Naura dan Salma sedang mengepak barang-barang yang akan mereka bawa ketika libur tahun baru dua hari lagi, mereka sangat senang libur tahun baru ini akan pergi ke pulau Lombok selama tiga hari.
Ralin yang melihat anak-anaknya antusias dengan libur tahun baru ini tampak bahagia, dia pun membantu membereskan barang yang akan di bawa kedua anaknya.
"Jangan banyak-banyak barang yang mau di bawa sayang, kita liburan cuma tiga hari aja kok," ucap Ralin pada kedua anak gadis kecilnya.
"Ya mama, ngga seru kalau cuma dua hari. Lima hari aja dong, kaya teman aku. Kan libur panjang sekolah juga, ma," ujar Naura gadis berusia tujuh tahun.
"Lama itu kak, kalau lima hari. Enak cuma tiga hari, itu tempat orang jangan lama-lama liburannya," Salma menimpali ucapan kakaknya.
"Kan tinggal di hotel dek, enak kok tinggal di hotel. Ngga di kampung," ujar Naura menanggapi ucapan adiknya.
"Di hotel juga punya orang, ya kan ma?" ucap Salma meminta persetujuan ucapannya pada Ralin.
Ralin hanya tersenyum saja mendengar perdebatan kecil kedua anaknya tanpa mau menjawab ucapan keduanya.
"Ma, bilang dong sama papa. Lima hari aja liburnya, enak," ucap Naura.
"Ngga mau. Tiga hari aja, aku maunya tiga hari!" teriak Salma tiba-tiba kesal.
"Ya terserah mama sama papalah, aku pengen lima hari aja ma. Nanti ke pantai cari kerang di sana, kerangnya bagus-bagus ma kata teman aku," ucap Naura lagi.
"Kerang tuh bau kak Naura," ucap Salma lagi.
"Kan bisa di cuci. Kamu sih ngga tahu kerang di sana itu bagus-bagus, teman kakak aja ada yang punya dan kakak pernah lihat kerangnya bagus. Ada yang di buat hiasan, lucu dek," ucap Naura lagi.
Salma diam mendengar ucapan kakaknya, dia menoleh pada mamanya yang sejak tadi diam saja mendengar perdebatannya dengan kakaknya Naura.
"Iya ma kerang di sana bagus-bagus?" tanya Salma akhirnya sedikit goyah dengan ucapan kakaknya.
"Mama ngga tahu, kan baru mau kesana," jawab Ralin.
"Ih mama, kata teman aku bagus-bagus kerangnya. Ada yang buat gantungan lampu katanya," ucap Naura lagi.
Perdebatan kecil itu memancing Aryo untuk ikut bergabung dengan mereka, sejak tadi dia di ruangan yang tak jauh dari kamar anaknya tentu jadi penasaran apa sebenarnya yang mereka perdebatkan.
"Ada apa sih, kok ribut-ribut?" tanya Aryo berdiri bersender di pintu dengan kedua tangan di lipat di dada.
Senyuman kecil dan tatapan lucu pada kedua anaknya yang berdebat, Ralin dan kedua anak gadisnya menoleh pada Aryo.
"Papa!" teriak Naura mendekati laki-laki itu.
"Kenapa sayang? Kok ribut sama adiknya?" tanya Aryo menyambut anaknya.
"Kita liburan di sana lima hari aja ya pa? Naura mau cari kerang yang banyak di pantai," ucap Naura merayu papanya.
"Waah, ada yang mau diskon liburan ya? Heheh," ucap Aryo tertawa kecil.
Dia mendekati istrinya dan Salma, di susul Naura. Mereka duduk di sisi ranjang kecil milik Salma.
"Iya tadi mereka berdebat masalah jumlah hari liburnya mas, Naura pengen lima hari. Adiknya pengen libur tiga hari, kata kakaknya pengen cari kerang di pantai," ucap Ralin menjelaskan perdebatan kedua anaknya tadi.
"Hmm, begitu ya. Ya kita lihat jadwal libur papa dulu ya, kalau bisa libur lima hari nanti kita libur sesuai keinginan kak Naura," ucap Aryo.
"Yee, asyiik! Liburannya panjang," sorak Naura.
Salma yang sejak tadi tidak setuju dengan libur panjang itu jadi cemberut, membuat Aryo mengerutkan dahi merasa heran dengan putri bungsunya.
"Dek Salma kenapa jadi cemberut begitu?" tanya Aryo.
"Papa pilih kasih. Masa harus nurut sama kak Naura? Liburnya kan tiga hari, kenapa jadi lima hari?" ucap Salma.
"Lho, bukannya senang liburnya nambah dek? Kok aneh sih, Salma maunya tiga hari? Kenapa sayang?" tanya Aryo heran.
"Iya, kenapa sayang? Ada apa?" Ralin menimpali.
"Kan nanti kakek ajak Salma liburan juga. Salma maunya liburan sama kakek," jawab Salma.
"Ya ampun, kan nanti kakek juga ikut liburan sayang sama kita. Nanti di sana Salma liburan sama kakek sepuasnya," ucap Ralin yang baru mengerti kenapa anak bungsunya berdebat dengan kakaknya.
"Tapi kakek bilang mau ajak Salma jalan-jalan di mall ma, kakek mau belikan Salma mainan," ujar Salma.
Ralin menarik napas panjang, begitu juga dengan Aryo. Keduanya saling pandang lalu tersenyum kecil.
"Ya sudah, besok sebelum pergi liburan Salma bisa pergi ke rumah kakek dan tagih janjinya pergi ke mall beli mainan, bagaimana?" tanya Ralin memberi pendapat.
Salma menoleh pada mamanya, melebarkan matanya tanda senang.
"Boleh ma pergi ke rumah kakek?"
"Ya tentu saja sayang, kan kalian juga lama ngga ke rumah kakek dan nenek," ucap Ralin.
"Asyiik!"
Naura sang kakak pun mendekat, dia duduk di sebelah Aryo dan menatap papanya itu.
"Tapi, kok nenek dari papa udah ngga ada?" ucap Naura tiba-tiba.
"Eh, kenapa kakak tanya itu?" Ralin pun terkejut.
"Aku sedih ma ngga ada nenek dari papa," ucap Naura membuat seisi kamar kecil itu terdiam dan sedih.
Aryo menarik napas panjang, Ralin menatap suaminya. Sedikit khawatir akan keadaan suaminya karena anaknya mengungkit ibunya yang sudah tiada.
"Kita doakan semoga nenek di sana tenang ya sayang, tentu nenek juga sangat sayang sama Naura dan Salma," ucap Ralin memutuskan pembicaraan yang tiba-tiba itu.
"Tapi nenek kas.."
"Sayang, Naura jangan bicara seperti itu," ucap Ralin mengingatkan anak sulungnya.
"Sudah, jangan bicara lagi tentang nenek. Doakan saja nenek juga senang di sana, nenek juga melihat dari atas kalau kalian itu adalah kesayangan nenek juga," ucap Aryo menengahi perdebatan mendadak itu.
Suasana ceria tadi kini berubah jadi sedih, Ralin merasa cemas dengan Aryo karena anaknya mengungkit mertuanya yang sudah tiada. Aryo bangkit dari duduknya dan menggendong kedua anaknya.
"Sekarang waktunya main sama papa!"
"Yee, main sama papa!"
_
_
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments