Aryo menyetujui dia harus bertemu dengan teman lama dari istrinya di hari Minggu itu. Meski dia menyetujuinya, tapi ada hal yang memang membuatnya penasaran dengan ceritanya tiba-tiba pergi dan menikah tanpa memberitahu sahabatnya.
Bahkan dia juga penasaran kenapa bisa Devia pergi begitu saja dan tahu-tahu sekarang justru sudah jadi janda.
Ralin menyiapkan makan siang untuk sahabatnya yang akan datang di jam sepuluh pagi katanya, dia sangat senang menyambut kedatangan Devia. Apa lagi suami dan anak-anaknya ada di rumah.
Aryo melihat istrinya menyiapkan semuanya mulai dari memasak makanan enak juga merapikan rumahnya terlihat sangat bahagia, Aryo tersenyum melihat pancaran kebahagiaan Ralin.
"Kamu kelihatannya sangat senang sayang, semuanya di siapkan. Apa sahabatmu itu sangat spesial?" tanya Aryo melihat Ralin begitu antusias.
"Ya, aku hanya senang dia datang dan bertemu keluargaku. Dan juga suamiku ada di rumah, selain dia ingin berkenalan denganmu," ucap Ralin.
"Kamu itu, apa kamu tidak takut kalau dia akan naksir padaku? Dia itu janda lho," ucap Aryo mencoba memancing istrinya.
Ralin menghentikan kegiatannya dan menatap Aryo, laki-laki itu sedikit gugup di tatap seperti itu oleh istrinya.
"Kalau kamu sendiri tidak tergoda? Dan apa salahnya hanya satu kali berkenalan, tentu dengan berkenalan bisa saling membantu nantinya ketika di jalan atau di suatu tempat ada kesulitan. Lagi pula, jika suamiku tergoda dengan janda temanku itu. Itu artinya suamiku bukan laki-laki baik," ucap Ralin yang tentu membuat Aryo tertegun.
Laki-laki baik?
Ralin melirik suaminya yang masih diam memikirkan ucapannya, dia tersenyum dan menggeleng kepala.
"Mas Aryo itu laki-laki baik, sudah jadi suami yang baik dan jadi papa yang baik bagi Naura dan Salma. Tenang aja mas, aku tidak akan menuduh mas Aryo macam-macam. Lagi pula wajar aja kan kita berkenalan dengan sahabat sendiri pada keluarganya?" ucap Ralin.
Tentu Aryo tersenyum, ya sebenarnya dia masih bingung dengan keadaan dan nasibnya yang tiba-tiba jadi suami serta papa dari dua orang anak gadis cantik. Meski begitu, dia mencoba menerimanya dengan lapang dada karena semuanya sangat mendadak di hidupnya.
_
Waktu yang di tunggu pun akhirnya datang juga, Devia datang dengan penampilan santai. Ralin menyambutnya dengan senang, menyuruhnya masuk dan duduk di ruang tamu. Mengobrol sejenak dengan perempuan cantik itu.
"Waah, kamu sekarang terlihat santai Devia," ucap Ralin memperhatikan penampilan Devia.
"Ya, kita kan akan bersenang-senang. Dan juga aku ingin kenal dengan suami serta anak-anakmu, ngga perlu terlalu rapi dan cantik. Nanti kamu cemburu lagi sama aku, heheh," ucap Devia.
"Cemburu kenapa?"
"Ngga, aku cuma bercanda. Oh ya, mana suami dan anak-anakmu?" tanya Devia.
Ralin tersenyum kemudian mengangguk-angguk.
"Sebentar ya, aku panggilkan mereka," ucap Ralin.
Dia pun bangun dari duduknya melangkah meninggalkan Devia pergi menuju kamar anaknya. Karena di kamar itu Aryo sedang bermain dengan keduanya.
"Papa curang, masa Naura lagi sih yang jadi," ucap gadis kecil dengan wajah cemberut.
"Lho, kok curang? Kan papa menang dan Naura kalah, ya ngga curang sayang," ucap Aryo tertawa kecil.
"Tapi kak Salma juga curang, kenapa cuma Naura aja yang kalah?"
"Kan adek mainnya kurang bagus, jadinya kalah terus," ucap Salma.
Wajah Naura begitu sedih, kesal pada Aryo dan kakaknya. Aryo hanya tertawa saja melihat wajah imut gadis kecilnya, dia mengelus kepala bocah kecil tersebut.
"Udah, jangan nangis. Ini cuma permainan ya, kalau main itu pasti ada yang menang dan kalah," ucap Aryo menenangkan anaknya.
Ralin tersenyum melihat drama kedua putrinya, dia pun mendekati.
"Ayo sudah mainnya, di depan ada tamu mama. Kalian bisa kenalan dengan tamu mama itu, katanya ingin berkenalan," ucap Ralin.
Ketiganya menoleh pada Ralin, lalu mereka pun segera keluar dari kamar anak-anak tersebut. Aryo sendiri mengikuti kemana istrinya melangkah, sedikit deg-degan dia berjalan menuju ruang tamu di mana Devia sudah menunggu keluarga kecil itu.
Sampai di ruang tamu, tampak Devia melihat kedatangan keluarga kecil tersebut. Pandangannya tertuju pada Aryo, menatap sedikit lekat pada laki-laki itu. Memastikan apakah benar Aryo suami Ralin itu adalah laki-laki yang dia kenal dulu.
"Devia, ini keluargaku. Dua anakku ini dan suamiku," ucap Ralin membuyarkan lamunan dan pandangan Devia pada Aryo.
"Oh, hai semua," sapa Devia dengan senyum kaku.
"Hai tante."
"Hai tante."
Sapa anak-anak Ralin, Aryo hanya tersenyum saja. Dia sendiri juga gugup tapi mencoba bersikap tenang.
"Hai," sapa Aryo.
Mereka bersalaman secara bergantian lalu duduk di depan Devia, sesekali Devia melirik pada Aryo.
"Wah, senangnya berkenalan dengan keluargamu Ralin. Anak-anak yang cantik dan lucu juga suami yang ramah," ucap Devia.
"Ya, mereka sangat lucu. Oh ya, bagaimana denganmu? Apa kamu akan tinggal di kota ini lagi?" tanya Ralin.
"Ya, sementara ini aku tinggal di kota ini dulu. Sambil cari kerjaan, siapa tahu dapat," jawab Devia.
Ralin melirik pada suaminya, laki-laki itu diam saja sambil bicara dengan kedua anaknya.
"Mas, apa di kantor ada lowongan?" tanya Ralin tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Aryo.
"Devia lagi cari kerjaan, apa kamu bisa menerima dia jadi karyawan di kantor?"
"Kerja?!"
_
_
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments