Kepergian yang membekas

“Kontestan Lomba Makan Terbanyak: Mika vs Kuda Nil, Siapa Menang?”

Di sudut lain papan, terdapat sketsa tubuh gemuk yang menyerupai Mika dengan tambahan tanduk dan ekor babi, dilengkapi tulisan kecil: “Hati-hati, dia bisa melahapmu dalam sekali gigit!”

Tawa Dara, Nisa, dan Farah pecah dari arah belakang kelas. Mereka berdiri di ambang pintu, puas melihat ekspresi Mika yang terkejut dan terluka.

“Gimana, Mika? Kita pikir sekolah ini butuh sedikit hiburan pagi-pagi,” kata Dara dengan nada penuh kemenangan.

“Iya, biar kamu terkenal, Mika! Kita bantu kamu jadi pusat perhatian,” tambah Nisa sambil cekikikan, sementara Farah memotret reaksi Mika dengan ponselnya.

Seluruh tubuh Mika terasa panas. Ia ingin berteriak, ingin melarikan diri, tapi kedua kakinya seolah menancap di lantai. Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan, dan tawa Dara serta teman-temannya semakin menusuk telinga.

Saat itu, dari sudut ruangan, seorang siswa laki-laki memperhatikan kejadian tersebut dengan ekspresi ragu. Namanya Raka, seorang cowok culun dengan kacamata tebal dan rambut berantakan. Meski wajahnya cukup tampan, penampilannya yang lusuh membuatnya sering diabaikan. Raka juga menjadi korban bullying, namun ia tidak pernah melawan. Ia hanya menjalani hari-harinya dengan diam dan pasrah.

Dari tempatnya berdiri, Raka melihat Mika yang dihina habis-habisan. Ia tahu betul rasanya menjadi bahan olokan dan merasa tak berdaya. Hanya saja, kali ini, ia merasa sesuatu dalam dirinya mendesak untuk melakukan sesuatu.

Namun, ketakutannya lebih kuat. Ia hanya menggenggam tali tasnya erat-erat, menunduk, dan berpura-pura tidak melihat apa-apa.

Mika menangkap tatapan Raka sekilas. Seketika, ia merasa sendirian lebih dari sebelumnya. “Bahkan yang terhina seperti dia pun nggak akan menolongku,” pikir Mika pahit.

Ia menggigit bibirnya hingga berdarah, lalu dengan langkah cepat, ia keluar dari kelas tanpa berkata apa-apa. Dara dan gengnya hanya tertawa lebih keras, menikmati pemandangan Mika yang kembali lari dari kenyataan.

***

Di Toilet Sekolah

Mika mengunci diri di salah satu bilik toilet. Tangannya gemetar saat ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, membiarkan air mata yang tertahan sejak tadi mengalir deras.

“Kenapa harus aku? Apa salahku?” bisiknya lirih, berulang-ulang.

Hatinya penuh dengan rasa marah, kecewa, dan keputusasaan. Ia merasa lelah. Lelah dengan dirinya sendiri, dengan ejekan orang-orang, dan dengan rasa tidak berdaya yang terus menghantuinya setiap hari.

Saat itu, di dalam bilik yang dingin dan sunyi, Mika merasakan sesuatu tumbuh di dalam dirinya—sebuah tekad yang lahir dari rasa sakit.

“Mereka nggak boleh menang selamanya. Suatu hari, aku akan buat mereka menyesal.” Mika mengusap air mata di pipinya dan menatap bayangannya di cermin kecil di toilet. Mungkin hari ini dia kalah, tapi dia bersumpah bahwa ini bukanlah akhir.

Di sudut pikirannya, terlintas sebuah rencana. Dia harus berubah. Tidak hanya secara fisik, tapi juga secara mental. Ini bukan tentang membalas dendam saja—ini tentang membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dia lebih kuat dari apa pun yang mereka katakan.

***

Berhari-hari, sosok Mika tak lagi tampak di sekolah. Di kursinya yang biasanya terisi dengan tubuh gempal itu, hanya tersisa meja kosong. Seluruh kelas tahu bahwa Mika telah pindah sekolah ke luar kota. Namun, bukan rasa penyesalan atau simpati yang tersisa—melainkan tawa dan kepuasan dari geng Dara.

"Akhirnya dia pergi juga," ujar Dara sambil tersenyum puas saat mendengar kabar itu dari wali kelas. "Kasihan, nggak kuat mental."

Nisa terkikik di sampingnya. "Mungkin dia pindah ke peternakan, biar bisa gabung sama babi-babi di sana," katanya, diiringi gelak tawa Farah yang menutup mulutnya dengan pura-pura sopan.

Meski Mika sudah tidak ada, geng Dara masih sering membicarakannya. Setiap kali mereka melihat sesuatu yang mengingatkan pada Mika—entah itu siswa gemuk lainnya, makanan di kantin, atau foto-foto jadul—nama Mika selalu muncul sebagai bahan olokan.

"Eh, jangan-jangan Mika lagi, tuh, muncul di berita lomba makan!" ledek Nisa suatu hari saat mereka melihat poster makanan di kantin. Dara dan Farah tertawa terbahak-bahak, meskipun Mika tidak lagi ada di sana. Seolah bayangan gadis itu masih menjadi candu yang menyenangkan bagi mereka.

Namun, di sudut lain ruangan, ada seseorang yang tidak bisa ikut tertawa—Raka.

***

Raka duduk di bangkunya, memandangi papan tulis tanpa benar-benar memperhatikan apa yang tertulis di sana. Kepalanya dipenuhi oleh ingatan tentang Mika dan bagaimana dia berdiri diam saat Mika dipermalukan di depan seluruh sekolah.

"Kenapa aku nggak berbuat apa-apa?" pikirnya, menggenggam pensil di tangannya dengan kuat hingga ujungnya patah. Rasa bersalah yang terus menggerogotinya tidak pernah hilang, malah semakin kuat setiap kali mendengar tawa Dara dan gengnya.

Ia tahu betul rasanya menjadi korban. Betapa menyakitkan saat seseorang melihatmu direndahkan tapi memilih bungkam. Ia seharusnya tahu lebih baik. Tapi saat itu, rasa takutnya sendiri lebih kuat daripada keberaniannya. Ia tak ingin menjadi target Dara dan kawan-kawannya—jadi, dia memilih jalan yang aman. Diam.

Namun kini, kepergian Mika terasa seperti beban besar di hatinya. Seolah-olah dia telah kehilangan kesempatan untuk berbuat benar. Tidak ada lagi Mika yang bisa ia temui, tidak ada lagi Mika yang bisa ia ajak bicara. "Aku pengecut," bisiknya dalam hati, menundukkan kepala di atas meja.

Raka ingat dengan jelas tatapan Mika pada hari terakhirnya di sekolah—tatapan penuh kepedihan, keputusasaan, dan juga kekecewaan. Tatapan itu membuatnya merasa kotor, seperti dia ikut berkontribusi dalam luka Mika dengan tidak melakukan apa pun.

***

Saat jam istirahat, Raka berjalan sendirian di koridor sekolah. Seperti biasa, ia tidak punya teman dekat. Tidak ada yang mau berteman dengan cowok yang dianggap culun dan tidak keren seperti dia. Sepanjang perjalanan, ia mendengar Dara dan gengnya masih saja melontarkan lelucon tentang Mika.

"Kalau Mika balik lagi ke sini, gimana ya? Mungkin dia bakal dua kali lebih gemuk!" ucap Dara diikuti oleh gelak tawa yang keras.

Raka mengepalkan tangannya di saku. Tawa mereka membuatnya muak. Mereka tertawa, merasa menang atas penderitaan seseorang, dan itu membuat Raka merasa makin tersudut.

"Seandainya aku bisa minta maaf ke Mika..." pikirnya. Tapi Mika sudah pergi. Dan kata maaf itu kini hanya menggantung dalam hati Raka, tidak pernah tersampaikan.

Setiap malam, Raka sulit tidur. Bayangan Mika terus menghantuinya—saat Mika berdiri di lapangan dengan air mata menetes, saat dia kabur dari kelas dengan tatapan penuh luka. Dan tatapan itu... Tatapan yang sempat menangkap pandangannya, seolah-olah Mika meminta bantuan, namun ia hanya berdiri diam seperti pengecut.

***

Suatu sore, Raka kembali membuka buku harian lamanya. Di dalamnya, ia sering menulis tentang kejadian-kejadian kecil di sekolah, termasuk saat dia dibully oleh teman-temannya. Namun kini, halaman-halaman itu terasa kosong dibandingkan dengan apa yang baru saja terjadi pada Mika.

"Aku nggak bisa ulangi kesalahan ini lagi," tulis Raka di buku hariannya. "Kalau suatu saat aku bertemu Mika lagi, aku akan minta maaf. Aku akan memperbaiki semua yang aku bisa."

