
Sepulang dari liburan tahun baru, Ralin masih mendiami suaminya. Aryo tahu istrinya marah besar padanya dengan kejadian di pantai itu, dia pun juga akan memecat Devia di kantornya. Tidak peduli apa alasannya, yang jelas dia tidak mau melihat perempuan itu lagi.
"Sayang, aku berangkat dulu," ucap Aryo mencium kening istrinya.
"Hmm."
Hanya anggukan dan jawaban singkat seperti itu saja oleh Ralin, Aryo menarik napas panjang menatap wajah istrinya yang sedih juga masih marah.
"Aku akan memecat Devia dari kantorku, aku juga tidak mau melihat perempuan itu lagi. Aku muak melihatnya," ucap Aryo lagi.
Ralin hanya diam saja, dia masih sibuk makan sarapannya. Anak-anaknya hanya memperhatikan apa yang telah terjadi dengan kedua orang tuanya tersebut. Naura, gadis kecil yang sudah sedikit peka dengan keadaan orang tuanya itu pun berucap.
"Mama lagi marah sama papa?" tanya Naura.
"Ngga sayang, mama lagi makan jadi ngga jawab ucapan papa," Aryo yang menjawab.
"Tapi mama ngga balas cium tangan papa," ucap Naura lagi.
Ralin mendongak pada anaknya lalu pada Aryo, di raihnya tangan suaminya lalu mencium punggung tangan Aryo. Aryo tersenyum, kembali dia mencium kening istrinya.
"Papa pergi dulu, kalian berangkat sama mama dulu ya ke sekolahnya," ucap Aryo pada kedua anaknya.
"Ya pa. Hati-hati di jalan," ucap Naura.
"Terima kasih sayang, jangan bikin mama repot ya," pesan Aryo.
"Oke pa. Papa juga jangan bikin mama marah," celoteh Naura lagi membuat Aryo terkejut.
Dia menatap anaknya lalu tersenyum, memberi tanda oke dengan tangannya mengiyakan. Naura tertawa kecil, begitu juga dengan adiknya Salma.
"Mama jangan marahin papa terus dong, kasihan papa," ucap Salma pada Ralin.
"Mama ngga marah sayang, cuma malas ngomong sama papa," jawab Ralin.
"Sama aja ma, malas ngomong itu lagi marah sama papa," ucap Naura.
Ralin menarik napas panjang, dia bangkit dari duduknya lalu membereskan piring-piring di meja.
"Ayo semua selesai sarapannya, udah siang kalian harus segera berangkat ke sekolah," ucap Ralin.
"Iya ma."
Mereka lalu segera masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas masing-masing, keluar lagi dan melihat mamanya sudah siap mengantar mereka pergi ke sekolah.
Ketika sudah berada di luar, Naura dan Salma berhenti menatap seseorang yang berdiri di depan rumah mereka. Keduanya saling tatap antara adik dan kakak itu dengan heran kedatangan seseorang itu.
"Hai Naura, hai Salma. Kalian mau berangkat sekolah?" sapa perempuan itu dengan ramah.
"Tante mau apa datang ke rumah kami lagi?" tanya Naura.
"Mau ketemu mama kalian," jawab perempuan itu.
"Buat apa kamu datang kesini lagi Devia?!"
_
_
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments