"Papa sedang apa di atasnya mama?"
Ucapan pertanyaan anak sulungnya yang tiba-tiba mengagetkan kegiatan Aryo dan Ralin. Tentu saja Aryo langsung berdiri, beruntung dia belum melepas celananya dan juga Ralin masih memakai baju panjang piyamanya.
Buru-buru mereka merapikan penampilan dan tersenyum kaku pada anaknya yang sedang duduk memperhatikan keduanya. Aryo dan Ralin lupa kalau mereka menyewa kamar besar untuk tidur bersama dengan anak-anak.
"Lho, kenapa kakak bangun?" tanya Ralin sambil membereskan baju piyamanya.
Aryo berjalan ke arah balkon lagi dengan senyum di bibirnya, sungguh dia lupa kalau kamar hotel yang di sewanya untuk satu keluarga. Ralin menoleh ke arah suaminya yang menjauh, dia juga tersenyum dan merasa kasihan pada suaminya karena aktivitas bercinta terganggu oleh anak sulungnya yang terbangun di tengah malam itu.
"Kakak tidur lagi aja, ini masih malam lho. Masih jam dua pagi," kata Ralin pada Naura.
"Papa sama mama belum tidur?" tanya Naura.
"Belum ngantuk sayang, udah kakak aja tidur lagi. Besok kan mau snorkling, jadi harus tidur yang nyenyak sekarang," ucap Ralin.
"Papa sama mama juga harus tidur, kan besok mau snorkling juga," ujar Naura lagi.
Ralin tersenyum dan mengangguk, mendekat pada anaknya agar segera tidur lagi. Entah kenapa malam ini anaknya itu terbangun di tengah malam, padahal tidak pernah bangun di malam hari.
Setelah beberapa menit menemani Naura untuk tidur lagi, gadis kecil itu akhirnya bisa tidur lagi. Ralin sendiri sudah mengantuk dan ikut tidur di samping kedua anaknya.
Aryo pun ikutan tidur karena memang dia juga sudah mulai mengantuk.
Malam semakin beranjak naik, malam di tahun baru ini sungguh membuat keluarga kecil Aryo sangat bahagia. Tapi di tempat lain, Devia sedang tidak baik hatinya karena sikap dingin Aryo padanya.
"Bagaimana caranya untuk dekat dan menyatakan perasaanku pada Aryo ya?"
_
Satu hari lagi mereka berada di pulau Lombok untuk liburan tahun baru itu. Kedua anak Aryo dan Ralin sangat senang, meski liburan sebentar lagi selesai. Mereka menikmati rangkaian kegiatan di pulau nan eksotis tersebut.
Aryo juga sangat senang bisa membahagiakan keluarganya, apa lagi kedua anaknya yang menggemaskan itu. Meski dia sendiri terkadang masih bingung dengan nasibnya sekarang ini.
Laki-laki itu berjalan menyusuri sisi pantai, kedua anaknya masih asyik bermain pasir sedangkan Ralin sedang menjaganya. Dia hanya pamit untuk jalan-jalan sebentar untuk menghilangkan penat serta ingin sendiri menikmati keindahan pantai.
"Pak Aryo sendiri saja?"
Tiba-tiba suara menyapanya, tentu itu tidak asing bagi Aryo. Dia hafal betul suara itu, tapi sedikit kesal kenapa selalu saja ada perempuan itu di kala dirinya sedang ingin sendiri.
"Ck, untuk apa kamu ikutin aku terus?" tanya Aryo.
"Tolong pak, aku mau bicara denganmu," ucap Devia, perempuan yang menyusul Aryo ketika tahu laki-laki itu berjalan jauh sendirian.
Aryo berhenti dan menoleh pada perempuan yang selama ini selalu mengejarnya, menatapnya dengan lekat tapi langsung di putusnya karena dia tidak mau terjadi sesuatu.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Aryo akhirnya, Devia tersenyum kecil.
Dia senang akhirnya bisa bicara juga dengan Aryo.
"Tentang kamu dan aku," jawab Devia.
Aryo hanya menggeleng saja dengan senyum sinis di bibirnya.
"Tidak ada cerita tentang aku dan kamu, Devia," ucap Aryo.
"Ada. Ada cerita tentang aku dan kamu, Aryo," ucap Devia membantah ucapan Aryo.
"Heh, jangan konyol Devia. Kita sudah berbeda, jangan mengungkit masa lalu apa pun," ucap Aryo lagi dengan kesal.
"Nah kan, berarti kamu ingat akan kisah masa lalu kita. Apa kamu mencoba melupakan masa lalu kita?"
"Masa lalu yang mana? Kita hanya dekat saja dulu, tidak pernah memiliki hubungan spesial. Jangan membuat asumsi yang tidak bagus Devia, dan jangan berharap aku akan ingat akan masa lalu tidak ada hubungan spesial itu," ucap Aryo.
"Jadi, jika kita ada hubungan spesial itu kamu akan selalu mengingatnya? Lalu kita dulu akan jadi pasangan yang seperti sekarang Ralin rasakan?" tanya Devia.
Aryo menggeleng kepala, dia tidak habis pikir kenapa Devia berpikir seperti itu.
"Devia, hidupku sekarang sudah tenang. Sudah bahagia dengan Ralin sahabatmu juga, apa kamu berniat untuk mengganggu kehidupan rumah tanggaku dan Ralin? Apa karena kehidupan rumah tanggamu yang berantakan sampai kalian berpisah itu sampai membuat kamu nekat merusak hubungan keluargaku?" tanya Aryo.
Devia terdiam dia terkejut dengan pertanyaan Aryo itu, sungguh apakah itu yang dia inginkan? Dia tertunduk lesu, merasa ucapan Aryo itu ada benarnya.
"Aku hanya penasaran saja dengan perasaanmu dulu padaku Aryo, itu saja," ucap Devia lirih.
"Sudahlah, jangan membahas yang belum tentu terjadi padaku. Buktinya sekarang aku menikah dengan Ralin dan memiliki dua orang anak yang cantik, aku bahagia dengannya. Kamu jangan membuatku bingung dengan kehadiranmu di depanku," ucap Aryo lagi.
Devia mendongak menatap Aryo, senyumnya mengembang. Dia masih berkeyakinan kalau hati Aryo memiliki cinta untuknya meski memang dulu tidak pernah terucapkan.
"Jika bukan dengan Ralin, kamu pasti akan bersamaku kan?" ucap Devia membuat Aryo semakin kesal.
Dia ingin menghindar dari perempuan itu yang selalu saja membuatnya kebingungan dan berpikiran terus.
"Seandainya kejadian itu tidak menimpaku, mungkin saja iya," gumam Aryo tanpa sadar.
"Jadi benar kan? Kamu dulu mencintaiku, tapi belum sempat kamu ucapkan?" tanya Devia semakin menggebu mendengar gumaman Aryo itu.
Aryo mengerutkan dahinya, kenapa Devia mendengar ucapannya yang kecil itu. Apa perempuan itu sedang memperhatikannya dengan serius?
"Jangan berharap yang tidak mungkin," ucap Aryo.
Tanpa di sadari, Devia mendekat dan memeluk Aryo dari belakang. Dia seperti mendapat angin segar di pantai itu setelah mendengar ucapan Aryo tadi. Tentu saja itu membuat laki-laki itu kaget dengan tindakan Devia yang tiba-tiba memeluknya itu. Tapi entah kenapa dia diam saja dengan sikap Devia itu, hingga suara lain mengejutkannya dan membuatnya takut.
"Sedang apa kalian berpelukan begitu?!"
_
_
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments