Bab.17. Kesurupan

"Oh iya, ... aku belum kasih tahu kamu ya? Hari ini kan hari Selasa. Jadi hari ini kita buka nya sampai jam 5 saja," kata Enah.

"Hah, kenapa begitu?" Lia sangat heran.

"Nggak tahu kenapa, tapi kata Pak Karso sih biar kita nggak terlalu capek", jawab Enah.

Lia merasa sedikit aneh dengan peraturan yang dibuat oleh Pak Karso. Kenapa lelaki itu menyuruh menutup rumah makan lebih awal dari hari - hari biasanya..? Pikir Lia.

"Berarti setiap hari Selasa rumah makan ini tutupnya pukul lima sore ya, Mbak?", tanya Dahlia.

"Iya, selama setahun ini memang seperti itu. Benarkan, teung?", Iteung mengangguk.

"Iya, benar. Kata Pak Karso biar malam Minggu nya bisa tutup lebih lama karena kalau malam Minggu biasanya yang datang lebih ramai lagi dari hari - hari biasa. Jadi maksudnya beliau, seperti ganti jam kerja, gitu. Kalau malam Selasa, rumah makan tutup lebih awal, tapi kalau malam Minggu, ya sampai makanan habis", ujar Iteung.

"Kok aneh, ya..? Memang dari dulu rumah makan ini selalu rame, ya?", tanya Lia.

"Iya, rumah makan ini memang selalu rame. Anehnya di mana ya, Lia?" tanya Enah.

"Iya aneh lah, Mba. Masa setiap hari Selasa

Tutupnya sampai jam 5. Sebenarnya kan bisa di atur ship kerjanya. Ada yang masuknya pagi sampai sore lalu ada yang masuknya sore hingga malam. Kan, rumah makan nya rame tuh, bukannya sayang kalau nggak sampai malam tutupnya?" ujar Lia.

"Nah, loh.. benar juga kata kamu, Lia." ucap Iteung.

"Mbak nggak mengerti soal itu, Lia. Tapi iya juga sih. Kan jadinya istirahat kita bisa teratur. Nggak seperti sekarang, bangun satu bangun semua, tidur satu harus tidur semua", ucap Enah.

Iteung tidak menanggapi kata 'aneh' yang diucapkan Lia. Ia hanya fokus pada sebuah ide brilian yang di kemukakan Lia.

"Usul kamu bagus juga, Lia. Coba nanti kita sampaikan usul kamu itu pada Pak Karso", ucap Iteung.

"Kamu aja yang sampaikan, kalo aku sih mana berani", ucap Enah.

"Kenapa nggak berani, pak Karso itu orangnya baik, kok!", ucap Iteung yakin.

"Iya, baik, tapi cuma ke kamu saja, yang lain mana, dia seperti itu", cibir Enah.

"ahh, masa, sih?", sela Iteung.

Lia hanya diam dan jadi pendengar perbincangan Iteung dan Enah. Dia fokus pada pekerjaan nya sambil menunggu suasana rumah makan sepi. Ia ingin memastikan ada atau tidak penampakan mengerikan lagi di sana.

Ketika pekerjaannya di dapur sudah hampir selesai, Lia berjalan menuju ke ruang depan untuk membantu pekerjaan yang mungkin belum selesai di sana.

Akan tetapi, rupanya ruangan depan sudah selesai di bersihkan. Dahlia kembali lagi ke dapur. Dia juga tidak melihat adanya penampakan - penampakan yang mengerikan seperti kemarin.

Pagi itu berlalu dengan cepat. Lia kini kembali berjibaku dengan alat masak. Demikian juga dengan Enah. Suara kompor gas yang menyala beradu dengan suara dentingan alat dapur terdengar memenuhi suasana di dapur pagi hingga siang itu.

Saat Lia dan Enah sedang fokus memasak tiba-tiba Lia mencium bau harum bunga semerbak memenuhi dapur. Seketika bulu kuduk Lia berdiri. Lia merinding seketika.

"Mbak, apa Mbak Nah cium bau bunga?", tanya Lia.

"Hah, bau bunga? Bunga dimana, Lia?", tanya Enah bingung. "Lia, di dapur ini yang ada hanya bumbu - bumbu jadi ya bau bumbu", ujar Enah dengan nada suara yang terdengar sedikit kesal.

"Kamu ini, jangan aneh - aneh deh, Lia", ujar Enah. Dahlia langsung terdiam.

Begitu lah Enah, wanita itu tidak pernah percaya dengan hal - hal yang berbau mistis seperti itu.

Hari sudah semakin siang, Lia yang sedang sibuk memasak di dapur, akhirnya terpaksa meminta tolong kepada Iteung untuk membelikan nya bubur sumsum.

Siang hari nya sama seperti kemarin, ....ada banyak pesanan yang datang. Sekitar pukul tiga sore, barulah Enah dan Lia dapat beristirahat.

"Lia, makan dulu, yuk. Aku sudah lapar banget!", ajak Enah.

"Duluan aja, mbak. Aku belum lapar ", ucap Lia.

"Kamu selalu saja begitu kalo di suruh makan, Lia. Badan sudah kurus kering begitu, males makan lagi." ucap Enah. Dahlia hanya tersenyum kecil.

"Ya udah deh, kalo nggak mau makan. Aku ambil makan sendiri, aja!", ketus mbak Nah. Dia langsung berdiri dan mengambil nasi dan lauk pauk untuk makan siang.

Tak beberapa lama, Enah kembali lagi datang dengan membawa piring yang berisi nasi dan lauk pauk lengkap.

Mata Lia tak lepas dari piring nasi di tangan Enah. Bukan lantaran dia ngiler atau lapar, tapi karena Lia melihat sesuatu yang aneh di piring nasi yang di pegang Enah.

 Sejenak Lia terpana melihat piring nasi yang di pegang Enah. Ada sesuatu yang bergerak - gerak.

Mata Lia terbelalak ketika melihat piring nasi yang di pegang Enah.

Astagafirullahal a'azim,..

Lia berucap istighfar dalam hati. Butiran nasi di piring Enah berubah menjadi belatung kecil - kecil.

Lia sampai berkeringat dingin melihat pemandangan yang menakjubkan itu. Jantung nya berdegup kencang. Rasa mual mendera perut Lia melihat belatung di piring Enah yang bergerak - gerak ke sana kemari.

Lia sudah tidak tahan lagi.

"Astaghfirullah, Allahu Akbar..."

Gumbraaang......!

Dahlia melempar tutup panci ke arah Enah sehingga membuat Enah terlonjak kaget dan...

Prangggg ....!

Piring nasi di tangan Enah jatuh dan pecah.

"Astaghfirullah, ada apa Lia?", teriak Enah pada Lia.

Dahlia terdiam dengan mata melotot dan tubuh gemetar. Enah yang tadinya ingin marah pada Lia kini berubah jadi khawatir dan cemas melihat kondisi Lia.

"Lia,... sadar Lia! Lia kamu kenapa?", teriak Enah sembari mengguncang - guncang tubuh Dahlia.

Keributan yang di buat Lia membuat sebagian

pekerja dan juga pengunjung merasa kaget. Bahkan teriakan Enah yang sangat kencang membuat Pak Karso yang ada di ruang kerjanya langsung menuju ke dapur.

Iteung yang mendengar teriakan Enah memanggil - manggil nama temannya langsung menuju ke dapur. Dia merasa cemas dan khawatir.

Para pekerja dan pengunjung berlarian ke dapur untuk melihat apa yang terjadi.

"Astaghfirullah, Lia, apa yang terjadi?" tanya Iteung ketika sudah sampai di dapur. Dia semakin cemas ketika melihat kondisi Lia yang berdiri kaku dengan mata melotot.

Enah masih mencoba menyadarkan Lia namun tak ada hasil. Lia masih saja terpaku dengan wajah yang terlihat ketakutan setengah mati.

"Ada apa ini!", teriak pak Karso dari belakang kerumunan pekerja dan pengunjung rumah makan.

"Kenapa ke sini semua. Sudah, bubar... bubar.. Ini bukan tontonan." Pak Karso membubarkan kerumunan orang yang tadinya ingin melihat kejadian selanjutnya.

Satu persatu pengunjung itu kembali ke tempatnya semula. Tinggallah para pekerja rumah makan yang ada di sana.

"Kenapa kalian masih di sini semua?", bentak Pak Karso.

"Cukup Maman dan Ardi saja yang di sini. Yang lain kembali bekerja!",

"Iteung, kamu juga kembali bekerja!", perintah pak Karso pada Iteung.

"Tidak, pak! Lia teman saya. Saya harus berada di sini!" teriak Iteung lantang.

Entah mengapa, hari itu terlihat pak Karso sangat marah pada Iteung. Sikapnya yang biasanya ramah dan baik pada Iteung tiba - tiba hilang.

Pak Karso berusaha mengontrol emosi nya.

Entah mengapa, saat melihat kondisi Lia, Pak Karso bukannya iba, tetapi malah merasa emosi yang teramat sangat.

Namun lelaki itu sangat pandai bersandiwara. Dia tak ingin para pekerjanya mengetahui kemarahannya. Maka dari itu dia pun langsung mengubah nada suaranya dan memperlihatkan wajah cemas nya yang palsu.

"Nah,...apa yang terjadi? Mengapa dia sampai seperti ini?", tanya pak Karso pada kokinya itu. Nada suara lelaki itu dibuat seolah-olah dia sangat cemas dan khawatir dengan kondisi Lia.

"Nggak tau, Pak. Tadi dia berteriak dan melempar tutup panci ini padaku." Enah mencoba menjelaskan kejadiannya pada majikan nya itu.

"Kalau begitu kita bawa saja ke mess. Tapi apakah dia bisa berjalan ? Mengapa matanya masih terbelalak begitu?", tanya pak Karso.

"Lia,...sadar Lia." Iteung masih berusaha untuk menyadarkan temannya.

Lia yang sedari tadi terpaku tiba - tiba merasakan seseorang meniup ubun - ubun nya. Orang itu tak lain adalah Mahesa, suaminya.

Setelah Mahesa meniup ubun ubun Lia,

gadis itu langsung jatuh pingsan.

Setelah itu Mahesa pergi meninggalkan tempat itu setelah memastikan bahwa istrinya dalam keadaan baik - baik saja.

Episodes
1 BAB. 01 Pengikut Tak Kasat Mata
2 BAB. 02 Mimpi Yang Aneh
3 BAB. 03 Di Datangi Ular
4 Bab. 04 Kita Sudah Ditakdirkan Bertemu
5 Bab. 05 Ajakan Mahesa
6 Bab.06 Menghilang
7 Bab. 07 Pergi Ke Kota
8 Bab. 08 Pergi Ke Istana Jin
9 Bab.09 Pernikahan Ghaib
10 Bab 10. Kantong Ajaib.
11 Chapter. 11. Melamar Kerja di restoran
12 Bab.12 Hari Pertama Bekerja
13 Bab. 13. Apakah itu...?
14 Bab.14. Pesugihan
15 Bab. 15. Hati - hati Bekerja di sini, Mbak!
16 Bab.16 Peraturan Aneh
17 Bab.17. Kesurupan
18 Bab. 18. Bingung
19 Bab.19. Keluar Malam
20 Bab.20. Mengintip Pak Karso
21 Bab. 21. Apa yang dilakukan Pak Karso?
22 Bab. 22. Pak Karso Pergi Ke Jawa
23 Bab. 23 Sasaran Target
24 Bab.24. Mimpi Dahlia
25 Bab. 25 Menyelamatkan Iteung
26 Bab. 26 Rendi Kecelakaan
27 Bab 27. Sahabat Yang Tidak Percaya
28 Bab. 28 Korban lain
29 Bab. 29. Pertanyaan Iteung
30 Ungkapan Cinta Rendi
31 Chapter.31 Hubungan yang Rumit
32 Bab. 32 Pingsan
33 Bab.33 Kembali ke Hutan Larangan
34 Bab. 34. Serangan Ghaib Sang Juru Kunci
35 Bab. 35. Kematian Enah
36 Bab. 36 Telepon Wak Emah
37 Bab. 37. Curhatan Mak Emah
38 Bab. 38 Pocong Enah
39 Bab.39 Permintaan Rendi
40 Bab.40. Kerisauan Lia
41 Bab. 41 Kematian Rendi
42 Bab.42 Di pecat
43 Bab.43. Memulai dari Awal
44 Bab. 44 Bertemu Teman Lama
45 Bab. 45. Rumah makan Pak Karso Kebakaran
46 Bab. 46. Akhir kisah Pak Karso
47 Bab.47. Mendapatkan Pekerjaan
48 Bab. 48. Perkenalan dengan Viktor
49 Bab. 49. Mimpi Buruk Iteung
50 Bab.50 Bayangan Hitam
51 Bab. 51. Pertarungan Sengit
52 Bab.52. Grab Khusus
53 Bab.53. Sundel Bolong
54 Bab. 54. Makan Di Restoran Mewah
55 Bab. 55. Kembali Melihat
56 Bab. 56 Cemas
57 Bab.57. Sebuah Rencana
58 Bab. 58. Jalan Pintas
59 Bab. 59. Mengobati Iteung
60 Bab. 60 Mencari Raga untuk Mahesa
61 Bab. 61. Kejujuran Mahesa
62 Bab. 62. Tak Ada Cara Lain
63 Bab.63. Makan Pizza
64 Bab 64. Perut Wong Ndeso
65 Cha.65. Makan di Restoran Mewah
66 Bab. 66. Penjelasan Mahesa
67 Bab. 67. Ada apa dengan Radit?
68 Bab. 68 Penganut Ilmu Hitam
69 Bab. 69. Cemas
70 Bab 70 Renggang
71 Bab.71. Rencana Yang Gagal
72 Bab.72 Dia Adalah Targetnya
73 Bab.73. Cerita Lia
74 Bab. 74. Hantu Perempuan.
75 Bab.75 Panggilan Rivan
76 Bab.76. Melihat Pertunjukan Seru?
77 Bab. 77 Ketahuan ...
78 Bab. 78. Penjelasan Mahesa
79 Bab. 79. Iteung dijodohkan dengan Wirayuda
80 Bab. 80. Putus
81 Bab.81. Lamaran Panglima Wirayuda
82 Bab. 82. Nyaris di Pecat...
83 Bab. 83. Kegilaan Radit
84 Bab.84. Di Hukum
85 Bab 85. Double Dates
86 Bab. 86. Iteung di Lamar Viktor.
87 Bab.87. Kemarahan Radit
88 Bab. 88. Rencana Rivan
89 Bab. 89. Serangan Ghaib
90 Bab 90. Penolakan Orang Tua Rivan.
91 Bab.91. Kesedihan Lia
92 Bab. 92. Kecemasan istrinya Ihsan
93 Bab. 93. Membeli Rumah Untuk Lia
94 Bab. 94. Kedatangan Mak Emah
95 Bab.95. Dendam Radit
96 Bab.96. Hadiah Rumah Mewah Dari Kekasih gaib.
97 Bab. 97. Restu Mak Emah
98 Bab. 98 Cinta Pria - Pria Bunian
99 Bab.99 Bertemu Orang tua Viktor
100 Bab. 100. Dendam Radit
101 Bab. 101. Teluh Tulang Pukang
102 Bab. 102. Teluh Yang Tak Sampai
103 Bab. 103. Keraguan Lia
104 Bab. 104. Diusir Dari Rumah
105 Chapter.105. Tinggal di rumah Viktor
106 Bab.106. Panggilan Lia
107 Bab.107. Pertanyaan Viktor
108 Bab.108. Terancam Batal
109 Bab.109. Rumah kita
110 Bab.110 Pindah Ke Rumah Baru
111 Bab.111. Di ikuti oleh Papa Rivan
112 Bab 112 Rencana Iteung
113 Bab.113 Pertemuan Rivan dan Kedua orang tua nya
114 Bab. 114. Ada apa dengan Iteung
115 Bab.115. Akhir Bahagia
Episodes

Updated 115 Episodes

1
BAB. 01 Pengikut Tak Kasat Mata
2
BAB. 02 Mimpi Yang Aneh
3
BAB. 03 Di Datangi Ular
4
Bab. 04 Kita Sudah Ditakdirkan Bertemu
5
Bab. 05 Ajakan Mahesa
6
Bab.06 Menghilang
7
Bab. 07 Pergi Ke Kota
8
Bab. 08 Pergi Ke Istana Jin
9
Bab.09 Pernikahan Ghaib
10
Bab 10. Kantong Ajaib.
11
Chapter. 11. Melamar Kerja di restoran
12
Bab.12 Hari Pertama Bekerja
13
Bab. 13. Apakah itu...?
14
Bab.14. Pesugihan
15
Bab. 15. Hati - hati Bekerja di sini, Mbak!
16
Bab.16 Peraturan Aneh
17
Bab.17. Kesurupan
18
Bab. 18. Bingung
19
Bab.19. Keluar Malam
20
Bab.20. Mengintip Pak Karso
21
Bab. 21. Apa yang dilakukan Pak Karso?
22
Bab. 22. Pak Karso Pergi Ke Jawa
23
Bab. 23 Sasaran Target
24
Bab.24. Mimpi Dahlia
25
Bab. 25 Menyelamatkan Iteung
26
Bab. 26 Rendi Kecelakaan
27
Bab 27. Sahabat Yang Tidak Percaya
28
Bab. 28 Korban lain
29
Bab. 29. Pertanyaan Iteung
30
Ungkapan Cinta Rendi
31
Chapter.31 Hubungan yang Rumit
32
Bab. 32 Pingsan
33
Bab.33 Kembali ke Hutan Larangan
34
Bab. 34. Serangan Ghaib Sang Juru Kunci
35
Bab. 35. Kematian Enah
36
Bab. 36 Telepon Wak Emah
37
Bab. 37. Curhatan Mak Emah
38
Bab. 38 Pocong Enah
39
Bab.39 Permintaan Rendi
40
Bab.40. Kerisauan Lia
41
Bab. 41 Kematian Rendi
42
Bab.42 Di pecat
43
Bab.43. Memulai dari Awal
44
Bab. 44 Bertemu Teman Lama
45
Bab. 45. Rumah makan Pak Karso Kebakaran
46
Bab. 46. Akhir kisah Pak Karso
47
Bab.47. Mendapatkan Pekerjaan
48
Bab. 48. Perkenalan dengan Viktor
49
Bab. 49. Mimpi Buruk Iteung
50
Bab.50 Bayangan Hitam
51
Bab. 51. Pertarungan Sengit
52
Bab.52. Grab Khusus
53
Bab.53. Sundel Bolong
54
Bab. 54. Makan Di Restoran Mewah
55
Bab. 55. Kembali Melihat
56
Bab. 56 Cemas
57
Bab.57. Sebuah Rencana
58
Bab. 58. Jalan Pintas
59
Bab. 59. Mengobati Iteung
60
Bab. 60 Mencari Raga untuk Mahesa
61
Bab. 61. Kejujuran Mahesa
62
Bab. 62. Tak Ada Cara Lain
63
Bab.63. Makan Pizza
64
Bab 64. Perut Wong Ndeso
65
Cha.65. Makan di Restoran Mewah
66
Bab. 66. Penjelasan Mahesa
67
Bab. 67. Ada apa dengan Radit?
68
Bab. 68 Penganut Ilmu Hitam
69
Bab. 69. Cemas
70
Bab 70 Renggang
71
Bab.71. Rencana Yang Gagal
72
Bab.72 Dia Adalah Targetnya
73
Bab.73. Cerita Lia
74
Bab. 74. Hantu Perempuan.
75
Bab.75 Panggilan Rivan
76
Bab.76. Melihat Pertunjukan Seru?
77
Bab. 77 Ketahuan ...
78
Bab. 78. Penjelasan Mahesa
79
Bab. 79. Iteung dijodohkan dengan Wirayuda
80
Bab. 80. Putus
81
Bab.81. Lamaran Panglima Wirayuda
82
Bab. 82. Nyaris di Pecat...
83
Bab. 83. Kegilaan Radit
84
Bab.84. Di Hukum
85
Bab 85. Double Dates
86
Bab. 86. Iteung di Lamar Viktor.
87
Bab.87. Kemarahan Radit
88
Bab. 88. Rencana Rivan
89
Bab. 89. Serangan Ghaib
90
Bab 90. Penolakan Orang Tua Rivan.
91
Bab.91. Kesedihan Lia
92
Bab. 92. Kecemasan istrinya Ihsan
93
Bab. 93. Membeli Rumah Untuk Lia
94
Bab. 94. Kedatangan Mak Emah
95
Bab.95. Dendam Radit
96
Bab.96. Hadiah Rumah Mewah Dari Kekasih gaib.
97
Bab. 97. Restu Mak Emah
98
Bab. 98 Cinta Pria - Pria Bunian
99
Bab.99 Bertemu Orang tua Viktor
100
Bab. 100. Dendam Radit
101
Bab. 101. Teluh Tulang Pukang
102
Bab. 102. Teluh Yang Tak Sampai
103
Bab. 103. Keraguan Lia
104
Bab. 104. Diusir Dari Rumah
105
Chapter.105. Tinggal di rumah Viktor
106
Bab.106. Panggilan Lia
107
Bab.107. Pertanyaan Viktor
108
Bab.108. Terancam Batal
109
Bab.109. Rumah kita
110
Bab.110 Pindah Ke Rumah Baru
111
Bab.111. Di ikuti oleh Papa Rivan
112
Bab 112 Rencana Iteung
113
Bab.113 Pertemuan Rivan dan Kedua orang tua nya
114
Bab. 114. Ada apa dengan Iteung
115
Bab.115. Akhir Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!