Rencana apa yang dia pikirkan

Pagi itu, Mika mengenakan setelan olahraga sporty berwarna hitam yang menonjolkan tubuh ramping dan proporsionalnya. Ia melangkah penuh percaya diri menuju gym, berusaha menjaga fokus pada rutinitas paginya. Setiap repetisi di gym terasa seperti bagian dari misinya—membangun dirinya lebih kuat, lebih sempurna, baik fisik maupun mental.

Namun, suasana tiba-tiba berubah saat matanya tak sengaja menangkap sosok familiar: Nisa, yang tengah berolahraga di treadmill di sudut ruangan. Mika langsung berusaha mengabaikan dan berjalan menuju area angkat beban seolah tidak melihatnya.

Namun, Nisa cepat menyadari kehadiran Mika. Ia menghentikan treadmill dan berjalan mendekat dengan tatapan sinis yang mengingatkan Mika pada masa-masa kelam di sekolah.

"Kau… sedang apa di sini?" tanya Nisa dengan nada tajam, matanya memandang Mika dari ujung rambut hingga kaki. Ada kecanggungan bercampur kekaguman yang coba ia sembunyikan di balik sikap sinisnya.

Mika melirik sekilas dan menjawab dingin, "Itu bukan urusanmu." Ia berbalik dan mulai mengatur beban di barbelnya.

Namun, Nisa tak berhenti di situ.

"Hebat, ya. Sekarang kau bisa muncul di mana saja dengan percaya diri. Dulu kau nggak seperti ini, kan?" katanya sambil menyeringai kecil. Sindiran yang seolah menggali masa lalu.

Mika menahan diri. Amarah kecil bergejolak di hatinya, tapi ia tetap tenang. Ini bukan saatnya memperlihatkan kelemahannya. Ia sudah bertekad menjadi sosok yang tak bisa diremehkan lagi.

Mika memutar tubuhnya perlahan, menatap Nisa dengan tatapan datar dan penuh arti. “Orang berubah, Nisa. Sayangnya, sepertinya kamu tetap sama. Masih merasa hebat dengan merendahkan orang lain.”

Nisa terdiam sejenak, tapi matanya menyiratkan ketidaksukaan.

“Oh, jadi kau pikir sekarang kau lebih baik daripada aku?” Nisa menantang. Nada sinisnya semakin jelas, seakan ingin memicu emosi Mika.

Namun, Mika tersenyum tipis, senyum penuh kemenangan.

"Lebih baik atau tidak, itu bukan urusanku. Tapi aku sudah melewati masa di mana pendapat orang sepertimu penting buatku." Jawaban itu meluncur mulus dan tajam, meninggalkan Nisa terdiam sejenak.

Mika kembali fokus pada latihannya tanpa menghiraukan Nisa lagi. Kepuasan kecil menyelinap di hatinya. Ia berhasil menjaga kendali—tidak lagi reaktif seperti dirinya di masa lalu. Ini adalah kemenangan kecil, tapi penting. Bagian dari rencananya untuk menunjukkan bahwa dirinya kini tak terjangkau oleh hinaan atau sindiran mereka.

Nisa, yang merasa percakapan tadi tak berpihak padanya, akhirnya beranjak pergi dengan wajah kesal, tapi masih menoleh sekali ke arah Mika sebelum benar-benar meninggalkan gym.

***

Saat Nisa melangkah keluar dari gym, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari grup geng mereka—Dara mengajak Nisa dan Farah untuk datang ke rumahnya untuk arisan sore itu.

Dara:

"Girls, sore ini arisan di rumahku. Jangan lupa datang ya! Ada wine juga!"

Tanpa berpikir lama, Nisa langsung membalas:

"Oke, aku akan datang. Aku ada info terbaru, ini bakal seru."

Senyum licik tersungging di wajahnya. Pertemuan tadi dengan Mika memberinya bahan obrolan yang bisa jadi amunisi baru untuk dibahas bersama Dara dan Farah. Nisa tahu betul bahwa teman-temannya pasti ingin mendengar kabar terbaru tentang “Mika si pengecut dari masa lalu” yang kini muncul kembali dengan rupa yang jauh berbeda.

Sore itu, Dara menyiapkan rumahnya dengan sempurna. Meja penuh hidangan manis dan gurih, beberapa botol wine, dan suasana rumah yang elegan membuat arisan kali ini terlihat seperti pesta eksklusif. Alea, putri kecil Dara, sudah tertidur lebih awal, memberi mereka kebebasan untuk mengobrol tanpa gangguan.

Farah datang lebih dulu, dengan tas mahal bermerk di lengannya. Tak lama kemudian, Nisa tiba dengan senyum kemenangan di wajahnya.

“Duh, ini pasti gosip panas,” ujar Dara sambil membuka sebotol wine.

“Betul!” kata Nisa dengan mata berbinar. Ia sudah tak sabar menumpahkan ceritanya.

***

Ketiganya duduk di ruang tamu, mengobrol santai sambil menikmati camilan. Dara menyeruput wine-nya perlahan, lalu menatap Nisa penuh rasa penasaran.

"Jadi, apa info pentingnya, Nis? Kamu udah bikin aku penasaran dari tadi!"

Nisa meletakkan gelasnya dan bersiap untuk menceritakan semuanya.

"Kalian nggak akan percaya siapa yang tadi ketemu aku di gym... Mika. Ya, Mika yang dulu pernah kita bully sampai pindah sekolah!" ujar Nisa dengan nada antusias.

Dara dan Farah saling berpandangan. Sejenak, Farah tertawa sinis.

“Serius? Si gendut yang kemarin tiba tiba datang ke acara reuni ? Jangan-jangan dia masih menyimpan dendam sama kita,” cibir Farah sambil tertawa.

Dara, yang awalnya ikut tertawa, perlahan-lahan mulai terlihat serius.

“Kenapa dia ada di sini? bukanya dia udah pulang ke kotanya?” tanya Dara sambil menatap Nisa tajam.

Nisa mengangguk.

“Cantik. Seksi. Kayak bukan Mika yang kita kenal dulu. Dia punya rumah baru disini dan katanya bisnisnya sukses besar. Aku nggak habis pikir, dia berubah secepat itu.”

Dara menggigit bibir bawahnya. Mendengar Nisa menggambarkan Mika yang sekarang membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. “Dan kamu ketemu di gym? Apa dia ngomong sesuatu?”

Nisa tersenyum licik.

"Dia nggak banyak ngomong sih. Tapi jelas banget, dia nggak suka sama aku."

Farah terkikik. “Wajar aja. Dulu dia pasti trauma gara-gara kita.”

Namun, Dara tetap diam, berpikir lebih dalam. Ada sesuatu tentang pertemuan itu yang membuatnya gelisah. Rasanya seperti alarm kecil berbunyi di kepalanya.

"Aku heran," gumam Dara pelan, "Kenapa dia tiba-tiba muncul lagi di sini? Apa mungkin dia ada niat tertentu?"

Nisa mencondongkan tubuhnya ke depan, seakan ingin memberi tambahan informasi yang lebih menarik.

“Aku nggak tahu rencananya apa. Tapi lihat ya... ini nggak mungkin kebetulan. Setelah sekian lama, tiba-tiba dia muncul lagi di kota ini dengan kehidupan yang jauh lebih baik? Kayak... dia sengaja balik buat sesuatu.”

Dara terdiam sejenak, lalu meneguk wine-nya cepat-cepat. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Terlebih lagi, beberapa waktu terakhir, ia juga merasa suaminya, Antony, sedikit berubah.

“Jangan-jangan…” Dara bergumam, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

Farah, yang penasaran, mendekat. “Jangan-jangan apa?”

Dara menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran buruk yang melintas di benaknya.

“Nggak, nggak. Lupakan. Mungkin aku cuma paranoid.”

Namun, dalam hatinya, Dara merasa harus lebih waspada. Sesuatu tentang Mika dan perubahan mendadak ini membuatnya tak nyaman.

Episodes
1 Luka yang mengakar
2 Kepergian yang membekas
3 Mulai dari awal
4 Wajah Lama
5 Iri dengki
6 Malam Reuni
7 Momen pertemuan yang dinanti
8 Pertemuan Pandang
9 Bara Kecemburuan di Tengah Kemewahan
10 Tatapan dan Senyuman yang Mengusik
11 Di Balik Kehidupan yang Sempurna
12 Membangun Jembatan
13 Langkah Baru
14 Izin orang tua
15 Pesan yang mengganggu
16 Pertemuan yang Tak Terelakkan
17 Malam Mewah dan Godaan Halus
18 Malam yang berapi api
19 Rencana apa yang dia pikirkan
20 Kebimbangan Raka dan Ambisi Mika
21 Di Antara Keraguan dan Kejujuran
22 Pertemuan Tak Terduga dengan Raka
23 Pesan yang Mengusik
24 Godaan Berbahaya
25 Debar yang Tak Terhindarkan
26 Kebenaran yang Mengintai
27 Kehadiran Tak Terduga
28 Bukan sembarangan pria
29 Gosip Panas di Malam yang Larut
30 Kecemburuan
31 Kecurigaan yang membuat terpecah
32 Mengabaikan semuanya demi bersamanya
33 Di abaikan
34 Pengintaian
35 Berjanji
36 Malam mengesankan
37 Kebimbangan Hati
38 Tidak terduga
39 Tidak Percaya Diri
40 Kau tidak akan lepas dariku
41 Rayuan maut
42 Kegelisahan
43 Kecurigaan yang mudah di tutupi
44 Kecemburuan yang salah
45 Liburan
46 Bermain Belakang
47 Gangguan
48 Kepedulian
49 Kau sangat penting
50 Bertemu Teman Lama
51 Makan Malam Berkesan
52 Permainan Antony
53 Rasa penasaran Raka
54 Raka mengetahui ?
55 Meminta penjelasan
56 Kekhawatiran
57 Coklat yang sama
58 Melanggar perjanjian
59 Kesedihan di atas kebahagiaan
60 Perhatian Raka
61 Kepingan Rahasia
62 Penghianatan
63 Rayuan Maut Lelaki
64 Kebetulan yang bagus
65 Makan Malam Menegangkan
66 Janji Kosong
67 Jejak Lipstik
68 Melabrak
69 Pembelaan
70 Terulang Kembali
71 Menusuk Teman
72 Kepalsuan
73 Permintaan Maaf
74 Penolakan
75 Siapa Itu?
76 Menyelidiki
77 citra keluarga no 1
78 Celah Kecil
79 Malam Terakhir
80 Berbalik Arah
81 Selalu ada
82 Semakin Rumit
83 Mencari Celah
84 Menyusun Rencana
85 Langkah selanjutnya
86 Mulai!
87 Masuk Perangkap
88 Ketegangan
89 Situasi yang rumit
90 Pendekatan
91 Ancaman
92 Menyelidiki
93 Kesepakatan
94 DI Bawah Kendali
95 Eksekusi
96 Siaran Langsung
97 PENGHIANAT!
98 Terbalaskan
99 Dunia penuh kejutan
100 Menyadari
101 Kenyataan menyakitkan
102 Menggores Kepercayaan Diri
103 Tidak Pernah Ada di Dalam Hatimu...
104 Bukti Masa Lalu
105 Pengaruh
106 Lepaskanlah!
107 Apa Tujuanmu?
108 Melabrak
109 Pertengkaran
110 Sekutu yang berbahaya
111 Kecurigaan Raka
112 Kekecewaan
113 Awal Kehancuran Dara
114 Dara Terjebbak
115 Apa Yang Dia Rencanakan?
116 Adu Domba
117 Kegilaan Nisa
118 Manipulatif
Episodes

