Setelah mengunjungi makam ibunya di antar oleh istri masa depannya, Aryo sungguh syok melihat pusara ibunya yang benar-benar ada di depan matanya. Dia terkulai lemas melihat pusara di mana batu nisannya tertera nama ibunya.
Ralin yang di sampingnya kaget dengan suaminya itu, dia menuntun Aryo untuk duduk saja di bangku yang agak jauh dari makam itu. Tapi Aryo menolaknya, dia hanya tidak percaya ibunya sudah memiliki rumah baru.
Bagaimana bisa ibunya meninggal, sedangkan beberapa hari lalu dia masih berada di rumah ibunya. Hanya karena kaleng biskuit itu, dia jadi terbawa ke dunia masa depan lima tahun itu. Dan kehidupan masa depan lima tahun itu di buatnya bingung karena sudah memiliki anak dan istri.
"Mas, kamu tidak apa-apa?" tanya Ralin cemas dengan keadaan suaminya.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya kaget saja. Perasaan baru beberapa hari lalu aku masih bersama ibu, kenapa jadinya seperti ini," kata Aryo masih syok.
"Kamu yang sabar mas, ini memang ujian buat kamu dan aku. Aku selalu sabar dengan keadaanmu yang hilang ingatan, tapi aku bersyukur kamu perlahan-lahan mengingat kejadian selama ini yang kita alami," ucap Ralin.
Bagaimana bisa dia mengingat semua kejadian selama lima tahun itu? Sedangkan dia sendiri baru masuk ke dunia masa depan beberapa hari ini, tentu saja banyak sekali peristiwa yang dia lewatkan dengan istri dan anaknya. Dia harus menggali lebih banyak lagi peristiwa yang di alaminya dari Ralin, istri masa depannya.
Karena itu, lebih baik berbohong kalau dia hilang ingatan atas kecelakaan yang menimpanya beberapa bulan lalu. Kebingungan demi kebingungan dia alami dengan rentetan kejadian dan ucapan Ralin, dia adalah papa yang baik dan juga suami yang baik. Tentu itu membuatnya bingung, tapi dia akan menjalaninya dengan baik perannya itu.
"Mas, kalau sudah selesai kita pulang saja. Lihat di atas, langit mendung. Takutnya akan turun hujan," kata Ralin menunjuk ke atas.
Aryo pun mendongak, benar juga suasana mendung di langit. Akhirnya dia pun menyelesaikan doanya, mendoakan ibunya yang tiba-tiba saja meninggal. Padahal beberapa hari lalu dia pamit mau ke kosnya yang baru setelah mendapat pekerjaan, tapi sekarang di hadapannya ada nisan bertuliskan nama ibunya. Sungguh itu membuatnya syok.
"Ayo sayang, kita pulang," ucap Aryo.
Setelah selesai, mereka pun kembali ke mobil dan pulang ke rumah. Dia berjanji pada anak-anaknya untuk bermain bersama di rumah, rasanya dia tidak mau mengecewakan dua bocah perempuan yang tiba-tiba menganggapnya jadi papa.
_
"Papa, ayo dong gendong Salma. Salma pengen gendong sama papa," kata gadis kecil merengek pada Aryo.
"Oh, iya sayang. Ayo papa gendong," ucap Aryo membungkuk.
Gadis kecil itu pun menaiki punggung Aryo, Aryo pun bangkit dan berlari-lari sambil menggendong layaknya seperti kuda. Ralin yang melihat pemandangan itu jadi tersenyum, dia merasa senang melihat keakraban Aryo pada anaknya itu.
Menyiapkan makan malam adalah rutinitas Ralin di setiap malamnya, karena Aryo selalu pulang tepat waktu setelah bekerja seharian di kantornya.
"Papa, Salma dan kakak Naura. Ayo kita makan dulu, semua makanannya sudah siap," teriak Ralin.
"Yee, makan! Ayo papa kita makan, sekarang waktunya papa suapi Naura. Kemarin papa suapi makan Salma, sekarang gantian Naura yang di suapi papa makan," kata gadis kecil itu.
"Iya Naura. Papa suapi Naura makan, ayo kita kesana ke meja makan," ucap Aryo dengan tersenyum.
Ketiganya pun beranjak dari tempatnya, menghampiri Ralin yang sudah menyiapkan makan malam. Rasa bahagia sekaligus sedih karena ibunya memang sudah meninggal di tahun kelima pernikahannya. Itu artinya, Aryo tidak lagi bisa membuat ibunya bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.
Ralin dengan cekatan menuangkan nasi ke dalam piring masing-masing anak dan suaminya. Aryo juga menepati permintaan Naura untuk makan di suapi, dia berusaha menikmati perannya yang baru beberapa minggu dia lakukan.
Secara diam-diam juga Aryo mencari tahu tentang bagaimana menjadi kepala keluarga yang baik agar rumah tangganya tentram dan langgeng. Karena dia sendiri masih canggung menghadapi dua anak yang aktif dan istri yang sangat baik dalam segala hal.
Aryo menatap istrinya, benar-benar dia sangat kagum dan rasa cinta yang tumbuh secara tiba-tiba di hatinya untuk Ralin.
Benarkah dia memiliki keluarga yang sangat harmonis?
"Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan," gumam Aryo.
Ralin menatap balik suaminya, tersenyum malu karena tatapan Aryo begitu dalam padanya.
"Mas, kamu kenapa melihat aku begitu?" tanya Ralin heran.
"Kamu cantik sekali sayang, aku semakin cinta sama kamu," ucao Aryo, membuat wajah Ralin memerah karena malu.
Itu sungguh membuat Aryo senang, menggoda istrinya yang nyatanya belum pernah dia lakukan selama ini dalam lima tahun di masa lalunya.
"Mas Aryo bisa saja, aku begini-begini saja kok dari tahun ke tahun. Dan terima kasih kamu masih mencintai aku," kata Ralin tersenyum.
"Tapi kamu semakin di lihat semakin cantik," ucap Aryo lagi.
"Sudah dong mas, itu makannya harus di makan. Jangan menggombal terus, malu sama anak-anak," ucap Ralin bersemu merah pipinya.
"Hahah, baiklah."
Suasana malam itu membuat hati Aryo bahagia, dia mendapatkan kehidupan yang sangat manis dalam perpindahan kehidupannya akibat dari sebuah kaleng biskuit itu. Dia akan menjalani perannya dengan baik, mendapatkan istri yang cantik dan dua anak yang lucu. Sungguh dunia Aryo sedang berpelangi dalam hatinya.
Dia bahagia sekaligus sedih karena ibunya sudah meninggal. Dan akan terus jadi suami yang baik untuk Ralin dan ayah yang baik untuk Naura dan Salma, itu yang tertanam dalam benak Aryo saat ini.
"Aku janji akan jadi laki-laki yang bertanggung jawab pada keluargaku," gumam Aryo lagi.
_
_
******
Aryo menyuapi satu demi satu makanan pada anaknya yang sedang manja padanya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments