07. Pagi Ceria

Sudah dua bulan peran Aryo menjadi ayah dan suami yang baik. Dia menjalaninya dengan baik semuanya itu, bahkan kini dia semakin menyayangi istrinya. Itu sungguh di luar dugaannya, betapa sangat mencintai istrinya secara tiba-tiba.

Kebahagiaan itu sangat membuatnya nyaman ingin terus hidup dengan istri dan anaknya. Walau awalnya dari sebuah kaleng biskuit, tapi dia tidak mau kembali lagi ke tahun ke belakang. Dia ingin hidup di dunia masa depannya sekarang, hidup bahagia dengan istri yang cantik dan penurut serta dua orang putri yang cantik dan lucu.

"Mas, sarapannya sudah siap," ucap Ralin di depan pintu kamar mereka.

"Ya, tunggu sebentar lagi," ucap Aryo.

Aryo bergegas menuju meja makan setelah selesai memakai baju kerjanya. Dia mencium pipi Ralin dengan lembut ketika perempuan itu merapikan dasi yang miring di pakai suaminya, senyum Ralin mengembang dan itu membuat Aryo benar-benar jatuh cinta pada istri yang baru dia temui sejak dua bulan lalu. Meski mereka menikah sudah lima tahun, itu kata istrinya.

Tapi yang jelas, Aryo baru merasakannya selama dua bulan itu.

"Sarapannya mas," ucap Ralin.

"Tunggu sebentar, kamu kok setiap hari selalu tambah cantik saja. Aku jadi semakin cinta sama kamu," ucap Aryo.

"Ah, mas Aryo menggodaku. Ini masih pagi lho mas," ucap Ralin.

"Memang kenapa dengan pagi ini?" tanya Aryo yang kini memeluk istrinya dari belakang, menggelitik pinggangnya.

"Aah mas Aryo geli. Jangan gelitik terus," ucap Ralin mencoba menghindar dari godaan tangan Aryo.

Laki-laki itu semakin berani dan intens mengganggu istrinya, itu karena naluri lelaki dan cintanya pada Ralin membuatnya ingin terus menggoda istrinya.

"Mas, udah dong. Kamu duduk dan makan sarapanmu," ucap Ralin melepas tangan suaminya.

"Emm, siang ini kamu tunggu aku ya," bisik Aryo di telinga Ralin.

"Ih, mau apa?" tanya Ralin heran.

"Aku minta sesuatu," bisik Aryo lagi.

"Tapi aku ngga bisa mas," ucap Ralin menatap suaminya.

"Lho, kenapa?"

"Aku mau ketemu sama teman lama, dia mau datang ke rumah siang ini," jawab Ralin lagi.

"Siapa?"

"Nanti juga tahu sendiri kalau benar siang pulang," jawab Ralin.

"Laki-laki atau perempuan teman lamanya?" tanya Aryo, dia sedikit cemburu jika istrinya berteman dengan laki-laki.

"Masa teman laki-laki di bawa ke rumah sih, aku mau cari mati kalau begitu. Suamiku kan cemburu buta," ucap Ralin melirik pada Aryo.

Aryo diam, tentu saja. Dan itu tidak bisa di pungkiri siapa pun lelakinya jika istrinya lebih dekat dengan teman laki-lakinya pasti akan cemburu.

"Nah itu tahu aku cemburu kalau istriku yang cantik dekat dengan laki-laki lain," ucap Aryo.

"Tenang saja mas, teman lamaku ini perempuan. Dia juga sudah bersuami, dan dia datang ke rumahku karena sejak dia menikah itu belum pernah ketemu sama aku. Dia langsung di bawa suaminya di luar kota sejak menikah," ucap Ralin.

Aryo tersenyum, dia merasa tenang mendengar Ralin tentang teman lamanya adalah perempuan. Dia tidak tahu sedekat apa dulu teman-teman Ralin dulu, selain karena dia tidak mengenal mereka semua.

"Oh ya mas, teman lamaku itu dulu sewaktu kuliah pernah punya pacar yang sangat mencintai dia. Tapi karena dia di jodohkan oleh orang tuanya, jadi mereka putus. Mau tidak mau dia harus menurut dan memutuskan hubungannya dengan pacarnya dulu, kasihan ya," ucap Ralin.

"Ya, itu sudah nasib mereka. Tapi buktinya sampai lima tahun mereka baik-baik saja kan?" kata Aryo.

"Ngga juga, katanya dia hubungannya sedang ngga baik sama suaminya. Makanya dia pulang ke kota ini dan ingin bertemu denganku, mau curhat katanya," kata Ralin.

"Jangan terlalu jauh ikut campur masalah rumah tangga temanmu itu, dek. Ngga baik," ucap Aryo lagi.

"Ngga kok, aku cuma mau mendengar curhatan dia aja. Lagi pula kita sudah lima tahun lebih sejak dia menikah ngga pernah ketemu. Bahkan waktu kita menikah aja dia ngga datang," kata Ralin.

Aryo hanya tersenyum saja, dia mengambil roti panggangnya. Melirik jam di tangannya karena sudah pukul tujuh lebih.

"Aku berangkat dulu dek, sudah siang ini," kata Aryo.

"Iya mas."

"Oh ya, kok Naura ngga sekolah?" tanya Aryo.

"Libur mas, kalau anak PAUD itu berangkat kan cuma empat hari aja. Beda dengan anak TK, hampir setiap hari ke sekolah," jawab Ralin.

Aryo mencium pipi Ralin, kebiasaan yang sudah dia biasakan sejak masuk ke dunia masa depan. Kini di tambah mencium bibir Ralin, mengulumnya dan menggigitnya. Menbuat istrinya itu cemberut, dia hanya tertawa senang.

"Mas Aryo nih, sakit tahu," ucap Ralin.

"Aku gemas sama kamu, dek," ucap Aryo.

Ralin tersenyum, dia mengantar suaminya berangkat ke kantor sampai di depan pintu.

"Aku berangkat dulu dek," ucap Aryo.

"Iya mas, hati-hati."

"Ya."

_

_

*****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!