Kebimbangan Raka dan Ambisi Mika

Mika bersandar di sofa, menatap layar ponselnya. Jari-jarinya menggulir story Instagram Nisa, memperlihatkan momen arisan bersama Dara dan Farah. Di video singkat itu, ketiganya tampak tertawa, bersenda gurau seolah tidak pernah menyakiti siapa pun.

Mika mendengus kesal.

“Dasar penipu! Ngomong soal mental health di sosial media, tapi kelakuan masih kayak iblis," gumamnya sambil mengingat sindiran Nisa di gym.

Di story tersebut, Nisa menulis: "Arisan fun bareng besties 💕 Teman lama tetap solid!"

Tangan Mika menggenggam erat ponsel, menahan amarah. Rasanya ia ingin membongkar semua kebohongan mereka, membuat dunia tahu siapa Dara, Nisa, dan Farah yang sebenarnya. Namun, ia menahan diri.

"Belum saatnya," pikir Mika. Ia harus sabar. Balas dendam yang efektif tidak dilakukan dengan emosi meluap-luap—tapi dengan langkah cermat dan rencana matang.

Mika membuka file di laptopnya. Di sana, tersimpan beberapa informasi lama—foto-foto dan bukti pesan-pesan jahat yang dulu dikirim oleh geng Dara kepadanya. Semua itu ia kumpulkan bertahun-tahun, menanti saat yang tepat untuk digunakan.

Mata Mika menyipit saat melihat salah satu foto yang menyakitkan: Dara dan Nisa tertawa lepas saat memergokinya menangis di toilet sekolah dulu. Ingatan itu masih terasa segar, luka yang hampir menenggelamkannya di masa lalu. Tapi sekarang, dia bukan lagi Mika yang lemah.

"Kali ini giliran kalian merasakan apa yang aku alami," gumam Mika dingin. Ia mulai mengetik di laptop, merencanakan langkah-langkah berikutnya.

***

Saat masih tenggelam dalam pikirannya, ponsel Mika bergetar di sampingnya. Sebuah notifikasi muncul: pesan dari Antony.

Antony:

"Hei, Mika. Aku nggak bisa berhenti mikirin waktu kita tadi. Kapan bisa ketemu lagi?"

Mika tersenyum puas. Antony perlahan mulai masuk ke dalam jaringannya.

Mika membalas dengan nada menggoda:

"Aku pikir kamu cuma mau ketemu sekali. Ternyata ketagihan?"

Beberapa detik kemudian, pesan balasan masuk:

"Mungkin aku memang ketagihan."

Mika tertawa kecil. Antony, pria yang dulu tak pernah meliriknya, sekarang ada di genggamannya.

Mika memikirkan langkah berikutnya. Mendekati Antony hanyalah permulaan. Ia harus menggali lebih dalam—menemukan titik lemah Dara dan gengnya untuk memukul mereka di saat yang paling tepat.

Ia tak akan sekadar membuat Antony jatuh dalam pesonanya, tapi juga memanfaatkan hubungannya untuk menyabotase rumah tangga mereka. Dara harus merasakan sakit yang sama, jika tidak lebih buruk, daripada apa yang dulu Mika alami.

"Kalian pikir kalian bisa terus di atas? Tunggu saja." Mika bergumam sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.

***

Di restoran mewah tmilik Raka bekerja, suasana dapur sudah mulai sepi. Ia duduk di sudut ruangan istirahat, menatap layar ponselnya dengan perasaan gelisah. Pesan direct message-nya kepada Mika masih belum dibalas.

“Kenapa dia nggak balas? Apa dia sibuk?” Raka menggigit bibirnya, bingung. Beberapa kali ia membuka DM Instagram, memastikan pesannya sudah terkirim, tetapi tidak ada tanda-tanda Mika membaca atau merespons.

Raka:

"Mika, kamu sibuk ya? Aku cuma mau ngobrol."

Pesan terkirim lagi, tapi tetap tidak ada respons.

Sambil menatap ponselnya, pikiran Raka melayang ke masa lalu, ke hari-hari ketika ia dan Mika masih akrab di sekolah. Mika selalu tersenyum saat mereka bercanda di perpustakaan, dan Raka selalu merasa ada koneksi spesial antara mereka meski ia tak pernah berani mengakuinya.

Tapi ketika geng Dara mulai mem-bully Mika, Raka merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apa pun untuk membelanya.

“Aku terlalu pengecut waktu itu,” gumamnya pelan.

Raka tahu, Mika telah berubah—lebih kuat, lebih cantik, dan lebih sukses. Namun, rasa bersalah dan penyesalan masa lalu membuat Raka ingin memperbaiki semuanya. Dia tidak ingin Mika merasa sendirian lagi.

***

Mika sedang duduk di depan laptop, fokus merapikan strategi bisnisnya. Kalender di mejanya penuh dengan catatan pertemuan, rencana endorsement, dan agenda rapat dengan klien.

Ponselnya bergetar sebentar—DM dari Raka. Mika melihatnya sekilas, tapi ia tidak berniat membalas. Bagian dari rencananya adalah tidak boleh teralihkan. Fokus Mika hanya pada satu target: Dara dan Antony.

Di tempat kerjanya, Raka masih menatap DM yang tidak dibalas oleh Mika. Ia menghela napas panjang, merasa semakin gelisah. Ada sesuatu tentang Mika yang membuatnya merasa perlu bertemu dan bicara.

"Apa aku sudah terlambat?" pikir Raka.

Namun, meski Mika kini lebih sibuk dan tak terjangkau, Raka bertekad untuk tetap mendekatinya. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu—membiarkan Mika sendirian lagi.

***

Nisa dan Farah, masih tertawa kecil setelah sesi gosip panjang mereka, melangkah keluar rumah Dara. Langit sudah mulai gelap, dan udara sore terasa sejuk. Saat mereka membuka pintu, keduanya langsung terkejut—Antony muncul dari arah berlawanan, baru saja turun dari mobilnya.

Antony mengenakan kemeja rapi dengan jas yang menggantung di lengannya. Aroma cologne mahal menyebar saat ia berjalan mendekat, membuat Nisa dan Farah saling bertukar pandang dengan senyum tipis.

“Eh, suami kesayangan Dara pulang,” ujar Nisa dengan nada menggoda, mencoba mencairkan suasana.

“Baru pulang ya, Tony?” sambung Farah sambil melirik jam tangannya. "Kerja lembur atau ada urusan lain, nih?" Ucapannya bernada setengah bercanda, tapi penuh rasa ingin tahu.

Antony tersenyum tipis namun tidak langsung menjawab. Ia sudah terbiasa dengan pertanyaan basa-basi seperti ini, tapi kali ini ia harus berhati-hati. Dara yang cerdas mungkin masih bisa menerima alasan rapat kerja, tapi ia tahu teman-teman istrinya lebih jeli dalam membaca situasi.

“Ya, tadi ada meeting yang kelamaan,” ujar Antony santai sambil membuka kancing kerah kemejanya. "Kalian udah mau pulang?"

Nisa mengangkat bahu. “Iya, kasihan suamimu tuh, pasti udah capek. Besok-besok Dara biarin dia istirahat aja, jangan dipaksa nemenin arisan, ya,” ucap Nisa sambil terkikik kecil.

Antony hanya tersenyum ramah, tapi di dalam hatinya ia sedikit lega karena Nisa dan Farah tidak curiga lebih jauh.

Setelah Nisa dan Farah pergi, Antony masuk ke dalam rumah. Dara sudah menunggunya di ruang tamu dengan tangan bersedekap, pandangan penuh selidik.

“Kamu pulang malam banget, Tony,” ujar Dara tanpa basa-basi. "Nggak ada kabar sama sekali, udah janji mau makan malam bareng Alea juga."

Antony menarik napas panjang, berusaha tetap tenang. “Maaf, Ra, aku benar-benar sibuk. Aku lupa sama janji tadi.”

Dara mendengus pelan. "Lupa?" Ia melipat tangannya lebih erat, ekspresinya dingin. “Kamu sering lupa belakangan ini. Apa beneran kerja, Tony?”

Antony menghela napas berat, kali ini memilih untuk berkata jujur. "Iya, aku tahu kamu kesal, tapi aku serius, Ra. Urusan bisnis lagi rumit banget di kantor."

Dara memiringkan kepala sedikit, matanya masih menyipit, penuh rasa curiga. “Serumit itu sampai kamu lupa janji sama anak kita?” Nada suaranya tajam, tapi di baliknya ada rasa kecewa yang tidak bisa ia sembunyikan.

Antony berjalan mendekat, meraih kedua tangan Dara, dan menatapnya dalam. "Aku nggak bohong, Sayang. Meeting panjang, banyak keputusan penting yang harus aku buat."

Dara menarik tangannya pelan, berusaha tetap menjaga jarak, tapi sentuhan lembut Antony dan kesungguhan di matanya sedikit meluluhkan pertahanannya.

"Aku capek, Tony," ujar Dara pelan. "Capek harus terus ngertiin kamu dan jadwal kamu. Kadang aku merasa kayak aku ini cuma pilihan terakhir."

Episodes
1 Luka yang mengakar
2 Kepergian yang membekas
3 Mulai dari awal
4 Wajah Lama
5 Iri dengki
6 Malam Reuni
7 Momen pertemuan yang dinanti
8 Pertemuan Pandang
9 Bara Kecemburuan di Tengah Kemewahan
10 Tatapan dan Senyuman yang Mengusik
11 Di Balik Kehidupan yang Sempurna
12 Membangun Jembatan
13 Langkah Baru
14 Izin orang tua
15 Pesan yang mengganggu
16 Pertemuan yang Tak Terelakkan
17 Malam Mewah dan Godaan Halus
18 Malam yang berapi api
19 Rencana apa yang dia pikirkan
20 Kebimbangan Raka dan Ambisi Mika
21 Di Antara Keraguan dan Kejujuran
22 Pertemuan Tak Terduga dengan Raka
23 Pesan yang Mengusik
24 Godaan Berbahaya
25 Debar yang Tak Terhindarkan
26 Kebenaran yang Mengintai
27 Kehadiran Tak Terduga
28 Bukan sembarangan pria
29 Gosip Panas di Malam yang Larut
30 Kecemburuan
31 Kecurigaan yang membuat terpecah
32 Mengabaikan semuanya demi bersamanya
33 Di abaikan
34 Pengintaian
35 Berjanji
36 Malam mengesankan
37 Kebimbangan Hati
38 Tidak terduga
39 Tidak Percaya Diri
40 Kau tidak akan lepas dariku
41 Rayuan maut
42 Kegelisahan
43 Kecurigaan yang mudah di tutupi
44 Kecemburuan yang salah
45 Liburan
46 Bermain Belakang
47 Gangguan
48 Kepedulian
49 Kau sangat penting
50 Bertemu Teman Lama
51 Makan Malam Berkesan
52 Permainan Antony
53 Rasa penasaran Raka
54 Raka mengetahui ?
55 Meminta penjelasan
56 Kekhawatiran
57 Coklat yang sama
58 Melanggar perjanjian
59 Kesedihan di atas kebahagiaan
60 Perhatian Raka
61 Kepingan Rahasia
62 Penghianatan
63 Rayuan Maut Lelaki
64 Kebetulan yang bagus
65 Makan Malam Menegangkan
66 Janji Kosong
67 Jejak Lipstik
68 Melabrak
69 Pembelaan
70 Terulang Kembali
71 Menusuk Teman
72 Kepalsuan
73 Permintaan Maaf
74 Penolakan
75 Siapa Itu?
76 Menyelidiki
77 citra keluarga no 1
78 Celah Kecil
79 Malam Terakhir
80 Berbalik Arah
81 Selalu ada
82 Semakin Rumit
83 Mencari Celah
84 Menyusun Rencana
85 Langkah selanjutnya
86 Mulai!
87 Masuk Perangkap
88 Ketegangan
89 Situasi yang rumit
90 Pendekatan
91 Ancaman
92 Menyelidiki
93 Kesepakatan
94 DI Bawah Kendali
95 Eksekusi
96 Siaran Langsung
97 PENGHIANAT!
98 Terbalaskan
99 Dunia penuh kejutan
100 Menyadari
101 Kenyataan menyakitkan
102 Menggores Kepercayaan Diri
103 Tidak Pernah Ada di Dalam Hatimu...
104 Bukti Masa Lalu
105 Pengaruh
106 Lepaskanlah!
107 Apa Tujuanmu?
108 Melabrak
109 Pertengkaran
110 Sekutu yang berbahaya
111 Kecurigaan Raka
112 Kekecewaan
113 Awal Kehancuran Dara
114 Dara Terjebbak
115 Apa Yang Dia Rencanakan?
116 Adu Domba
117 Kegilaan Nisa
118 Manipulatif
Episodes

