Pertemuan Pandang

Mika tersenyum sekali lagi, melihat Dara dalam keterkejutan dan kebingungan. Ini baru permulaan. Ia tahu, malam ini adalah kesempatan untuk menunjukkan kepada mereka semua bahwa Mika yang dulu mereka hina telah kembali—tapi bukan sebagai korban, melainkan sebagai seseorang yang tak bisa diremehkan lagi.

“Senang bertemu lagi, Dara,” kata Mika dengan nada ringan. “Kita akan bersenang-senang malam ini.”

Dara masih terdiam, merasa seperti baru saja dibenturkan dengan masa lalu yang tidak pernah ia sangka akan muncul kembali. Mika tersenyum puas, lalu berbalik meninggalkan Dara yang masih terpaku di tempatnya.

Setelah Mika berbalik dan meninggalkan Dara, rasa kesal dan gengsi yang terluka mulai membakar dada Dara. Ia tidak terima bahwa Mika, gadis yang dulu selalu ia injak dan hina, kini kembali dengan tampilan yang memukau—mendominasi suasana tanpa undangan, bahkan membuatnya merasa kecil.

Dara kembali ke meja tempat Nisa dan Farah menunggu. Wajah Dara masih menunjukkan keterkejutan, tapi sekarang ia terlihat marah.

“Lo nggak bakal percaya,” Dara berkata dengan nada merendahkan sambil memutar gelas wine di tangannya. “Itu tadi Mika.”

“Mika? Maksud lo, Mika yang... dulu itu?” Nisa membelalakkan matanya, tak percaya.

Farah tertawa pendek, sinis. “Yang gendut dan kumal itu? Nggak mungkin. Dia kayak orang beda sekarang.”

“Iya, itu dia,” Dara mengangguk dengan senyum yang dingin. “Tapi tahu apa? Dia pikir dengan tampil cantik, kita bakal lupa dia siapa.”

Nisa dan Farah tertawa pelan, menutupi mulut mereka dengan tangan. Mereka mulai mengeluarkan bisikan-bisikan keji, seperti dulu ketika Mika menjadi sasaran empuk ejekan mereka. Rasa superioritas dan kebiasaan mereka merendahkan orang lain masih menguasai mereka—seolah waktu tak pernah mengubah apa pun.

“Yuk, kita kasih ‘sambutan’ buat Mika,” Dara berkata dengan senyum licik. “Lihat aja gimana reaksi dia.”

Di ballroom yang semakin ramai, Mika berdiri di dekat bar, memperhatikan suasana dengan tatapan tenang. Namun dari sudut matanya, ia melihat Dara, Nisa, dan Farah berjalan mendekatinya. Wajah mereka penuh senyuman palsu—senyum-senyum yang dulu sudah begitu ia kenal.

“Mikaaa!” Dara memanggil dengan suara lantang, cukup keras agar semua orang di sekitarnya bisa mendengar.

Orang-orang mulai menoleh, penasaran dengan interaksi yang baru saja dimulai.

“Nggak nyangka banget lo berani dateng,” Dara melanjutkan dengan nada mengejek, “tanpa undangan lagi.”

Nisa dan Farah tertawa cekikikan di belakangnya, ikut bermain dalam permainan yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun.

“Gue kira lo udah kapok dihina di depan umum,” Nisa menambahkan dengan senyum sinis. “Tapi ternyata nggak ya?”

Mika tidak menunjukkan perubahan ekspresi. Senyum tenangnya tetap terpatri di wajah, meskipun Dara dan teman-temannya mencoba menjatuhkannya di depan orang banyak.

“Ingat nggak, dulu lo suka nulis surat cinta konyol buat cowok?” Dara menyeringai jahat, suaranya dipenuhi sarkasme. “Mau coba tulis surat cinta lagi? Kayak buat Antony dulu?”

Farah tertawa keras. “Kasian banget, sampai sekarang kayaknya dia masih nggak diundang siapa-siapa!”

