Pesan yang mengganggu

Di sela-sela istirahat makan siangnya, Raka duduk di sudut restoran pribadinya sambil menyesap kopi. Ia membuka ponselnya dan menggeser layar Instagram, mencari kabar dari orang-orang terdekatnya. Tiba-tiba, sebuah story dari Mika menarik perhatiannya.

Video singkat itu memperlihatkan interior rumah yang baru saja dibeli Mika: dinding bercat putih dengan sentuhan kayu, sofa abu-abu yang nyaman, dan jendela besar yang menghadap taman kecil. Mika menambahkan teks sederhana:

“Finally, new chapter begins. 🏡✨ #NewHome #NewLife”

Raka memiringkan kepalanya, merasa ada sesuatu yang tidak asing dengan rumah itu. Ia memperbesar layar ponselnya dan mengamati setiap sudut video. “Kayaknya aku pernah liat rumah ini. Tapi di mana ya?” pikir Raka, sambil mencoba mengingat-ingat.

Raka menutup ponselnya sejenak, mengingat beberapa lokasi di kota lamanya. Rumah itu terasa akrab, tapi dia tidak bisa langsung mengingat tempat pastinya. Ia kembali membuka story Mika, mengulang videonya dengan cermat, memperhatikan detail ornamen dan tata letaknya.

Tiba-tiba memori lama muncul di benaknya:

Suatu sore beberapa tahun lalu, ia pernah menemani temannya mencari rumah di kawasan perumahan elit. Salah satu rumah yang mereka kunjungi memiliki nuansa yang sangat mirip—dinding putih dengan aksen kayu dan taman kecil di belakang. "Ah! Kayaknya di kawasan yang sama..." pikir Raka dengan perasaan yakin.

Raka mengerutkan kening. Apakah Mika pindah kembali kesini? Ia sempat ingin menghubungi Mika beberapa kali setelah reuni, tetapi ia menahan diri agar tidak terlihat terlalu ingin tahu. Namun, melihat Mika dengan rumah baru di kota ini membuat rasa penasarannya semakin membuncah.

“Kenapa dia nggak cerita kalau dia mau balik ke sini?” gumam Raka pada dirinya sendiri. Selama ini, ia mengira Mika sudah melupakan masa lalunya dan memilih untuk melanjutkan hidup di kota baru. Tapi sekarang, Mika kembali—dan tidak hanya kembali, tetapi dengan kehidupan yang jauh lebih mewah dan sukses.

Kembali ke Ponsel

Raka membuka aplikasi chat-nya, jemarinya melayang di atas nama Mika. Ia sempat ragu untuk mengirim pesan, takut terlihat terlalu penasaran. Namun, akhirnya ia menuliskan pesan singkat:

“Hei, liat story-mu barusan. Kamu pindah ke sini? Kok nggak bilang-bilang?”

Ia menatap layar, menunggu pesan itu terkirim. Perasaan tak tenang muncul di dalam dirinya, seolah-olah ada sesuatu yang lebih besar terjadi di balik semua ini. Apakah Mika punya rencana khusus dengan kepulangannya?

***

Mika duduk bersandar di sofa sambil menggulir pesan dari Raka di ponselnya:

“Hei, liat story-mu barusan. Kamu pindah ke sini? Kok nggak bilang-bilang?”

Ia berniat membalas pesan itu, tapi sebuah notifikasi lain muncul di layar, mengalihkan perhatiannya:

Antony Donavan: “Jadi, kapan kita bisa ketemu? Aku nggak sabar ngobrol sama kamu.”

Senyum kecil muncul di sudut bibir Mika. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang lebih dari sekadar rasa penasaran dalam pesan Antony. Tatapan pria itu saat di reuni tidak bisa ia lupakan—tatapan penuh keinginan, berbeda dari masa SMA ketika Antony mengabaikannya dan lebih memilih Dara.

