Awalnya Aryo bingung mau mengantar Naura, gadis cilik yang bersekolah PAUD. Dia juga masih berpakaian santai, tapi istrinya mengomel karena Aryo pergi mengantar Naura hanya memakai baju santai.
"Lho mas, kok baju santai begitu? Kamu kan sekalian pergi ke kantor, nanti bosmu marah lagi seperti kemarin katanya," ucap Ralin.
"Marah? Bos? Siapa?" tanya Aryo kembali bingung.
"Ya ampun mas, kenapa mas Aryo lupa lagi sih? Itu lho, kemarin mas Aryo cerita kalau bosnya pak Santoso marah-marah karena mas berangkat telat lagi ke kantor. Makanya sekarang cepat ganti baju, aku sudah siapkan tas kerjanya," kata Ralin pada Aryo.
Laki-laki itu semakin bingung, dia memikirkan kehidupannya di masa depan itu. Sudah bekerja di sebuah kantor dan memiliki bos bernama Santoso, tapi masalahnya dia bekerja di mana? Perusahaan apa?
Saat sedang bingung begitu, tangannya di tarik oleh gadis cilik bernama Naura.
"Pa, nanti pulangnya di jemput ya. Kata bu guru, Naura harus kenalkan papa sama guru-guru lain," kata gadis kecil bernama Naura itu.
"Kenapa harus di kenalkan? Memangnya tidak sama mama?" tanya Aryo bingung.
"Ngga pa, kemarin papa udah janji mau jemput Naura di sekolah," jawab Naura.
"Iya mas, kamu kemarin janji sama Naura lho. Harus di tepati janjinya," Ralin menimpali.
"Memangnya aku janji itu?" tanya Aryo heran.
"Ya ampun, kamu lupa lagi sih mas. Kamu itu janji sama Naura hari ini jemput dia kalau pulang sekolah. Kok kamu jadi lelet gitu? Apa di kantor pekerjaan sedang numpuk?" tanya Ralin.
"Emm, mungkin. Ya, mungkin aku lagi banyak kerjaan di kantor," jawab Aryo sekenanya hanya untuk mengiyakan ucapan perempuan yang kini mengaku jadi istrinya.
"Papa juga janji lho sore ini temani Salma potong rambut di salon," kata Ralin lagi.
Lagi-lagi Aryo di buat bingung sekaligus pusing. Entah apa yang di lakukannya sebelum dia masuk ke dunia masa depan, apakah dia seorang kepala keluarga yang baik dan cinta keluarga?
Sepertinya memang iya, karena dari ucapan Ralin sejak dia bangun pagi kalau dirinya adalah papa yang baik. Selalu saja kedua anak perempuan kecil itu ingin dekat dengannya, dan Aryo harus mencari artikel tentang bagaimana menjadi papa yang baik. Selain dia ingin kembali ke kehidupannya sebagai mahasiswa dan pekerja juga. Tapi bukan bekerja di kantor yang di sebutkan Ralin istrinya.
_
Rangkaian permintaan anak-anaknya dan Ralin, sudah Aryo penuhi. Mulai dari menjemput Naura dan berkenalan dengan guru anak gadis kecil itu, juga mengantar Salma sang putri kecil pergi ke salon untuk potong rambut.
Ralin bilang, kalau Salma akan mau di potong rambutnya jika di antar oleh papanya. Aryo sendiri tidak keberatan, di samping dia juga sedang belajar jadi seorang papa yang tiba-tiba dia alami dalam waktu satu hari itu.
Apa lagi kebingungannya di kantor, dia di marahi lagi oleh sang bos seperti apa kata istrinya. Dan dia belum mau menceritakannya pada Ralin.
Ralin menatap Aryo, ada raut kelelahan yang dia tangkap di wajah tampan suaminya. Dia tahu mungkin di kantor suaminya di marahi lagi oleh bosnya.
"Mas, kamu kenapa? Kok lesu begitu wajahnya," tanya Ralin ketika malam hari keduanya duduk santai setelah menidurkan dua anaknya.
"Ngga apa-apa dek," jawab Aryo reflek memanggil Ralin dengan ucapan dek.