Beberapa tamu yang mendengar tertawa canggung—tidak ingin terlihat berpihak, tapi juga tidak bisa menahan senyum kecil karena mereka masih ingat insiden masa lalu itu. Mika tahu, malam ini Dara mencoba mengulang sejarah.

Mika hanya tersenyum, sedikit mengangkat alisnya seolah tak terganggu sedikit pun. Ia menatap Dara tepat di mata, membuat Dara sedikit gugup, tapi Dara berusaha mempertahankan kontrol.

“Oh, Dara,” Mika berbisik lembut, “kalian masih persis seperti dulu. Selalu butuh menjatuhkan orang lain untuk merasa lebih baik.”

Dara menyipitkan mata, merasa terusik dengan ketenangan Mika. Ia berharap Mika akan tersulut, bereaksi seperti dulu—marah, malu, atau menangis. Tapi Mika tidak menunjukkan tanda-tanda itu.

“Kamu mau tahu kenapa aku datang?” Mika melanjutkan dengan suara rendah namun penuh kekuatan. “Bukan buat minta pengakuan dari siapa-siapa, apalagi dari kalian.”

Nisa dan Farah saling melirik, mulai merasa ada sesuatu yang tak beres. Ini bukan Mika yang mereka kenal.

Mika mendekat ke Dara, menatapnya tajam dengan sorot mata yang membuat Dara terdiam.

“Aku datang... untuk melihat kalian sendiri masih tenggelam dalam kehidupan palsu kalian,” bisik Mika pelan namun menusuk, “karena aku sudah jauh melampaui semua itu.”

Dara kehilangan kata-kata, wajahnya memerah menahan rasa malu yang tiba-tiba menyergap. Tawa di sekitarnya mulai mereda. Semua orang bisa merasakan perubahan suasana, seolah kendali telah berpindah ke tangan Mika.

“Tahu apa yang lucu?” Mika tersenyum kecil, “Aku nggak perlu membalas dendam dengan kata-kata. Kehidupan kalian sendiri sudah cukup jadi balasannya.”

Dari kejauhan Antony suami Dara menatap dara yang tengah berdebat dengan Mika, ia merasakan tatapan tajam yang tertuju padanya. Instingnya memaksa ia untuk menoleh. Dan di sana, berdiri Antony.

Pria yang dulu pernah ia sukai saat SMA, seseorang yang pernah menjadi pusat mimpi dan harapannya. Kini, Antony tampak jauh berbeda dari sosok remaja yang pernah ia kagumi. Penampilannya elegan dan matang—dengan jas hitam sempurna, tubuh tegap, dan tatapan tajam yang membuatnya tampak seperti sosok pebisnis sukses.

Mika berhenti sejenak, membiarkan kenangan lama menghampiri pikirannya. Ia mengingat surat cinta yang pernah ia tulis dengan hati berdebar-debar, hanya untuk dipermalukan di depan sekolah oleh Dara dan gengnya. Kini, pria yang dulu menjadi sumber harapan itu berdiri di hadapannya, menjadi suami wanita yang paling ia benci.

Antony tak bisa mengalihkan pandangannya dari Mika. Dari cara Mika membawa dirinya dengan penuh percaya diri hingga senyum dingin yang menghiasi wajah cantiknya, ada sesuatu tentang wanita itu yang menarik perhatiannya—sesuatu yang familiar tapi tak segera bisa ia ingat.

Mata mereka bertemu dalam tatapan panjang. Mika tidak menunjukkan tanda-tanda terpesona seperti dulu. Kini ia menatap Antony tanpa emosi, tanpa harapan—hanya tatapan seorang wanita yang telah melewati banyak hal.

Antony melangkah maju perlahan, seperti tertarik oleh daya tarik yang tak ia pahami. Dara, yang masih berdiri tak jauh dari sana, melihat suaminya menatap Mika dengan intens dan segera merasa tak nyaman.

“Antony,” Dara memanggil, suaranya ketus dan mengandung peringatan.

Antony menoleh sekilas, tapi kemudian kembali memandang Mika, seolah-olah sedang mencari sesuatu dalam ingatannya.

Episodes
1 Luka yang mengakar
2 Kepergian yang membekas
3 Mulai dari awal
4 Wajah Lama
5 Iri dengki
6 Malam Reuni
7 Momen pertemuan yang dinanti
8 Pertemuan Pandang
9 Bara Kecemburuan di Tengah Kemewahan
10 Tatapan dan Senyuman yang Mengusik
11 Di Balik Kehidupan yang Sempurna
12 Membangun Jembatan
13 Langkah Baru
14 Izin orang tua
15 Pesan yang mengganggu
16 Pertemuan yang Tak Terelakkan
17 Malam Mewah dan Godaan Halus
18 Malam yang berapi api
19 Rencana apa yang dia pikirkan
20 Kebimbangan Raka dan Ambisi Mika
21 Di Antara Keraguan dan Kejujuran
22 Pertemuan Tak Terduga dengan Raka
23 Pesan yang Mengusik
24 Godaan Berbahaya
25 Debar yang Tak Terhindarkan
26 Kebenaran yang Mengintai
27 Kehadiran Tak Terduga
28 Bukan sembarangan pria
29 Gosip Panas di Malam yang Larut
30 Kecemburuan
31 Kecurigaan yang membuat terpecah
32 Mengabaikan semuanya demi bersamanya
33 Di abaikan
34 Pengintaian
35 Berjanji
36 Malam mengesankan
37 Kebimbangan Hati
38 Tidak terduga
39 Tidak Percaya Diri
40 Kau tidak akan lepas dariku
41 Rayuan maut
42 Kegelisahan
43 Kecurigaan yang mudah di tutupi
44 Kecemburuan yang salah
45 Liburan
46 Bermain Belakang
47 Gangguan
48 Kepedulian
49 Kau sangat penting
50 Bertemu Teman Lama
51 Makan Malam Berkesan
52 Permainan Antony
53 Rasa penasaran Raka
54 Raka mengetahui ?
55 Meminta penjelasan
56 Kekhawatiran
57 Coklat yang sama
58 Melanggar perjanjian
59 Kesedihan di atas kebahagiaan
60 Perhatian Raka
61 Kepingan Rahasia
62 Penghianatan
63 Rayuan Maut Lelaki
64 Kebetulan yang bagus
65 Makan Malam Menegangkan
66 Janji Kosong
67 Jejak Lipstik
68 Melabrak
69 Pembelaan
70 Terulang Kembali
71 Menusuk Teman
72 Kepalsuan
73 Permintaan Maaf
74 Penolakan
75 Siapa Itu?
76 Menyelidiki
77 citra keluarga no 1
78 Celah Kecil
79 Malam Terakhir
80 Berbalik Arah
81 Selalu ada
82 Semakin Rumit
83 Mencari Celah
84 Menyusun Rencana
85 Langkah selanjutnya
86 Mulai!
87 Masuk Perangkap
88 Ketegangan
89 Situasi yang rumit
90 Pendekatan
91 Ancaman
92 Menyelidiki
93 Kesepakatan
94 DI Bawah Kendali
95 Eksekusi
96 Siaran Langsung
97 PENGHIANAT!
98 Terbalaskan
99 Dunia penuh kejutan
100 Menyadari
101 Kenyataan menyakitkan
102 Menggores Kepercayaan Diri
103 Tidak Pernah Ada di Dalam Hatimu...
104 Bukti Masa Lalu
105 Pengaruh
106 Lepaskanlah!
107 Apa Tujuanmu?
108 Melabrak
109 Pertengkaran
110 Sekutu yang berbahaya
111 Kecurigaan Raka
112 Kekecewaan
113 Awal Kehancuran Dara
114 Dara Terjebbak
115 Apa Yang Dia Rencanakan?
116 Adu Domba
117 Kegilaan Nisa
118 Manipulatif
Episodes

Updated 118 Episodes

1
Luka yang mengakar
2
Kepergian yang membekas
3
Mulai dari awal
4
Wajah Lama
5
Iri dengki
6
Malam Reuni
7
Momen pertemuan yang dinanti
8
Pertemuan Pandang
9
Bara Kecemburuan di Tengah Kemewahan
10
Tatapan dan Senyuman yang Mengusik
11
Di Balik Kehidupan yang Sempurna
12
Membangun Jembatan
13
Langkah Baru
14
Izin orang tua
15
Pesan yang mengganggu
16
Pertemuan yang Tak Terelakkan
17
Malam Mewah dan Godaan Halus
18
Malam yang berapi api
19
Rencana apa yang dia pikirkan
20
Kebimbangan Raka dan Ambisi Mika
21
Di Antara Keraguan dan Kejujuran
22
Pertemuan Tak Terduga dengan Raka
23
Pesan yang Mengusik
24
Godaan Berbahaya
25
Debar yang Tak Terhindarkan
26
Kebenaran yang Mengintai
27
Kehadiran Tak Terduga
28
Bukan sembarangan pria
29
Gosip Panas di Malam yang Larut
30
Kecemburuan
31
Kecurigaan yang membuat terpecah
32
Mengabaikan semuanya demi bersamanya
33
Di abaikan
34
Pengintaian
35
Berjanji
36
Malam mengesankan
37
Kebimbangan Hati
38
Tidak terduga
39
Tidak Percaya Diri
40
Kau tidak akan lepas dariku
41
Rayuan maut
42
Kegelisahan
43
Kecurigaan yang mudah di tutupi
44
Kecemburuan yang salah
45
Liburan
46
Bermain Belakang
47
Gangguan
48
Kepedulian
49
Kau sangat penting
50
Bertemu Teman Lama
51
Makan Malam Berkesan
52
Permainan Antony
53
Rasa penasaran Raka
54
Raka mengetahui ?
55
Meminta penjelasan
56
Kekhawatiran
57
Coklat yang sama
58
Melanggar perjanjian
59
Kesedihan di atas kebahagiaan
60
Perhatian Raka
61
Kepingan Rahasia
62
Penghianatan
63
Rayuan Maut Lelaki
64
Kebetulan yang bagus
65
Makan Malam Menegangkan
66
Janji Kosong
67
Jejak Lipstik
68
Melabrak
69
Pembelaan
70
Terulang Kembali
71
Menusuk Teman
72
Kepalsuan
73
Permintaan Maaf
74
Penolakan
75
Siapa Itu?
76
Menyelidiki
77
citra keluarga no 1
78
Celah Kecil
79
Malam Terakhir
80
Berbalik Arah
81
Selalu ada
82
Semakin Rumit
83
Mencari Celah
84
Menyusun Rencana
85
Langkah selanjutnya
86
Mulai!
87
Masuk Perangkap
88
Ketegangan
89
Situasi yang rumit
90
Pendekatan
91
Ancaman
92
Menyelidiki
93
Kesepakatan
94
DI Bawah Kendali
95
Eksekusi
96
Siaran Langsung
97
PENGHIANAT!
98
Terbalaskan
99
Dunia penuh kejutan
100
Menyadari
101
Kenyataan menyakitkan
102
Menggores Kepercayaan Diri
103
Tidak Pernah Ada di Dalam Hatimu...
104
Bukti Masa Lalu
105
Pengaruh
106
Lepaskanlah!
107
Apa Tujuanmu?
108
Melabrak
109
Pertengkaran
110
Sekutu yang berbahaya
111
Kecurigaan Raka
112
Kekecewaan
113
Awal Kehancuran Dara
114
Dara Terjebbak
115
Apa Yang Dia Rencanakan?
116
Adu Domba
117
Kegilaan Nisa
118
Manipulatif

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!