02. Tahun 2029

Aryo mencoba menahan tubuhnya agar tidak masuk ke dalam kaleng, entah dia bingung kenapa bisa kaleng kecil itu bisa di masuki kepalanya bahkan tubuhnya. Dia kaget bukan main, tangannya mencoba menahan agar keluar dari lubang kaleng.

Tarik menarik antara tangan Aryo untuk menahan kepalanya juga cahaya yang berpendar di depannya menarik tubuhnya agar masuk. Cahaya dari dalam kaleng itu menyilaukan mata Aryo, hingga dia ingin membuka matanya tapi terasa susah sekali. Bahkan kilauan cahaya itu benar-benar membuatnya tidak bisa membuka mata lagi.

Beberapa detik kemudian, Aryo berteriak kencang. Tangannya terlepas. Tubuhnya tiba-tiba melayang ke atas dan kakinya merapat, cahaya itu menarik kaki Aryo untuk masuk ke dalam kaleng. Teriakan Aryo menggeman dalam kamar, tapi tak seorang pun mendengarnya bahkan ingin menolongnya. Aryo terus berteriak meminta tolong.

"Toloong, tolong lepaskan aku!" teriak Aryo berusaha sekuat tenaga agar tubuhnya tidak tertarik ke dalam kaleng biskuit itu.

Semakin dia mencoba untuk bertahan, semakin kuat dorongan cahaya menarik tubuhnya. Hingga beberapa menit akhirnya Aryo masuk juga ke dalam kaleng biskuit tersebut. Kepalanya pusing seperti mai pecah karena benturan hebat di kepala bagian belakangnya, dia mencoba membuka matanya. Tapi kilauan cahaya itu masih berpendar hingga Aryo tak sadarkan diri.

Tubuhnya melemah, dia terkulai ketika tubuhnya itu melayang ke udara. Beberapa saat kemudian dia terhempas di atas ranjang empuk, belum sadarkan diri. Dia merasa seperti sedang tidur nyenyak sekali, bahkan dengkurannya terdengar oleh telinganya sendiri. Belum mau membuka matanya, Aryo justru berganti posisi hingga menarik selimutnya menutupi sampai dadanya.

"Papa, bangun! Papa bangun!" teriak seorang anak kecil berusia delapan tahun.

"Papa bangun, mama sudah menunggu papa di meja makan. Katanya mau sarapan sama-sama," kata salah satu anak gadis berusia lebih tua dari yang tadi.

Tangan mungil kedua bocah itu menempel tubuh Aryo dan menggerakkan tangannya, menggoyang tubuh Aryo dengan kencang. Mau tidak mau Aryo pun membuka matanya dengan malas sambil berujar memanggil ibunya.

"Ibu, jangan ganggu tidurku!" teriak Aryo, lalu memejamkan matanya kembali.

Dia belum sadar di mana dia berada, dalam ingatannya masih berada di rumah ibunya. Tapi tak lama, suara teriakan bocah kembali menggema di telinganya. Mau tidak mau Aryo pun membuka matanya.

"Papa bangun! Udah siang, papa kerja!" teriak bocah kecil lagi berusia lima tahun.

Aryo diam, dia menatap bocah kecil dengan senyum yang menampilkan gigi susunya. Wajah kebingungan Aryo menatap bocah kecil, kemudian matanya beralih pada perempuan yang mendekat padanya dengan senyum gembiranya.

"Sayang, sudah ya. Nanti mama yang bangunkan papa, sekarang cepat sarapan dulu sana," kata sang perempuan cantik dengan senyum mengembang.

Aryo masih diam terpaku, matanya berkeliling ke setiap sudut kamar. Kedua alisnya saling bertaut, bingung dengan keadaan paginya kali ini.

"Mas sudah bangun, ayo mandi lalu sarapan. Anak-anak menunggu di meja makan," kata perempuan itu duduk di sisi ranjang menatap Aryo.

"Kamu siapa?" tanya Aryo masih bingung.

"Lho, aku istrimu mas. Kok lupa sih?" tanya perempuan yang mengaku istrinya.

"Tapi, sejak kapan?" tanya Aryo lagi masih bingung.

"Ya ampun mas, aku Ralin Shafa. Istrimu yang kamu nikahi lima tahun lalu, masih lupa?" tanya perempuan yang bernama Ralin.