Meskipun Raka tidak tahu kapan atau di mana dia bisa bertemu Mika lagi, ia bersumpah dalam hati bahwa ia tidak akan membiarkan dirinya jadi pengecut untuk kedua kalinya.

Dan jika kesempatan itu datang—jika takdir membawanya bertemu Mika sekali lagi—ia akan memastikan untuk menjadi orang yang berbeda. Seseorang yang berani berdiri, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain yang terjatuh.

Untuk sekarang, ia hanya bisa menunggu. Tapi di balik rasa bersalahnya, ada api kecil yang mulai menyala di hatinya—api yang perlahan, tapi pasti, akan membentuknya menjadi sosok yang lebih kuat dan lebih berani.

Dan meski dia belum tahu bagaimana atau kapan, Raka merasa bahwa kisah antara dirinya dan Mika belum berakhir.

Terpopuler

Comments

only siskaa

only siskaa

jangan lupa utk mampir jg kak😊

2024-11-06

1

💫0m@~ga0eL🔱

💫0m@~ga0eL🔱

semangat Raka 💪

2024-11-14

0

safea

safea

ini pihak sekolah engga tau kah kalau ada perundungan di lingkungan sekolah mereka?

2024-10-31

2

lihat semua
Episodes
1 Luka yang mengakar
2 Kepergian yang membekas
3 Mulai dari awal
4 Wajah Lama
5 Iri dengki
6 Malam Reuni
7 Momen pertemuan yang dinanti
8 Pertemuan Pandang
9 Bara Kecemburuan di Tengah Kemewahan
10 Tatapan dan Senyuman yang Mengusik
11 Di Balik Kehidupan yang Sempurna
12 Membangun Jembatan
13 Langkah Baru
14 Izin orang tua
15 Pesan yang mengganggu
16 Pertemuan yang Tak Terelakkan
17 Malam Mewah dan Godaan Halus
18 Malam yang berapi api
19 Rencana apa yang dia pikirkan
20 Kebimbangan Raka dan Ambisi Mika
21 Di Antara Keraguan dan Kejujuran
22 Pertemuan Tak Terduga dengan Raka
23 Pesan yang Mengusik
24 Godaan Berbahaya
25 Debar yang Tak Terhindarkan
26 Kebenaran yang Mengintai
27 Kehadiran Tak Terduga
28 Bukan sembarangan pria
29 Gosip Panas di Malam yang Larut
30 Kecemburuan
31 Kecurigaan yang membuat terpecah
32 Mengabaikan semuanya demi bersamanya
33 Di abaikan
34 Pengintaian
35 Berjanji
36 Malam mengesankan
37 Kebimbangan Hati
38 Tidak terduga
39 Tidak Percaya Diri
40 Kau tidak akan lepas dariku
41 Rayuan maut
42 Kegelisahan
43 Kecurigaan yang mudah di tutupi
44 Kecemburuan yang salah
45 Liburan
46 Bermain Belakang
47 Gangguan
48 Kepedulian
49 Kau sangat penting
50 Bertemu Teman Lama
51 Makan Malam Berkesan
52 Permainan Antony
53 Rasa penasaran Raka
54 Raka mengetahui ?
55 Meminta penjelasan
56 Kekhawatiran
57 Coklat yang sama
58 Melanggar perjanjian
59 Kesedihan di atas kebahagiaan
60 Perhatian Raka
61 Kepingan Rahasia
62 Penghianatan
63 Rayuan Maut Lelaki
64 Kebetulan yang bagus
65 Makan Malam Menegangkan
66 Janji Kosong
67 Jejak Lipstik
68 Melabrak
69 Pembelaan
70 Terulang Kembali
71 Menusuk Teman
72 Kepalsuan
73 Permintaan Maaf
74 Penolakan
75 Siapa Itu?
76 Menyelidiki
77 citra keluarga no 1
78 Celah Kecil
79 Malam Terakhir
80 Berbalik Arah
81 Selalu ada
82 Semakin Rumit
83 Mencari Celah
84 Menyusun Rencana
85 Langkah selanjutnya
86 Mulai!
87 Masuk Perangkap
88 Ketegangan
89 Situasi yang rumit
90 Pendekatan
91 Ancaman
92 Menyelidiki
93 Kesepakatan
94 DI Bawah Kendali
95 Eksekusi
96 Siaran Langsung
97 PENGHIANAT!
98 Terbalaskan
99 Dunia penuh kejutan
100 Menyadari
101 Kenyataan menyakitkan
102 Menggores Kepercayaan Diri
103 Tidak Pernah Ada di Dalam Hatimu...
104 Bukti Masa Lalu
105 Pengaruh
106 Lepaskanlah!
107 Apa Tujuanmu?
108 Melabrak
109 Pertengkaran
110 Sekutu yang berbahaya
111 Kecurigaan Raka
112 Kekecewaan
113 Awal Kehancuran Dara
114 Dara Terjebbak
115 Apa Yang Dia Rencanakan?
116 Adu Domba
117 Kegilaan Nisa
118 Manipulatif
Episodes