Mika menutup pesan Raka untuk sementara dan fokus pada obrolannya dengan Antony. Jemarinya lincah mengetik balasan:

Mika: “Sabtu depan, kan? Kamu beneran nggak sabar ya?”

Antony: “Haha, iya. Ada tempat favoritku, bisa kita kunjungi bareng.”

Mika: “Kalau Dara tahu, gimana?”

Antony: “Tenang aja, aku punya banyak alasan.”

Mika tertawa kecil sambil menggigit bibirnya. Ini kesempatan emas. Antony terlihat berani bermain api di belakang Dara, dan Mika akan memastikan setiap langkahnya memperkuat rencana balas dendamnya.

***

Di sisi lain kota, Raka masih menatap ponselnya, menunggu balasan Mika. Ia menyesap kopi yang sudah mulai dingin, merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya. Ia tahu ada yang berubah dari Mika—bukan hanya penampilannya, tapi juga caranya membawa diri.

Setelah beberapa menit berlalu tanpa balasan, Raka mulai merasa kecewa dan bingung. Apakah Mika sengaja mengabaikannya? Atau dia hanya terlalu sibuk dengan kehidupan barunya?

Setelah puas dengan percakapannya bersama Antony, Mika kembali membuka pesan dari Raka. Ia membaca ulang pesannya sejenak dan berpikir. Raka memang pernah menjadi teman dekatnya di masa lalu, tapi fokus Mika sekarang bukanlah memperbaiki hubungan lama—melainkan memainkan semua kartu yang ia punya dengan cermat.

Ia mengetik balasan singkat:

“Maaf ya, Rak. Aku sibuk banget akhir-akhir ini. Baru bisa fokus ke banyak hal. Nanti kalau ada waktu, kita ngobrol ya.”

Ia tahu balasan seperti itu akan membuat Raka tetap penasaran dan terikat padanya, tanpa membuka terlalu banyak pintu. Mika ingin Raka tetap di orbitnya, tetapi tidak sampai mengganggu rencana utamanya dengan Antony.

Saat menerima balasan Mika, Raka merasa ada sesuatu yang aneh. Balasan Mika terasa terlalu formal, seperti ada jarak yang disengaja. Ia mengernyit, mencoba menghubungkan petunjuk kecil yang ada di pikirannya.

“Kenapa rasanya kaya Mika yang sekarang... beda banget ya?” pikirnya. Bukan hanya secara fisik, tapi ada sesuatu yang lebih mendalam, seolah Mika menyembunyikan sesuatu.

Raka menaruh ponselnya di meja dengan rasa tak nyaman. “Ada apa, sebenarnya?” gumamnya pelan, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang lebih gelap.

***

Hari yang dinanti tiba. Mika menarik napas panjang di bandara, membawa koper dan segala ambisinya. Ia telah mengurus segalanya: bisnisnya, kuliah, bahkan cuti panjang untuk fokus pada satu tujuan besar—menghancurkan Dara dan gengnya.

Saat pesawat mendarat di kota lamanya, Mika melangkah keluar dengan perasaan berdebar. Bukan karena ketakutan, tapi kegembiraan yang bercampur dengan dendam. Ia tahu, setiap langkah yang akan ia ambil adalah bagian dari rencana yang sudah matang di kepalanya.

Setelah tiba di rumah barunya yang aesthetic, Mika mulai menata ruangannya. Ia memastikan setiap sudut cocok untuk membuat konten dan menunjang bisnis kosmetiknya. Di depan cermin besar di ruang tamu, Mika menatap pantulan dirinya—seorang wanita yang dulu mereka hina, kini menjadi sosok cantik dan berdaya.

Sebuah notifikasi muncul di ponselnya. Pesan dari Antony:

"Sudah sampai? Kapan kita bisa ketemu?"

Mika tersenyum kecil. Langkah pertamanya adalah Antony. Ia tahu betul, menghancurkan Dara akan lebih mudah jika Antony berada dalam genggamannya. Tapi Mika tidak ingin terburu-buru. Rencana harus dijalankan dengan sempurna.

Mika: “Baru sampai. Mungkin besok atau lusa, kita ketemu ya?”

Antony: “Oke. Aku tunggu.”

Mika meletakkan ponselnya dengan senyum penuh arti. Antony sudah terpancing.

Episodes
1 Luka yang mengakar
2 Kepergian yang membekas
3 Mulai dari awal
4 Wajah Lama
5 Iri dengki
6 Malam Reuni
7 Momen pertemuan yang dinanti
8 Pertemuan Pandang
9 Bara Kecemburuan di Tengah Kemewahan
10 Tatapan dan Senyuman yang Mengusik
11 Di Balik Kehidupan yang Sempurna
12 Membangun Jembatan
13 Langkah Baru
14 Izin orang tua
15 Pesan yang mengganggu
16 Pertemuan yang Tak Terelakkan
17 Malam Mewah dan Godaan Halus
18 Malam yang berapi api
19 Rencana apa yang dia pikirkan
20 Kebimbangan Raka dan Ambisi Mika
21 Di Antara Keraguan dan Kejujuran
22 Pertemuan Tak Terduga dengan Raka
23 Pesan yang Mengusik
24 Godaan Berbahaya
25 Debar yang Tak Terhindarkan
26 Kebenaran yang Mengintai
27 Kehadiran Tak Terduga
28 Bukan sembarangan pria
29 Gosip Panas di Malam yang Larut
30 Kecemburuan
31 Kecurigaan yang membuat terpecah
32 Mengabaikan semuanya demi bersamanya
33 Di abaikan
34 Pengintaian
35 Berjanji
36 Malam mengesankan
37 Kebimbangan Hati
38 Tidak terduga
39 Tidak Percaya Diri
40 Kau tidak akan lepas dariku
41 Rayuan maut
42 Kegelisahan
43 Kecurigaan yang mudah di tutupi
44 Kecemburuan yang salah
45 Liburan
46 Bermain Belakang
47 Gangguan
48 Kepedulian
49 Kau sangat penting
50 Bertemu Teman Lama
51 Makan Malam Berkesan
52 Permainan Antony
53 Rasa penasaran Raka
54 Raka mengetahui ?
55 Meminta penjelasan
56 Kekhawatiran
57 Coklat yang sama
58 Melanggar perjanjian
59 Kesedihan di atas kebahagiaan
60 Perhatian Raka
61 Kepingan Rahasia
62 Penghianatan
63 Rayuan Maut Lelaki
64 Kebetulan yang bagus
65 Makan Malam Menegangkan
66 Janji Kosong
67 Jejak Lipstik
68 Melabrak
69 Pembelaan
70 Terulang Kembali
71 Menusuk Teman
72 Kepalsuan
73 Permintaan Maaf
74 Penolakan
75 Siapa Itu?
76 Menyelidiki
77 citra keluarga no 1
78 Celah Kecil
79 Malam Terakhir
80 Berbalik Arah
81 Selalu ada
82 Semakin Rumit
83 Mencari Celah
84 Menyusun Rencana
85 Langkah selanjutnya
86 Mulai!
87 Masuk Perangkap
88 Ketegangan
89 Situasi yang rumit
90 Pendekatan
91 Ancaman
92 Menyelidiki
93 Kesepakatan
94 DI Bawah Kendali
95 Eksekusi
96 Siaran Langsung
97 PENGHIANAT!
98 Terbalaskan
99 Dunia penuh kejutan
100 Menyadari
101 Kenyataan menyakitkan
102 Menggores Kepercayaan Diri
103 Tidak Pernah Ada di Dalam Hatimu...
104 Bukti Masa Lalu
105 Pengaruh
106 Lepaskanlah!
107 Apa Tujuanmu?
108 Melabrak
109 Pertengkaran
110 Sekutu yang berbahaya
111 Kecurigaan Raka
112 Kekecewaan
113 Awal Kehancuran Dara
114 Dara Terjebbak
115 Apa Yang Dia Rencanakan?
116 Adu Domba
117 Kegilaan Nisa
118 Manipulatif
Episodes