Membuat Ralin melebarkan matanya, menaikkan kedua alisnya. Heran dengan sebutan dek itu, karena tidak pernah dia mendengar Aryo memanggilnya dek.
"Mas, kamu merubah panggilan sama aku? Biasanya panggil mama," kata Ralin.
Aryo menoleh, mengerutkan dahinya. Bingung lagi yang dia dapatkan dari ucapan perempuan yang mengaku sebagai istrinya itu.
"Memang kenapa? Salah aku panggil kamu dek?" tanya Aryo heran.
"Ya ngga sih, tapi kamu ngga biasanya panggil aku dek," jawab Ralin dengan tersenyum.
"Wajar aja kan aku panggil kamu dek, atau kamu keberatan jika aku panggil kamu dek?" tanya Aryo.
"Ngga sih, aku justru senang mas Aryo panggil dek. Lebih romantis gitu kesannya, heheh," ucap Ralin sambil tertawa kecil.
Aryo tersenyum, ternyata panggilan sederhana itu bisa membuat seorang perempuan sangat senang. Apa lagi pada seorang istri, dia teringat akan mantan kekasihnya dulu di kampus. Dia senang memanggil pacarnya itu dengan panggilan dek, dan mantan pacarnya juga senang mendengar Aryo memanggil dek.
Tapi sayangnya hubungan Aryo dan mantannya harus kandas karena mantan kekasihnya itu harus di jodohkan dengan laki-laki lain. Dan sejak saat itu, Aryo lebih fokus untuk menyelesaikan kuliahnya dari pada memikirkan mantan kekasihnya yang sudah pindah keluar kota.
"Mas, kamu melamun lagi? Apa pak Santoso memarahimu lagi?" tanya Ralin, tangannya memeluk lengan tangan Aryo.
Kepalanya pun di senderkan di pundak lelaki itu, membuat Aryo jadi diam mematung. Terkejut dengan sikap Ralin yang bergelayut manja padanya, karena ini pertama kalinya sejak putus dengan mantan kekasihnya. Ada seorang perempuan bergelayut manja padanya.
Tapi, bukankah itu wajar?
Karena dia adalah suaminya, Aryo menghela napas panjang. Tak terasa tangannya memegang puncak kepala Ralin dan tersenyum. Dia benar-benar memerankan sebagai laki-laki yang beristri dan memiliki dua anak.
"Mas, kalau kamu tidak betah kerja di kantornya pak Santoso. Kamu keluar aja, nanti kerja saja di kantornya papa. Papa sudah lama lho minta kamu untuk kerja di kantornya, tapi kamu selalu menolaknya. Katanya di tempat kerja yang sekarang adalah bidangmu, tapi kalau kamu selalu saja di marahi dan di tegur sama pak Santoso terus hanya gara-gara telat masuk kerja. Itu sih sudah tidak nyaman mas kerja di sana," kata Ralin.
"Memang papamu memintaku untuk kerja di kantornya?" tanya Aryo.
"Ya, dulu kamu menolaknya. Dan papa sering meminta sama aku untuk membujukmu mau kerja di kantor papa, tapi aku tahu kamu pasti akan menolaknya. Jadi aku tidak pernah menyampaikannya sama kamu, mas," kata Ralin lagi.
Lagi-lagi Aryo bingung, dia menarik napas panjang. Seolah ada rasa keberatan dalam dirinya yang di tangkap Ralin, padahal dia bingung saja dengan semua kejadian demi kejadian yang tidak dia ketahui sebelum dia masuk ke dunia masa depan itu.
Entah apa yang dia lakukan sebelum tahun dua ribu dua puluh sembilan ini, dia ingin mempelajarinya secara perlahan apa yang dia katakan, yang dia janjikan pada istri dan anak-anaknya.
"Mas, emm Salma udah tiga tahun lho. Aku ingin punya anak laki-laki," kata Ralin seperti memberi kode.
Tangannya menempel di dada Aryo, tentu saja laki-laki itu jadi tegang. Kenapa jadi tegang sendiri mendengar ucapan Ralin tentang anak laki-laki?
"Mas Aryo, aku pengen."
"Eh, dek?"
_
_
*******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments