Malam yang berapi api

Di ruang televisi, Dara duduk di sofa sambil menemani Alea, putrinya, yang asyik menonton acara kartun favorit. Meski matanya menatap layar, pikirannya terus melayang ke Antony—suaminya yang belum juga pulang. Hatinya tidak tenang.

“Papa di mana, Ma?” tanya Alea sambil memandang Dara dengan polos.

Dara tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan keresahannya. “Papa lagi kerja, sayang. Besok Papa janji kita jalan-jalan bareng.”

Alea mengangguk kecil, tetapi kelopak matanya mulai berat. Dara menatap jam dinding—sudah hampir tengah malam. Akhirnya, ia memutuskan untuk membawa Alea ke kamar.

Setelah menidurkan putrinya di kamar, Dara kembali ke ruang tamu dengan rasa gelisah semakin menjadi-jadi. Ia mencoba menenangkan diri dengan membuka ponsel dan menggulir feed Instagram, berharap menemukan sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya.

Namun, semakin lama ia menatap layar, semakin kuat perasaannya bahwa sesuatu tidak beres. Antony tidak pernah pulang larut seperti ini, dan alasan meeting yang diberikan tadi terdengar terlalu dibuat-buat.

Dara membuka aplikasi WhatsApp dan mengirim pesan:

"Sayang, kamu masih lama?"

Pesannya hanya centang satu. Antony tidak membalas.

Dara menghela napas dan meletakkan ponselnya di meja. Pikirannya mulai dipenuhi dengan berbagai kemungkinan. Apakah Antony benar-benar bertemu klien? Ataukah... ada sesuatu yang lain di baliknya?

Ia teringat bagaimana suaminya tadi malam terlihat terlalu sibuk dengan ponselnya. Bahkan di atas ranjang, Antony tampak lebih tertarik dengan sesuatu di layar ponselnya daripada dirinya. Rasa curiga semakin menusuk.

Dara berdiri dan berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Ia mencoba berpikir logis—Antony adalah pria baik, seorang ayah yang peduli. Tapi, di balik itu semua, Dara tahu suaminya bukan pria yang sepenuhnya jujur.

“Jangan-jangan dia...” Dara menggigit bibir bawahnya, merasa tidak nyaman dengan pikirannya sendiri.

Ia tahu Antony pernah bersikap genit dengan beberapa wanita di masa lalu, tapi Dara selalu bisa menutup mata. Namun, kali ini rasanya berbeda. Antony terlalu antusias, terlalu fokus pada sesuatu yang ia sembunyikan.

Ketika Dara hampir tenggelam dalam pikirannya, suara mobil terdengar di depan rumah. Ia bergegas mengintip dari balik tirai jendela.

Mobil Antony baru saja parkir, dan ia terlihat turun dengan tergesa.

Dara segera duduk kembali di sofa, berpura-pura tenang. Beberapa detik kemudian, pintu depan terbuka, dan Antony masuk sambil melepaskan dasinya.

"Hey, sayang. Maaf, aku telat," ujar Antony dengan senyum lelah, seolah tidak ada yang perlu dijelaskan.

Dara menatapnya tajam, mencoba mencari celah di wajah suaminya. Antony memang tampak lelah, tapi Dara bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda.

"Meeting selesai?" Dara bertanya sambil menyilangkan tangan.

Antony mengangguk sambil berusaha menjaga nada suaranya tetap ringan. "Iya, akhirnya selesai. Maaf ya, Alea tidur tanpa aku?"

Dara hanya mengangguk pelan, menahan semua pertanyaan yang mengganjal di benaknya. Ia tahu, malam ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Tapi dalam hatinya, Dara tidak bisa menyingkirkan perasaan bahwa Antony menyembunyikan sesuatu.

Setelah berganti pakaian, Antony keluar dari kamar dan melihat Dara masih duduk di sofa, wajahnya terlihat lelah dan sedikit kecewa. Dia tahu bahwa Dara merasa terganggu dengan keterlambatannya, dan jika dia tidak segera memperbaiki suasana hati istrinya, mungkin malam itu akan berakhir buruk.

Antony mendekati Dara dari belakang, melingkarkan kedua lengannya di pinggang istrinya dengan lembut. “Maaf, sayang… Aku tahu aku salah.” Bisikan hangatnya menyentuh telinga Dara, membuat hatinya sedikit melunak.

Dara tetap berpura-pura acuh, namun tubuhnya merespons kehangatan suaminya. “Kamu selalu janji tapi lupa. Apa kamu tahu Alea kecewa?” Ia berusaha mempertahankan nada kesalnya, meski dalam hati mulai merasa luluh.

Antony menarik Dara lebih dekat, menempelkan tubuhnya erat ke punggung istrinya, lalu menunduk dan mengecup tengkuknya perlahan. “Maaf, ya? Gimana kalau aku tebus sekarang?” bisik Antony sambil mengecup kulit lehernya sekali lagi, kali ini lebih dalam.

Dara menggeliat kecil, merasakan aliran listrik halus dari sentuhan Antony.

Antony memutar tubuh Dara hingga mereka berhadapan. Ia menatap mata istrinya dengan lembut dan penuh rasa bersalah. “Aku cuma ingin kita baik-baik saja. Kamu tahu kan, betapa aku sayang sama kamu?”

Dara mendesah, hatinya perlahan luluh. Antony memang selalu pandai menenangkan dengan sikap romantisnya. Sebelum Dara bisa merespons, Antony memegang wajah istrinya dan menempelkan bibirnya lembut ke bibir Dara.

Ciuman itu bermula pelan, namun semakin lama semakin dalam dan intens. Dara membalas dengan penuh kerinduan, tangannya melingkar di leher Antony. Keduanya larut dalam momen intim itu, seakan-akan segala keraguan dan kemarahan sebelumnya menguap begitu saja.

“Sayang...” Dara berbisik di sela-sela ciuman mereka, mencoba menahan diri meski tubuhnya kini mulai panas.

“Shh...” Antony meletakkan jarinya di bibir Dara, menuntunnya perlahan menuju kamar tidur.

Begitu mereka masuk ke kamar, Antony menarik Dara ke dalam pelukannya dan mencium bibirnya lagi dengan lebih berani dan penuh gairah. Tangan Antony dengan lembut membelai punggung istrinya, sementara Dara mulai melonggarkan pakaian suaminya.

Lampu kamar remang-remang menambah suasana romantis. Dara merasa terlindungi dan dicintai dalam pelukan Antony. Meski dalam pikirannya tadi ada rasa curiga, semua itu seakan terlupakan saat Antony membisikkan kata-kata manis di telinganya.

“Kamu selalu jadi yang paling sempurna buatku,” bisik Antony. “Nggak ada yang bisa gantiin kamu, Dara.”

Dara tersenyum, merasa spesial mendengar kata-kata itu. Antony mengecup keningnya, lalu melanjutkan dengan ciuman di pipi, leher, dan bahu, membuat tubuh Dara merespons dengan lebih intens.

Antony menuntun Dara ke ranjang, dan malam itu mereka terhanyut dalam momen penuh cinta dan gairah. Dara merasa dicintai dan dihargai, dan Antony berusaha menunjukkan seolah hanya Dara yang ada di hatinya.

Desahan dan bisikan lembut terdengar di kamar itu, sementara mereka tenggelam dalam pelukan dan ciuman yang seolah ingin menghapus semua kekesalan dan rasa curiga sebelumnya.

Setelah semuanya berakhir, Antony memeluk Dara dari belakang, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Dara tersenyum puas, merasa dekat dengan suaminya lagi. Di tengah kesunyian kamar, ia merasa tenang, seakan tak ada lagi yang perlu dicurigai.

“Aku sayang kamu,” bisik Antony di telinganya.

Dara hanya mengangguk kecil, matanya mulai terpejam dalam kehangatan pelukan Antony. Namun, dalam benaknya, meski kebahagiaan sesaat itu terasa manis, rasa curiga kecil masih bersembunyi di sudut hatinya.

Dan Antony? Meski ia memeluk Dara dengan erat, pikirannya sesekali melayang pada sosok Mika—wanita yang baru saja ia temui kembali.

Episodes
1 Luka yang mengakar
2 Kepergian yang membekas
3 Mulai dari awal
4 Wajah Lama
5 Iri dengki
6 Malam Reuni
7 Momen pertemuan yang dinanti
8 Pertemuan Pandang
9 Bara Kecemburuan di Tengah Kemewahan
10 Tatapan dan Senyuman yang Mengusik
11 Di Balik Kehidupan yang Sempurna
12 Membangun Jembatan
13 Langkah Baru
14 Izin orang tua
15 Pesan yang mengganggu
16 Pertemuan yang Tak Terelakkan
17 Malam Mewah dan Godaan Halus
18 Malam yang berapi api
19 Rencana apa yang dia pikirkan
20 Kebimbangan Raka dan Ambisi Mika
21 Di Antara Keraguan dan Kejujuran
22 Pertemuan Tak Terduga dengan Raka
23 Pesan yang Mengusik
24 Godaan Berbahaya
25 Debar yang Tak Terhindarkan
26 Kebenaran yang Mengintai
27 Kehadiran Tak Terduga
28 Bukan sembarangan pria
29 Gosip Panas di Malam yang Larut
30 Kecemburuan
31 Kecurigaan yang membuat terpecah
32 Mengabaikan semuanya demi bersamanya
33 Di abaikan
34 Pengintaian
35 Berjanji
36 Malam mengesankan
37 Kebimbangan Hati
38 Tidak terduga
39 Tidak Percaya Diri
40 Kau tidak akan lepas dariku
41 Rayuan maut
42 Kegelisahan
43 Kecurigaan yang mudah di tutupi
44 Kecemburuan yang salah
45 Liburan
46 Bermain Belakang
47 Gangguan
48 Kepedulian
49 Kau sangat penting
50 Bertemu Teman Lama
51 Makan Malam Berkesan
52 Permainan Antony
53 Rasa penasaran Raka
54 Raka mengetahui ?
55 Meminta penjelasan
56 Kekhawatiran
57 Coklat yang sama
58 Melanggar perjanjian
59 Kesedihan di atas kebahagiaan
60 Perhatian Raka
61 Kepingan Rahasia
62 Penghianatan
63 Rayuan Maut Lelaki
64 Kebetulan yang bagus
65 Makan Malam Menegangkan
66 Janji Kosong
67 Jejak Lipstik
68 Melabrak
69 Pembelaan
70 Terulang Kembali
71 Menusuk Teman
72 Kepalsuan
73 Permintaan Maaf
74 Penolakan
75 Siapa Itu?
76 Menyelidiki
77 citra keluarga no 1
78 Celah Kecil
79 Malam Terakhir
80 Berbalik Arah
81 Selalu ada
82 Semakin Rumit
83 Mencari Celah
84 Menyusun Rencana
85 Langkah selanjutnya
86 Mulai!
87 Masuk Perangkap
88 Ketegangan
89 Situasi yang rumit
90 Pendekatan
91 Ancaman
92 Menyelidiki
93 Kesepakatan
94 DI Bawah Kendali
95 Eksekusi
96 Siaran Langsung
97 PENGHIANAT!
98 Terbalaskan
99 Dunia penuh kejutan
100 Menyadari
101 Kenyataan menyakitkan
102 Menggores Kepercayaan Diri
103 Tidak Pernah Ada di Dalam Hatimu...
104 Bukti Masa Lalu
105 Pengaruh
106 Lepaskanlah!
107 Apa Tujuanmu?
108 Melabrak
109 Pertengkaran
110 Sekutu yang berbahaya
111 Kecurigaan Raka
112 Kekecewaan
113 Awal Kehancuran Dara
114 Dara Terjebbak
115 Apa Yang Dia Rencanakan?
116 Adu Domba
117 Kegilaan Nisa
118 Manipulatif
Episodes

Updated 118 Episodes

1
Luka yang mengakar
2
Kepergian yang membekas
3
Mulai dari awal
4
Wajah Lama
5
Iri dengki
6
Malam Reuni
7
Momen pertemuan yang dinanti
8
Pertemuan Pandang
9
Bara Kecemburuan di Tengah Kemewahan
10
Tatapan dan Senyuman yang Mengusik
11
Di Balik Kehidupan yang Sempurna
12
Membangun Jembatan
13
Langkah Baru
14
Izin orang tua
15
Pesan yang mengganggu
16
Pertemuan yang Tak Terelakkan
17
Malam Mewah dan Godaan Halus
18
Malam yang berapi api
19
Rencana apa yang dia pikirkan
20
Kebimbangan Raka dan Ambisi Mika
21
Di Antara Keraguan dan Kejujuran
22
Pertemuan Tak Terduga dengan Raka
23
Pesan yang Mengusik
24
Godaan Berbahaya
25
Debar yang Tak Terhindarkan
26
Kebenaran yang Mengintai
27
Kehadiran Tak Terduga
28
Bukan sembarangan pria
29
Gosip Panas di Malam yang Larut
30
Kecemburuan
31
Kecurigaan yang membuat terpecah
32
Mengabaikan semuanya demi bersamanya
33
Di abaikan
34
Pengintaian
35
Berjanji
36
Malam mengesankan
37
Kebimbangan Hati
38
Tidak terduga
39
Tidak Percaya Diri
40
Kau tidak akan lepas dariku
41
Rayuan maut
42
Kegelisahan
43
Kecurigaan yang mudah di tutupi
44
Kecemburuan yang salah
45
Liburan
46
Bermain Belakang
47
Gangguan
48
Kepedulian
49
Kau sangat penting
50
Bertemu Teman Lama
51
Makan Malam Berkesan
52
Permainan Antony
53
Rasa penasaran Raka
54
Raka mengetahui ?
55
Meminta penjelasan
56
Kekhawatiran
57
Coklat yang sama
58
Melanggar perjanjian
59
Kesedihan di atas kebahagiaan
60
Perhatian Raka
61
Kepingan Rahasia
62
Penghianatan
63
Rayuan Maut Lelaki
64
Kebetulan yang bagus
65
Makan Malam Menegangkan
66
Janji Kosong
67
Jejak Lipstik
68
Melabrak
69
Pembelaan
70
Terulang Kembali
71
Menusuk Teman
72
Kepalsuan
73
Permintaan Maaf
74
Penolakan
75
Siapa Itu?
76
Menyelidiki
77
citra keluarga no 1
78
Celah Kecil
79
Malam Terakhir
80
Berbalik Arah
81
Selalu ada
82
Semakin Rumit
83
Mencari Celah
84
Menyusun Rencana
85
Langkah selanjutnya
86
Mulai!
87
Masuk Perangkap
88
Ketegangan
89
Situasi yang rumit
90
Pendekatan
91
Ancaman
92
Menyelidiki
93
Kesepakatan
94
DI Bawah Kendali
95
Eksekusi
96
Siaran Langsung
97
PENGHIANAT!
98
Terbalaskan
99
Dunia penuh kejutan
100
Menyadari
101
Kenyataan menyakitkan
102
Menggores Kepercayaan Diri
103
Tidak Pernah Ada di Dalam Hatimu...
104
Bukti Masa Lalu
105
Pengaruh
106
Lepaskanlah!
107
Apa Tujuanmu?
108
Melabrak
109
Pertengkaran
110
Sekutu yang berbahaya
111
Kecurigaan Raka
112
Kekecewaan
113
Awal Kehancuran Dara
114
Dara Terjebbak
115
Apa Yang Dia Rencanakan?
116
Adu Domba
117
Kegilaan Nisa
118
Manipulatif

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!