Updated 118 Episodes

1
Luka yang mengakar
2
Kepergian yang membekas
3
Mulai dari awal
4
Wajah Lama
5
Iri dengki
6
Malam Reuni
7
Momen pertemuan yang dinanti
8
Pertemuan Pandang
9
Bara Kecemburuan di Tengah Kemewahan
10
Tatapan dan Senyuman yang Mengusik
11
Di Balik Kehidupan yang Sempurna
12
Membangun Jembatan
13
Langkah Baru
14
Izin orang tua
15
Pesan yang mengganggu
16
Pertemuan yang Tak Terelakkan
17
Malam Mewah dan Godaan Halus
18
Malam yang berapi api
19
Rencana apa yang dia pikirkan
20
Kebimbangan Raka dan Ambisi Mika
21
Di Antara Keraguan dan Kejujuran
22
Pertemuan Tak Terduga dengan Raka
23
Pesan yang Mengusik
24
Godaan Berbahaya
25
Debar yang Tak Terhindarkan
26
Kebenaran yang Mengintai
27
Kehadiran Tak Terduga
28
Bukan sembarangan pria
29
Gosip Panas di Malam yang Larut
30
Kecemburuan
31
Kecurigaan yang membuat terpecah
32
Mengabaikan semuanya demi bersamanya
33
Di abaikan
34
Pengintaian
35
Berjanji
36
Malam mengesankan
37
Kebimbangan Hati
38
Tidak terduga
39
Tidak Percaya Diri
40
Kau tidak akan lepas dariku
41
Rayuan maut
42
Kegelisahan
43
Kecurigaan yang mudah di tutupi
44
Kecemburuan yang salah
45
Liburan
46
Bermain Belakang
47
Gangguan
48
Kepedulian
49
Kau sangat penting
50
Bertemu Teman Lama
51
Makan Malam Berkesan
52
Permainan Antony
53
Rasa penasaran Raka
54
Raka mengetahui ?
55
Meminta penjelasan
56
Kekhawatiran
57
Coklat yang sama
58
Melanggar perjanjian
59
Kesedihan di atas kebahagiaan
60
Perhatian Raka
61
Kepingan Rahasia
62
Penghianatan
63
Rayuan Maut Lelaki
64
Kebetulan yang bagus
65
Makan Malam Menegangkan
66
Janji Kosong
67
Jejak Lipstik
68
Melabrak
69
Pembelaan
70
Terulang Kembali
71
Menusuk Teman
72
Kepalsuan
73
Permintaan Maaf
74
Penolakan
75
Siapa Itu?
76
Menyelidiki
77
citra keluarga no 1
78
Celah Kecil
79
Malam Terakhir
80
Berbalik Arah
81
Selalu ada
82
Semakin Rumit
83
Mencari Celah
84
Menyusun Rencana
85
Langkah selanjutnya
86
Mulai!
87
Masuk Perangkap
88
Ketegangan
89
Situasi yang rumit
90
Pendekatan
91
Ancaman
92
Menyelidiki
93
Kesepakatan
94
DI Bawah Kendali
95
Eksekusi
96
Siaran Langsung
97
PENGHIANAT!
98
Terbalaskan
99
Dunia penuh kejutan
100
Menyadari
101
Kenyataan menyakitkan
102
Menggores Kepercayaan Diri
103
Tidak Pernah Ada di Dalam Hatimu...
104
Bukti Masa Lalu
105
Pengaruh
106
Lepaskanlah!
107
Apa Tujuanmu?
108
Melabrak
109
Pertengkaran
110
Sekutu yang berbahaya
111
Kecurigaan Raka
112
Kekecewaan
113
Awal Kehancuran Dara
114
Dara Terjebbak
115
Apa Yang Dia Rencanakan?
116
Adu Domba
117
Kegilaan Nisa
118
Manipulatif

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!