Updated 118 Episodes

1
Luka yang mengakar
2
Kepergian yang membekas
3
Mulai dari awal
4
Wajah Lama
5
Iri dengki
6
Malam Reuni
7
Momen pertemuan yang dinanti
8
Pertemuan Pandang
9
Bara Kecemburuan di Tengah Kemewahan
10
Tatapan dan Senyuman yang Mengusik
11
Di Balik Kehidupan yang Sempurna
12
Membangun Jembatan
13
Langkah Baru
14
Izin orang tua
15
Pesan yang mengganggu
16
Pertemuan yang Tak Terelakkan
17
Malam Mewah dan Godaan Halus
18
Malam yang berapi api
19
Rencana apa yang dia pikirkan
20
Kebimbangan Raka dan Ambisi Mika
21
Di Antara Keraguan dan Kejujuran
22
Pertemuan Tak Terduga dengan Raka
23
Pesan yang Mengusik
24
Godaan Berbahaya
25
Debar yang Tak Terhindarkan
26
Kebenaran yang Mengintai
27
Kehadiran Tak Terduga
28
Bukan sembarangan pria
29
Gosip Panas di Malam yang Larut
30
Kecemburuan
31
Kecurigaan yang membuat terpecah
32
Mengabaikan semuanya demi bersamanya
33
Di abaikan
34
Pengintaian
35
Berjanji
36
Malam mengesankan
37
Kebimbangan Hati
38
Tidak terduga
39
Tidak Percaya Diri
40
Kau tidak akan lepas dariku
41
Rayuan maut
42
Kegelisahan
43
Kecurigaan yang mudah di tutupi
44
Kecemburuan yang salah
45
Liburan
46
Bermain Belakang
47
Gangguan
48
Kepedulian
49
Kau sangat penting
50
Bertemu Teman Lama
51
Makan Malam Berkesan
52
Permainan Antony
53
Rasa penasaran Raka
54
Raka mengetahui ?
55
Meminta penjelasan
56
Kekhawatiran
57
Coklat yang sama
58
Melanggar perjanjian
59
Kesedihan di atas kebahagiaan
60
Perhatian Raka
61
Kepingan Rahasia
62
Penghianatan
63
Rayuan Maut Lelaki
64
Kebetulan yang bagus
65
Makan Malam Menegangkan
66
Janji Kosong
67
Jejak Lipstik
68
Melabrak
69
Pembelaan
70
Terulang Kembali
71
Menusuk Teman
72
Kepalsuan
73
Permintaan Maaf
74
Penolakan
75
Siapa Itu?
76
Menyelidiki
77
citra keluarga no 1
78
Celah Kecil
79
Malam Terakhir
80
Berbalik Arah
81
Selalu ada
82
Semakin Rumit
83
Mencari Celah
84
Menyusun Rencana
85
Langkah selanjutnya
86
Mulai!
87
Masuk Perangkap
88
Ketegangan
89
Situasi yang rumit
90
Pendekatan
91
Ancaman
92
Menyelidiki
93
Kesepakatan
94
DI Bawah Kendali
95
Eksekusi
96
Siaran Langsung
97
PENGHIANAT!
98
Terbalaskan
99
Dunia penuh kejutan
100
Menyadari
101
Kenyataan menyakitkan
102
Menggores Kepercayaan Diri
103
Tidak Pernah Ada di Dalam Hatimu...
104
Bukti Masa Lalu
105
Pengaruh
106
Lepaskanlah!
107
Apa Tujuanmu?
108
Melabrak
109
Pertengkaran
110
Sekutu yang berbahaya
111
Kecurigaan Raka
112
Kekecewaan
113
Awal Kehancuran Dara
114
Dara Terjebbak
115
Apa Yang Dia Rencanakan?
116
Adu Domba
117
Kegilaan Nisa
118
Manipulatif

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!