Updated 118 Episodes

1
Luka yang mengakar
2
Kepergian yang membekas
3
Mulai dari awal
4
Wajah Lama
5
Iri dengki
6
Malam Reuni
7
Momen pertemuan yang dinanti
8
Pertemuan Pandang
9
Bara Kecemburuan di Tengah Kemewahan
10
Tatapan dan Senyuman yang Mengusik
11
Di Balik Kehidupan yang Sempurna
12
Membangun Jembatan
13
Langkah Baru
14
Izin orang tua
15
Pesan yang mengganggu
16
Pertemuan yang Tak Terelakkan
17
Malam Mewah dan Godaan Halus
18
Malam yang berapi api
19
Rencana apa yang dia pikirkan
20
Kebimbangan Raka dan Ambisi Mika
21
Di Antara Keraguan dan Kejujuran
22
Pertemuan Tak Terduga dengan Raka
23
Pesan yang Mengusik
24
Godaan Berbahaya
25
Debar yang Tak Terhindarkan
26
Kebenaran yang Mengintai
27
Kehadiran Tak Terduga
28
Bukan sembarangan pria
29
Gosip Panas di Malam yang Larut
30
Kecemburuan
31
Kecurigaan yang membuat terpecah
32
Mengabaikan semuanya demi bersamanya
33
Di abaikan
34
Pengintaian
35
Berjanji
36
Malam mengesankan
37
Kebimbangan Hati
38
Tidak terduga
39
Tidak Percaya Diri
40
Kau tidak akan lepas dariku
41
Rayuan maut
42
Kegelisahan
43
Kecurigaan yang mudah di tutupi
44
Kecemburuan yang salah
45
Liburan
46
Bermain Belakang
47
Gangguan
48
Kepedulian
49
Kau sangat penting
50
Bertemu Teman Lama
51
Makan Malam Berkesan
52
Permainan Antony
53
Rasa penasaran Raka
54
Raka mengetahui ?
55
Meminta penjelasan
56
Kekhawatiran
57
Coklat yang sama
58
Melanggar perjanjian
59
Kesedihan di atas kebahagiaan
60
Perhatian Raka
61
Kepingan Rahasia
62
Penghianatan
63
Rayuan Maut Lelaki
64
Kebetulan yang bagus
65
Makan Malam Menegangkan
66
Janji Kosong
67
Jejak Lipstik
68
Melabrak
69
Pembelaan
70
Terulang Kembali
71
Menusuk Teman
72
Kepalsuan
73
Permintaan Maaf
74
Penolakan
75
Siapa Itu?
76
Menyelidiki
77
citra keluarga no 1
78
Celah Kecil
79
Malam Terakhir
80
Berbalik Arah
81
Selalu ada
82
Semakin Rumit
83
Mencari Celah
84
Menyusun Rencana
85
Langkah selanjutnya
86
Mulai!
87
Masuk Perangkap
88
Ketegangan
89
Situasi yang rumit
90
Pendekatan
91
Ancaman
92
Menyelidiki
93
Kesepakatan
94
DI Bawah Kendali
95
Eksekusi
96
Siaran Langsung
97
PENGHIANAT!
98
Terbalaskan
99
Dunia penuh kejutan
100
Menyadari
101
Kenyataan menyakitkan
102
Menggores Kepercayaan Diri
103
Tidak Pernah Ada di Dalam Hatimu...
104
Bukti Masa Lalu
105
Pengaruh
106
Lepaskanlah!
107
Apa Tujuanmu?
108
Melabrak
109
Pertengkaran
110
Sekutu yang berbahaya
111
Kecurigaan Raka
112
Kekecewaan
113
Awal Kehancuran Dara
114
Dara Terjebbak
115
Apa Yang Dia Rencanakan?
116
Adu Domba
117
Kegilaan Nisa
118
Manipulatif

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!