Updated 118 Episodes

1
Luka yang mengakar
2
Kepergian yang membekas
3
Mulai dari awal
4
Wajah Lama
5
Iri dengki
6
Malam Reuni
7
Momen pertemuan yang dinanti
8
Pertemuan Pandang
9
Bara Kecemburuan di Tengah Kemewahan
10
Tatapan dan Senyuman yang Mengusik
11
Di Balik Kehidupan yang Sempurna
12
Membangun Jembatan
13
Langkah Baru
14
Izin orang tua
15
Pesan yang mengganggu
16
Pertemuan yang Tak Terelakkan
17
Malam Mewah dan Godaan Halus
18
Malam yang berapi api
19
Rencana apa yang dia pikirkan
20
Kebimbangan Raka dan Ambisi Mika
21
Di Antara Keraguan dan Kejujuran
22
Pertemuan Tak Terduga dengan Raka
23
Pesan yang Mengusik
24
Godaan Berbahaya
25
Debar yang Tak Terhindarkan
26
Kebenaran yang Mengintai
27
Kehadiran Tak Terduga
28
Bukan sembarangan pria
29
Gosip Panas di Malam yang Larut
30
Kecemburuan
31
Kecurigaan yang membuat terpecah
32
Mengabaikan semuanya demi bersamanya
33
Di abaikan
34
Pengintaian
35
Berjanji
36
Malam mengesankan
37
Kebimbangan Hati
38
Tidak terduga
39
Tidak Percaya Diri
40
Kau tidak akan lepas dariku
41
Rayuan maut
42
Kegelisahan
43
Kecurigaan yang mudah di tutupi
44
Kecemburuan yang salah
45
Liburan
46
Bermain Belakang
47
Gangguan
48
Kepedulian
49
Kau sangat penting
50
Bertemu Teman Lama
51
Makan Malam Berkesan
52
Permainan Antony
53
Rasa penasaran Raka
54
Raka mengetahui ?
55
Meminta penjelasan
56
Kekhawatiran
57
Coklat yang sama
58
Melanggar perjanjian
59
Kesedihan di atas kebahagiaan
60
Perhatian Raka
61
Kepingan Rahasia
62
Penghianatan
63
Rayuan Maut Lelaki
64
Kebetulan yang bagus
65
Makan Malam Menegangkan
66
Janji Kosong
67
Jejak Lipstik
68
Melabrak
69
Pembelaan
70
Terulang Kembali
71
Menusuk Teman
72
Kepalsuan
73
Permintaan Maaf
74
Penolakan
75
Siapa Itu?
76
Menyelidiki
77
citra keluarga no 1
78
Celah Kecil
79
Malam Terakhir
80
Berbalik Arah
81
Selalu ada
82
Semakin Rumit
83
Mencari Celah
84
Menyusun Rencana
85
Langkah selanjutnya
86
Mulai!
87
Masuk Perangkap
88
Ketegangan
89
Situasi yang rumit
90
Pendekatan
91
Ancaman
92
Menyelidiki
93
Kesepakatan
94
DI Bawah Kendali
95
Eksekusi
96
Siaran Langsung
97
PENGHIANAT!
98
Terbalaskan
99
Dunia penuh kejutan
100
Menyadari
101
Kenyataan menyakitkan
102
Menggores Kepercayaan Diri
103
Tidak Pernah Ada di Dalam Hatimu...
104
Bukti Masa Lalu
105
Pengaruh
106
Lepaskanlah!
107
Apa Tujuanmu?
108
Melabrak
109
Pertengkaran
110
Sekutu yang berbahaya
111
Kecurigaan Raka
112
Kekecewaan
113
Awal Kehancuran Dara
114
Dara Terjebbak
115
Apa Yang Dia Rencanakan?
116
Adu Domba
117
Kegilaan Nisa
118
Manipulatif

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!