Aryo diam, dia bingung kenapa tiba-tiba jadi seorang suami yang memiliki istri dan dua anak. Ingatannya di coba mengingat kejadian sebelumnya, dia ingat akan pertama ke kostnya. Membersihkan kamar kost dan melihat ada sebuah kaleng biskuit, dia mengambil kaleng biskuit tersebut dan muncul cahaya yang berpendar. Tiba-tiba kepalanya ketarik masuk ke dalam kaleng biskuit.

Sejak saat itu dia di tarik masuk ke dalam kaleng biskuit itu dia tidak mengingat apa pun. Dan kini, setelah bangun dari keadaannya itu justru membuatnya bingung. Dia memiliki seorang istri dan memiliki dua anak?

"Ralin?"

"Ya, ya ampun mas. Kamu pasti mengigau lagi dan lupa lagi, sudah cepat mandi sana. Anak-anak menunggu di meja makan, biasanya mereka akan sarapan dengan kamu lalu mengantar Naura sekolah," kata Ralin pada Aryo.

Dia beranjak dari duduknya untuk keluar dari kamar itu, tapi Aryo menahannya.

"Tunggu!" teriak Aryo.

Ralin berbalik, berhenti dan menatap Aryo.

"Ada apa lagi mas?" tanya Ralin.

"Ini tahun berapa?" tanya Aryo masih bingung.

"Ini tahun dua ribu dua puluh sembilan, kenapa? Kamu lupa lagi? Atau kamu ingat mau beri kejutan ulang tahunku?" tanya Ralin dengan senyumnya.

"Eh, ulang tahunmu?"

"Iya, satu bulan lagi ulang tahunku," jawab Ralin.

Aryo kembali diam, jadi lima tahun lalu dia masih di tahun dua ribu dua puluh empat. Apa jangan-jangan dia masuk ke dunia masa depannya?

"Oh Tuhan, jadi aku masuk ke dunia masa depan?" gumam Aryo.

"Ada apa mas? Kok bicara sendiri," tanya Ralin.

"Oh tidak dek, eh maksudku istriku," jawab Aryo gugup.

Ralin hanya tersenyum saja, Ralin pun hanya menggeleng kepala kemudian dia melanjutkan langkahnya keluar dari kamar itu. Sedangkan Aryo masih posisi duduk, mengingat akan kejadian sebelum dirinya berada di kehidupan masa depan itu.

"Aku harus bagaimana? Bingung juga menghadapi mereka yang belum aku alami sebelumnya. Punya istri dan anak? Ibu, tolong aku!"

Kedua tangan Aryo menutupi wajahnya, dia masih bingung dengan semuanya. Ingin dia kembali ke masa lima tahun ke belakang, di tahun dua ribu dua puluh empat. Tapi bagaimana caranya? Dia sudah masuk ke dunia masa depan dengan kaleng biskuit itu.

Dengan cepat Aryo bangkit dari duduknya, dia ingin mencari kaleng biskuit yang telah membawanya ke masa depan. Dia melangkah menuju meja kerja yang terletak di pojok, berjongkok ke kolong meja. Tidak di temukan kaleng apa pun, kini beralih ke lemari kecil berisi buku-buku. Tetap tidak mencari kaleng itu.

Berlanjut ke kolong ranjangnya, membuka sprei yang menjuntai itu. Tapi tepat tidak menemukan apa pun, Aryo kembali duduk di sisi ranjang. Menatap sekeliling kamar, beralih matanya menuju sebuah ruangan. Langkahnya cepat menuju ruangan itu, melihat ada lemari lengkap dengan rak sepatu. Semuanya di uber, di buka satu persatu tapi tetap tidak menemukan kaleng biskuit.

"Huh, kemana kaleng itu ya? Kok tidak ada," gumamnya lagi.

Saat sedang melamun, dia melangkah gontai. Terus terang saja dia bingung dengan keadaannya yang secara tiba-tiba itu dia alami. Langkahnya kembali ke ranjang, duduk kembali di sana.

"Mas Aryo, kenapa masih duduk saja?" tanya Ralin tiba-tiba berdiri di depan Aryo.

"Eh, kenapa?"

"Kok kenapa sih? Ya cepat mandi terus sarapan. Anak-anak menunggumu sejak tadi," kata Ralin lagi.

"Iya, aku mandi." jawab Aryo lemah.

Bangkit dari duduknya masih dalam keadaan bingung, langkahnya menuju kamar mandi. Ralin hanya menggeleng kepala saja, kemudian berbalik dan melangkah pergi dari kamar itu.

"Kenapa dengan mas Aryo sih?"

_

_

*****

Terpopuler

Comments

kalea rizuky

kalea rizuky

masih meraba alurnya

2025-03-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!